Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 190. Naga Salju Menari


__ADS_3

Di batu datar tak terlalu besar yang terdapat di tengah danau super dingin itu, duduk bersila seorang pemuda tampan yang mengenakan topeng sebelah wajah.


Seluruh pakaiannya hitam dari ujung rambut sampai kaki, di punggungmya ada gambar naga emas yang sedang memeluk bulan. Sedangkan di pinggangnya bertengger dengan rapi pedang pendekar yang terlihat indah bentuknya sungguh pun masih dalam keadaan tersarung.


Siapa lagi pemuda ini jika bukan Lin Tian si Pendekar Hantu Kabut yang sudah lama hilang.


Satu tahun berlalu dengan sangat cepat selama pemuda itu berlatih hawa sakti di sini. Dan selama satu tahun itu pula, belum pernah sekalipun Wang Ling Xue mengajarinya ilmu Naga Salju Menari. Setiap hari, Lin Tian diharuskan untuk latihan menghimpun tenaga dalam dengan alasan agar ilmunya bisa sempurna.


Dia juga merasa bingung mengapa mempelajari ilmu itu harus terlebih dahulu menyempurnakan hawa sakti Yin? Bukankah dia bisa menyempurnakannya seiring berlatih ilmu itu?


Namun dia tidak berani bertanya-tanya akan hal itu kepada Wang Ling Xue.


Di pinggiran danau, Wang Ling Xue terlihat duduk tenang sambil mengecap buah-buahan simpanannya. Dia memandang Lin Tian sungguh-sungguh sambil bergumam.


"Seharusnya dia sudah menguasai hawa sakti. Sekarang mari kucoba."


Wang Ling Xue menghabiskan buah apelnya dan menyisakan bagian tengah apel yang keras. Dia lalu menyambitkan bagian apel keras itu kearah Lin Tian yang sedang fokus meditasi.


"Hm?"


Seketika apel yang sudah tinggal tulang itu berhenti ketika mencapai satu jengkal di depan wajah Lin Tian. Satu detik kemudian, apel itu mulai membeku dan becah berkeping-keping seperti kaca.


Wang Ling Xue tersenyum lebar melihat kemajuan muridnya yang cukup memuaskan. Sontak dia bertepuk tangan karena bangga dengan pencapaian Lin Tian.


"Bagus Lin Tian, kau sudah memahami apa itu hawa sakti. Sekarang kemarilah, aku akan mulai mengajarimu ilmu pukulan Naga Salju Menari."


Sejatinya antara tenaga dalam dan hawa sakti tidaklah terlalu jauh beda. Hanya saja jika tenaga dalam itu adalah tenaga alam yang diserap ke dalam tubuh, kemudian disalurkan ke seluruh urat syaraf untuk digunakan berbagai hal. Seperti serangan, totokan atau bertahan.


Sedangakan hawa sakti adalah sebuah tenaga murni yang ada di setiap diri manusia. Hawa sakti tidak bisa diukur banyak sedikitnya, hanya mahir atau tidaknya orang itu saat menggunakannya yang bisa dijadikan acuan perbedaan di setiap individu.

__ADS_1


Tapi walaupun begitu, hawa sakti tidak bisa asal digunakan oleh setiap orang. Mereka harus membangkitkan terlebih dahulu hawa sakti itu dengan cara menyerap tenaga alam yang kemudian di olah dan dipadatkan ke dalam suatu tempat di bawah pusar. Dari tempat itulah hawa sakti akan bangkit dan orang itu bisa mengendalikan tenaga tersebut sesuai kehendak.


Sedangkan untuk masalah Lin Tian yang kesulitan menyerap dan menguasai hawa sakti adalah karena makanan yang ia makan mengandung inti tenga Yang.


Sehingga, hawa panas dari makanan itu memenuhi setiap sel syaraf di tubuhnya tanpa ia sadari. Sedangkan tenaga alam sekitar jika ingin dipadatkan dan diolah untuk dijadikan hawa sakti, harus diserap melalui seluruh pori-pori tubuh. Sehingga mau tak mau hawa dari luar memasuki setiap sel syaraf sebelum akhirnya sampai di bawah pusar. Saat melewati sel syaraf itulah hawa dingin dan panas saling tekan dan membuat Lin Tian kerepotan.


Lalu seandainya jika Lin Tian menyerap tenaga dalam biasa, apakah dia akan kesulitan seperti itu? Jawabannya tidak.


Karena jika Lin Tian menyerap tenaga alam, saat tenaga alam memasuki tubuhnya, secara otomatis tenaga alam itu sudah berubah menjadi miliknya yang disebut tenaga dalam. Sedangkan untuk mengendalikan tenaga dalam, tak perlu untuk dipadatkan terlebih dahulu. Sehingga tenaga Yin dan Yang berdampingan di setiap sel syarafnya tanpa masalah.


Intinya, hawa sakti bisa bangkit jika tenaga dalam di tubuh dipadatkan dan diolah di suatu tempat yang berada di bawah pusar. Namun jika seseorang hanya memiliki hawa sakti tanpa tenaga dalam, maka kekuatannya akan tak imbang dan cenderung lebih lemah.


Mendengar seruan gurunya ini Lin Tian lekas melesat menghampiri gurunya.


"Baik guru!" katanya semangat.


"Dengarkan aku..." ucap Wang Ling Xue mulai memberi penjelasan.


Dia juga menjelaskan bahwa ilmu pukulan Naga Salju Menari bukan sekedar pukulan biasa. Ilmu silat ini adalah satu dari empat kitab keramat, sehingga tentu saja ada keistimewaan dibanding ilmu pukulan lain.


Salah satu dari keistimewaan itu adalah, hanya dengan hawa sakti sajalah ilmu itu bisa sempurna. Tanpa hawa sakti, seseorang tidak akan bisa dianggap menguasai sepenuhnya ilmu ini.


Keistimewaan lain adalah, ilmu ini tak hanya mengandalkan kekuatan saja, melainkan juga kecepatan. Maka dari itulah, Wang Ling Xue diam-diam bersyukur karena Lin Tian sudah menguasai ilmu langkah kilat yang memang menjadi ilmu pasangan dari keempat kitab keramat.


"Jadi, guru Chong San sudah tahu aku akan mendapatkan ilmu-ilmu ini sehingga dia mengajarkanku ilmu langkah kilat?" tanya Lin Tian yang teringat akan Chong San yang memaksanya untuk segera mengauasai ilmu langkah kilat.


"Tentu saja itu alasannya, apa kau lupa bahwa dia adalah peramal?" jawab Wang Ling Xue.


"Cukup dengan teorinya, sekarang kau harus melatih setiap gerakan dari ilmu Naga Salju Menari. Lihat ini!"

__ADS_1


Lin Tian memandang gurunya dengan sungguh-sungguh tatkala orang tua itu mulai menyiapkan kuda-kuda. Tak lama setelah itu, Wang Ling Xue mulai melakukan gerakan-gerakan yang sangat indah. Sedetik kemudian...


"Bom–Boom!!"


Wang Ling Xue menghentakkan kedua tangannya ke depan mengarah ke batu-batu pinggir danau. Dua kali terdengar suara keras ketika dua batu pinggir danau hancur berkeping-keping.


"Hebat...." Lin Tian berdecak kagum.


"Ini belum selesai..."


"Krak–Krak–Krak"


Tiba-tiba, ada tiga batu lain yang ukurannya lebih kecil dari dua batu pertama pecah seketika. Hal itu membuat Lin Tian semakin kagum dan melongo heran menyaksikan kejadian barusan.


"Bagaimana bisa?" Lin Tian berseru terteheran.


"Kau tak melihat pukulan ketiga dan keempatku kan?"


"Apa? Tadi jelas-jelas guru hanya melakukan pukulan sekali dengan dua tangan secara berbareng!"


"Memang benar, tapi dengan ilmu langkah kilatku yang sudah jauh lebih tinggi darimu, kau pikir aku tak bisa mengelabuimu?"


"Lihat buktinya, kau tak lihat gerakan tanganku?" Wang Ling Xue terkekeh pelan.


"Lin Tian, inilah kecepatan sejati dari Naga Salju Menari."


"Untuk kekuatannya?"


"Itu belum seberapa, kau akan tahu sendiri nanti."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2