Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 109. Kota Emas Dalam Bahaya


__ADS_3

Begitu Lin Tian meloncat dan menebas, orang itu dengan ajaib sekali, tiba-tiba menghilang dari pandangan semua orang. Refleks Lin Tian menoleh ke belakang, kearah Nonanya, khawatir kalau-kalau orang itu berpindah tempat untuk mencelakai Zhang Qiaofeng. Namun ternyata di dekat gadis tersebut tidak ada satu pun orang yang terlihat.


"Cih....dia lepas!" batin Lin Tian kesal.


Beberapa detik berikutnya, terdengar gema suara dari kejauhan sana. "Hahahaha....belum waktunya kita bermain-main..." demikianlah suara itu terdengar.


Lin Tian mengepalkan tangan kuat-kuat. Menahan gelora hati yang ingin menghancurkan apa saja dengan tinjunya karena amarah memuncak. Dia mencoba menghela nafas beberapa kali untuk menentramkan hatinya.


"Lin Tian, ada apa? Siapa dia?" gadis itu bertanya ketika tangannya sudah menyentuh tangan Lin Tian. Agaknya dia berusaha menenangkan Lin Tian dengan sentuhan lembut itu.


Pemuda ini mendekatkan mulutnya ke telingan Zhang Qiaofeng, kemudian berbisik, "Dia lah yang telah meracuniku di Kota Batu dahulu."


Melebar mata cantik bagai mutiara itu. Lalu secepat kilat tangan gadis ini menyeret Lin Tian keluar dari rumah makan.


"Terima kasih makanannya!!" gadis ini berteriak sebelum dirinya dan Lin Tian benar-benar keluar kedai.


Para pelayan dan juga pengunjung merasa heran dengan dua orang muda mudi itu. Pasalnya, mereka pergi dari kedai setelah meninggalkan begitu banyak pesanan makanan.


Namun keheranan ini sedikit berkurang begitu melihat gema suara nyaring itu. Maka tahulah mereka semua bahwa dua orang itu adalah para pendekar dan mungkin sekali punya urusan dengan pria penuh senyum barusan.


"Lin Tian, apa kau tak salah lihat?" tanya Zhang Qiaofeng begitu mereka sudah berjalan jauh dari rumah makan Piring Emas.


"Tak salah lagi Nona, saya sudah hafal betul dengan suara dan senyum menjengkelkannya itu. Jika dia berada di sini, kemungkinan besar ibukota sedang dalam bahaya. Kita harus cepat menemui kaisar dan melaporkan hal ini." jawabnya serius.


Zhang Qiaofeng mengangguk dan mempercepat langkahnya. Menahan rasa lapar yang makin menghebat itu.


Begitu mereka sampai di istana, para penjaga segera menyambut dan pergi kedalam istana untuk melapor. Zhang Qiaofeng dan Lin Tian kemudian diantar menuju ruang pertemuan.


"Selamat datang Nona Zhang dan juga Lin Tian." sambut Kaisar Chu Quon begitu keduanya sudah sampai di ruang pertemuan. Sungguhpun dia merasa sedikit heran akan Nona satu ini yang hanya membawa satu orang pengawal. Sangat berani, pikirnya.


Dua orang muda mudi ini segera menjura membalas penghormatan. Akan tetapi, begitu kaisar hendak mempersilahkan Lin Tian dan Zhang Qiaofeng duduk, gadis itu sudah memotong.

__ADS_1


"Maaf Yang Mulia, aku punya firasat, Kota Raja sedang dalam bahaya."


Mereka semua memandang bingung Kemudian terdengar suara Chen Hu, pemimpin keluarga Chen bertanya. Dalam pertanyaannya juga mengandung ejekan yang ditujukan kepada dua orang perwakilan keluarga Zhang itu.


"Apa maksudmu Nona Zhang? Melupakan akan keterlamabatanmu padahal keluargamu lah yang paling dekat, mengapa kau berani memotong ucapan Yang Mulia?"


Lin Tian sadar akan ejekan yang terang-terangan itu. Tanpa sadar, hawa Yin sudah menyebar ke seluruh peredaran darahnya, membuat udara di sekitarnya menjadi dingin mencekam.


"Hati-hati kalau bicara terhadap Nona. Apa kau tak memandang muka kami?" terdengar suara yang keluar dari kerongkongan pemuda itu bergetar penuh aura intimidasi.


Tujuh pengawal keluarga Chen sudah meraba gagang pedang masing-masing, matanya menatap garang kearah Lin Tian. Namun entah mengapa, begitu mata mereka terpaut dengan sorot tajam yang berkilat-kilat di balik topeng wajah manusia itu, seketika nyali mereka menciut dan tanpa terasa, jari-jari tangan menggigil ngeri.


Lin Tian ingin berkata lagi, namun tindakannya berhasil dihentikan dengan cengkraman kuat jari-jari kecil Nonanya.


"Mohon maaf Yang Mulia, tapi di luar sana benar-benar ada seseorang yang amat berbahaya. Bahkan aku ragu apakah anda sendiri mampu menundukkannya." gadis itu berkata. Walaupun dia belum pernah coba-coba untuk beradu ilmu dengan orang tersebut, namun dia percaya penuh akan cerita Minghao dan Lin Tian. Karena itulah dia mampu berkata seperti itu.


"Apa maksudmu Nona? Lebih baik kau duduk saja dan kita mulai pertemuannya. Soal bahaya itu, bisa kau ceritakan nanti ketika pertemuan berlangsung." Kaisar Chu Quon berkata dingin. Agak terhina juga harga dirinya begitu mendengar dia tidak mampu menundukkan orang yang ditakuti Zhang Qiaofeng itu.


"Tapi Yang Mulia-" Zhang Qiaofeng yang keras kepala itu hendak membantah. Namun pemimpin keluarga Chen memotong dengan bentakan.


"Duduk Nona Zhang!!" kali ini Kaisar sendiri juga ikut membentak.


Dengan hati kesal dan geram, gadis ini berjalan ke arah kursinya dengan wajah cemberut. Namun baru saja dia duduk, tiba-tiba ada seorang pengawal yang masuk secara terburu-buru.


"Apa lagi ini!!" agaknya kaisar sudah kehilangan kesabarannya sehingga pria itu membentak keras.


"Ampun Yang Mulia. Tapi di luar sana sedang terjadi keributan. Banyak bangunan pemerintahan terbakar di sana-sini." jawab pengawal itu. Walaupun terlihat takut, namun ucapannya tetap tegas dan jelas.


"Nah apa kubilang, sekarang kau masih tak percaya!? Ayo lekas keluar, Kota Raja dalam bahaya!!" bentak Zhang Qiaofeng yang sudah bangkit berdiri dan kehilangan sopan santunnya.


"Sialan!! Padamkan api-api itu secepatnya!! Kirim beberapa pasukan pula untuk mencari sosok di balik semua ini."

__ADS_1


"Baik Yang Mulia!!" pengawal itu segara bangkit dan pergi dari sana.


"Ayo kita keluar!" ucap singkat Chu Quon kemudian berjalan pergi disusul dengan perwakilan tujuh Keluarga Penguasa dan keluarga Zhang.


Dalam perjalanannya menuju gerbang utama. Hu Tao yang penasaran menghampiri Lin Tian dan berbisik.


"Hei saudaraku, kenapa firasat Nonamu benar adanya?"


"Panjang ceritanya, kalau nanti ada waktu luang, akan kuceritakan semuanya dari awal sampai akhir." jawab Lin Tian tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.


Hu Tao menghendikkan bahu dan melanjutkan langlahnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan istana. Memandang kearah kota dengan pandangan yang sulit diartikan. Karena istana kekaisaran Chu ini berada di bukit yang lebih tinggi, sehingga dari tempat mereka berdiri saat ini terlihat jelas seluruh keadaan kota.


"Apa-apaan ini?" gumam Chu Quon memandangi kotanya.


Chu Quon merasa ada yang aneh dengan pembakaran ini. Pasalnya, tempat-tempat yang dibakar bukanlah rumah penduduk atau lahan-lahan pertanian. Melainkan adalah gedung-gedung penting pemerintahan, seperti gedung pengadilan dan perpustakaan negara.


"Ini mungkin sekali ulah orang itu!" celetuk Zhang Qiaofeng tiba-tiba.


"Apa maksudmu Nona?" tanya Xiao Li dengan wajah murung. Tentu saja dia masih merasa berduka atas kematian istri tercintanya.


Spontan gadis itu menoleh kearah Lin Tian. Meminta jawaban pemuda itu karena memang dialah yang lebih tau.


"Setahuku dia memiliki kemampuan racun luar biasa. Wajahnya selalu tersenyum serta perkataannya halus dan sopan." pemuda itu berkata.


"Apa maksudmu? Bisa jelaskan lebih rinci?" tanya Kaisar Chu Quon.


"Aku tak tahu namanya, namun saat aku sedang di kota Batu beberapa bulan lalu. Dia hampir membunuhku dengan beberapa kali tepukan ringan. Waktu itu, aku keracunan hebat bahkan untuk berjalan saja aku tak mampu."


Mendengar pengakuan itu, walaupun terdapat rasa sedikit tak percaya, namun mereka semua menampakkan ekspresi pucat disertai keringat dingin. Tentu saja mereka semua tahu akan kekuatan pendekar berjuluk Pendekar Hantu Kabut itu. Dan baru saja pendekar itu mengatakan bahwasannya dia hampir mati dengan beberapa kali tepukan? Sungguh di luar nalar.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2