Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 37. Lin Tian yang Sesungguhnya?


__ADS_3

"Swuuusshh"


Angin dingin berhembus kencang malam itu. Sang rembulan ditemani ribuan bintang-bintang menghiasi langit hitam yang tak sedikitpun terlihat gulungan awan di atas sana.


Seakan-akan mereka juga hendak menonton perang saudara antar keluarga ini. Seolah mereka ingin menjadi saksi atas terjadinya awal perubahan ini.


Di halaman depan bangunan penjara bawah tanah itu, terlihat sekitar empat puluhan orang lebih berkumpul dengan muka tegang. Di depan kumpulan itu, terlihat seorang pemuda yang rambut serta jubahnya berwarna putih. Pemuda ini berdiri dengan gagah dan matanya memancarkan semangat membara. Dialah Hu Tao, tuan muda keluarga Hu.


"Baiklah, waktunya sudah tiba. Malam ini juga, kita akan merebut kembali keluarga kita dari tangan para cecunguk itu!!"


"Yaaa....!!"


"Bunuh pengkhianat!!"


"Rebut kembali keluarga Hu...!!"


Berbagai macam teriakan memenuhi halaman itu. Hu Tao kemudian mengangkat salah satu lengannya dan seketika semua suara itu lenyap.


"Sesuai rencana, kita akan langsung menyerbu kediaman utama. Ketika semua orang terpancing untuk mendatangi tempat itu, saat itulah tim dua dan tim tiga menyerbu dari segala sisi. Apa kalian sudah siap!!!??" kata Hu Tao kembali mengingatkan soal rencana mereka.


"Siaapp!!"


"Ingat!! Tim satu yang menjadi penyerang pertama di kediaman utama bisa dibilang adalah tumbal dipertempuran kali ini, jika kalian takut mati, lebih baik mundur sekarang!!"


"Kami tidak takut!!" teriak beberapa orang yang terdiri dari pendekar dan tetua keluarga. Agaknya mereka inilah yang dimaksud dengan tim satu.


Memang dalam rencana kali ini, tim satu seperti dikorbankan demi meraih kemenangan. Ketika diskusi dilaksanakan, Hu Tao jelas menentang rencana ini, akan tetapi melihat semua bawahannya setuju, akhirnya mau tak mau dia pun ikut menyetujui rencana gila ini.


Tim satu yang akan menjadi "tumbal", terdiri dari orang-orang paling kuat di rombongan itu. Mereka terdiri dari tetua pertama, sembilan orang pendekar, Lin Tian dan Hu Tao sendiri.


Hu Tao sengaja untuk ikut dalam penyergapan pertama ini karena saran dari Lin Tian. Pendekar bertopeng itu bilang jika dirinya bisa menjadi penyemangat bagi pasukan tim satu ini. Akhirnya Hu Tao pun menyetujui saran itu.


Sedangkan untuk tim dua dipimpin oleh tetua keempat dan untuk tim tiga dipimpin oleh tetua keenam. Tim dua dan tim tiga masing-masing terdiri dari delapan belas orang, sedangkan tim satu adalah yang paling sedikit, yaitu hanya dua belas orang dan yang memimpin adalah Hu Tao.


"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke tempat masing-masing. Untuk tim dua dan tiga, jangan bergerak sampai kami dari tim satu memberi tanda."


"Siap Tuan muda!!"


Kemudian empat puluhan pendekar itu langsung pergi ke tempat-tempat yang sudah direncanakan.


...****************...


Terlihat berkelebatan bayangan beberapa orang yang gerakannya cepat sekali. Di barisan paling depan terlihat dua orang yang sama-sama mengenakan pakaian putih. Mereka inilah tim satu.


Kira-kira kurang tiga ratus meter lagi mereka akan sampai di kediaman keluarga Hu.


"Hah...." terdengar helaan nafas panjang dari mulut Hu Tao. Pemuda itu merasa tegang dan sedikit takut untuk menghadapi pertempuran ini.


Bagaimana tidak, selama hidupnya baru kali inilah dia akan menghadapi pertempuran. Selama ini dia hanya berlatih ilmu silat di halaman rumahnya tanpa pernah terjun langsung ke pertarungan sesungguhnya.

__ADS_1


Pengalaman pertamanya adalah ketika dia dan Lin Tian melawan beberapa orang penjaga saat hendak membebaskan para tahanan itu.


Begitu pula dengan pemuda di sebelahnya. Lin Tian juga merasa tegang dan sedikit ngeri untuk menghadapi pertempuran berkelompok ini.


Selama ini dirinya hanya bertarung melawan pendekar-pendekar secara perorangan dan belum pernah mengalami pertarungan skala besar seperti saat ini.


Akan tetapi, baik Hu Tao maupun Lin Tian, mereka sama-sama sudah membulatkan tekad untuk menghadapi pertempuran ini. Tidak ada jalan untuk kembali lagi!! Pikir mereka.


Hu Tao bertempur demi menyelamatkan keluarganya, sedangkan Lin Tian bertempur demi menyelamatkan keluarga Xiao.


Kedua orang muda ini sama-sama bertempur dengan membawa tujuan masing-masing. Akan tetapi, ada satu persamaan diantara kedua pemuda itu. Persamaan itu adalah...


"Kembar ****** itu harus mati!!" batin mereka berdua dalam hati.


Hu Tao ingin membunuh dua orang itu karena menganggap jika mereka adalah asal muasal kehancuran keluarga Hu. Sedangkan Lin Tian sangat membenci si kembar itu karena menganggap mereka akan jadi ancaman besar bagi keluarga Zhang dan Nona mudanya di masa depan.


Dengan pemikiran ini, hilang sudah semua rasa takut dan gentar di hati mereka. Berubah menjadi kobaran api semangat yang seolah mampu membakar apa saja.


...****************...


"Kita sampai." ucap Hu Tao ketika mereka sudah sampai di gerbang belakang kediaman utama.


"Kita langsung masuk?" tanya Lin Tian.


"Lebih baik untuk mengamati situasinya terlebih dahulu." jawab Hu Tao. Kemudian pemuda ini memerintahkan salah satu pendekar untuk masuk dan melihat keadaan.


Selang beberapa menit, pendekar itu kembali ke rombongan dan melapor, "Di dalam sana ada sekitar lima puluhan orang yang tersebar dimana-mana Tuan muda."


"Kira-kira berjumlah sekitar dua puluhan orang Tuan."


"Baiklah, kalau begitu kita langsung saja menyerbu ke dalam. Jika mereka semua sudah datang mengeroyok kita, barulah aku akan memberi tanda kepada yang lain." ucap Hu Tao mengambil keputusan.


"Kalau begitu ayo!" kembali dia berkata seraya bangkit berdiri kemudian melompat melewati tembok itu diikuti yang lainnya.


Ketika mereka sampai halaman belakang kediaman, para penjaga yang berpatroli di sana terkejut dan langsung berteriak memberi tanda kepada teman-temannya.


"Penyusuup!! Penyusuupp!!"


Langsung saja dua belas orang itu langsung menerjang dan merobohkan mereka.


Teriakan itu ternyata didengar oleh para penjaga yang lain sehingga sebentar saja, halaman belakang kediaman pemimpin keluarga itu sudah di penuhi dengan tiga puluhan orang penjaga.


"Seraaangg!!" teriak Hu Tao memberi komando.


Seketika terjadi bentrokan antara kedua belah pihak. Dua belas orang pendekar yang dipimpin oleh Hu Tao melawan tiga puluh orang lebih penjaga.


Melihat dari jumlahnya, jelas terlihat siapa yang lebih unggul. Akan tetapi, dua belas pendekar itu adalah pendekar-pendekar sakti yang kepandaiannya sudah di atas rata-rata. Sehingga pertempuran itu mampu berjalan seimbang.


"Bak-buk-praangg"

__ADS_1


"Gila!!"


Terdengar sebuah suara keras yang berasal dari pecahnya bilah pedang seorang penjaga. Tetapi yang membuat penjaga itu terkejut adalah, pedangnya mampu dihancurkan hanya dengan tangan kosong.


Yang menghancurkan pedang itu ternyata adalah Lin Tian, pendekar sakti ini masih belum mau menggunakan Pedang Dewi Saljunya, sehingga dia bertempur hanya menggunakam tangan kosong.


"Buukkk...aaaaa!!"


Sekali kena hantam, orang itu langsung terpental dan kepalanya mendarat lebih dulu di tembok rumah itu. Penjaga itu langsung tewas seketika.


Melihat temannya mampu dibunuh hanya dengan satu pukulan, keempat penjaga lain yang marah langsung mengeroyok Lin Tian.


"Bajingaaann!!"


Teriak salah satu dari mereka sembari menusukkan tombaknya kearah ulu hati pemuda itu.


Lin Tian yang melihat datangnya serangan hanya menggerakkan tangan kanan dan mencengkram tombak itu. Sedetik kemudian, dia mengerahkan tenaga menarik dan tombak itu sudah berpindah tangan.


"Apa? Bagaima-" ucapannya terhenti karena jantungnya sudah ditembus oleh tombaknya sendiri.


Tiga orang lainnya juga sudah menerjang maju, mereka mengeroyok Lin Tian dari arah depan, kiri dan belakangnya.


Pemuda itu kemudian mengeluarkan pekik tertahan lalu merendahkan tubuhnya hingga rendah sekali. Setelah itu, tangan kanannya yang digunakan untuk memegang tombak ia tekuk ke punggung, sedetik kemudian tombak itu ia putar di atas punggung sehingga putaran tombak itu bagaikan sebuah "payung" baginya untuk melindungi diri dari serangan ketiga orang itu.


Hebat sekali putaran tombak ini, tubuh Lin Tian benar-benar terlindungi di bawah tombak itu dan tidak ada satupun serangan yang berhasil menerobos pertahanannya.


"Apa-apaan gerakan aneh itu!??" seru salah seorang dari mereka terkejut sekaligus heran.


Kemudian, secepat kilat Lin Tian menghentikan putaran tombaknya. Lalu pemuda itu memutar tubuhnya dan menjatuhkan tiga orang itu dengan sapuan kakinya.


Ketika tiga orang itu terjatuh dan masih dalam posisi rebah di tanah, Lin Tian sudah meloncat dan secara cepat sekali tombak itu ia tusuk-tusukkan kearah dahi dari setiap penyerangnya


"Crok-crok-crok"


Tiga kali berturut-turut tombak itu melubangi dahi mereka. Terlihat cairan merah gelap menyembur keluar dari lubang itu. Setelah berkelojotan, akhirnya mereka tewas.


Kembali Lin Tian melanjutkan aksinya, pemuda ini melompat kesana-sini dengan sebatang tombak di tangan dan mengacaukan barisan lawan.


Sungguh mengerikan sepak terjang pendekar bertopeng itu, hal ini tentu saja membuat semangat tempur pihak musuh menjadi berkurang.


"Setan...i-iblis!!" ucap seorang penjaga dengan perasaan jeri ketika melihat Lin Tian berkelebatan kesana-kemari yang selalu meninggalkan jejak darah di setiap langkahnya.


Dari balik topeng pucat itu, Lin Tian sama sekali tidak menampilkan ekspresi apapun. Dia hanya memandang dingin kepada setiap musuhnya sebelum kemudian ia cabut nyawanya.


Agaknya benar ucapan penjaga itu, Lin Tian saat ini benar-benar terlihat seperti iblis dari neraka yang baru saju berhasil merayap naik ke permukaan bumi.


Sangat Mengerikan!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2