Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 257. Bentroknya Dua Perkumpulan


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Sung Hwa sudah kembali membawa permintaan gurunya. Sepanci air panas.


Begitu dia sampai pada ruangan tempat dimana Lin Tian berbaring, Sung Hwa melihat gurunya sedang mengobati Lin Tian dengan hawa panasnya. Sehingga hawa panas dan dingin pada tubuh Lin Tian beradu.


"Eh, ayo cepat letakkan panci itu di atas dadanya!" perintah Kiam Bong begitu melihat muridnya sudah sampai.


"Eh?" tentu saja Sung Hwa terkejut sekali. Meletakkan panci di atas dada Lin Tian, di atas dadanya? Apa maksudnya? Pikir wanita itu bertanya-tanya.


"Ayo cepat!" sentak Kiam Bong saat Sung Hwa belum juga beranjak dari tempat berdirinya.


"I-iya guru."


Sung Hwa dengan penuh perasaan bingung meletakkan sepanci air panas itu tepat di atas luka Lin Tian. Sebenarnya dia sendiri pun merasa ngeri karena berpikir kalau gurunya ini hendak membunuh pemuda itu, tapi dia mengeraskan hati dan tetap melakukannya. Toh pukulannya berhawa dingin sedangkan sepanci air ini panas sekali, mungkin bisa membantu. Pikir Sung Hwa.


Saat panci menyentuh luka itu, Lin Tian sedikit mengerang menahan sakit. Kali ini sama sekali bukan sandiwara tapi sungguhan.


Ilmu pukulan Tapak Beku dan pukulan Nafas Salju adalah dua pukulan yang sangat mirip, bahkan entah perbedaannya ada dimana. Hal ini disadari Lin Tian ketika wanita itu melatih ilmu pukulan Nafas Salju. Menurut pandangannya, yang berbeda hanyalah bentuk kuda-kuda dan gerakannya saja.


Tapi beberapa waktu berlalu akhirnya dia sadar kalau pukulan Nafas Salju lebih kuat daripada pukulan Tapak Beku. Namun walaupun begitu, dampak yang diakibatkan sangatlah mirip. Karena itulah Lin Tian melukai dada sendiri dengan pukulan Tapak Beku.


Tapi karena tak berniat mencelakakan diri sendiri, sehingga dia tak mengerahkan tenaga sampai maksimal, sehingga hawa dingin pada lukanya belum cukup untuk melawan hawa panas dari bokong panci. Awalnya pun dia tak pernah mengira bahwa cara penyembuhannya akan seperti ini.


Maka diam-diam dia mengumpat karena tidak mengetahui hal ini. "Sialan!! Panci itu panas!!" seru Lin Tian dalam hati dan mengerahkan tenaga untuk melawan.


"Bocah, jangan kau lawan hawa panas ini! Biarkan merasuki tubuhmu!" ujar Kiam Bong mengetahui bahwa dari dada Lin Tian menguar hawa dingin.


"Sialan!"


Beberapa saat kemudian, Kiam Bong meletakkan kesepuluh jarinya ke dada Lin Tian. Dia mengerahkan tenaga panasnya sampai ke tingkat maksimal. Karena tak boleh melawan, maka mau tak mau untuk main sandiwara ini Lin Tian harus rela merasakan sakit luar biasa.


"Akkkhhh....!" pekik Lin Tian yang sudah tak tahan lagi. Tubuhnya sedikit berkelojotan namun Kiam Bong menahannya dengan kedua tangan.


"Tahann!!!!"


"Lin Tian, bertahanlah!!"


...****************...


Betapa terkejut dan khawatirnya hati Xu Cin Keng saat pada keesokan harinya murid kesayangannya belum juga pulang. Dia masih ingat betul bahwasannya pada malam hari, murid tercantiknya yang kadang membuat hasratnya timbul itu datang padanya dan berkata tegas dengan wajah berseri.

__ADS_1


"Guru, ijinkan aku untuk bertemu dengan suamiku."


"Hah? Lin Tian maksudmu?"


Fu Hong hanya mengangguk semangat. Karena mengetahui muridnya itu sangat terobsesi dengan pemuda tersebut, maka Xu Cin Keng memilih untuk membiarkannya.


Tapi pagi ini, yang hampir siang hari, muridnya itu tak kunjung pulang. Dia merasa gelisah sekali dan memutuskan untuk menyusul sendiri ke pulau tempat dimana muridnya melakukan pertemuan dengan sang "suami".


Dia membawa beberapa anak buah lainnya, berjumlah tiga belas orang. Menggunakan tiga buah perahu, mereka segera meluncur ke pulau itu.


"Eh...apa itu?" gumam Xu Cin Keng saat dari kejauhan melihat seseorang yang rebah miring membelakanginya.


Ketika perahunya sudah semakin dekat, baru terlihatlah oleh mata tuanya bahwa yang sedang rebah tak berdaya itu adalah muridnya sendiri! Dia masih ingat betul pakaian terakhir yang dikenakan muridnya saat hendak pergi menemui Lin Tian.


"Fu Hong!!" Xu Cin Keng bertriak lantang dan segera melompat bagai burung elang. Jarak antara perahu dan pantai mungkin ada dua puluh meteran, tapi kakek tua ini mampu melompatinya dalam sekali lompat.


Ketika sudah sampai dekat, Xu Cin Keng segera membalikkan tubuh Fu Hong dan mengecek nadinya. Masih berdenyut lemah, hampir hilang.


Ketika dia mengenali hawa dingin yang berputar-putar di setiap aliran darah muridnya, mulutnya mengumpat seraya tangannya merobek baju bagian dada dan segera diobati dengan mengaliri hawa panas.


"Keparat!! Pukulan Nafas Salju!!"


Saat itu pula anak buah yang lain sudah datang dan berlabuh di bibir pantai. Ketika mereka dapat melihat jelas siapa sosok yang terlentang tak bedaya itu, mulut mereka berturut-turut berseru.


"Bagaimana ini bisa terjadi?"


"Diamlah!! Sekarang lekas bawa dia ke markas!!" bentak Xu Cin Keng setelah memberi pertolongan pertama sedapatnya.


Empat belas orang ini buru-buru pulang untuk memberikan pengobatan pada Fu Hong. Xu Cin Keng berusaha keras dibantu oleh para tabib kepunyaannya, tapi mereka hanya mampu menekan hawa dingin itu untuk sementara waktu.


Selang beberapa jam, ternyata Fu Hong belum juga sadar dan wajahnya kian memucat. Gurunya yang khawatir itu menyuruh para tabib untuk mengirimkan hawa panasnnya terus menerus ke tubuh Fu Hong agar tubuh wanita itu tetap hangat.


Sedangkan dia yang merasa marah sekali karena menduga pelaku pencelakaan muridnya adalah Hati Iblis, segera mengumpulkan lima puluh orang wanita yang menjadi anak buah langsung Fu Hong. Membawa lima puluh orang itu untuk membuat perhitungan terhadap Hati Iblis.


"Kiam Bong!!" serunya menggelegar saat tiba di markas itu dan berjalan menuju bangunan paling besar.


Anak murid perkumpulan Hati Iblis yang melihat ini segera menyambut kedatangan Xu Cin Keng dengan membungkuk hormat.


"Selamat datang tuan, ada apakah sampai membuat tuan datang kemari dengan marah-marah?" sapa salah satu pemuda yang memyambut kedatangannya bersama tiga kawannya.

__ADS_1


"Sraatt-sratt-sratt!"


Dengan kibasan tangan kiri, tiga orang anggota pasukan khusus Pedang Hitam bergerak maju dan membunuhi tiga orang penyambut mereka itu. Menyisakan satu pemuda yang tadi menyapa.


"A-apa ini?" ujarnya kaget dan heran.


Sebelum hilang rasa terkejutnya, Xu Cin Keng sudah lebih dulu menarik kerah bajunya dan berkata dingin. "Mana ketuamu?"


"Be-beliau ada di dalam!" jawabnya dengan ketakutan hebat.


Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Xu Cin Keng melemparkan tubuh pemuda itu acuh tak acuh.


Tentu saja kejadian singkat ini berhasil membuat geger anak murid Hati Iblis. Mereka terkejut sekaligus marah mengetahui perkumpulan Pedang Hitam yang datang-datang telah membunuhi anak murid mereka. Maka tanpa disuruh tujuh puluhan orang sudah menghadang dengan sikap mengancam.


"Ada apakah ini sampai-sampai perkumpulan Hati Iblis yang terhormat datang mengacau?"


"Heh, minggir kau!! Urusanku dengan kakek peyot itu!?"


"Setidaknya beri kami penjelasan!!"


"Bah, persetan dengan penjelasan. Serang!!" Xu Cin Keng yang sudah dikuasai amarah segera mengirimkan perintah kepada lima puluh wanita itu untuk menyerang.


Maka bentrokan pun tak dapat dihindari, Xu Cin Keng ganas sekali dan tak ragu untuk membunuh lawannya. Melihat ini, anak murid Hati Iblis yang awalnya nampak ragu untuk menurunkan tangan maut menjadi berang dan tak ragu membunuhi lawannya pula.


Halaman luas itu menjadi medan pertempuran yang penuh darah dan teriakan.


...****************...


Lin Tian yang sudah selesai diobati itu menjadi tenang dan mungkin sedang tidur. Saat itulah, baik Kiam Bong dan Sung Hwa mampu mendengar suara teriakan-teriakan dan berdentingnya senjata di luar sana.


Mereka mengerutkan kening tanda bingung. Tapi kebingungan itu segera terganti dengan keterkejutan saat salah seorang anggota Hati Iblis datang tanpa permisi ke ruangan itu.


"Maaf sebesarnya untuk ketua dan nona karena telah lancang, tapi markas kita sedang diserbu oleh Pedang Hitam. Dipimpin oleh tuan Xu Cin Keng sendiri!"


"Keparat!! Ini pasti berhubungan dengan masalah ini!!" Kiam Bong marah sekali dan tubuhnya sudah berkelebat keluar menyambut lawannya.


Sedangkan Sung Hwa memandang Lin Tian dengan khawatir, menghiraukan pertempuran itu karena dia sudah memperhitungkannya saat pertama kali saling serang dengan Fu Hong tadi malam.


"Fu Hong....kau harus mati....!!" gumamnya sambil mengepalkan tangannya erat. Ternyata si pelapor tadi belum beranjak dan mampu mendengar itu, diam-diam dia bergidik ngeri.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2