
"G-gila...inikah saudara angkatku itu?" gumam Hu Tao dengan pandangan tidak percaya. Pemuda ini sudah mampu bangkit berdiri karena sebelumnya dia sudah melakukan meditasi untuk memulihkan tenaganya.
Di lain sisi, Pendekar Pedang Arwah diam-diam merasa terkejut juga. Tak pernah menyangka bahwasannya dia akan memiliki musuh yang demikian sakti. Yaitu Pendekar Hantu Kabut.
Tak terkecuali semua orang pasukan keluarga Hu yang tersisa juga para pasukan manusia gunung yang sejak tadi masih bersembunyi di balik pepohonan, menunggu perintah menyerang. Mereka semua memandang dengan mata terbelalak lebar dan berkeringat dingin, mengira bahwa semua yang dilihatnya itu hanyalah mimpi belaka.
Bagaimana tidak, di tengah hutan kebakaran itu, seorang raksasa dan seorang pemuda tanggung bertarung dengan sengitnya. Saling serang dan saling desak, mencoba untuk melumpuhkan lawan secepat mungkin.
Jika si raksasa yang bukan lain adalah Naga Emas, yang setiap pukulannya selalu menimbulkan hawa panas sehingga api makin besar berkobar. Sebaliknya, Lin Tian yang berjubah putih itu selalu menimbulkan hawa dingin di setiap tinjunya sehingga mampu mencegah kebakaran lebih hebat lagi.
Akan tetapi sungguh di luar dugaan semua orang, setelah tiga puluh menit berselang dan seratus jurus sudah jauh terlewat, lambat laun Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut itu mempu mendesak lawannya. Perlahan tapi pasti, Naga Emas makin lama makin sering bertahan dan bergerak mundur-mundur. Membuat ia marah dan juga penasaran karena pendekar baru itu mampu mendesaknya sungguh pun tidak terlalu hebat.
Lewat dua ratus jurus, Lin Tian mengirimkan Pukulan Tapak Beku yang kuat sekali kearah dada Naga Emas, dibarengi tangan kiri yang direntangkan dengan jari-jari terbuka, bersiap melakukan serangan susulan jika musuh berhasil menghindar.
Hasilnya sesuai perkiraan Lin Tian, Naga Emas terlihat kerepotan dan mau tidak mau dia mengelak ke kiri sembari mengirim hawa pukulan menangkis. Menciptakan gelombang angin dahsyat yang membikin udara sekitar sebentar panas sebentar dingin.
Akan tetapi, tangan kiri Lin Tian yang sedang dalam kondisi "bebas", segera bergerak melakukan serangan tapak berdasarkan ilmu Pukulan Tapak Beku pula. Dan sekali ini, pukulan tapak itu tepat mengenai sasaran, menghantam dada Naga Emas dan berhasil mengguncang isi dadanya.
"kheehh" keluhnya sambil terhuyung ke belakang.
Melihat keadaan seniornya yang makin payah, Pendekar Pedang Arwah yang sudah marah sedaritadi menjadi tak sabar. Maka ketika Lin Tian sudah melesat lagi hendak mengirim serangan, dirinya lekas melesat pula sembari menebaskan pedang menangkis.
"Hiaaaaa!!" teriak Lin Tian yang segera melakukan tangkisan kearah pedang lawan dengan pedangnya pula.
"Trangg!!"
__ADS_1
Dua pedang bertemu dan keduanya sama-sama terdorong sejauh tiga langkah. Lin Tian membelalakkan matanya kaget, karena begitu pedangnya bertemu pedang lawan, dia merasa betapa tenaga dalam yang ia alirkan kedalam pedangnya itu seketika lenyap dan hanya berputar-putar ke sekeliling bilahnya saja.
"Apa-apaan ini?" batin pemuda itu penuh rasa bingung.
Lawannya sudah maju lagi, kali ini dia mengirim tusukan kilat ke arah tenggorokannya. Melihat hal ini, Lin Tian juga bergerak cepat menangkis sambil melempar tubuh ke belakang.
"Gila!! Pedang setann!!" seru Lin Tian tanpa sadar. Karena untuk yang kedua kalinya, tenaga dalamnya dalam pedangnya itu "menghilang".
"Hehehe....kau terkejut?" balas Pendekar Pedang Arwah tersenyum mengejek.
Hal ini tentu mengejutkan pemuda bertopeng itu, pasalnya dalam tebasan kedua ini, dia telah mengalirkan tenaga dalam ke Pedang Dewi Saljunya dengan jumlah yang tak sedikit. Namun agaknya tenaganya itu sama sekali tidak berpengaruh kepada pedang lawan.
Teringatlah ia akan batu misterius di dalam penjara bawah tanah yang telah mengurung Siang Ki beserta anak buahnya. Sebuah batu yang mampu mengurung tenaga dalam pendekar untuk ditekan dan tidak mampu dikeluarkan sama sekali.
Dalam segebrakan tadi juga tak beda jauh. Lin Tian merasa bahwa serangan Pendekar Pedang Arwah sama sekali tidak mengandung tenaga dalam. Maka makin yakinlah hatinya bahwa musuhnya itu memiliki pedang yang berbahan sama dengan batu di penjara bawah tanah itu.
"Ternyata begitu, pedangmu sungguh istimewa. Sepertinya pedangmu itu mampu menangkis tenaga dalam. Hehe...tetapi itu juga kelemahanmu bodoh!!!" Lin Tian kembali menerjang, kali ini dia hanya menggunakan tenaga kasar saja, sama sekali tidak menggunakan tenaga dalam.
Pendekar Pendang Arwah tentu terkejut melihat lawannya mampu menebak keahlian pedangnya, namun yang lebih mengejutkan, ternyata dia juga telah mengetahui kelemahannya. Yaitu dia sendiri sebagai pengguna tidak mampu mengirimkan tenaga dalam ke pedang itu untuk menyerang.
Maka dengan hati penuh kemarahan, dia menangkis tebasan pedang Lin Tian.
Setelah Lin Tian mengetahui rahasia itu, dia sengaja terus menyerang tanpa pengerahan tenaga dalam, hanya mengandalkan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah amat tinggi.
"Mati kauuu!!!" kali ini Naga Emas sudah meloncat dari pinggir arena pertarungan, mengirim pukulan dahsyat kearah punggung pemuda itu.
__ADS_1
Akan tetapi Lin Tian hanya tersenyum tipis, percaya sepenuhnya dengan kemampuan Minghao sungguh pun sastrawan itu boleh dikata kesaktiannya masih berada sedikit di bawah dirinya.
Dan benar saja, sebelum kepalan tangan raksasa itu menyentuh target, ada sambaran angin tajam dari arah pinggir yang hampir saja menyerempet lengan Naga Emas. Itu adalah perbuatan Minghao, yang melakukan serangan dengan suara petikan yang-khim yang sekaligus mengirim angin tajam setajam pedang.
"Aaiihhh!!" Naga Emas lekas melompat mundur. Lalu memandang Minghao dengan pandang mata tajam.
Sedangkan Minghao, melihat Naga Emas sudah berani maju, maka ia segera maju pula untuk menerjang raksasa itu. Dia sadar jika kesaktiannya mungkin hanya sebanding dengan Pendekar Pedang Arwah atau mungkin kurang, namun mengingat akan pertandingan orang itu dengan Lin Tian, tentu tenaganya sudah cukup berkurang. Sedangkan dirinya masih sehat bugar.
Maka terjadilah pertandingan yang amat seru dan menegangkan. Empat orang sakti dari dua golongan berbeda itu saling terjang dengan hebatnya. Bergulung-gulung diantara senjata masing-masing.
Bunga api berpijar hampir disetiap kedipan mata karena saking cepatnya gerakan mereka. Hembusan angin kencang yang ditimbulkan daripada bentrokan suling Minghao dengan lengan Naga Emas amat dahsyatnya. Suara nyaring yang memekakkan telinga akibat benturan dua pedang di tangan Lin Tian dan lawannya, juga ikut andil untuk meramaikan suasana hutan di samping suara gemerotokan pohon-pohon terbakar.
Sedang orang-orang yang menonton di pinggir hanya mampu terbelalak penuh ketegangan. Begitu pula dengan Hu Tao, sungguh pun kesaktiannya sudah tinggi, namun ia ragu akan mampu bertahan dalam pertempuran yang sangat buas ini.
"Lin Tian...aku sama sekali tidak mampu melampauimu!" gumamnya dalam hati sambil sedikit menyunggingkan senyum. Melihat betapa saudaranya itu lambat laun mampu mendesak mundur musuhnya.
Setelah sekian lama, pedang di tangan Lin Tian mampu menangkis pedang lawannya dengan amat keras. Membuat pedang di tangan Pendekar Pedang Arwah bergetar hebat dan hampir terlepas dari pegangan.
Kesempatan ini tak ingin ia sia-siakan. Maka secepat kilat Lin Tian sudah merubah kuda-kuda dan mengalirkan tenaga dalam penuh ke Pedang Dewi Salju. Pendekar Pedang Arwah yang menyadari tindakan Lin Tian segera membuat ancang-ancang untuk menangkis.
Namun terlambat, begitu pedangnya hendak ia gerakkan untuk melindungi diri, Pedang Dewi Salju Lin Tian sudah lebih dulu menerobos tenggorokannya, disusul dengan pukulan tapak dingin yang dihantamkan langsung mengarah pusar. Membuat seluruh penghuni perut Pendekar Pedang Arwah berguncang hebat.
"Juniooorrrr!!!" teriak Naga Emas melihat juniornya sekarat dalam keadaan berdiri. Sebelum kemudian jatuh menghantam tanah dengan keras dan nafas terputus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG