
"Waahh...waahh!! Mereka sudah gila benar, hendak membunuh diri!!" seru pemimpin dari selusin orang itu ketika dari kejauhan dia melihat dua orang yang mereka kejar melompat ke dalam jurang.
Selusin orang ini buru-buru untuk menghampiri ke mulut jurang dan mamandang ke bawah. Namun yang mereka lihat hanyalah tebing curam yang ditumbuhi pohon-pohon rambat. Ada pula beberapa pohon yang cukup besar menempel di dinding cadas, agaknya akar pohon itu cukup kuat hingga mampu mencengkeram dinding keras tersebut.
"Waduh, di ketinggian seperti ini, mana mungkin ada manusia hidup setelah jatuh ke bawah sana?"
"Sesakti apa pun orang itu, tapi sepertinya memang mustahil."
Pemimpin dari rombongan yang bertubuh tinggi bermuka halus tanpa kumis jenggot itu hanya menatap dengan pandangan kesal. Alisnya bertatut dalam dan tatapannya berkilat-kilat marah. Tentu dia merasa marah dan kecewa sekali karena telah kehilangan dua mangsanya.
"Ayo turun ke bawah, cari jalan memutar." ujarnya dengan nada gusar.
Mereka kemudian menyisiri mulut jurang itu guna mencari jalan lain yang lebih mudah untuk dilewati. Beberapa menit berselang, mereka melihat jalan turunan yang curam sekali. Namun dibandingkan dengan dinding cadas tempat dua orang itu "bunuh diri", jalan turunan ini jauh lebih mudah.
"Tak ada pilihan lain, turun lewat jalan ini!" pemimpin rombongan itu segera merayap turun melalui jalan itu. Kaki tangannya meraba-raba untuk mencari cekungan dinding cadas yang nantinya ia gunakan untuk berpijak.
Jalan itu sungguh sulit, akan tetapi karena mereka termasuk orang-orang lihai yang berilmu tinggi, sehingga dengan bantuan ilmu meringankan tubuh dan kewaspadaan, mereka tiba di bawah setelah satu jam berselang. Cukup singkat.
Setibanya di bawah, lekas mereka kembali ke tempat di mana Xiao Lian dan Hao Yu tadi terjatuh. Mereka mencari-cari di sekitaran sana namun apa yang mereka temukan hanyalah tanah kosong dan semak belukar saja. Sama sekali tak ditemukan darah atau bekas-bekas lainnya yang menunjukan bahwa ada manusia yang baru saja jatuh dari situ.
"Wah, agaknya mereka terbanting terlalu keras sampai tubuhnya pecah, bahkan tidak menyisakan darah sedikit pun."
Pemimpin rombongan itu memandang tajam sekaligus mencela, "Goblok yang keterlaluan!! Pikirkan dengan logis!! Mana ada orang pecah tubuhnya dan bisa menghilang tanpa jejak!?"
"Lalu, bagaimana untuk menjelaskan keanehan ini secara logis." jawab orang yang dibentak dengan raut wajah kebingungan. Membuat ia nampak sepuluh kali lebih bodoh.
"Tentu saja kemungkinan yang paling masuk akal adalah, mereka sama sekali belum mati dan masih hidup!!" seru pemimpin rombongan keras.
"Itu tidak logis lagi namanya, tapi gila!!! Mana ada orang selamat setelah jatuh dari ketinggian jurang ini? Lihat, bahkan dari bawah sini jurang itu nampak seperti tembok tinggi yang bisa mengantar kita untuk menyentuh langit." jawab lawan bicara dengan bersungut-sungut sambil mendongak dan mengacungkan jari telunjuk ke arah tebing curam di atasnya.
"Itu yang tidak aku tahu!! Intinya mereka belum mati!!" balas si pemimpin tak mau kalah.
"Hah, mana buktinya!?"
"Kalau begitu, mana buktinya kalau mereka sudah mati!??"
"Mau ribut kau!!"
"Siapa takut!!"
Percekcokan itu terus berlanjut dan sepuluh orang sisanya hanya mampu memandang dengan muka datar. Sungguh mereka berdua tak sadar jika di antara keduanya tak ada yang lebih pintar atau lebih bodoh. Karena keduanya sama-sama bodoh.
...****************...
"Hah...hah..." Xiao Lian terngah-engah dengan wajah merah sekali. Begitu pula dengan Hao Yu yang mendekapnya erat.
Bagaimana tidak, sudah satu jam lebih mereka saling berhimpitan di dalam lubang sempit itu dengan tubuh saling tempel satu sama lain. Hal ini dilakukan bukan lain demi keselamatan nyawa mereka.
__ADS_1
Kebodohan dua orang itu terbukti saat ini, mereka sama sekali tidak memandang ke dinding jurang di saat melakukan penyelidikan di bawah. Jika hal itu dilakukan, tentu mereka akan melihat sesuatu yang mencurigakan.
Begitu dua orang manusia itu melompat terjun ke dalam jurang, mereka sejatinya sudah pasrah dan menanti kematian dengan hati tegang. Namun keajaiban terjadi, ternyata tubuh mereka yang meluncur deras itu disambut oleh sebatang pohon yang tumbuh di dinding cadas. Kebetulan pohon itu memiliki banyak batang kuat dan ranting-ranting kecil, sehingga membuat dua orang ini mampu mendarat di sana tanpa membuat pohon itu roboh.
"Wah, kita selamat!" seru Xiao Lian.
"Iya, untuk sekarang. Tapi apa kau lupa jika di atas sana tentu mereka akan melihat ke bawah sini?" jawab Hao Yu.
"Lalu bagaimana baiknya?" Xiao Lian mulai tak nyaman.
Hao Yu sebenarnya belum terpikirkan akan jawaban dari pertanyaan Xiao Lian itu. Keningnya berkerut dan matanya jelalatan ke sana-ke mari untuk mencari cara bersembunyi.
Dalam keadaan seperti ini, karena terlalu tegang dan panik, tubuhnya bergerak-gerak tak karuan dan tanpa sadar dia duduk di bagian pinggir pohon. Karena terlalu banyak bergerak, tanpa mampu dicegah lagi dirinya terpelanting ke bawah.
"Wahhh!!" tubuhnya kembali terjun ke bawah.
"Tep!!"
"Bodoh!! Apa yang kau lakukan!! Jangan kau mati dan meninggalkanku dalam keadaan sulit ini!!" bentak Xiao Lian yang dengan cekatan sudah mencekal tangan Hao Yu. Membuat pria itu bergelantungan di sana.
Sedangkan Hao Yu yang sedang dikhawatirkan oleh Xiao Lian malah memasang wajah berseri sambil menatap ke jurusan lain. Xiao Lian yang sebal itu pun juga melihat kearah dimana mata Hao Yu memandang. Tak berselang lama, raut wajahnya ikut berseri pula.
"Kita masih ditakdirkan hidup!" seru gadis ini girang bukan main.
Tepat di bawah pohon tempat mereka mendarat, nampak sebuah goa kecil sedalam kurang lebih dua tiga meter dengan lebar satu meter. Sungguh gua yang sempit sekali bagi mereka berdua.
"Ayo masuk!" kata Hao Yu cepat-cepat.
Dalam keadaan masih memegang erat tangan Xiao Lian, pria ini mengayunkan tubuhnya untuk kemudian kakinya menjejak di mulut gua. Setelah itu buru-buru dia mengerahkan tenaga dalam ke telapak kaki agar dirinya menempel dan tidak mudah jatuh.
Detik berikutnya, Hao Yu menghentak tangannya dan dalam sekali renggut, Xiao Lian sudah mendarat di pelukannya yang langsung ia tarik ke dalam gua untuk bersembunyi.
Begitulah dan sampai saat ini mereka masih saja saling dekap dengan gugup dan gelisah. Sungguh Hao Yu kali ini merasa seperti pria cabul yang hendak memperkosa majikannya sendiri.
Saking sempitnya gua itu, sehingga tubuh mereka bersentuhan erat dan sulit untuk bergerak-gerak. Bukan sulit, namun demi menjaga kehormatan Xiao Lian, pasalnya jika Hao Yu bergerak tentu akan ada bagian tubuh depan milik Xiao Lian yang tertarik pula. Hao Yu sama sekali tidak ingin hal itu terjadi!!
"M-mereka sudah pergi...sepertinya..." ucap Xiao Lian sambil sedikit melongok ke bawah. Karena tepat di bawah gua tempat mereka saat ini mendekam terdapat banyak sekali tumbuhan paku yang menutupi pandangannya.
"Oh...benar juga..." Hao Yu menjawab gugup.
"Bagaimana kita turun?" tanya Hao Yu kemudian.
"Bodoh....!! Lihat itu. Ada banyak cekungan-cekungan di dinding. Gunakan itu sebagai pijakan untuk turun ke bawah." Xiao Lian berkata gusar karena mulai merasa jengah dengan posisi ini.
"Kau yang turun duluan." balas Hao Yu.
"Heh, kenapa memang?"
__ADS_1
"Anu....kau kan--"
"Goblok!! Selama ini apa kau buta!? Dalam jubah lebarku ini aku pakai celana!!!! Lagipula kau akan terus menengok ke bawah bukan!? Cepat turun dan aku akan turun setelahmu!!" bentak gadis itu yang merasa malu sekali dengan ucapan Hao Yu.
"O-oh...maaf..."
Setelah itu, pria ini segera melangkah turun sesuai dengan arahan Xiao Lian tadi. Merayap dengan hati-hati, tetapi juga tidak lambat. Sehingga sebentar saja dia sudah sampai di bawah sedangkan Xiao Lian masih kerepotan di atas sana.
"Wah...lama sekali..." Hao Yu sedikit berkelakar.
"Diam!!" bentak Xiao Lian yang merasa dipandang remeh.
Karena lengah, tanpa sengaja tangannya terpeleset dan tanpa dapat dicegah lagi, dirinya jatuh ke bawah.
"Awaass!!" Hao Yu panik dan segera melesat untuk menyambut tubuh itu."
"Byurr!!!" Xiao Lian mampu ditangkap dengan sempurna oleh Hao Yu, akan tetapi sungguh malang, Hao Yu ikut terpeleset pula sehingga mereka jatuh ke kubangan kecil yang berisi lumpur. Tepat di bawah dinding jurang.
"Sial sekali kita ini...." kata Xiao Lian sambil memandang tubuhnya yang penuh dengan lumpur.
...****************...
Karena hari sudah malam, mereka memutuskan untuk beristirahat di sekitar tebing itu. Keesokan harinya, barulah mereka melanjutkan perjalanan. Tentu saja dalam keadaan penuh lumpur, dan karena itu pula, mereka terpaksa membuang semua sisa bekal mereka karena sudah berselimut lumpur tebal.
"Ayo kita pergi!" gadis itu berkata seraya bangkit berdiri dan mengambil pedangnya.
Hao Yu hanya mengangguk dan ikut berdiri pula.
Mereka kembali melanjutkan perjalan, kali ini mereka menggunakan ilmu meringankan tubuh sehingga sebentar saja bayangan dua orang ini sudah lenyap dari sana.
Ketika matahari sudah lumayan tinggi, indera pendengar mereka menangkap sebuah suara pertempuran dan teriakan-teriakan.
"Ck, apalagi ini!?" gadis itu mengomel.
"Kita lanutkan saja?"
Bukannya menjawab, gadis itu malah membelokkan arah larinya ke sumber suara itu. Hao Yu menghela nafas pasrah dan mengikuti.
Sesaat setelah suara beradunya senjata itu hilang, mereka kembali mendengar suara. Suara itu jelas suara seorang wanita yang menjerit-jerit ketakutan.
"Pergi!! Pergi!!" demikian suara yang mereka dengar.
Sebagai sesama wanita, Xiao Lian sudah merasa cemas sekali karena tahu apa yang mungkin terjadi kepada mereka. Karena itulah, dia segera mempercepat larinya untuk segera tiba di tempat tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1