Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 66. Tokoh Tua


__ADS_3

Dengan pandangan tajam yang menusuk, Zhang Hongli mengangkat salah satu tangannya dan memberi tanda kepada Feng Hu untuk maju. Sikapnya ini terlihat menantang dan sangat merendahkan Feng Hu.


"Majulah...."


Merasa dirinya terhina, kakek pemimpin perguruan Tongkat Bambu Kuning ini lekas melompat ke tempat guru Lin Tian itu berdiri. Dia berdiri dengan dada sedikit dibusungkan, menandakan bahwa dirinya sama sekali tidak takut akan tantangan itu.


"Mundur kau dan jangan mengganggu!!" bentak Feng Hu kepada lawan Lin Tian itu yang dibalas dengan anggukan hormat. Sedangkan untuk mayat seorang petinggi lainnya, dia tendang seenaknya ke arah bawah panggung.


"Kalian berdua, turunlah!" perintah Zhang Hongli terhadap Lin Tian dan Hantu Seratus Lengan.


Mereka mengangguk dan turun dari arena. Begitu turun, Lin Tian langsung menuju ke tempat Chu Wei dan Chu Rou berada.


"Bagaimana ini? Ketua perguruan Tongkat Bambu Kuning itu sangat lihai. Apakah Tuan Zhang mampu menghadapinya?" gumam Chu Rou dengan penuh perasaan cemas yang masih mampu di dengar oleh Lin Tian.


"Kau tenang saja. Aku yakin guru tak akan kalah." jawab Lin Tian dengan nada sungguh-sungguh.


"Aku tak tahu sekuat apa kakek itu, akan tetapi sepertinya di tak lebih lemah dari pemimpin perguruan Tongkat Bambu Kuning." ucap salah seorang penonton.


"Aku setuju denganmu. Firasatku mengatakan bahwa sebentar lagi akan terjadi pertarungan hebat antar dua orang sakti." sahut temannya dengan wajah tegang.


Maka, begitu kedua orang tua itu saling berhadapan dengan pandang mata tajam, semua penonton menjadi diam seketika. Menanti dengan hati tegang dan berdebar atas apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Siapa namamu?" tanya Feng Hu dengan dingin.


"Tak sopan untuk menanyakan nama orang tanpa memperkenalkan diri lebih dulu." jawab Zhang Hongli.


"Hmph! Aku Feng Hu, pemimpin Perguruan Tongkat Bambu Kuning! Orang biasa menyebutku sebagai Iblis Lengan Delapan!"


"Zhang Hongli" balas guru Lin Tian ini singkat.


Setelah itu, terjadi keheningan yang cukup lama. Kedua orang tua ini saling pandang untuk menaksir kekuatan lawan. Sampai lama mereka terus berada dalam keadaan seperti ini yang membuat semua orang di sana makin tegang. Tak terkecuali Lin Tian.


"Apa yang sedang guru rencanakan?" batin pemuda itu was-was.


Setelah kurang lebih selama lima menit tak terjadi perubahan situasi. Tiba-tiba Feng Hu memekik keras dan tubuhnya sudah mencelat mengirimkan tendangan telapak kaki kearah dada Zhang Hongli.


"Deess"


Tendangan itu mampu tertangkis dengan sekali lambaian tangan kanan Zhang Hongli. Membuat kakek berjuluk Iblis Lengan Delapan itu terhuyung sejauh tiga langkah.


"Tidak buruk juga kau..." ucap lirih Feng Hu sambil menyeringai.


Detik berikutnya, giliran Zhang Hongli yang menyerang lebih dulu. Dia pun juga melakukan gerakan yang sama, yaitu menendang dengan telapak kaki menuju dada Feng Hu.


Walau gerakan itu sama persis, akan tetapi akibatnya sungguh sangat jauh berbeda. Jika tadi Feng Hu yang tendangannya tertangkis terpental sejauh tiga langkah, kali ini dia terpental sejauh lima langkah begitu tangannya bertemu kaki Zhang Hongli.


Dalam sekali pertukaran jurus ini sudah jelas diketahui mana yang lebih kuat dan mana yang lebih lemah.


Maka, sambil menyeringai penuh ejekan, Zhang Hongli berkata, "Hanya seginikah? Ayo berdiri dan pakai tongkatmu!!"


"Cih...!!"


Sambil mendengus geram, Feng Hu melompat bangun dan mencabut tongkatnya. Sedetik kemudian, dia sudah memainkan tongkat itu dengan sangat cepat dan berbahaya. Setiap kali tongkat itu bergerak, selalu mengarah ke titik-titik vital lawan.


"Hehe...bagus, bagus!!" ucap Zhang Hongli yang masih dengan senyum mengejek seraya menghindari setiap sabetan tongkat.


Feng Hu yang sudah merasa marah itu, memukulkan tongkatnya mengarah kepala, bertujuan untuk menghancurkan kepala itu. Akan tetapi kejadian berikutnya membuat dia, bahkan seluruh penonton merasa terkejut.


"Buukkk....augh!!"

__ADS_1


Tongkat itu telak mengenai kepala. Akan tetapi, begitu tongkat itu menyentuh pelipis Zhang Hongli, senjata bambu itu langsung terpental balik dan menimbulkan rasa kesemutan luar biasa di pergelangan Feng Hu.


"Hiaaa...!!"


Zhang Hongli tak ingin memberi kesempatan, begitu celah terbuka lebar, kakek ini dengan secepat kilat melesat maju untuk memperpendek jarak. Lalu dengan gerak tangan yang sukar diikuti pandang mata, dia mengirimkan sebuah pukulan telapak tangan yang terasa panas bukan main.


Feng Hu terkejut begitu merasakan hawa pukulan luar biasa yang dihasilkan dari telapak tangan musuhnya. Akan tetapi dia tak punya waktu untuk tenggelam dalam keterkejutannya karena tangan itu sudah berada dekat dengan tubuhnya.


"Hhaaaaa!!" Feng Hu memekik keras dan melempar tubuh kebelakang. Namun gerakannya ini sedikit terlambat yang membuat dadanya kena hantam sedikit oleh tangan itu.


"Uhuk!!" darah segar mengalir keluar dari mulutnya. Tanda bahwa dirinya telah terluka dalam. Sambil memegangi dadanya yang terasa sesak, Feng Hu menatap Zhang Hongli penuh kebencian.


"Sudah selesai, ingin menyerah?" tanya Zhang Hongli santai.


Hal ini tentu membuat semua orang menjadi heran dan terkejut bukan main. Terutama sekali Lin Tian, dialah yang sesungguhnya paling terkejut diantara semua orang.


"Jadi ini kesaktian guru? Tak kusangka seorang yang selama ini kukira berotak miring itu ternyata sekuat ini..." batin Lin Tian yang diam-diam merasa kagum dengan gurunya.


"H-hebat..." batin Chu Wei memandang terbelalak.


"Puuhh!! Heh...ini belum apa-apa!! Terima ini!!" Feng Hu meludahkan darah lalu membersihkan mulutnya. Kemudian langsung maju menyerang dengan sangat ganas.


"Buk-buk-buk!!"


Entah sudah berapa kali banyaknya, terdengar suara bak-bik-buk begitu tongkat bambu di tangan Feng Hu bentrok dengan tubuh Zhang Hongli. Namun, agaknya guru Lin Tian itu masih terlihat baik-baik saja dan menghadapi semua serangan Feng Hu dengan santai.


Lima puluh jurus telah terlewati. Feng Hu nampak sudah kelelahan, sedangkan di pihak lain, masih terlihat sehat-sehat saja. Walaupun begitu, Feng Hu si pemimpin perguruan Tongkat Bambu Kuning ini masih tetap gigih untuk terus menyerang.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin!! Tidak mungkin!!!! Bagaimana bisa aku, Iblis Lengan Delapan Feng Hu, bisa dipermainkan orang sampai seperti ini!??" gumam pria tua ini dalam hati yang masih sulit menerima kenyataan.


Memang untuk julukannya, Iblis Lengan Delapan, agaknya bukan hanya isapan jempol belaka. Hal ini dibuktikan dengan cara permainan tongkatnya yang bergerak sangat cepat dan akurat, hingga seakan-akan tongkatnya itu berubah menjadi banyak sekali.


Begitu salah satu ujung tongkat Feng Hu hendak menyambar pinggang Zhang Hongli, kakek ini cepat melompat mundur sambil menendang kearah depan.


Tendangan ini bukanlah tendangan biasa. Namun sebuah tendangan yang dipenuhi dengan banyak tenaga dalam. Jika diperhatikan, tendangan itu terlihat seperti meleset dari sasaran karena memang kaki Zhang Hongli hanya mengenai udara kosong. Akan tetapi, Zhang Hongli memang sengaja melakukan hal itu, karena sejatinya tendangan itu dia lakukakan untuk mengirimkan serangan jarak jauh.


Maka menjadi terkejutlah Feng Hu. Semula dia sudah merasa girang sekali begitu Zhang Hongli melompat mundur dan dirinya berniat untuk melakukan serangan susulan. Akan tetapi ternyata semua terjadi diluar dugaan, dia tak pernah menyangka bahwa dalam keadaan seperti itu, musuhnya ini masih mampu untuk mengirim serangan balasan. Diam-diam, mau tak mau dia harus mengakui keunggulan lawan.


Dengan pekik keras, Feng Hu juga melompat mundur dan bergulingan beberapa kali sebelum bangkit kembali. Begitu dia sudah berdiri tegak, dirinya dibuat bingung sampai wajah keriputnya itu melongo saking herannya.


"Hah, dimana dia?" tanya Feng Hu kepada diri sendiri sambil menengok kesana-sini.


Sedetik kemudian, tiba-tiba punggungnya terasa sakit sekali karena ada sebuah kaki yang menghantam dengan sangat keras dan hebatnya. Terpentalah kakek ini sampai bergulingan dan akhirnya jatuh tersungkur.


"Hahaha....kenapa ini? TIDAK SERU!!! Tak kusangka seorang pemimpin perguruan besar seperti ini sama sekali tak punya kemampuan dan hanya bisa besar mulut. Hayo kalian!! Cepat kemari dan bantu anjing ini untuk merobohkanku!!!" kata Zhang Hongli dengan tertawa bergelak. Disusul dengan jari telunjuknya yang diarahkan kepada para petinggi perguruan itu untuk menantangnya.


Seketika pucatlah wajah keenam orang petinggi perguruan itu. Sedangkan untuk para tamu terhormat yang bukan lain adalah para tetua Aliansi Golongan Hitam, menjadi merah muka mereka ketika memandang Zhang Hongli yang begitu menjengkelkan dimata mereka.


Zhang Hongli sadar akan tatapan membunuh ini, maka cepat dia kembali berkata, nadanya santai seperti tanpa beban sedikitpun


"Jika kalian ingin bergabung, silahkan." ucapnya sambil memandang ke sembilan orang tersebut.


Tanpa aba-aba lagi, sembilan orang tamu terhormat yang sudah marah itu langsung melompat ke atas arena dan mengeroyok Zhang Hongli.


Sedangkan para petinggi perguruan, begitu melihat serbuan sembilan orang tamu terhormat mereka, menjadi besar hati dan lebih percaya diri. Maka tanpa berlama-lama, keenam orang itu sudah ikut melompat pula dan mengeroyok Zhang Hongli.


"Hahaha....ini baru yang dinamakan pertarungan." kata Zhang Hongli yang masih bisa tertawa bergelak seperti itu.


"Jangan sombong kau tua bangka!! Kematian sudah di depan hidung dan kau masih bisa bersikap arogan!?? Sungguh lucu!!" bentak salah seorang tamu kehormatan.

__ADS_1


"Bwahahaha....mari kita lihat, hidung siapa yang sudah dekat dengan kematian!!" jawabnya seraya mengirim pukulan dahsyat kearah lawan bicara.


"Plaakk-deess!!!"


Pukulannya bertemu dengan tangan lawan. Seketika, tubuh lawannya itu langsung bergetar hebat dan wajahnya memucat. Detik berikutnya, dia terhuyung-huyung kebelakang sambil menekan dadanya yang sesak.


Belum juga lewat satu tarikan nafas, dari kanan, kiri, dan belakang Zhng Hongli sudah menyambar tiga tongkat bambu sekaligus!! Bambu-bambu ini mengarah ke kepala, tengkuk, dan pinggang Zhang Hongli. Sungguh kombinasi serangan yang luar biasa hebat.


Namun yang mereka lawan adalah Zhang Hongli, seorang tokoh tua yang sudah lama bersunyi diri di dalam hutan. Maka serangan ini bukanlah ancaman berat baginya.


Dengan enak saja, Zhang Hongli memutar tubuh dan mengibas-ngibaskan lengan bajunya sebanyak tiga kali. Kibasan baju itu ternyata mampu mengeluarkan gelombang angin pukulan hebat yang mampu melemparkan ketiga orang tersebut.


Detik berikutnya, dari atas kepala dan belakang sudah pula meluncur sepasang pedang dan dan golok yang mengancam sisi butanya. Akan tetapi sama seperti sebelumnya, hanya dengan kibasan lengan baju saja, dua orang ini sudah terhempas tak berdaya.


"Hehe-hahaha...ayo-ayo, buat aku bersemangat lagi!!" teriak Zhang Hongli dengan wajah gembira.


Di tempat penonton sana, Lin Tian, Chu Wei, Chu Rou dan seluruh penonton baik dari kaum hitam atau putih, hanya mampu berdiri bengong memandang aksi kakek aneh itu. Mereka sama sekali tidak percaya bahwa para tokoh perguruan Tongkat Bambu Kuning yang sudah terkenal namanya itu mampu dibuat "terbang" kesana-sini oleh kakek tersebut.


"Inikah guruku? Guru yang otaknya agak sinting itu?"


...****************...


Tiga puluh menit berlalu, dan semua pengeroyok Zhang Hongli yang berjumlah enam belas orang itu sudah terkapar semua, kecuali Feng Hu seorang.


Yang selamat dari keenam belas orang itu hanyalah tiga orang. Dua diantaranya luka parah dengan tulang tangan hancur lebur, sedangkan yang satu adalah Feng Hu sendiri. Sisanya? Mati semua!


Keadaan disitu menjadi sunyi senyap, kecuali sebuah suara dari langkah kaki dua orang yang masih sibuk bertarung itu. Mereka semua menampakkan ekspresi yang berbeda-beda. Ada yang memandang dengan muka pucat, ada juga yang memandang dengan tatapan takjub.


Orang-orang yang bermuka pucat ini tak lain adalah para pendekar golongan hitam yang merasa ngeri mengingat nasib mereka sendiri andaikata begitu pertarungan ini selesai, merekalah yang akan dijadikan sasaran Zhang Hongli.


Sedangkan untuk orang yang berekspresi takjub itu adalah orang-orang kaum putih. Mereka merasa sangat senang dan bangga memiliki rekan segolongan yang demikian hebat.


Karena pertempuran sudah berlangsung cukup lama, Zhang Hongli akhirnya merasa bosan dan berkata. Suaranya sangat dingin, sungguh berbeda dari sebelumnya.


"Hmph, sudah cukup!! Pergilah!!" dia membentak dan menendang kepala Feng Hu sampai terpental dan menabrak para penonton golongan hitam yang jumlahnya tinggal beberapa orang itu.


Memang sebagian besar para pendekar golongan hitam sudah meninggalkan tempat itu untuk menyelamatkan diri dari Zhang Hongli.


"Praakkk!!"


Begitu tubuh Feng Hu memebentur tanah, kepalanya langsung pecah seketika dan isinya menyebar kemana-mana. Pemimpin perguruan Tongkat Bambu Kuning, tewas di tangan Zhang Hongli!!


Sontak hal ini membuat para murid perguruan Tongkat Bambu Kuning menjadi gentar. Mereka sama sekali tidak ada yang berani bergerak, hanya mampu berdiri dengan muka pucat dan menundukkan kepala.


"Kalian semua para anak murid perguruan Tongkat Bambu Kuning...adakah yang hendak menuntut balas kepadaku? Jika ada, sekarang ini majulah kehadapanku dan akan kulayani kalian sampai mampus!" ucap Zhang Hongli dingin seraya menyapu pandangan kepada murid-murid perguruan itu. Tak ada satupun dari mereka yang berani menjawab.


Kemudian, terdengar Zhang Hongli kembali berkata, "Hari ini, tepat pada siang hari, Perguruan Tongkat Bambu Kuning telah mati karena memang pantas mati!! Kalian semua para pengkhianat, pengotor nama besar Tongkat Bambu Kuning yang terhormat, berani-beraninya mengangkat diri sebagai seorang pengejar kedudukan, padahal semua itu tak lebih hanyalah omong kosong dan mimpi yang terlalu tinggi!! Sekarang kuberi kesempatan pada kalian untuk pergi dari sini dan hentikan mimpi palsu itu! Karena andaikata kita bertemu lagi di lain waktu, tak akan kuberikan belas kasihan kepada kalian, para manusia tak berbudi!!"


"Dan untuk para pedagang dan sastrawan sekalian, aku memuji kalian dengan setulus hati karena masih berani untuk berdiri di sini hingga saat ini. Aku hanya punya satu permintaan untuk kalian, tolong sebarkan berita ini kepada semua orang, agar kelak mereka tahu, bahwa perguruan yang telah hancur ini adalah karena perbuatan mereka sendiri yang sudah jatuh kelubang tikus!" ucap Zhang Hongli dengan penuh wibawa dan sikap agung.


Setelah berkata panjang lebar, Zhang Hongli kemudian membalikkan tubuh dan pergi dari sana diikuti oleh Lin Tian, Chu Wei, Chu Rou dan seluruh rombongan pendekar golongan putih.


Peristiwa siang hari ini merupakan peristiwa bersejarah yang tak akan terlupakan dari hati semua orang. Peristiwa tentang hancurnya sebuah perguruan besar yang namanya bahkan sudah terdengar sampai keujung daratan Selatan ini. Sebuah perguruan yang terkenal dengan sepak terjangnya yang gagah dan pembela kebenaran serta kaum lemah.


Peristiwa kelam ini, kelak akan dikenal orang dengan sebutan Runtuhnya Tongkat Budiman


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2