Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 57. Buku Ketenangan Batin


__ADS_3

"Mohon berikan beberapa petunjuk pada murid, guru!!"


Mendengar pernohonan Lin Tian yang begitu sungguh-sungguh. Zhang Hongli tersenyum bangga kepada diri sendiri.


"Baiklah, karena kau sudah memohon seperti itu, ditambah kau juga muridku satu-satunya, maka aku sebagai gurumu dengan sukarela akan mengajarkan buku rumit itu!! Mana bukunya, berikan padaku!!" kata Zhang Hongli dengan senyum lebar seraya mengulurkan tangan kanan.


Lin Tian menyerahkan buku kecil tersebut dan kembali duduk memperhatikan.


Setelah beberapa saat Zhang Hongli membolak-balikkan halaman buku, terdengar dia berkata, "Baiklah Lin Tian, dengar baik-baik. Buku ini bukanlah buku yang mudah dipahami, akan tetapi jika kau sudah paham, kau akan bisa meningkatkan ilmu silatmu ketingkat yang jauh lebih tinggi dari sekarang."


"Mungkin kau masih bingung soal identitas sebenarnya dari buku Ketenangan Batin ini, tapi sebenarnya, buku ini sederhana saja. Buku Ketenangan Batin adalah buku silat yang ditulis menggunakan kalimat-kalimat sajak." ucap kakek itu menjelaskan.


Lin Tian mengerutkan kening, lalu bertanya, "Tapi guru, jika sesederhana itu, mengapa sampai sekarang semua orang belum bisa memastikan jika buku itu adalah buku silat dengan kalimat sajak? Aku yakin di luar sana banyak sekali orang berilmu, jika memang seperti yang guru katakan, seharusnya sudah dari dulu orang akan mengetahui jati diri yang sebenarnya dari buku ini."


"Benar...benar...pemikiranmu bukanlah salah. Akan tetapi kau lihat ini." ucap Zhang Hongli seraya menunjuk salah satu sajak dalam buku itu.


Lin Tian melihatnya sekilas, tapi setelah beberapa detik, pemuda ini sama sekali tidak memahami artinya.


"Kau pasti bingung kan? Sama, aku pun juga tak begitu paham." kata singkat Zhang Hongli dengan raut wajah datar.


"Hah?" tentu saja Lin Tian terkejut dan spontan memandang gurunya itu dengan pandangan tidak percaya. Dia merasa jika dirinya telah dibodohi oleh kakek tua di depannya ini.


"Sialan, dia ini sebenarnya bicara apa sih?" umpat Lin Tian dalam hati.


"Harap kau maklumi gurumu ini Lin Tian, aku ini seorang seniman beladiri, bukan seorang sastrawan. Jadi, wajar kan jika diriku yang tua ini tidak tahu menahu segala macam sajak dan syair?" kakek itu berkata dengan memasang ekspresi murung yang dibuat-buat.


"Tolong langsung keintinya guru. Kau tahu? Sudah bertahun-tahun aku membaca buku ini dan sudah ratusan kali aku menamatkan buku ini, jadi buku yang anda pegang itu aku sudah hafal betul. Tetapi aku yang bodoh ini sama sekali belum melihat inti sari dari buku tersebut, karena itulah aku mohon petunjuk." ucap Lin Tian sopan namun dengan nada dingin dan datar.


"Heheh...baiklah...baik."


"Dengar Lin Tian, mengapa dari dahulu belum ada yang mengetahui rahasia ini? Jawabannya mudah, karena mereka semua hanya menguasai satu bidang." ucap Zhang Hongli.


"Maksud guru?" tanya Lin Tian yang masih belum paham akan maksud gurunya.

__ADS_1


"Maksudku, kebanyakan orang di dunia ini hanya menguasai satu keahlian saja. Jika dia seorang pesilat, maka dia akan tekun mempelajari ilmu silat. Akan tetapi, jika dia seorang sastrawan, maka dia secara otomatis dituntut untuk mempelajari dan memahami syair, sajak, serta filsafat-filsafat kuno."


"Sedangkan untuk buku ini, syarat utama untuk bisa memahaminya adalah dengan cara menguasai dua keahlian tersebut. Yaitu menguasai ilmu silat dan juga menguasai ilmu sastra." kata Zhang Hongli memberi penjelasan.


"Tapi guru, anda tadi bilang jika anda adalah seorang seniman beladiri bukan-"


"Benar!! Kau pasti bingungkan mengapa aku tadi berkata bahwa aku memahami buku ini sedangkan aku sendiri adalah seorang seniman beladiri dengan ilmu sastra nol besar?" ucapnya memotong perkataan Lin Tian.


"Benar guru!" balas Lin Tian sambil menganggukkan kepala beberapa kali.


"Hahaha....sebenarnya, sampai sekarang pun aku belum paham sama sekali. Yang memahami buku ini adalah guruku, dan aku bisa mebguasai buku ini adalah karena bimbingan dari guru. Jadi kesimpulannya, kita berdua sama-sama tak paham." Zhang Hongli tertawa seraya mendongakkan kepalanya.


Lin Tian yang terkejut hanya mampu melotot dan membuka lebar-lebar mulutnya. Dia benar-benar terlihat seperti seorang pemuda bodoh saat ini.


"Tapi kau tenang saja muridku. Seperti yang sudah kubilang tadi, aku sudah menguasai buku ini sepenuhnya berkat guruku. Karena itulah, sekarang aku pun juga bisa mewariskannya padamu!!" kata kakek itu dengan mata berkilat penuh semangat yang membara.


Mendengar penuturan gurunya ini, seketika lenyaplah rasa kesal di hati Lin Tian, digantikan dengan rasa gembira yang teramat sangat.


"Dengar Lin Tian!! Inti dari buku ini sebenarnya cukup mudah, akan tetapi prakteknya yang susah." kata Zhang Hongli mulai menjelaskan.


Seperti namanya, buku Ketenangan Batin ini membutuhkan ketenangan jiwa dan pikiran agar mampu memaksimalkan potensi ilmu silat yang terkandung di dalamnya.


Ilmu silat itu cukup mudah untuk dikatakan. Tangan sang pengguna hanya perlu menuliskan setiap huruf-huruf dari kalimat ganjil dalam sajak dan kakinya harus menuliskan huruf-huruf dari kalimat genap. Serta antara kaki dan tangan harus berjalan selaras dan sama, tanpa boleh ada perbedaan waktu sedetik pun.


Sebagai contoh, gerakan pembuka jurus ini diawali dengan kalimat bait pertama dalan buku Ketenangan Batin. Maka, si pengguna jurus harus menggerakkan tangan untuk menuliskan setiap huruf di kalimat satu dalam bait pertama, dan kakinya menuliskan setiap huruf di kalimat dua dalam bait pertama.


Begitu seterusnya hingga menghabiskan bait pertama dan lanjut ke bait kedua. Juga, pergerakan antara kaki dan tangan harus dilakukan dalam waktu bersamaan, jika tidak, gerakannya akan membuka celah besar yang tentu saja mampu dimanfaatkan oleh musuh untuk mebyerang balik.


"Sepertinya cukup sulit guru."


"Memang betul. Tak ada ilmu hebat yang mudah dipraktekkan. Sekarang, aku akan memberikan contoh gerakannya padamu." ucap Zhang Hongli seraya bangkit dari duduknya dan pergi ke tanah rata yang lebar.


"Perhatikan baik-baik!!" perintah kakek itu kemudian dia mulai bergerak sesuai aturan-aturan tadi.

__ADS_1


Awalnya, gerakan Zhang Hongli terlihat lambat-lambat saja dan seperti gerakan yang sama sekali tidak membahayakan. Akan tetapi, lama kelamaan gerakan tangan yang mencorat-coret udara dan kakinya yang bergeser kesana-kemari semakin cepat dan berbahaya.


Dari tempat Lin Tian duduk, dia dapat merasakan adanya serangkum angin kencang yang keluar dari setiap gerakan gurunya itu. Melihat hal ini, diam-diam dia merasa kagum.


"H-hebat, beginikah kekuatan buku yang selalu kubawa itu?"


Setelah beberapa menit, Zhang Hongli menghentikan gerakannya. Lalu kemudian berkata, "Bagaimana Lin Tian, apa kau sudah bisa mengingat gerakanku tadi?"


"Cukup ingat guru, biarkan aku mencoba." jawab Lin Tian yang langsung melompat ke depan gurunya.


Zhang Hongli melompat mundur untuk memberi ruang kepada muridnya. Karena dia melihat dari jarak yang sedikit jauh maka ketika berkata kakek ini harus berteriak.


"Lin Tian, kerahkan tenaga dalammu disetiap gerakan!! Baik kaki maupun tangan!!" ucapnya dari kejauhan.


"Baik guru!!"


Setelah itu, pemuda ini pun mulai mencoba gerakan ilmu silat Ketenangan Batin yang baru saja dipraktekkan gurunya. Karena dia sudah hafal betul akan isi buku itu, maka tanpa perlu melihat dua kali, dia sudah tahu mana yang seharusnya menjadi gerakan tangan dan mana yang harus menjadi gerakan kaki.


Hingga dua jam lamanya Lin Tian mencoba gerakan ilmu itu, akan tetapi dia sama sekali belum berhasil. Sungguh pun gerakannya mampu menimbulkan angin kencang, akan tetapi gerakan kaki tangannya belum selaras sama sekali.


"Hah....hah....hah...." dada Lin Tian naik turun dengan nafas memburu.


Gurunya yang melihat dari jauh tersenyum bangga kepada kegigihan muridnya ini. Lalu dia berteriak, "Ayolah, hanya ini saja kemampuanmu!? Wah....gawat, bisa-bisa Feng'er merasa kecewa padamu dan akan mengusirmu dari keluarga....hahahah!!"


Bagaikan disambar petir di siang bolong, wajah Lin Tian langsung pucat seketika.


"T-tidak, tidak boleh. Aku harus jadi lebih kuat!! Lebih kuat dari sekarang!! Jauh lebih kuat dari sekarang!!!" batin Lin Tian yang sudah merasa ngeri membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.


Sedetik kemudian, Lin Tian memekik keras dan kembali melanjutkan latihannya. Dari belakang sana, terdengar suara Zhang Hongli yang tertawa keras melihat aksi muridnya ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2