Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 111. Sian Yang


__ADS_3

Lin Tian dan Hu Tao menyerang dengan amat ganas. Senjata mereka berkelebatan cepat sekali sampai tercipta bayangan merah dan putih yang saling gulung seperti hendak memangsa seorang bayangan hitam itu.


Sian Yang sendiri juga tak kalah tangkas. Dengan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah mencapai tingkat tinggi, ia berkelebatan ke sana-sini dibarengi dengan hantaman kedua lengan kearah lawan.


Namun agaknya dengan serangan kombinasi dua saudara itu, sungguhpun tidak terdesak, Sian Yang menjadi sibuk sekali.


"Hahaha....hebat, hebat sekali!!" di sela-sela pertarungan, Sian Yang memuji sambil tertawa lebar, yang dimana bagi dua orang itu dianggap sebagai ejekan.


"Scriing-Swiing!"


Pedang Lin Tian menebas tengkuk dan belati Hu Tao mengarah lambung. Dua serangan pamungkas yang amat berbahaya dan mampu mendatangkan maut jika berhasil mengenai target.


Namun yang mereka lawan adalah Sian Yang, seorang tokoh dunia persilatan yang sudah banyak pengalaman sungguh pun namanya belum begitu terkenal. Maka dengan mudah saja, pria ini menundukkan kepala sehingga pedang Lin Tian hanya lewat saja.


Kemudian dengan cara yang luar biasa sekali, Sian Yang menahah serangan Hu Tao dengan cara menggigit belati itu! Sebuah gigitan yang amat kuat mengingat akan belati Hu Tao yang sudah berubah menjadi sebatang besi panas.


"Aihh!!" Hu Tao berseru kaget bercampur heran. Lalu dia segera menebaskan belati di tangan kiri. Lin Tian juga segera melakukan serangan susulan dengan bacokan tepat kearah kepala.


"Trang-Trang!"


Kembali Sian Yang menyelamatkan diri dengan cara yang tidak wajar. Begitu pedang dan belati mendekat, secepat kilat tangan kirinya mencengkram pedang dan tangan kanannya mencengkram belati. Sehingga saat ini keadaan mereka bertiga sama-sama terkunci dan tidak mampu bergerak.


"Sialan!! Setan dari mana sih kau ini!!" teriak Hu Tao sambil menarik-narik kedua belatinya namun tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Hehehe..." Sian Yang terkekeh. Kemudian dia mengalirkan tenaga dalam ke kedua lengan dan menghempaskannya. Dari kerongkongannya juga keluar bentakan keras yang segera melontarkan belati "gigitannya" jauh kebelakang sekaligus pemiliknya.


"Aaakkhh!!" teriak dua orang muda itu begitu tubuh mereka terhempas ke udara dan jatuh berdebuk di tanah.


Sedetik kemudian, Sian Yang melakukan serangan susulan dengan cara menghentakkan kedua tangan kearah Lin Tian dan Hu Tao. Dari kedua telapak tangannya, menyambar angin kencang yang menagndung racun hebat. Spontan, dua orang muda ini segera melompat jauh kesamping menghindari serangan.


Setelah itu kembali pertarungan berlangsung sengit. Lin Tian dan Hu Tao terus mengurung dari segala arah, sedangkan Sian Yang yang dikeroyok agaknya masih belum mengeluarkan seluruh potensi ilmu silatnya.


Dua ratus jurus berlalu dan Lin Tian hendak mengeluarkan jurus Kibasan Ekor Naga Langit sebelum secara tiba-tiba menyambar telapak tangan beracun mengarah dadanya.

__ADS_1


"Aaahh!!" Lin Tian memekik dan membuang tubuh kebelakang.


Hu Tao segera membantu dengan cara menyabetkan kedua belati sari kanan-kiri leher. Berniat memisahkan kepala itu dari badan.


"Trang-Trang!"


Dengan sekali sambarang tangan, kedua belati itu membalik kearah pemiliknya dan menusuk kedua pundak. Membuat kedua tangan Hu Tao terasa lemas dan gemetaran. Maka tanpa mampu dicegah lagi, pemuda yang memang sudah dalam kondisi amat lemah ini roboh pingsan.


Sian Yang kembali mengarahkan pandangannya kepada Lin Tian. Kiranya pemuda itu sudah bangkit berdiri dan menerjangnya. Namun....


"Praakkk!!!"


Topeng pemuda itu pecah seketika, begitu tangan Sian Yang memukulnya dengan amat keras.


Tubuh Lin Tian terlempar bagai daun tertiup angin, kemudian jatuh menghantam tanah dengan kepala lebih dulu, membuat pelipis kanannya mengalami pendarahan hebat.


Namun tak sampai di sana, ternyata daya pukulan itu sangat kuat sehingga begitu Lin Tian jatuh ke tanah, tubuhnya masih terseret ke belakang sejauh dua tombak. Pemuda ini tak bergerak lagi, pingsan.


"Lin Tian!!" teriak Zhang Qiaofeng sambil mencoba bangkit dan berjalan tertatih-tatih kearah pengawalnya.


"Lin Tian...Lin Tian...bangunlah..." ucap gadis itu penuh kekhawatiran begitu sudah sampai di dekat pemuda itu.


Gadis ini kemudian mengangkat kepala Lin Tian dan meletakkannya di atas pahanya. Mengelus surai pemuda itu dengan lembut dan penuh rasa cemas.


"Lin Tian...kumohon bangunlah!" kata gadis itu lagi. Rasa khawatirnya makin menghebat begitu melihat luka parah di pelipis kanan pemuda tersebut.


"Hahahahaha....hahahahah!!!" Sian Yang tertawa-tawa puas.


"Hanya inikah Kekaisaran Chu? Hanya inikah para pendekar kaum putih? Hahahaha.....dasar anjing-anning tak berarti!!!" sambungnya.


Semua orang memandang penuh kebencian dan dendam, tak terkecuali Zhang Qiaofeng. Gadis ini memeluk kepala Lin Tian erat-erat, memandang kearah orang itu dengan pandangan berkilat tajam. Agaknya dialah yang memiliki kebencian paling dalam terhadap Sian Yang.


"Kau sudah melewati batas!!" bentak Zhang Qiaofeng sambil tangannya menyambitkan sembilan pisau kecil kearah Sian Yang.

__ADS_1


Akan tetapi dengan mudah saja pria itu menangkis. Malah membalikkan kesembilan pisau itu ke pemiliknya.


"Eughh!!" erang Zhang Qiaofeng begitu sembilan pisaunya sendiri menyerempet tubuhnya dan menciptakan luka memanjang. Pelukannya makin erat untuk melindungi pemuda itu daripada lontaran pisau-pisau tersebut.


"Huahahaha...gadis manis...daripada kau bersama si lemah itu, lebih baik ikut bersamaku dan kita akan hidup berbahagia selamanya. Memiliki banyak anak keturunan yang kelak akan menjadi orang-orang kuat." antara lain Sian Yang berkata sambil berjalan mendekat.


Chu Quon dan lain-lain ingin menghentikannya, namun karena keadaan tubuh yang teramat letih, sehingga hal itu tidak memungkinkan.


Mendenga ucapan yang begitu kurang ajar ini, Zhang Qiaofeng segera membentak. "Diam!!!"


Tawa Sian Yang makin menggelegar dan matanya makin liar menjelajahi setiap jengkal tubuh Nona Zhang itu. Namun tiba-tiba semua perbuatannya berhenti begitu datang dua siluet hitam yang cepat sekali.


"Haaaa!!" bentak dua bayangan hitam itu dan langsung melancarkan serangan dari kanan-kiri Sian Yang.


Sian Yang segera merentangkan kedua lengan dan menangkis.


"Deeesss!!" pria ini terlempar mundur sejauh satu tombak, namun masih mampu mempertahankan keseimbangan.


Belum hilang rasa terkejutnya, dari atas sana menyambar angin kencang bagaikan angin ribut yang langsung mengarah kepalanya, hendak memecahkan tengkorak dan otaknya.


Dengan gerak refleks yang sudah terlatih matang, Sian Yang menggerakkan kedua tangan ke atas dan menangkis.


"Boomm!!" terdengar suara dentuman dan tempat berdiri Sian Yang melesak ke dalam tanah sejauh lima senti.


Sian Yang makin terkejut dengan serangkaian serangan tiba-tiba ini. Namun kembali hatinya harus berdebar tegang begitu telinganya menangkap alunan musik kecapi dari kejauhan.


"Aaahhh!!" teriak beberapa prajurit yang tidak kuat menahan getaran suara tersebut, sehingga roboh pingsan. Sedangkan yang masih kuat, harus mengerahkan seluruh tenaga untuk melindungi gendang telinga.


"Hm....siapa ini yang berani mengacau? Pembunuh si Iblis Tongkat Merah? Pantas saja berani lagak di Kota Raja." ucap suara misterius. Agaknya dari si pemain kecapi.


Ternyata saat ini Sian Yang sudah dikepung oleh empat orang tua yang masing-masing bersikap agung dan berwibawa. Melihat mereka semua, hilang sudah semua rasa terkejut di hati Sian Yang, dan terdengar suara tawanya menggelegar.


"Hahahaha....kiranya Empat Dewa Mata Angin sendiri yang datang menemuiku? Sungguh keberuntungan yang besar!!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2