Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 205. Keluh Kesah


__ADS_3

Benarkah Zhang Qiaofeng waktu itu melihat sosok penolongnya sebagai Lin Tian? Apakah matanya tak membohongi diri sendiri karena kedukaan yang teramat dalam? Jikapun benar dia Lin Tian, bagaiamana pemuda bertopeng sebelah wajah itu bisa sampai di sana.


Semua pertanyaan ini sangat membingungkan terutama bagi Zhang Qiaofeng. Gadis pemimpin keluarga Zhang itu bahkan tidak tidur semalam penuh setelah berhasil menumpas distrik merah. Hal ini tentu saja dikarenakan kemunculan pendekar penolongnya itu.


"Itu bukan Kang Lim...yang menolong kami bukan kakek Lim...."


Seratus? Dua ratus? Atau seribu? Atau bahkan lebih? Tiada orang yang tahu berapa jumlah persisnya, yang pasti, gadis itu sudah mengulangi kata-kata tersebut berulang kali.


"N-nona...jangan terlalu dipikirkan...anda masih lelah, istirahatlah..."


Pelayan wanita itu juga terus menasehati dan membujuk Zhang Qiaofeng. Entah sudah keberapa kali nasehat dan bujukan dari wanita itu, yang jelas, kemungkinan jumlahnya tak jauh beda dengan gumaman Zhang Qiaofeng.


Zhang Qiaofeng melotot dan membuang selimutnya kasar seraya bangkit berdiri untuk memelototi pelayannya.


"Kau tahu apa? Kau tak ikut penyerangan, mana tahu apa yang kulihat!"


"T-tapi...nona...."


"Keluar!! Masih ada banyak pekerjaan untukmu bukan? Sudah berapa lama kau ada di kamarku!?"


"S-saya selalu menemani nona...bahkan tidak tidur semalam...."


"Bagus! Jika kau jatuh sakit dan mati aku yang jadi kambing hitam. Pergi dan jangan kembali ke sini jika aku masih melihat riasan hitam di matamu itu!" bentakan ini diucapkan Zhang Qiaofeng sambil menunjuk kelopak mata pelayannya yang menghitam. Ini karena dia kurang tidur dan tidak istirahat.


Tak bisa membantah lebih jauh, akhirnya pelayan itu pamit dan pergi dari kamar Zhang Qiaofeng. Gadis ini menghela nafas berat seperginya pelayannya, dia mendudukkan diri di kasur setelah tangan kanannya mengambil buku kecil dan alat tulis di atas meja.


Hari ketujuh bulan tujuh, kau meluapkan semua kesedihanmu dalam pelukanku dengan matahari terbenam sebagai saksi. Namun tak lama setelah itu, kau harus meninggalkanku dengan alasan demi melindungi nyawa yang tak seberapa ini....


Hari kedua puluh enam bulan dua belas, kita bertemu kembali setelah sekian lama. Lagi-lagi aku melihat air mata yang menetes turun setelah kedua tangan ini merengkuh tubuhmu. Hanya bedanya, tangismu bukanlah tangis kesedihan seperti dulu, bukanlah tangis patah hati karena hilangnya orang yang berharga dan disayang. Kulihat jelas dengan kedua mataku ini....kau tersenyum dalam tangismu....


Hari ketujuh bulan enam, aku mendengar jelas menggunakan kedua telinga ini kau bersumpah bahwa tak akan ada yang bisa memisahkan antara dirimu dan diriku selain kematian. Namun buktinya? Mengapa kau pergi begitu tiba-tiba?


Hari ketujuh bulan tiga, apakah mata ini membohongiku? Kendatipun begitu, bolehkah aku mempercayai kebohongan ini? Dengan mata yang sama saat melihatmu, saat melihat senyummu, saat melihat tangismu, aku melihatmu datang menyelamatkanku. Apakah ini kebohongan, atau harapan?


Hei hari ketujuh, siapakah dirimu? Apakah engkau sungguh bagian dari salah satu hari yang menyempurnakan kata satu pekan ? Benarkah itu? Kenapa kau selalu membawa harapan bagiku, kemudian kau memberi kekecewaan di hari kemudian?


Hei hari ketujuh, apakah engkau ini iblis bertopeng malaikat? Senang sekali mempermainkan nasibku. Mengapa kau selalu memberi kabar gembira namun selalu berakhir kecewa? Mengapa?


Zhang Qiaofeng menghentikan tulisannya, tangannya makin lama makin gemetar. Tak lama setelah itu ia rasakan kedutan di matanya diriingi perasaan sesak di dada. Tanpa terasa, air mata sebening mutiara jatuh membasahi tulisannya di kertas itu.


Dia menggigit bibir bawahnya, mendekatkan ujung penanya dan kembali menggores-goreskan benda tersebut untuk menghasilkan huruf-huruf indah di buku kecilnya.


Hei hari ketujuh, untuk yang ketiga kalinya, akankah kali ini kau akan menimpakan kekecewaan lagi terhadap diriku? Jika memang begitu, maka lakukanlah! Akan kuhadapi semuanya.


Namun jika seandainya engkau sudi untuk mendengar sepenggal kata dan ratapan hati kecilku ini, maka tolong....

__ADS_1


Jika engkau akan mengecewakanku, setidaknya jangan buat penglihatanku pada hari itu adalah kebohongan...


...****************...


Apakah memang benar bahwa sosok penyelamat itu adalah Lin Tian? Ya, memang dia adalah Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut yang kemunculannya hanya kurang lebih selama satu tahun di wilayah Utara sana.


Mari kita lihat petualangan pemuda itu setelah diijinkan turun gunung oleh gurunya.


Setelah bertahun-tahun Lin Tian berlatih keras di bawah bimbingan gurunya, Wang Ling Xue, akhirnya dia berhasil menyempurnakan lima ilmu maha dahsyat.


Yang pertama yaitu ilmu meringankan tubuh yang tak lain adalah Langkah Kilat. Yang kedua dan ketiga yaitu ilmu silat legendaris ciptaan pendekar digdaya masa lampau, Ling Sian. Tentu saja ilmu silat itu adalah Naga Salju Menari dan Api Pelahap Mega.


Yang keempat dan kelima adalah ilmu yang diciptakan oleh orang yang sama, yaitu ilmu Pedang Teratai Putih dan Ilmu Ketenangan Batin.


Pemuda ini sudah menguasai kelima ilmu itu sampai di tingkatan setara dengan guru-gurunya. Jangan lupakan pula, hawa sakti yang diolah dalam tubuhnya juga sudah mencapai tahap kesempurnaan. Sehingga bukan hal tak mungkin jika Lin Tian bisa mengalahkan Wang Ling Xue.


Setelah menyempurnakan ilmu-ilmu itu, Lin Tian akhirnya diperbolehkan oleh gurunya untuk turun gunung. Namun ada hal yang berbeda kali ini.


Saat sebelum melakukan pengembaraan, Lin Tian dan Wang Ling Xue sedang bercakap-cakap.


"Haha...sepertinya nonamu sudah terlalu merindukanmu. Kau harus cepat pulang!" goda Wang Ling Xue sambil menyenggol lengan muridnya.


Akan tetapi hal mengejutkan dan di luar dugaan terjadi. Wajah yang tampan itu berubah menjadi murung dan gelap. Nampak bibir pemuda itu tersenyum, namun pandangannya kosong. Semua itu mampu membuat Wang Ling Xue paham akan arti tersirat dari ekspresi tidak enak muridnya.


"Ya...guru benar..."


"Apa maksudmu?"


"Aku akan merasa senang sekali bila nona merasa rindu kepadaku."


"Kau bohong!" hardik Wang Ling Xue memandang tajam.


"Apa-apaan dengan ekspresi menjemukkan itu, apa kau tak senang akan bertemu kembali dengan nonamu!? Ceritakan padaku!"


Lin Tian menghela nafas, berat sekali rasanya untuk menceritakan keluh kesah dan beban hatinya kepada orang lain karena hal itu dianggapnya memalukan. Namun apa boleh buat, dia harus mengutarakan semua setidaknya untuk sedikit meringankan beban berat di kedua pundaknya.


"Aku...entah sudah keberapa kalinya aku mengkhianati nona dan keluarga Zhang. Seingatku, pengkhianatan yang paling menyedihkan sudah kulakukan sebanyak dua kali."


Wang Ling Xue terbelalak, spontan dirinya bertanya setengah berteriak. "Apa maksudmu!?"


Lin Tian tidak kaget mendengar keterkejutan gurunya. Dia memandang langit malam penuh taburan bintang dengan tatapan kosong dan sulit diartikan.


"Yang pertama, aku telah berani menguasai ilmu Ketenangan Batin sedangkan leluhur Ling Sian dan Zhang Ci mengatakan bahwa kitab itu tak boleh dipelajari selain oleh anak keturunannya. Seharusnya yang menguasai itu nona."


"Namun karena nona dan kakeknya tak mempermasalahkan, bahkan kakek Chong San dan anda sendiri tak keberatan, hal itu membuat aku merasa lega." Lin Tian berhenti sejenak sebelum lanjut bicara.

__ADS_1


"Namun yang paling menyedihkan hati ini ialah, aku telah bersumpah kepada nona bahwa aku akan terus bersamanya kecuali kematian yang memisahkan. Dan saat ini, seperti yang guru lihat sendiri, bertahun-tahun aku terpisah darinya sedangkan aku masih hidup. Bukankah ini suatu pengkhianatan?" raut wajah Lin Tian nampak frustasi.


Akan tetapi, bukannya memberi nasehat dan dukungan, Wang Ling Xue malah tertawa terbahak-bahak.


"Apanya yang lucu!!" bentak Lin Tian merasa bahwa kisahnya tak dihargai.


"Hahaha, jelas lucu sekali! Kau bicara bahwa kau telah mengkhianati nonamu, sedangkan menurutku nonamu tak memepermasalahkan hal sepele macam itu. Lalu, siapa yang berkhianat? Dirimu kepada keluarga Zhang ataukah dirimu kepada dirimu sendiri?"


"A-apa maksudnya?"


Sampai lama Wang Ling Xue terus tertawa tanpa memperhatikan pertanyaan Lin Tian. Hingga tiba-tiba dia menuding wajah Lin Tian dan memandang tajam, perkataan yang keluar dari mulutnya terdengar sangat serius dan mengintimidasi.


"Kau...seandainya bisa dan bukan hal mustahil, apakah dirimu masih ingin melindungi nonamu sungguh pun ragamu sudah mati?"


"Tentu saja!"


"Bukankah hal itu juga pengkhianatan? Sedangkan engkau bersumpah bahwa kematian yang bisa memisahkan kalian berdua. Jika kau sudah mati sedangkan arwahmu masih terus mengikuti kemana pun dia pergi, apakah hal itu masih bisa dianggap sebagai perpisahan?"


"Lin Tian, kau masih terlalu hijau dan naif. Kesetiaan dan pengkhianatan bukanlah hal yang seremeh itu. Kau belum mati, sedangkan seluruh jiwa raga dan semangatmu masih ingin terus melindungi nona Zhang, hal itu adalah kesetiaan yang sesungguhnya. Namun jika kau berpikir saat ini menjadi pengkhianat karena berpisah dari nonamu tanpa kematian yang menjadi sebab, aku bingung apakah kau merasa rendah karena menjadi pengkhianat ataukah kau memang ingin memisahkan dia dari hidupmu?"


Lin Tian terbelalak dan mukanya berubah pucat, dia segera bersujud di hadapan gurunya dan berkata lantang.


"Seluruh jiwa raga saya selalu meneriakkan nama nona Zhang, saya tidak akan mengkhianati dia barang seujung rambut pun. Tolong jangan berkata hal mengerikan seperti itu lagi guru!!"


"Lin Tian...jawab pertanyaanku dan ini akan menentukan semuanya. Kau masihlah pemuda yang kurang pengalaman, sehingga mungkin sekali kau masih sangat sulit membedakan mana benar dan salah. Jawab ini, apakah kau masih ingin melindungi nona Zhang?"


"Jawabannya jelas, saya mau!!"


"Tapi kau merasa menjadi manusia rendah karena mengkhianati nonamu?"


"Benar guru!"


"Maka, jika kau kembali berarti kau tak punya rasa malu sedangkan jika kau pergi kau kehilangan rasa setiamu. Kalau begitu, kenapa tidak kau teruskan saja rasa setiamu dari jauh?"


Lin Tian mengangkat mukanya perlahan lalu berkata lirih.


"Maksud guru?"


"Lindungi dia dari jauh. Mungkin kau bukan lagi menjadi pengawal pribadi yang selalu berada di sampingnya kemana pun dia pergi. Namun selama hidupmu kau akan tetap menjadi Pendekar Hantu Kabut dari keluarga Zhang!" ucap Wang Ling Xie tersenyum yang berhasil membuat semangat Lin Tian kembali bangkit.


"Lupakan soal pengkhianatan, jika kau benar-benar setia carilah cara yang paling tepat untuk menunjukkan rasa setiamu itu, bukan malah larut dalam kesedihan hanya karena satu dua kesalahan! Pergilah ke Utara, seharusnya keluarga Zhang mengirim pasukannya ke sana untuk membantu kekaisaran Song."


Lin Tian nampak sumringah dan bangkit berdiri cepat-cepat.


"Baik guru!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2