
Zhi Yang dan Yuan Fei terus berlari-lari menuju Timur, kearah dimana tadi Lin Tian pergi. Sudah hampir satu jam mereka terus bergerak akan tetapi bayangan Lin Tian pun belum tampak.
"Sial, kemana sih dia pergi? Apa dia pandai menghilang?" umpat Zhi Yang yang sudah mulai lelah.
Masih terus dalam keadaan berlari dan menoleh sana-sini jika kiranya menangkap siluet Lin Tian, Zhi Yang mengumpat dan merutuki Lin Tian yang larinya terlalu cepat di luar nalar itu.
Mendadak Zhi Yan dan Yua Fei melebarkan mata, telinga mereka mendengar suara bentakan-bentakan dari arah depan sana. Maka cepat dua orang ini menuju kearah tersebut untuk melihat apa yang terjadi.
Ada gugusan batu-batu besar di sana dan hal ini dimanfaatkan oleh dua orang itu untuk bersembunyi. Ketika keduanya menengok, kiranya di depan ada lebih dari lima puluhan atau bahkan ratusan, sedang memukuli seseorang.
Orang itu pakaiannya sederhana, rambutnya riap-riapan. Tapi karena posisinya membelakangi Zhi Yang dan Yuan Fei, maka mereka berdua tidak bisa melihat wajahnya.
Sampai ketika ada seseorang yang menendangnya dan orang ini terpelanting jatuh, barulah terlihat wajah di balik untaian rambut riap-riapannya.
"Lin Tian!" sontak dua orang itu berseru kaget mengetahui bahwa sosok yang dibelenggu adalah Lin Tian. Wajahnya yang sudah belang itu makin belang karena boyok-boyok terkena tinju maupun tendangan orang-orang yang membelenggunya.
Seruan ini sontak membuat ratusan orang itu sadar dan lekas menoleh untuk menemukan seorang gadis cantik dan pria paruh baya yang sedang membopong gadis cilik menggemaskan.
"Ah...ada wanita..." ucap seseorang yang paling dekat dengan batu.
"Haha, tunggu apa lagi? Tangkap!"
"Hiyaaaaa!"
Mereka berteriak nyaring dan menyerbu ke depan, mengurung Zhi Yang yang menjadi kaget sekali dan cepat berseru.
"Ayah, bawa Rou'er pergi jauh!"
"Kau bagaimana?"
"Jangan pikirkan aku! Aku akan baik-baik saja!"
Setelah ini, Zhi Yang meminta maaf atas kelancangannya kepada Yuan Fei. Dia lalu menendang Yuan Fei sampai jauh untuk memudahkan dia pergi.
"Pergi!"
__ADS_1
"Hiaaaa!"
Setelah itu Zhi Yang memekik keras dan keluarlah sepasang belati andalannya dari balik lengan jubah. Dia mengamuk di antara pengeroyokan itu dan tak jarang pula jarum-jarum tipis menyambar di antara serangannya. Belatinya berubah menjadi sinar-sinar putih keperakan yang bergulung di sekitar tubuhnya untuk menahan gempuran hujan senjata lawan.
Hingga ketika beberapa jurus berlalu, terdengar seruan nyaring yang membuat mereka gemetar.
"Bagaimana perjanjiannya? Dia kakakku!"
Sontak seruan menggema dan memekakkan telinga ini berhasil menghentikan semua serangan dan membuat tubuh mereka kaku-kaku. Mau tak mau mereka mundur dan tak ada lagi yang berani mengganggu Zhi Yang.
Walaupun heran dan terkejut sekali, Zhi Yang menoleh untuk bertanya kepada Lin Tian, "Lin Tian, apa yang terjadi?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganku."
"Tapi kenapa kau dibelenggu, apa sukarnya membinasakan mereka semua!?"
Lin Tian terdiam sejenak saat bangkit duduk, pandang matanya tertunduk untuk menatap tanah dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Aku....aku harus bertemu dengannya. Ini urusan lama. Lagipula, dengan kepandaianku mereka ini bisa apakah? Kau tak perlu khawatir."
"Pulanglah dan jaga Rou'er serta paman Yuan. Percayalah padaku." Lin Tian tersenyum untuk menenangkan Zhi Yang.
Zhi Yang terpaku, tak kuasa bergerak atau pun membantah. Dia mendiamkan saja saat orang-orang itu menghampiri Lin Tian dan menyeretnya kembali seperti sebelumnya. Gadis ini memandang nanar kepergian Lin Tian.
Sedangkan Lin Tian, diantara kepungan banyak sekali orang Iblis Taida Banding, dia menunduk dalam sampai dagunya menyentuh dada. Rambutnya yang menjuntai ke bawah itu menutupi mukanya sehingga orang tidak akan tahu ekspresi yang ditunjukannya saat ini.
Sebuah seringaian iblis tercipta di wajah Lin Tian, menambah kesan seram dari julukannya sebagai Pendekar Hantu Kabut.
"Hehe, kalian telah membawa kematian ke markas sendiri...." gumamnya lirih yang tak seorang pun mampu mendengarnya.
...****************...
Nasib Lin Tian dan Zhi Yang sudah jelas, Lin Tian sengaja menyerahkan diri kepada Iblis Tiada Banding sedangkan Zhi Yang memilih untuk membantu ayahnya.
Sekarang mari kita ikuti kisah Zhang Qiaofeng, seorang pemimpin muda yang baru saja mengalami pukulan batin hebat pasca penyerangan distrik merah. Setelah hari itu, gadis ini berusaha mati-matian meningkatkan kepandaiannya agar kelak mampu bersanding dengan Lin Tian.
__ADS_1
Sebelum menceritakan keadaan gadis ini, alangkah baiknya kita mengetahui keadaan kekaisaran Song lebih dulu.
Seperti yang sudah dijelaskan, setengah wilayah kekaisaran ini sudah dikuasai oleh Iblis Tiada Banding yang menduduki daerah Timur sampai hampir ke tengah. Hanya karena keberadaan orang-orang yang disebut sebagai Pendekar Sejati, maka iblis ini bisa sedikit jinak.
Kaisar sendiri membangun sebuah kelompok pejuang yang nantinya akan digunakan untuk menghadapi iblis-iblis ini. Mereka itu adalah pemeran utama dalam pertempuran jika seandainya kekaisaran Song dan Iblis Tiada Banding terjadi bentrok.
Empat Dewa Mata Angin, terlalu lama mereka ini tak terlihat di dunia persilatan, dan memang itulah yang mereka inginkan. Setelah mengajarkan ilmu-ilmu kepada Zhang Qiaofeng dan gadis itu sudah menguasainya, akhirnya mereka berempat pergi merantau entah kemana.
Tapi diam-diam Dewa Angin Barat dan Dewa Angin Timur telah mengundurkan diri dari dunia persilatan karena sudah terlalu tua. Mereka kembali ke tempat pertapaan masing-masing yang berada di pegunungan Barat dan Timur.
Sedangkan Shi Yong dan Shi Xue, Dewa Angin Selatan dan Utara itu memilih untuk membantu kekaisaran Song. Mereka menjadi pengawal bayangan kaisar yang selalu melindungi kaisar dari balik bayangan.
Keberadaan dua orang itu tak ada yang mengetahui kecuali pengawal pribadi kaisar, para petinggi dan tentunya kaisar sendiri.
Dan saat ini, kurang lebih enam bulan sudah berlalu sejak pembasmian distrik merah, belum ada tanda-tanda pergerakan dari Iblis Tiada Banding.
Pagi hari itu keluarga Zhang dan seluruh keluarga penguasa lain yang tinggal di markas para pejuang kedatangan seorang utusan kaisar yang membawa surat penting. Surat itu berisi undangan yang mengajak kelima keluarga penguasa untuk berunding.
"Tapi ini merundingkan apa?"
"Saya tidak tahu nona, saya hanya menyampaikan undangan kaisar."
Zhang Qiaofeng menghela nafas kasar. Dia memandang kearah Minghao dan berkata.
"Paman, tolong siapkan dua puluh pasukan elit untuk menemaniku ke perundingan besok. Kau juga ikut!"
"Baik nona." Minghao segera berbalik dan menjalankan perintah nonanya. Bersamaan dengan ini, utusan tadi mohon diri dan keluar dari kediaman Zhang.
Tinggalah Zhang Qiaofeng seorang diri di ruangan tersebut, duduk termenung memandang kepergian sang utusan. Namun walaupun begitu, pikirannya melayang-layang memikirkan seseorang.
"Enam bulan sudah berlalu dan kau belum kutemukan. Apakah benar bahwa yang menolongku waktu itu adalah dirimu?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1