Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 159. Markas Iblis Tiada Banding


__ADS_3

Setelah Naga Emas diajak pergi dari wilayah lereng Pegunungan Tembok Surga oleh pria misterius itu, dia dibawa ke daerah Barat, ke sebuah desa yang sudah berubah menjadi markas si lelaki misterius.


Desa ini bukan lain adalah desa yang dulu pernah ditaklukan oleh Iblis Tongkat Merah yang kemudian dirampas oleh Sian Yang. Rumah-rumah yang sudah dibakar habis oleh Iblis Tongkat Merah direnovasi kembali oleh Sian Yang. Membentuk sebuah perkampungan baru yang bahkan lebih besar dari sebelumnya.


Dusun itu membentuk lingkaran, rumah-rumah disusun sedemikian rupa sehingga membentuk semacam formasi lingkaran yang mengelilingi sebuah bangunan megah di tengah dusun.


Bangunan megah itu nampak sama seperti rumah-runah pada umumnya. Berpondasi batu, berdinding kayu kuat dan beratap daun kering yang ditumpuk-tumpuk. Dengan halaman luas yang ditumbuhi rumput-rumput pendek, terdapat sebuah pohon besar di sisi kiri rumah yang di bawahnya ada sepetak tanah berisi bunga-bunga. Di kanan rumah itu terlihat sebuah kolam kecil yang dihiasa patung wanita cantik sedang menuangkan air dari dalam guci. Benar-benar rumah sederhana yang nyaman.


Namun jika melihat ke atas, nampak sebuah bendera yang diikatkan ke sebuah tiang bambu yang ditancapkan di atap rumah. Bendera itu berwarna hitam, hanya hitam polos saja. Akan tetapi entah mengapa, bendera itu mendatangkan suatu perasaan ngeri jika dipandang terlalu lama.


Sama halnya seperti Naga Emas yang kini sudah masuk dusun bersama pria itu. Dia diantar menuju rumah besar ini tanpa banyak tanya atau apa pun. Akan tetapi begitu tiba di depan rumah dan melihat bendera itu, hatinya tergetar. Entah kenapa ada perasaan jeri di hatinya yang angkuh dan arogan itu.


Pria berkulis halus seperti perempuan itu terus membawanya mendekati rumah, menaiki anak tangga dan tanpa ketuk pintu atau permisi, pintu itu dibukanya perlahan.


Pemandangan pertama yang dilihat Naga Emas benar-benar membuat dia tercengang. Rumah ini tak ada ubahnya seperti rumah-rumah biasa. Berlantaikan kayu dengan hiasan guci-guci di sudut ruangan. Di tengah ruangan juga terdapat sebuah meja dengan dua kursi panjang yang saling berhadapan.


Melihat semua ini, Naga Emas menjadi curiga dan segera dia berkata.


"Benarkah semua omonganmu jika aku berguru dengan tuanmu, maka aku akan menjadi jago nomor satu? Kalau dipikir-pikir, siapa kalian aku sama sekali belum kenal."


Pria itu maklum akan keheranan dan keraguan Naga Emas. Dia mendiamkannya saja dan terus melangkah masuk ke dalam. Ketika dia hendak membuka pintu yang menembus ke ruangan lain, ternyata Naga Emas masih berdiri di ambang pintu dan memandangnya tajam. Pria ini menghela nafas dan berkata.


"Ikut saja, nanti kau pasti akan kenal dengan kami."


"Kalau begitu, cepat perkenalkan dirimu!! Aku tahu kau ini bahkan lebih kuat daripada aku, karena itulah, bukankah wajar jika aku berpikir semua ini adalah jebakan untukku?" balas Naga Emas penuh selidik.


"Hah...repot...repot..." pria itu mendesah pelan sembari menggeleng-gelengkan kepala.


"Haha...benar-benar Naga Emas merupakan orang yang waspada. Kau menyelesaikan tugasmu dengan baik Chan Fan, sisanya serahkan padaku." tiba-tiba terdengar seruan halus yang entah berasal darimana. Sedetik kemudian, Naga Emas dibuat terkejut ketika mendapat kenyataan bahwa di salah satu kursi panjang itu sudah duduk seorang pria muda yang tersenyum ramah. Entah dengan cara bagaimana pula, di meja itu sudah tersaji seguci arak dengan tiga cawan kecil.


"Naga Enas, duduklah dan mari kita bicara. Chan Fan, kemarilah dan nikmati ini." kata orang itu.


Naga Emas menjadi makin curiga melihat kehadiran orang tersebut. Namun diam-diam dia juga merasa ngeri karena yakin benar bahwa kepandaian orang yang baru datang ini jauh lebih kuat dari si Chan Fan, dan terutama sekali dia sendiri.


Namun karena hal itu, kewaspadaan dan kecurigaannya meningkat. Dia kembali bertanya dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Siapa kalian?"


Orang itu masih tersenyum ramah dan menuangkan seguci arak itu ke dalam tiga cangkir dengan cara luar biasa. Karena dia menuangkan arak itu dengan cara berbareng, ketika guci arak dimiringkan, secara ajaib arak yang keluar dari guci itu terbelah jadi tiga dan masuk ke dalam tiga cawan itu.


Sambil melakuakn tindakan itu, orang ini berkata.


"Namaku Sian Yang, sedangkan kami semua tentu sudah kau kenal seperti yang dikatakan Chan Fan tadi. Kami biasa menyebut diri sendiri sebagai Iblis Tiada Banding."


"A-apa...iblis pengacau itu...."


Orang murah senyum yang bukan lain adalah Sian Yang itu hanya mengangguk sebagai jawaban. Melihat ini, buru-buru Naga Emas duduk di hadapannya dan memandang dengan tegang.


"Apa yang kalian inginkan sehingga mengajakku kemari!?" tanya Naga Emas sembari memandang bergantian kepada dua orang yang duduk di hadapannya itu.


Dengan tenang Sian Yang menjawab, "Tujuan kami adalah menggantikan posisi Aliansi Golongan Hitam yang merajai seluruh dunia hitam. Akan tetapi kami lain lagi. Memang nama kami iblis, tapi akan kujelaskan, kami bukan golongan hitam, melainkan golongan netral."


Sian Yang menenggak araknya sebelum melanjutkan, "Akan tetapi, kami golongan netral yang memusuhi dua golongan lain. Sehingga jika berhasil, kita akan mampu menguasai seluruh daratan, baik dalam pemerintahan maupun dalam dunia persilatan."


Pria ini memang cerdik, untuk mendapatkan hati Naga Emas, dia menyebut "kita" kepada raksasa itu. Hal ini membuktikan bahwa Naga Emas sudah diterima sebagai bagian dari Iblis Tiada Banding.


Tidak ada perubahan dalam ekspresi Naga Emas. Tatapannya malah menjadi lebih tajam seolah hendak membongkar kedok dua orang di hadapannya itu.


"Kau masih ragu?" tanya Sian Yang.


"Jujur saja aku masih ragu. Memang benar bahwa kalian memiliki kesaktian di atasku. Tapi, apa jamainan dari kalian bahwa kalian ini memang benar bisa mengalahkan Aliansi? Dan apa ucapan Chan Fan juga dapat dipercaya, jika aku menjadi murid ketua perkumpulan ini, maka aku akan menjadi jago nomor satu?"


"Hahahaha...." sontak Sian Yang dan Chan Fan tertawa. Membuat Naga Emas menjadi merah mukanya karena merasa diejek.


"Apa yang kalian tertawakan!!" Naga Emas membentak dan menggebrak meja. Akan tetapi seketika matanya membolat tak percaya. Kiranya ketika dia menggebrak meja dan meja pun terguncang hebat, hanya guci arak dan cawannya sendiri yang meloncat ke sana-sini tak karuan. Sedangkan cawan milik dua orang yang sedang tertawa-tawa masih diam di tempat.


Naga Emas memandang penuh perhatian, ternyata dua orang itu telah menempelkan salah satu lutut mereka di pinggiran meja. Sebagai orang sakti, tahulah Naga Emas jika lutut itu digunakan untuk penyaluran tenaga dalam yang berfungsi untuk menahan cawan masing-masing.


Ketika pandangan Naga Emas merayap ke atas, dua orang itu tertawa makin bergelak, seolah tidak sadar jika Naga Emas baru saja menggebrak meja. Diam-diam dia menjadi terkejut sekaligus kagum, kiranya dua orang ini daritadi seperti bercakap-cakap santai dengannya, akan tetapi mereka sama sekali tidak menurunkan kewaspadaan.


"Haha...kau tahu siapa dia? Dialah ketua yang kumaksud itu dan jika kau menjadi muridnya, kau akan menjadi jago nomor satu!!" seru Chan Fan.

__ADS_1


"Apa buktinya!!" Naga Emas berseru, namun tidak sekeras tadi dan sedikit melunak.


"Mari-mari, ikut denganku. Jika kau mampu melakukan apa yang akan kulakukan ini, maka aku bersumpah akan bersujud kepadamu sebanyak delapan kali dan menganggapmu sebagai guruku." jawab Sian Yang yang sudah bangkit berdiri dan berjalan keluar.


Begitu tiba di luar, pria ini menolehkan kepala ke arah kiri rumah, kemudian mengayunkan tangan kiri dan terciptalah serangkum angin halus yang seketika merontokkan semua daun pohon taman tersebut.


"Hahah...kalau cuma seperti itu aku pun bisa!! Nah sekarang bersujud di hadapanku!" seru Naga Emas yang timbul kembali sifat tinggi hatinya. Semua kekhawatirannya tadi lenyap, digantikan dengan tatapan merendahkan dan meremehkan.


"Ini belum selesai, lihat lah lagi." kata Chan Fan.


Masih dengan tatapan merendahkan, Naga Emas menolehkan kepala untuk menatap pohon tersebut. Namun tiba-tiba terdengar seruan tertahan dari pria itu yang disertai wajah pucat.


"A-apa...bagaimana mungkin? Bukankah tadi..."


"Nah, kau mampu melakukannya?" tanya Sian Yang tenang.


Terlihat di pohon itu, semua daun yang sebelumnya rontok sudah kembali seperti sedia kala. Seolah tidak pernah meninggalkan batang pohon itu. Hal ini tentu saja membuat datuk hitam itu terheran-heran dan terkejut, maka segera dia menjatuhkan diri berlutut kepada Sian Yang seraya berseru.


"Kepandaian guru sungguh hebat sekali!!"


"Haha...apa kataku!" seru Chan Fan.


"Bangkitlah dan aku akan membicarakan semuanya kepadamu. Terutama sekali perihal yang paling penting." berkata seperti ini, pandangan Sian Yang menajam dan senyumnya sedikit memudar.


"Chan Fan, kirim surat kepada Tuan Chen dan beritahukan bahwa semuanya berhasil. Suruh dia bersiap-siap dan segera menyerbu pada tanggal yang sudah kutentukan sesuai rencana awal."


"Siap!!"


"Iblis Tiada Banding saat ini sudah menjadi empat orang. Walau pun nenek reyot itu masih belum sembuh, tapi ini sudah sangat menguntungkan kita." lanjut Sian Yang.


"Sebentar lagi...hahaha....sebetar lagi!!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2