
Di pihak Hu Tao sendiri, pemuda ini juga mengerahkan seluruh kepandaiannya sungguhpun tidak sehebat Lin Tian.
Dengan sepasang belati lebarnya itu, dia mainkan jurus silat "Naga Melahap Langit" yang luar biasa bukan main.
Belati berantainya itu meliuk-liuk di udara yang membuat musuh merasa gentar. Mereka bingung bagaimana cara untuk merobohkan Tuan muda ini karena tubuhnya selalu tertutupi oleh gulungan sinar sepasang belati itu.
"Sialan, ternyata dia sehebat ini!!"
"Padahal dia tak pernah mengalami pertarungan sungguhan, tapi mengapa bisa selihai ini!??"
Ucap beberapa penjaga itu dengan terkejut sekaligus heran.
"Haaa....!!" Hu Tao memekik keras tatkala pemuda itu memutar sepasang belatinya untuk membabat kurungan musuh yang mengeroyoknya.
"Aaaa!!"
Terdengar teriakan-teriakan kesakitan dari para penjaga itu yang terpental akibat hempasan belati Hu Tao.
"Teng....teng...teng...."
"Penyusuuupp!! Penyusuupp!"
Tak lama setelah itu, terdengar bunyi lonceng yang berasal dari sebuah menara. Lonceng itu adalah sebagai tanda jika ada suatu serangan.
Saat suara itu masih menggema di udara, berbondong-bondong datang puluhan orang lainnya yang langsung mnyerbu tempat itu.
"Bagus, datanglah! " batin Hu Tao yang memang menginginkan hal ini.
"Wah ternyata si mayat hidup!!"
"Berani juga dia menantang kita hanya dengan jumlah orang sedikit itu!"
"Hajaarr!!"
Puluhan orang itu langsung melompat dan ikut dalam pertempuran. Mereka lebih berfokus untuk mengincar Hu Tao daripada yang lainnya.
"Tuan muda, cepat bunyikan tandanya!!" teriak tetua pertama sembari menahan beberapa serangan musuh.
Hu Tao mengangguk lalu mengambil nafas dalam-dalam. Kemudian dari bibir pucat itu terdengar suara siulan yang sangat keras karena di bunyikan dengan pengerahan tenaga dalam.
Beberapa detik kemudian setelah siulan itu berhenti. Dari arah timur dan barat datanglah rombongan pendekar yang langsung terjun ke medan tempur. Mereka ini adalah tim dua dan tim tiga yang dipimpin oleh tetua keempat dan keenam.
"Hahaha...!!! Ingin kulihat sampai dimana kemampuan kalian!!" teriak salah seorang penjaga dengan angkuh ketika melihat kedua rombongan itu.
Tiba-tiba tawanya berhenti seketika karena dia mendengar suara angin bersuitan dari belakangnya.
__ADS_1
Cepat dia mengelak dengan cara menekuk kedua lutut dan merubah posisinya menjadi jongkok.
"Wuuttt"
Berkelebat bayangan putih yang cepat sekali di atas kepalanya. Ketika bayangan itu belum sempat menginjak tanah, dia sudah bangkit dan mengirim serangan balasan.
"Desss!!"
Telapak tangannya bertemu dengan telapak tangan seorang berjubah putih itu. Ternyata ketika tadi sedang berada di udara, orang itu mampu memutar tubuhnya dan menahan serangan penjaga itu.
Mereka berdua sama-sama terdorong dua langkah ke belakang. Ketika si penjaga memandang orang berjubah putih itu, seketika meledaklah tawanya.
"Hahaha...Tuan muda, tak kusangka anda berani dengan sembrono menyerang ke sini. Apa sudah bosan hidup?" tanyanya disertai senyum mengejek.
"Heh! Kaulah yang tak akan hidup lagi setelah malam ini!!" bentak Hu Tao marah.
"Oh...oh...galak sekali. Bukankah Tuan muda Hu Tao terkenal dengan seorang pendiam yang lemah lembut? Ah...tapi dalam pikiranku, anda ini memang benar-benar seorang yang lemah!! Bwaahahahah...!" kembali orang itu melontarkan ejekan-ejelan yang membikin panas telinga Hu Tao.
"Bedebah...!!" Tuan muda itu berteriak dan sejurus kemudian dia sudah melesat mengirim serangan kepada lawannya.
Dia mengirim pukulan yang mengandung tenaga dalam penuh kearah muka penjaga yang masih tertawa-tawa itu.
"Bukk...Heheh hanya segini?"
"Apa!?? Waaaa!!" orang itu berteriak sambil membuang tubuh ke belakang.
Ternyata setelah kepalan tangan Hu Tao ditangkap oleh lawannya, pemuda itu lalu mengeluarkan belati lebarnya dari balik lengan yang langsung mengarah ke mata orang itu.
Tentu saja hal ini membuat lawannya terkejut dan dengan refleks membuang tubuh ke belakang untuk menyelamatkan matanya yang hanya berjumlah dua itu.
"Sial! Matilah...!!" ucapnya setelah mampu menyelamatkan kedua matanya. Kemudian dia menusukkan pedangnya ke dada Hu Tao.
"Trang-cring"
Pemuda ini berhasil menangkis tusukan pedang itu dengan sempurna, disusul dengan serangan belati kirinya yang sudah mengancam telinga kanan lawan.
Lawannya dengan sigap miringkan kepala dan hendak menotok pergelangan tangan kiri Hu Tao, namun ternyata gerakan pemuda itu lebih cepat sehingga pergelangannya selamat daripada totokan tersebut.
Sebelum lawannya mampu menstabilkan posisi, pemuda ini sudah menendang keras dada lawannya yang membuat ia terpental jauh ke belakang.
"Uaaaghhh!!" teriaknya kesakitan ketika punggungnya menghantam tanah keras.
Sedetik kemudian Hu Tao sudah meloncat dan menusukkan kedua belatinya kearah dada orang itu.
"Crap-crap"
__ADS_1
Darah menyiprat kemana-mana tatkala kedua senjata yang dikaitkan dengan rantai itu menembus dada lawannya. Orang itu tewas seketika.
"Hmph...ternyata hanya besar mulut." gumam Hu Tao perlahan seraya memandangi mayat musuhnya yang mati dalam keadaan melotot itu.
Tiga puluh menit berlalu, dan pasukan dari pihak Hu Tao perlahan-lahan tapi pasti mampu mendesak pasukan para pengkhianat.
Walaupun jumlah mereka lebih sedikit, akan tetapi ternyata kekuatan setiap masing-masing orang lebih tinggi ketimbang para pemberontak itu. Sehingga tidak heran jika mereka mampu mendesak lawan dan mengendalikan jalannya pertempuran.
Akan tetapi tiba-tiba dari kegelapan malam, melesat beberapa senjata rahasia yang langsung merobohkan beberapa orang dipihak Tuan muda.
"Siapa??" bentak Hu Tao yang terkejut melihat penyerangan gelap itu.
"Hahaha...hebat, hebat sekali!! Tak kusangka kau bisa memanggil bantuan sekuat itu Tuan muda Hu Tao." ucap seseorang yang suaranya menggema hingga secara serentak mereka semua menghentikan pertempuran.
"Lihat!!" seru salah seorang penjaga sambil menunjuk ke atap kediaman.
Terlihat di sana berdiri beberapa orang dengan sikap angkuh, dua orang paling depan adalah pendekar berpakaian serba hitam dan mengenakan topeng untuk menutupi wajahnya.
"Hm...? Mengapa mereka ada di sini? Apa mungkin benar dugaanku, jika penyerangan di pandai besi itu ada hubungannya dengan permasalahan keluarga ini." batin Lin Tian ketika melihat dua orang bertopeng itu.
Tentu saja dia mengenal mereka karena dahulu ketika dirinya sedang berada di Kota Batu, Lin Tian pernah bentrok dengan kedua orang ini. Waktu itu Lin Tian sedang bertempur memihak Pandai Besi Selatan.
Akan tetapi agaknya mereka berdua sama sekali tidak mengenal Lin Tian. Mungkin karena penampilannya yang sudah benar-benar berubah. Jika dahulu ketika mereka bentrok, Lin Tian belum mengenakan topeng dan masih memakai baju merahnya.
Sekarang ini Lin Tian sudah benar-benar berubah baik dari penampilan maupun senjatanya. Yang belum berubah hanyalah gaya rambutnya saja.
Sedetik kemudian, kedua orang itu melompat turun dari atap diikuti puluhan orang anak buahnya. Jika dilihat sekilas, mereka terdiri kurang lebih sebanyak empat puluhan pendekar.
"Hm...kami telah menjalin kerja sama dengan Hu Kai itu dan kau anaknya malah hendak menyerang keluarga sendiri? Kau sungguh gila bocah!!" kata topeng merah tanpa basa-basi tepat ketika dia menginjak tanah.
"Menyerang keluarga sendiri? Cuih!! Kalian telah merusak keluargaku dan aku di sini hendak mengembalikan lagi keluarga Hu seperti dulu. Keluarga Hu adalah keluarga penguasa kota Sungai Putih yang terhormat, kami tidak akan tunduk terhadap segala macam orang sesat macam kalian!!" ucap tegas Hu Tao.
"Hmph...yasudah, bantai mereka!!" ucapan ini diucapkan oleh topeng merah secara perlahan, akan tetapi karena menggunakan pengerahan tenaga dalam, sehingga suaranya bisa sampai terdengar oleh mereka semua.
"Hajar merekaaa!!!"
"Hiaaaaa...!!!"
Sekali lagi, pertempuran pecah di halaman belakang yang luas dari kediaman pemimpin itu.
Bulan dan bintang-bintang di atas sana adalah saksi bisu atas semua peristiwa berdarah malam ini, menjadi saksi atas awal mulanya perubahan keluarga Hu, dan juga menjadi saksi atas lahirnya dua pendekar sakti yang kelak akan mengguncangkan seluruh kolong langit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1