Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 192. Nona Kita Gila


__ADS_3

Setelah kejadian yang nyaris membuat Zhang Qiaofeng mati, semua kembali seperti semula. Pekerjaan sehari-hari keluarga Zhang dilakukan seperti biasanya tanpa ada masalah berarti.


Para petugas yang diperintahkan untuk menyeleksi setiap anggota baru mengerjakan pekerjaannya dengan baik. Orang-orang yang bertugas membangun kediaman keluarga Zhang yang berada di dekat air terjun juga melakukan perkejaan dengan semaksimal mungkin.


Sedangkan untuk Zhang Qiaofeng? Dia kembali ke kebiasaannya, yaitu mengurung diri di kamar. Bedanya, kali ini dia sesekali juga keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar.


Sampai beberapa minggu kemudian, markas utama yang berada di dekat air terjun sudah selesai di bangun dan Zhang Hongli memerintahkan semuanya untuk pindah ke sana. Sedangkan kediaman lama digunakan sebagai tempat penerimaan dan seleksi orang baru.


Saat ditanya oleh Minghao mengapa tidak pindah ke Utara sekalian yang menjadi tempat keluarga Zhang dahulu. Dengan tenang Zhang Hongli menjawab.


"Bukan aku yang memutuskan hal itu. Cucukulah yang berhak, karena ingat, saat ini dialah pemimpinnya."


Maka sejak hari itu, keluarga Zhang berada di dekat air terjun dengan kediaman yang jauh lebih mewah dan luas dari tempat sebelumnya. Walaupun begitu, Zhang Qiaofeng masih saja belum pulih dari kedukaannya.


...****************...


"Tetua, ada surat dari keluarga Hu."


"Hm...kemarikan!"


Zhang Hongli membaca surat itu dengan seksama. Ternyata surat itu dikirimkan oleh tetua pertama keluarga Hu yang mohon agar nona Zhang mengijinkan mereka untuk bergabung bersama keluarga Hu.


"Penggabungan keluarga?"


Zhang Hongli kembali melanjutkan membaca. Di sana tertulis...


Nona, jika anda setuju, kami akan langsung memohon kepada kaisar untuk pengesahan penggabungan dua keluarga.


Zhang Hongli menghela nafas berat dan menyuruh pengawal itu pergi, kemudian dia bangkit dan pergi ke kediaman cucunya. Bagaimana pun juga, untuk menentukan setuju tidaknya akan hal ini adalah wewenang Zhang Qiaofeng.


"Feng'er kau sudah bangun sepagi ini?" tanya Zhang Hongli kepada Zhang Qiaofeng yang duduk dengan pandangan kosong di bawah pohon persik.


Memang hari masih terlalu pagi. Sebenarnya saat Zhang Qiaofeng masih sehat seperti dulu, dia bahkan bangun lebih pagi lagi. Namun semenjak gadis itu mengalami pukulan batin, dia selalu bangun siang bahkan hampir tengah hari.


Gadis itu menoleh sejenak sebelum kembali terpusat pada khayalannya.


Zhang Hongli duduk di sampingnya dan bertanya dengan nada gembira untuk berbasa-basi, "Sudah makan?"


"Belum."


"Mandi?"


"Belum."


"Bagaimana jika kita berlatih? Sudah lama kita tidak beradu tinju."

__ADS_1


"Tak mau, malas..."


Gadis itu selalu menjawab singkat tanpa menolehkan pandangannya sedikitpun. Hal ini membuat Zhang Hongli menampilkan ekspresi pahit dan murung.


"Feng'er, lihat ini. Maafkan aku karena mengganggumu namun ini adalah hal penting. Kau harus memutuskannya." Zhang Hongli menyerahkan surat yang dikirim oleh tetua pertama keluarga Hu.


"Apa isinya?"


"Kau bacalah lebih dulu."


"Katakan saja dengan singkat dan jelas. Kakek sudah membacanya kan? Segel itu sudah terbuka." jawab Zhang Qiaofeng tanpa ekspresi dan nada bicara sedikitpun.


Zhang Hongli menghela nafas dan menceritakan semuanya. Intinya, karena mengingat akan persaudaraan Hu Tao dan Lin Tian, mereka ingin meminta bantuan kepada keluarga Zhang. Mereka ingin bergabung dengan keluarga Zhang.


"Bagaimana menurutmu, Feng'er?"


"Lin Tian dan Hu Tao sudah mati, kita tak ada hubungan dengan mereka."


"Tapi, mereka baru saja jatuh dan belum pulih. Ucapanmu benar, tapi seandainya ada Lin Tian dan Hu Tao di sini, apa kau masih tega berkata seperti itu? Ingat, Lin Tian dan Hu Tao masih melihat dari alam sana."


Selama beberapa saat, Zhang Qiaofeng terkejut mendengar ungkapan itu. Nafasnya sedikit berat seperti orang hendak menangis, namun dia tahan dan menjawab.


"Aku hanya berkata seperti itu, bukan berarti aku menolak. Terima saja."


Mendengar ini, Zhang Hongli tersenyum lembut. Bukannya cepat pergi, dia malah kembali mengajukan pertanyaan kepada cucunya.


"Hm?" Zhang Qiaofeng melirik sejenak.


"Mengapa kita tak kembali ke Utara, bukankah di sana tanah kelahiran kita? Kenapa kau memilih untuk membangun rumah di sini?"


"Kenapa pula kakek baru menanyakan hal itu sekarang?" balas Zhang Qiaofeng yang sangat menusuk.


"Uhuk...aku sama sekali tidak ingat akan hal itu."


Zhang Qiaofeng sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun saat menjawab, "Dahulu, aku ingin terus menetap di Selatan karena jika kembali ke Utara, aku hanya akan teringat akan kematian ibu, ayah dan seluruh anggota keluarga Zhang."


Zhang Hongli masih menunggu ucapan selanjutnya, tapi dia menemukan kenyataan bahwa gadis itu sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan ucapannya. Maka akhirnya dia bertanya.


"Itu alasan yang dulu, kalau sekarang?"


Zhang Qiaofeng memandang jauh ke depan, dan tak terasa dua tetes air mata jatuh membasahi pipi. Ucapannya lirih sekali seperti bicara pada diri sendiri, namun telinga tajam Zhang Hongli mampu mendengar jelas.


"Agar saat dia kembali....dia tidak bingung dan tersesat..."


"Baiklah...masih banyak tugas yang harus kulakukan. Aku pergi dulu!"

__ADS_1


Zhang Hongli bangkit dan buru-buru pergi dari sana. Dia tahu siapa adanya "dia" yang dimaksud Zhang Qiaofeng. Siapa lagi jika bukan pangeran hatinya, sosok yang selama ini selalu menjadi teman khayalan cucunya. Lin Tianlah orang itu.


"Feng'er, walaupun kau tidak jadi bunuh diri, akan tetapi jujur hatiku merasa amat sedih dengan keadaanmu. Pakailah mata indahmu itu untuk melihat kenyataan ini, gunakan akal sehatmu untuk menerima semuanya, dan teriakkan dengan lantang pada hati kecilmu bahwa dia sudah mati. Feng'er....orang yang kau cintai itu...mungkin....mungkin saja sudah tak berada di dunia ini. Kenapa kau masih setia menunggu...?" Zhang Hongli bergumam sambil menangis. Sebenarnya dia tidak benar-benar pergi, dia masih berada di sana melainkan agak berjauhan dari Zhang Qiaofeng. Dapat ia lihat dengan jelas bahwa gadis itu menangis hebat sembari memukul-mukul tanah yang ada di sampingnya. Dapat ia rasakan betapa hancur dan sengsara hati cucunya itu.


"Keparat kau Lin Tian, kenapa kau pergi secepat ini!? Apa kau tak lihat keadaan nonamu? Setidaknya datanglah pada satu malam dan mampirlah barang sejenak ke dalam mimpinya. Ungkapkan semua perasaanmu dan berpamitlah. Jangan siksa dia seperti ini, kumohon Lin Tian....." kembali dia bergumam dan memutuskan untuk pergi karena air matanya makin deras mengalir.


...****************...


Beberapa minggu setelahnya, rombongan besar keluarga Hu sampai di kota raja. Bersama keluarga Zhang yang dipimpin oleh Zhang Hongli, mereka memohon kepada kaisar untuk menjadikan keluarga Hu sebagai bagian dari keluarga Zhang.


Setelah mendengar penjelasan dari kedua belah pihak, Chu Quon akhirnya setuju dan mulai hari itu, keluarga Hu resmi menjadi bagian keluarga Zhang.


Dengan kediaman baru keluarga Zhang yang sangat besar dan luas, seluruh keluarga Hu mampu ditampung di sana tanpa terkecuali. Mereka bahkan sampai terkejut melihat kediaman baru keluarga Zhang yang bahkan luasnya lebih besar dari kediaman keluarga Hu dahulu.


Untuk kota Sungai Putih, kaisar Chu Quon akhirnya memilih keluarganya sendiri untuk menjaga kota itu. Maka setelahnya, Chu Shen selaku pimpinan keluarga mengutus seribu orang ke kota Sungai Putih untuk mengelola tempat itu.


Bahkan Empat Dewa Mata Angin yang dahulu menjadi guru Hu Tao, menjadi bagian keluarga Zhang juga. Walaupun identitasnya keluarga Zhang, namun mereka tetap berpetualang ke seluruh tempat seperti dahulu.


Semua berjalan damai, Zhang Hongli dan Minghao tidak pernah memaksa Zhang Qiaofeng untuk kembali memimpin keluarga. Sebenarnya banyak yang tak setuju dengan ini, namun mereka berdua selalu menegaskan bahwa itu adalah keputusan pemimpin yang tak bisa diubah dan dibantah.


Percobaan bunuh diri Zhang Qiaofeng pun dirahasiakan dari siapapun. Zhang Hongli melarang keras kepada Lu Jia Li, Minghao dan pengawal yang hampir terbunuh itu untuk membeberkan barang sedikit saja kejadian itu pada orang lain. Dia tidak ingin cucunya malu dan kehilangan muka sehingga membuat ia benar-benar nekat ingin mati.


Sampai tiba di suatu pagi yang masih gelap, bahkan bulan pun masih nampak jelas di langit sana, terdengar langkah seseorang yang berlari dengan terburu-buru menuju ruangan kerja Zhang Qiaofeng.


"Brak!" pintu ruangan di buka dengan kasar oleh seseorang.


"Woah!!–Bangsat, setan mana yang sudah bosan hidup!!" Zhang Hongli yang ketiduran di kursi segera menggebrak meja dan membentak. Namun sedetik kemudian, dia melongo melihat siapa yang datang.


"Eh...Feng'er?"


Memang yang datang adalah Zhang Qiaofeng. Dengan baju tidurnya yang sedikit tembus pandang di bagian lengan, gadis ini berjalan cepat-cepat ke hadapan Zhang Hongli dan menjatuhkan kepala bersujud sambil menangis.


"Eh-eh, ada apa ini?"


"Kakek, aku ingin menagih janjimu! Tolong ajari aku ilmu Ketenangan Bati!" sambil terus menangis, Zhang Qiaofeng berteriak keras.


"Eh...Eehhh....!!! Ada apa tiba-tiba, cepat ceritakan padaku!"


Kedua pundak gadis itu naik turun menahan isak, dia mengangkat mukanya memandang kakeknya dan menjawab sambil terus merengek seperti anak kecil.


"Lin Tian....Lin Tian....sudah menikaaah!!!"


"Waaahh!! Minghao....kemari dan panggil tabib!! Nona kita sudah gila sungguhan!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2