
"Kau tidak apa Nona?" tanya Hantu Seratus Lengan sambil membantu Xiao Lian berdiri.
"Ya, aku tak apa. Hanya sedikit terkejut saja. Terima kasih." balas gadis itu.
"Di sini keadaan amat gelap dan berbahaya, mari saya antar Nona pulang."
"Tidak perlu Tuan, aku bisa..." belum selesai Xiao Lian menjawab, tiba-tiba tubuhnya merasa lemas dan dia jatuh terlungkup.
"Nona!" seru Hantu itu seraya membantunya bangkit.
"Biarkan saya antar anda pulang Nona, keadaan anda tidak memungkinkan." kata Hantu Seratus Lengan mencoba menyakinkan.
Nafas Xiao Lian nampak memburu, dadanya naik turun dan wajahnya nampak sedikit pucat. Agaknya dia mengalami trauma dan pukulan batin yang tidak ringan setelah hampir diperkosa tadi.
"K-kalau begitu...maaf merepotkan." akhirnya Xiao Lian pasrah dan menurut.
Hantu Seratus Lengan kemudian menggendong Xiao Lian di punggung, lalu berjalan perlahan meninggalkan hutan.
Esok hari, dua orang ini baru sampai di kediaman keluarga Xiao. Mereka disambut oleh para penjaga gerbang dengan raut wajah terkejut juga cemas.
"Nona muda!!"
"Kemana saja anda semalaman!??"
Demikianlah dan masih banyak lagi seru-seruan yang terdengar. Sampai pendekar topeng tengkorak itu merasa risih dan membentak.
"Diam!!! Nona kalian sedang tidak baik-baik saja! Cepat buka pintunya dan biarkan kami masuk!!"
Seketika para penjaga itu menjadi ngeri. Dengan topeng tengkorak warna hitam itu, apalagi bentakan keras itu seakan-akan suaranya datang dari dunia lain, benar-benar membuat mereka ciut nyali. Maka dengan tangan menggigil ketakutan, mereka segera membuka gerbang.
"S-silahkan Tuan." demikian salah satu dari mereka berkata.
Begitu Hantu itu lewat, Xiao Lian hanya mampu menyunggingkan senyum kecut kepada para penjaga gerbang. Gadis ini merasa tak enak hati kepada mereka yang tak tahu apa-apa malah kena bentakan semengerikan itu.
"Maaf...maaf..." gadis ini berkata lirih kepada para penjaganya yang tentu masih bisa didengar oleh orang yang menggendongnya. Namun hantu itu tak peduli dan lanjut berjalan.
Begitu sampai di ruang dalam, mereka sudah disambut oleh Xiao Li dan istri beserta anaknya. Kedua orang tua ini begitu melihat anaknya masuk, segera mereka menyambut dengan pelukan hangat.
"Lian'er!!" teriak mereka berbareng sembari berlari kearahnya.
"Kakak!!!" seru Xiao Niu histeris.
Hantu Seratus Lengan segera menurunkannya dan membiarkan keluarga itu saling melepas rindu.
__ADS_1
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi dengan putriku semalam?" tanya Xiao Li yang sudah bisa menenangkan diri.
"Dia hampir diperkosa semalam." jawab Hantu itu santai.
"Apa!?? Siapa yang berani!!" bentak Xiao Li tanpa sadar. Xiao Mei dan Xiao Niu pun juga sama terkejutnya.
"Saya tak tahu, silahkan tanyakan sendiri kepada putri anda." balasnya.
"Baiklah, sepertinya urusan saya sudah selesai. Saya pamit!" lanjutnya. Tanpa menunggu jawaban lagi, tubuhnya sudah melesat cepat pergi dari sana.
...****************...
"Apa katamu? Keluarga Zhang!?" tanya Xiao Li tak percaya.
"Benar ayah. Aku tak tahu bagaimana benarnya, akan tetapi dia mengaku bernama Zhang Heng." balas Xiao Lian.
Jelas bahwa hal ini mengejutkan hati mereka semua. Keluarga Zhang yang belum lama ini menjadi sahabat baik, ternyata hampir memperkosa Xiao Lian, putri pemimpin keluarga Xiao? Sungguh hal yang sulit dipercaya.
"Apa benar pendengaranmu tak salah dengar? Mana mungkin keluarga Zhang melakukan hal itu kepada kita?" kali ini Xiao Mei bertanya. Nadanya lebih lembut dan sabar.
Xiao Lian tak mampu menjawab. Hanya gelengan kepala saja yang menjadi jawaban dari pertanyaan sang ibu.
"Sialan keluarga Zhang!! Ternyata ini motifnya selama ini!? Akan kubunuh mereka semua!!" tiba-tiba Xiao Li bangkit berdiri dan matanya bersinar tajam, memancarkan api kemarahan dan dendam yang teramat hebat.
"Jangan suamiku, ini jebakan! Ini pasti jebakan dari seseorang untuk menjebak kita semua!!" seru Xiao Mei mencoba menenangkan.
"Cukup suamiku, jangan naif!!! Kenapa dari dulu sampai sekarang kau sama sekali tidak berubah!? Berpikiran pendek dan bertindak menurutkan nafsu pribadi!! Apa kau lupa bahwa Lin Tian yang menyelamatkan kita? Apa kau lupa dia pula yang sudah memberikan sedikit ilmu silat kepada putri kita? Kenapa sekarang kau...Plaakk!!!"
Xiao Mei membolatkan matanya tak percaya, begitu pula dengan kedua putrinya. Belum selesai dia bicara, tiba-tiba saja ada sebuah tangan kekar yang langsung menamparnya dengan keras.
"Diam!! Aku suamimu dan kau istriku! Hak apa yang kau punya untuk membentakku seperti tadi hah!! Kau hendak mendurhakai suamimu!?" bentak Xiao Li yang masih dipenuhi amarah.
Xiao Mei merasa betapa kedua matanya terasa panas, tanpa sadar dia telah menitikkan air mata. Namun kata-katanya masih terdengar keras seperti sebelumnya.
"Coba berpikir dengan kesadaran!! Mungkin orang itu memang bermarga Zhang, namun bisa jadi dia sudah tak ada hubungannya lagi dengan Lin Tian dan anggota keluarga Zhang Saat ini. Mungkin kasusnya sama dengan seorang dari keluarga kita, Xiao...Plakk!!"
Untuk kedua kalinya, pipi Xiao Mei kena tampar tangan Xiao Li yang sudah buta akibat kemarahan. Jika tadi menampar pipi kiri, sekarang pria itu menampar pipi kanan.
Kemudian, dia berkata. Nadanya tak lagi keras, namun dingin mengerikan.
"Jangan sebut namanya lagi di depanku...Dia hanyalah seorang anak gagal yang pantas dibuang." katanya sebelum pergi sambil mengepalkan tangan erat.
Setelah kepergiannya, tak mampu ditahan lagi, Xiao Mei jatuh bersimpuh dan menangis terisak-isak.
__ADS_1
"Ibu!!" seru Xiao Lian dan Xiao Niu yang langsung berlaru memeluk ibunya.
"Kenapa ayah seperti itu? Aku takut...aku takut..." Xiao Niu berkata dalam dekapan ibunya.
Xiao Mei kemudian memaksa untuk tersenyum, lalu berkata, "Jangan takut putriku, ayahmu seperti itu bukan lain adalah karena rasa sayangnya kepada kita terlalu besar. Karena itulah dia menjadi marah begitu mendengar kakakmu hampir dicelakakan orang lain."
"Tapi...tapi, tak seharusnya ayah sampai menampar ibu...memangnya ibu salah apa??" balas gadis cilik tersebut.
Masih dengan senyumannya, Xiao Mei kembali berkata sebelum mengecup dahi putri kecilnya, "Sstt...tak apa-tak apa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Sementara itu, Xiao Li sudah memerintahkan kepada para pembantu setianya untuk lekas menyiapkan pasukan. Ketika salah satu panglimanya bertanya, Xiao Li hanya menjawab.
"Ikuti saja perintahku, kelak kalian juga akan tahu."
Dan begitulah, siang hari itu, laskar besar yang dipimpin langsung oleh Xiao Li berangkat menuju ke kediaman Zhang.
Anak dan istrinya juga ikut serta. Sebelumnya Xiao Li melarang, namun karena desakan dan paksaan istrinya, akhirnya dia mengalah dan mengijinkannya.
"Tunggu saja kalian keluarga Zhang!! Berani mengganggu putriku, berarti mati!!"
...****************...
"Selamat jalan Nona!!" seru para prajurit serempak sembari menundukkan badan kearah Nona cantik itu.
"Paman, tolong jaga keluarga ini dengan baik ketika aku pergi." ucapnya kepada seorang sastrawan yang bukan lain adalah Minghao.
Minghao tersenyum dan mengangguk, kemudian menjawab, "Tenang saja Nona. Nyawa ini akan saya pertaruhkan untuk keluarga Zhang."
Zhang Qiaofeng mengangguk, kemudian gadis ini memakai caping lebarnya dan menjalankan kuda putih itu kearah Utara. Diikuti oleh kelima puluh orang lain.
"Pulanglah dengan selamat Nona!!" kembali barisan prajurit di pintu gerbang itu berseru.
Nona Zhang Qiaofeng hanya tersenyum dan melambaikan tangan tanpa membalikkan tubuh.
"Semoga kalian berhasil, entah kenapa firasatku sedikit buruk soal ini..." batin Minghao.
"Lin Tian...kembalilah dengan selamat, aku merasa sedikit tidak enak..." gumam Yin Yin dalam hati yang ikut pula mengiringi kepergian rombongan itu.
"Ada apa ini....perasaan ini...tidak seperti biasanya." gumam Gong Fai sembari menatap rombongan itu lekat-lekat.
Sedangkan di sebelah Zhang Qiaofeng, duduk Lin Tian di atas punggung kuda putihnya. Pemuda ini mencengkram erat tali kendali kuda tersebut.
"Perasaanku tidak enak..."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG