
Lin Tian berdiri bengong melihat kedatangan kakek misterius itu. Diam-diam dia merasa kagum atas kehebatan kakek satu ini. Bagaimana tidak? Pengeroyokan dua puluh orang itu yang rata-rata terdiri dari orang lihai, mampu dia kalahkan hanya dalam beberapa detik saja!!
Lin Tian masih berdiri dengan pandangan kagum sampai-sampai pemuda ini tidak sadar jika semua musuhnya sudah lenyap.
Lalu tiba-tiba kakek itu berkata, "Apa kau baik-baik saja?"
Mendengar pertanyaan ini, seperti tersadar dari mimpi, Lin Tian kemudian menjawab seraya menjura memberi hormat, "Saya baik-baik saja. Terima kasih atas bantuan-"
Belum selesai dia berkata, Lin Tian sudah jatuh dalam keadaan pingsan karena terlalu banyak mengeluarkan darah.
"Hah...." kakek itu menghela nafas dan menggelengkan kepala. Kemudian dengan senyum yang masih terukir di wajahnya, dia lalu menggendong tubuh Lin Tian dan membawanya pergi dari sana.
...****************...
"Hngghh...." Lin Tian sedikit mengerang menahan sakit di kepalanya ketika dia membuka mata.
Pemandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah langit-langit rumah yang terbuat dari kayu. Kayu itu sudah terlihat amat usang dan tua.
Begitu dia mencoba menggerakkan kepala untuk melihat sekitar, ternyata dirinya berbaring di atas dipan bambu yang berada di sebuah ruangan kira-kira berukur sebesar tiga kali empat meter.
Di samping dipan itu, terdapat sebuah meja kecil dan di atasnya terdapat pula sebuah lilin yang sudah tak berapi lagi. Tak jauh dari lilin itu, dia melihat topengnya yang selama ini selalu ia kenakan untuk menutupi identitas.
Lin Tian lalu bangkit dari tempat tidurnya.
"Dimana aku?" gumamnya perlahan.
Tak lama setelah itu, dari balik tirai bambu yang berada di depan Lin Tian, muncul sesosok kakek tua yang tidak terlihat asing di matanya.
"Oh...kau sudah bangun nak?" ucap kakek itu yang bukan lain adalah penolongnya di hutan merah.
Lin Tian yang melihat kedatangannya, cepat dia menjatuhkan diri berlutut di depan orang itu dan berkata,
__ADS_1
"Terima kasih banyak atas bantuan senior di hutan tadi." ucap pemuda ini tegas.
Kakek itu terlihat mengerutkan kening, kemudian berkata halus, "Tadi? Hahaha...yang benar itu kemarin. Kau sudah tertidur di sini selama satu hari satu malam penuh."
Lin Tian tentu saja kaget mendengar pernyataan ini. Dia sama sekali tidak menyangka jika luka-luka yang dideritanya bisa sampai separah itu.
"Sudahlah, mari kita makan dulu. Kau pasti lapar kan? Ayo ikut aku." tanpa menunggu jawaban Lin Tian, kakek ini sudah membalikkan tubuh dan pergi dari sana.
Lin Tian yang tidak punya pilihan lain juga ikut berjalan di belakangnya.
Ketika sampai di depan rumah sederhana milik kakek itu, Lin Tian memandang sekeliling dengan perasaan kagum dan takjub.
Dia melihat di depannya terdapat sebuah danau yang cukup besar dengan air berwarna biru karena memantulkan warna dari langit.
Di pinggir danau itu, juga terdapat batu-batu kecil yang warna dan ukurannya beraneka macam. Ada yang besar, ada yang kecil, ada yang berwarna putih ataupun warna hitam. Yang jelas, semua batu-batu ini mampu memantulkan cahaya matahari yang menyinari mereka. Sehingga, batu-batu itu nampak mengkilap dan indah.
Di sekitar rumah sederhana ini, terlihat banyak sekali pohon-pohon tinggi besar yang daunnya berwarna merah. Tahulah Lin Tian bahwa sejatinya dirinya masih berada di wilayah Hutan Merah.
Ternyata kakek ini sudah duduk di sebuah kursi batu yang berwarna putih, di depannya terdapat meja yang sama-sama terbuat dari batu namun berwarna hitam. Di atas meja itu sudah terdapat banyak macam makanan serta minuman.
Lin Tian menghampiri kakek itu dan duduk di salah satu kursi yang sudah disiapkan.
"Tak usah sungkan, makanlah." kata kakek ini lalu langsung mengambil salah satu makanan tersebut.
Lin Tian yang melihat sang tuan rumah sudah memakan makanan itu, dia pun juga langsung ikut makan. Memang sejatinya saat ini perutnya sudah terasa amat lapar.
Beberapa menit berlalu dan mereka sudah menghabiskan semua makanan itu. Tiba-tiba Lin Tian bertanya, "Senior, bolehkah saya tahu nama besar senior yang telah menyelamatkan nyawa saya ini?"
Kakek itu menatap Lin Tian dan kemudian tertawa, "Hahaha...nama besar? Apa artinya nama besar? Namaku Zhang Hongli!"
Lin Tian yang mendengar hal ini merasa seperti jantungnya hampir melompat keluar. Matanya melotot memandang kearah kakek di depannya itu. Lalu sedetik kemudian dia menangis dan bersujud di hadapannya.
__ADS_1
"Eh...eh....ada apa ini?" tanya Zhang Hongli yang tentu saja heran menyaksikan sikap Lin Tian.
"Hiks...maafkan aku pemimpin!! Keluarga Zhang....keluarga Zhang....hiks.....telah hancur.." ucap Lin Tian disela-sela tangisannya.
Hening sejenak setelah Lin Tian menyelesaikan kalimatnya. Kemudian kakek itu berkata perlahan yang mana kata-katanya itu membuat Lin Tian terkejut setengah mati.
"Aku sudah tahu..."
Karena saking kagetnya, pemuda ini lalu mendongakkan kepala dan memandang kearah Zhang Heng dengan pandangan tidak percaya. Jika sudah tahu, kenapa kau tak pulang dan menemui anak cucumu? Tanya Lin Tian dalam hati.
"Aku sudah tahu semua itu nak..." kakek itu kembali berkata, akan tetapi kali ini dua titik air mata keluar dari kelopak matanya.
"Kalau anda sudah tahu, kenapa tidak pulang dan melihat keadaan di sana?" akhirnya Lin Tian bertanya karena sudah tidak tahan akan penasaran di hatinya.
"Hah...ceritanya panjang. Duduklah, aku akan menceritakan semuanya." jawab kakek itu.
"Omomg-omong, siapa namamu nak? Mengapa kau terlihat begitu sedih akan kehancuran keluargaku? Ada hubungan apakah kau dengan keluarga Zhang?" tanya kakek itu bertubi-tubi begitu Lin Tian sudah kembali duduk di tempatnya.
"Nama saya Lin Tian Tuan. Dan hubungan saya dengan keluarga Zhang....saya adalah pengawal pribadi cucu anda, Nona muda Zhang Qiaofeng." jawab Lin Tian dengan suara parau akibat tangisannya.
Kakek itu terlihat terkejut, lalu spontan dirinya bertanya, nadanya sedikit berteriak, "Apa? Lalu....dimana dia sekarang?"
Mendengar pertanyaan ini, Lin Tian menjadi sedih, kemudian menjawab, "Aku tidak tahu Tuan, kami berpisah ketika kami sedang melarikan diri dari para penyerbu itu. Sampai sekarang, aku berusaha mencarinya akan tetapi masih belum membuahkan hasil."
"Bagitu ya...itu artinya, ada kemungkinan bahwa dia masih hidup." jawab Zhang Hongli yang terlihat sedikit lega.
"Baiklah, akan kuceritakan padamu mengapa aku tidak kembali ke keluarga Zhang waktu itu, dan mengapa pula aku tiba-tiba menghilang pasca satu hari pengangkatan pemimpin baru. Dengar baik-baik..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1