
Kembali Lin Tian melanjutkan perjalanannya kearah Selatan. Saat ini, dirinya sudah memasuki wilayah terpencil. Terlihat di sepanjang perjalanannya yang sangat jarang menemui desa-desa, yang ada hanyalah hutan atau hamparan rumput yang sangat luas.
Sudah tiga minggu lamanya Lin Tian melakukan perjalanan dengan lari cepat. Selama itu pula dia tidak pernah berhenti kecuali hanya untuk tidur.
Makan saja ia lakukan sambil berjalan dengan cara memakan buah-buahan atau daun-daun yang layak dimakan.
Pemuda ini memang ingin cepat-cepat untuk sampai di Desa Tanah Hujan itu, dia sudah tidak sabar ingin menanyakan informasi memgenai Nona Mudanya.
Saat ini dia memasuki sebuah hutan besar yang bernama Hutan Merah. Dinamakan Hutan Merah adalah karena pohon-pohon yang ada di sana kebanyakan daunnya berwarna merah.
Ketika Lin Tian melewati sebuah pohon yang cukup besar, pemuda ini terkejut ketika tiba-tiba dirinya merasakan aura panas dari atas kepala. Secara refleks, dia lalu membuang tubuhnya ke samping kanan dan menengok untuk mengetahui siapa gerangan penyerang gelap barusan.
"Kau...!!" Lin Tian berseru tertahan.
"Heheh...kita berjumpa lagi..." jawab orang itu terkekeh.
"Sialan...kemana pun aku pergi agaknya akan selalu bertemu denganmu!!!" bentak Lin Tian kesal. Orang yang di hadapannya ini tak lain adalah pendekar topeng putih, murid dari pendekar topeng merah.
"Hoh benarkah? Sepertinya kau sungguh tidak beruntung. Terima ini!!" jawabnya yang kemudian secara tiba-tiba sudah menerjang maju menyabetkan pedangnya.
Lin Tian terkejut dan cepat dia cabut pula pedangnya untuk menangkis.
"Traang!!"
Terdengar bunyi nyaring ketika dua senjata berbenturan. Setelah itu secepat kilat mereka sudah bertanding hebat dan seru hingga membuat tubuh mereka hanya tampak sebagai gulungan sinar putih dan hitam.
"Hiaaattt...!!" teriak topeng putih ketika dirinya berada di atas udara dan melakukan gerakan membacok kearah ubun-ubun Lin Tian.
Pemuda ini yang tahu jika serangan itu bukanlah serangan biasa, melainkan serangan maut, cepat dia gerakkan pedangnya ke atas untuk menangkis.
"Trang!" bunga api berterbangan di sela-sela pertemuan kedua pedang itu.
Namun, belum sempat si topemg putih menginjak tanah, Lin Tian sudah menggerakkan tangan kiri hendak menotok leher lawan.
"Haaa!!" si topeng putih terkejut dan secepat kilat sudah pula menggerakkan tangan kiri menangkis.
"Plakk!!"
Begitu tubuh lawannya sampai di tanah, Lin Tian sudah mendahului dengan gerakan tusukan pedang yang mengarah jantung. Hebat sekali serangan ini, karena dilakukan dari jarak dekat, jika musuhnya telat saja mengambil tindakan maka akan putuslah nyawanya.
Akan tetapi topeng putih ini bukanlah sembarang pendekar. Melihat serangan bebahaya ini, dia dengan cerdik mengangkat tangan kiri dan mengempit pedang Lin Tian diantara ketiaknya. Kemudian balas menyerang menggunakan pedang untuk menusuk leher Lin Tian.
"Hahaha....matilah kau!!" teriaknya penuh kemenangan.
Akan tetapi dia kalah cepat. Ternyata begitu Lin Tian tahu pedangnya telah dikempit, pemuda ini cepat menggerakkan tangan kiri dengan pengerahan tenaga dalam yang langsung diarahkan ke topeng lawan. Gerakannya cepat sekali, ditambah sebelum tangan itu menyentuh tergetnya, terasa hawa dingin yang berasal dari telapak tangan tersebut.
"Praakkk....Aakkhhh!!" topeng putih itu pecah seketika. Dan penggunanya terlempar ke belakang sejauh lima tombak.
__ADS_1
"Kau?" tiba-tiba saja tubuh Lin Tian menjadi kaku tatkala melihat wajah dari pemilik topeng yang ia pecahkan barusan.
"Beraninya kau!! Topeng ini adalah pemberian guruku, kau sudah-"
"Zhang Heng.....!!!" belum sempat ucapan lawannya berhenti, Lin Tian sudah berseru nyaring dengan penuh kemarahan.
Pendekar topeng putih yang tak lain adalah Zhang Heng itu terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika mengetahui bahwa musuhnya ini mengenalnya.
Kemudian tiba-tiba dia menyadari sesuatu. Sedetik kemudian, raut mukanya berubah merah padam membayangkan kemarahan, "Kau...kau...Lin Tiaaannn!!!"
Sedetik kemudian, mereka sudah melesat secara hampir bersamaan. Mereka saling serang dan saling menekan dengan nafsu membunuh yang sangat hebat.
"Ternyata itu kau...Pendekar Hantu Kabut yang mampu membinasakan Naga Air dan Tangan Iblis!! Hebat juga kau bocah!!" teriak Zhang Heng ditengah-tengah pertarungan.
"Dasar iblis!! Agaknya dugaanku selama ini benar, bahwa kau yang merupakan seorang tetua adalah sosok dibalik hancurnya keluarga Zhang!! Pedangku ini akan memakan nyawamu Zhang Heng!!" bentak pula Lin Tian dengan garang.
"Ya!! Memang aku dalangnya!!" jawab Zhang Heng bringas.
Lima belas menit berlalu dan mereka sudah beradu ilmu sebanyak seratus jurus. Pertarungan mereka sangat cepat dan hebat, pohon-pohon di sekitar mereka bahkan sampai bergoyang seakan hampir roboh begitu terkena sambaran angin panas dan dingin dari mereka.
Batu-batu dan pasir di tempat mereka berpijak sudah berhamburan ke sana-sini. Seolah pertempuran mereka berdua itu berubah menjadi terjangan angin badai yang sangat dahsyat.
Pada jurus ke seratus sepuluh, Lin Tian mengeluarkan jurus Kibasan "Ekor Naga Langit" dan "Bilah Pedang Bulan" secara berturut-turut.
Hebat sekali akibatnya. Begitu Zhang Heng terhempas sejauh dua langkah akibat jurus "Kibasan Ekor Naga Langit", menyambar sebuah angin tajam yang sangat mematikan dari jurus "Bilah Pedang Bulan".
Zhang Heng kemudian memababat angin tajam itu dengan pedangnya yang sudah teraliri hawa panas.
Zhang Heng yang melihat ini hanya memandang sebelah mata. Kemudian pria ini menggerakkan pedang untuk menangkis.
"Trang!!"
Begitu Pedang Dewi Salju milik Lin Tian bentrok dengan pedangnya, dia merasa betapa pergelangan tangannya terasa sangat linu dan kaku. Tentu saja dia heran sekaligus terkejut melihat jurus aneh Lin Tian yang belum pernah ia temui.
Lin Tian lalu melakukan gerakan susulan. Masih dengan jurus yang sama, pemuda ini menebaskan pedangnya secara diagonal dari arah kiri atas kearah kanan bawah. Serangannya ini mengincar titik paling mematikan bagi manusia, yaitu leher.
"Cih, Sialan!!" Zhang Heng berseru dan melompat kebelakang. Setelah kejadian yang baru saja terjadi, dia tidak lagi berani bertindak sembrono karena telah meremehkan Lin Tian.
Kembali mereka berubah menjadi gulungan sinar hitam dan putih. Pedang Dewi Salju yang cantik dan anggun itu berkelebat kesana-kemari dengan memancarkan sinar putih kebiruan.
Sedangkan pedang Zhang Heng yang berwarna hitam bagaikan langit malam itu berkelebat cepat memancarkan sinar hitam kemerah-merahan.
"Cepat matilah pengkhianat!!" kesal Lin Tian yang sedari tadi tidak mampu mendesak Zhang Heng.
"Dasar bocah keras kepala!! Kau tak ada bedanya dengan Nona muda goblok itu!!" bentak Zhang Heng yang juga marah karena belum mampu mengalahkan musuhnya.
Lin Tian kemudian menyabetkan pedangnya dengan pengerahan tenaga dalam dari "Ilmu Silat Halimun Sakti" yang terasa amat dingin.
__ADS_1
"Swuusshh"
Zhang Heng yang melihat serangan berbahaya itu cepat memutar pedangnya di depan tubuh dengan dialiri tenaga panas.
"Boomm"
Terjadi ledakan keras begitu dua tenaga yang saling berlawanan ini bertemu. Mereka berdua sama-sama termundur sejauh tiga langkah.
"Akhirnya aku menemukanmu bocah...!! Sekarang waktunya kau mati, seraaaangg!!!" tiba-tiba terdengar bentakan keras yang suaranya sampai memenuhi seluruh penjuru hutan.
Mendengar suara ini, Zhang Heng menjadi sumringah karena tahu siapa yang telah datang.
"Guru..." katanya dengan ekspresi wajah berseri.
Tak lama setelah itu, muncul puluhan orang banyaknya yang langsung menyerbu Lin Tian.
"Bajingaaann....!! Dasar manusia pengecut kau Zhang Heng!!" teriak Lin Tian sembari menangkis beberapa senjata yang mengancam tubuhnya.
"Hahaha...kau memang ditakdirkan untuk mati hari ini Lin Tian!!!" kata Zhang Heng yang sudah pula meloncat maju menerjang Lin Tian.
Lin Tian yang mengenal ancaman maut, cepat memutar pedangnya untuk membuka jalan keluar.
"Hmph!! Selama aku belum bisa menemukan Nona, aku Lin Tian, tidak akan mati!!" serunya keras kemudian pergi dari tempat itu.
"Kejar dia!!!" perintah si topeng merah sambil menunjuk kearah kepergian Lin Tian dengan salah satu jarinya.
Tanpa diperintah dua kali, puluhan orang itu sudah berlari cepat mengejar pemuda tersebut.
...****************...
Mereka semua tidak sadar, jika semenjak pertempuran Lin Tian dan Zhang Heng tadi, ada dua orang gadis berjubah hitam serta bercadar yang mengintai mereka.
"Aku harus mengejarnya, aku harus menolongnya!! Lepaskan!! Lepaskaaann!!" teriak salah seorang gadis yang memberontak dari cengkraman gadis satunya.
"Jangan bodoh!!! Kita bukan tandingan mereka!! Jika boleh jujur, aku pun juga ingin menolong orang yang bernama Lin Tian itu. Tapi lihatlah kenyataannya!! Jika kita ikut turun dalam pertempuran, dapat kupastikan besok pagi hanya tulang belulanglah yang tersisa dari tubuh kita!!" bentak gadis yang bercadar merah.
"Aku tak takut mati!! Jika kau takut pulanglah!! Aku tak butuh bantuanmu. Intinya sekarnag aku harus mengejar dan menolongnya!! Cepat lepaskan aku!!" bentak gadis cadar hitam tak kalah garangnya.
Gadis cadar merah hanya terdiam dan terus memegangi si cadar hitam itu sambil menatap prihatin. Kemudian dia berkata.
"Tenanglah, anak itu kelihatannya bukan seorang lemah, kemungkinan dia masih bisa lolos. Sekarang lebih baik kita pulang dan beritahu ayahku soal masalah ini." jawab gadis cadar merah yang nada suaranya sudah berubah sedikit lembut.
"Hiks...hiks...Lin Tian...." setelah mendengar ucapan itu, gadis ini berhenti memberontak dan mulai menagis terisak.
Si cadar merah yang melihat ini kemudian memeluknya dan mengusap lembut punggungnya.
"Kita hanya bisa berharap, semoga orang itu bisa selamat." ucap singkat gadis cadar merah secara perlahan. Tak terasa, air matanya juga ikut turun karena ikut merasakan penderitaan gadis yang berada dalam pelukannya itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG