
Orang yang disebut dewi Yan Cu itu hanya berdiri diam di atas panggung sambil meramkan mata. Mulutnya di tutupi cadar berwarna hitam, namun melihat matanya, orang akan langsung tahu bahwa orang ini sangatlah cantik jelita.
Matanya tajam dengan bulu mata lentik hitam tebal. Alisnya tipis sehingga kulit putih di balik alis itu bisa terlihat jelas, rambutnya panjang dikepang sampai pinggang. Tubuhnya cukup tinggi untuk seukuran wanita, pinggangnya ramping. Benar-benar tubuh indah yang diidam-idamkan semua wanita.
Seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping Yan Cu mengangkat tangan untuk menghentikan kegaduhan ruangan itu. Semua orang serentak bungkam melihat tanda itu.
"Terima kasih untuk semuanya yang sudah hadir di sini. Seperti yang sudah kami tulis di papan pengumuman kemarin. Yan Cu, dewi kita ini akan memilih seorang pemuda untuk bermalam dengannya hari ini. Dalam rangka merayakan hari ulang tahun distrik merah, bagi yang beruntung akan dapat ditemani oleh dewi Yan Cu semalam suntuk."
"Woaaahh!!"
"Ini yang kutunggu-tunggu!"
Gemuruh teriakan manusia-manusia hidung belang kembali terdengar. Di antara mereka tak jarang yang berpakaian prajurit kota. Memang orang-orang macam ini adalah jenis orang bandel yang akan menciut nyalinya saat atasan mereka tahu.
"Cepat katakan bagaimana syarat untuk mendapatkan dewi Yan Cu malam ini!"
Ucapan ini terdengar perlahan saja, namun suaranya mampu menindih semua kebisingan yang ada. Serentak semua orang menengok untuk melihat siapa adanya pemilik suara itu. Ternyata suara barusan adalah milik pria tampan yang tadi masuk bersama tiga orang wanita.
"Siapa namanya? Aku lupa." Yin Yin bertanya pada Lu Jia Li dengan tatapan jijik yang ditujukan terhadap pria itu.
"Sie Yan."
Mendengar nama ini, tanpa terasa tubuh Yin Yin menggigil, kemudian dia mencebikkan bibirnya dan mengumpat.
"Pria itu pantas mati!" katanya dengan ekspresi jijik.
"Hanya dengan pengerahan tenaga dalam seperti itu saja ingin berlagak hebat di hadapan para wanita? Sungguh menjijikkan!" Lu Jia Li mengumpat pula, namun hanya di dalam hati.
Setelah semua orang berhasil dibuat diam oleh suara Sie Yan, wanita paruh baya itu kembali berkata.
"Pertanyaan tuan akan dijawab langsung oleh dewi kita. Silahkan..." kata wanita itu mempersilahkan Yan Cu untuk bicara.
Yan Cu maju satu langkah dan mulai bicara. Suaranya terlihat halus dan lembut, benar-benar mampu untuk membius semua orang baik pria dan wanita.
__ADS_1
"Aku akan memilih pria perkasa yang akan menemaniku dengan ini." ucapnya sambil menunjukkan bola rajut berwarna merah.
"Caranya mudah, aku akan melempar bola ini sebanyak tiga kali. Orang yang mendapatkan bola silahkan maju ke depan. Lalu aku akan memilih diantara tiga orang itu dengan caraku sendiri nanti. Tapi tenang saja, untuk dua orang yang tak kupilih, kalian akan ditemani dua wanita ini yang aku yakin tak ada yang tak mengenal mereka di sini." Yan Cu menjelaskan peraturannya.
Mendengar kelimat terakhir ini, dari tirai belakang Yan Cu muncul dua orang wanita. Masing-masing juga memakai cadar. Mulai dari rambut sampai ujung kaki, penampilan mereka sama persis seperti Yan Cu, hanya wajahmya saja yang berbeda.
"Itu dewi Leng Sian dan Lu Si Yan. Benar-benar hari yang baik bisa bertemu dua dewi ini!!" seru salah seorang pria begitu melihat datangnya dua orang tersebut.
Yin Yin dan Lu Jia Li terus memandang penuh perhatian kearah panggung saat Yan Cu memberi sambutan kepada semuanya. Namun walaupun begitu, mereka berdua tidak terlalu mempedulikan semua ucapan Yan Cu.
"Baiklah, mari kita mulai." ucap Yan Cu mulai bersiap.
Dia mengangkat tangannya ke atas dan segera melemparkan bola itu. Serentak semua orang mengangkat tangan tinggi-tinggi demi mengambil bola itu. Namun sedetik kemudian, melesat dua bayangan hitam yang saling tumbuk di udara untuk memeperebutkan bola itu.
"Mereka pendekar!!"
"Curang sekali!"
Seru orang-orang saat melihat dua pendekar yang mempperebutkan bola itu di udara.
"Aku dapat!"
Satu bayangan meluncur cepat menggantam tembok ruangan dengan keras. Saat kepulan debu menghilang, menampakkan seorang pria yang kepalanya sudah menancap tembok.
Yan Cu tak menghiraukan itu, dia lalu melemparkan kembali bola kedua. Kali ini diterima oleh pria yang berada di tengah kerumunan.
"Ini yang terkahir." ucap Yan Cu mengingatkan.
Dia melemparkan bola itu ke sudut. Bola itu melambung tinggi dan entah kebetulan atau bagaiamana, bola itu sampai di tangan Sie Yan yang mampu menangkap tanpa berdiri dari tempat duduk.
"Bibi, bukankah sedikit aneh?" Lu Jia Li memberi isyarat kepada Yin Yin sembari terus memandang dimana tadi bola itu mendarat.
"Memang aneh, kita tak boleh lengah. Seolah-olah bola itu sengaja dilemparkan padanya." Yin Yin juga memandang tajam kearah Sie Yan yang menurutnya cukup aneh.
__ADS_1
"Mungkin...ini hanya pemikiranku, mungkin nanti Yan Cu akan memilih Sie Yan. Jika memang begitu, bisa jadi kedatangan kita sudah diketahui dan ini memang jebakan." Karena terlalu panjang, Lu Jia Li menuliskan semua kalimat itu menggunakan buku kecilnya.
"Silahkan tuan-tuan sekalian untuk naik ke panggung."
Tiga orang ini segera naik tangga yang menuju ke atas panggung. Mereka berjalan dengan semangat dan mata berbinar. Bagaimana tidak, sudah pasti ketiganya mendapat hiburan bagus malam ini.
Yang paling beruntung akan mendapat Yan Cu. Namun dua orang lainnya tidak bisa dibilang sial, karena keduanya akan mendapat salah satu dari Leng Sian atau Lu Si Yan.
Sedikit tidak adil rasanya karena Yan Cu hanya melemparkan bola itu di lantai satu, sedangkan lantai dua dan seterusnya hanya bisa melihat.
Tetapi sebenarnya dia bukanlah tidak adil, karena lantai dua dan seterusnya kosong. Semua orang berkumpul di lantai satu untuk menerima bola Yan Cu. Jadi jika Yan Cu melempar bola itu ke atas, tentu orang-orang akan berpikir dia telah miring otaknya.
Tiga orang pria tersebut naik ke panggung dan berdiri berjajar dengan Sie Yan yang berada di tengah.
Yan Cu mengamati ketiga orang itu satu per satu. Tak hanya memandang, wanita ini bahkan melakukan tindakan berani seperti menyentuh wajah atau bagian lainnya. Dan saat sampai di giliran Sie Yan.
"Aku akan pilih pria ini."
Seketika wajah dua orang lainnya menjadi sedikit lesu karenanya. Namun hanya sebentar saja karena Leng Sian dan Lu Si Yan cepat bertindak menghibur mereka.
"Mari tuan, saya antarkan..." ucap keduanya dan membawa dua orang itu. Sedangkan Yan Cu juga sudah mengandeng Sie Yan untuk dibawa ke kamar.
"Wah tak dapat, untuk apa aku masih berdiam diri di sini?" ucap seseorang.
"Hei, masih ada banyak wanita yang menunggu, mengapa tak pilih salah satu saja?" jawab temannya.
Lu Jia Li dan Yin Yin tak peduli dengan semua itu. Pandangan mereka menajam dan rasa was-was mulai timbul.
"Bagaiamana pun juga, misi harus diselesaikan. Kita ikuti mereka!"
Lu Jia Li mengangguk dan keluar dari rumah pelacuran itu bersama Yin Yin. Mereka pergi ke gang kecil untuk berganti seragam kebanggaan mereka. Setelah sudah siap, keduanya melesat cepat untuk membayangi Sie Yan dan Yan Cu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG