Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 256. Pukulan Nafas Salju


__ADS_3

"Eh....eh....eh...nanti dulu, kalian berdua tenanglah. Kenapa tiba-tiba mau saling binasakan?" Lin Tian sudah meloncat maju menghadang di antara dua bidadari yang sedang diamuk cemburu itu. Diam-diam dia merasa senang sekali kalau sampai keduanya terlibat pertikaian. Tapi tak mungkin juga dia mengekspresikan hal itu secara terang-terangan dengan membiarkan mereka bertarung.


Yang pertama kali memprotes adalah Fu Hong, wanita bermulut tajam dan pedas itu melangkah maju dan menuding Lin Tian dengan telunjukknya. "Minggir kau Lin Tian, ini pertarungan demi mempertahankan kehormatan!"


Sung Hwa ikut maju pula memberi pendapatnya, "Benar!! Malam ini harus ada satu wanita yang tinggal selamanya di sini! Jika kau tak bisa memilih, biarlah kami dua orang ini yang memilih diri sendiri agar pantas untukmu!"


"Hiaaatt!!"


Baru saja mulut Sung Hwa terkatup kembali, Fu Hong sudah melompat melewati atas kepala Lin Tian dan mengirim serangan tapak.


Sung Hwa yang melihat ini bukan tak bisa menghindar, tapi dia sengaja menunggu datangnya serangan untuk kemudian ia robohkan dalam sekali serang. Niat awalnya seperti itu, tapi nampaknya gagal karena saat dia mengebutkan ujung jubah lebarnya itu, Fu Hong sudah berkelit dengan cara menggelinding ke kiri.


"Haaaa!!" Sung Hwa memekik mengirim tamparan dengan tangan kiri. Sedangkan Fu Hong sudah pula mengirim pukulan tangan kanan.


"Desss–desss!!"


Keduanya terpental karena serangan masing-masing lawan dengan telak mengenai sasaran. Serangan Sung Hwa berhasil mendarat pada pundak kanan Fu Hong, sedangkan Fu Hong berhasil mendaratkan serangannya pada pundak kiri Sung Hwa pula.


"Hebat....tidak memalukan menjadi murid kesayangan tuan Xu Cin Keng..." Sung Hwa berkata seraya menekan pundak kirinya yang linu dan nyeri.


Keadaan Fu Hong tak berbeda jauh, dia pun terkejut sekali begitu merasakan keampuhan pukulan Sung Hwa yang mendatangkan hawa dingin pada pundak kanannya. Tapi semua itu ia tutupi dengan senyum mengejek.


"Ini belum selesai!!!" pekik Fu Hong kembali melompat ke depan.


Karena Fu Hong tak membawa senjata, berpikir bahwa senjata hanya menambah berat badan saja, maka kali ini keduanya bertempur dengan tangan kosong.


Tapi dapat dibayangkan betapa kaget dan ngeri hati Fu Hong ketika mencapai sepuluh lebih jurus pertandingan itu berjalan, dia mulai terdesak hebat. Pada saat seperti itulah baru dia ingat bahwa perkumpulan Hati Iblis sangatlah ahli dalam silat tangan kosong. Dan wanita yang sedang dilawannya ini adalah pendekar terkuat di antara para muridnya. Tentu saja dia kualahan.


"Sialan!! Aku lengah!!" pekiknya dalam hati ketika tubuhnya menghadap serong kiri, tangan kiri Sung Hwa sudah melesat cepat kearah punggung Fu Hong. Dapat dirasakan oleh Fu Hong bahwa angin yang menyambar mendahului telapak tangan itu terasa amatlah dingin.


"Mati kau!"


"Breettt!"


Secepat kilat, Lin Tian melompat dan menarik kerah Fu Hong, dilemparkannya jauh-jauh sehingga serangan Sung Hwa luput. Akan tetapi karena tindakannya ini, serangan Sung Hwa terus meluncur deras menuju kearah dada Lin Tian.


"Baiklah, sandiwara mengorbankan diri, dimulai!!!"

__ADS_1


"Buaaghh!"


"Uaaghhh!!"


Bagaikan layangan putus, tubuh Lin Tian terbang sampai jauh kurang lebih dua tiga tombak. Bahkan tubuhnya sampai menghantam Fu Hong yang memandang terbelalak.


"Lin Tian!!" pekik Fu Hong saat memposisikan Lin Tian pada pangkuannya.


"Uhukk...uhukkk...aakhhh!!"


Hebat sekali dan luar biasa bukan main. Dengan pengerahan hawa saktinya, dia sedikit melukai paru-paru dan jantungnya sendiri, sehingga memaksa pemuda itu untuk batuk dan muntah darah.


Sedangkan serangan Sung Hwa tadi, untuk seukuran dirinya mana mempan?


Sung Hwa yang melihat itu, dengan wajah pucat memandang terbelalak dan tubuh gemetaran hebat. Nafasnya memburu, bercampur aduk antara sedih, marah, menyesal dan khawatir.


"Uhuk....hentikan....hentikanlah...." gumam Lin Tian seolah memaksa suaranya keluar. Padahal kalau dia ingin, berteriak untuk menggegerkan seisi pulau pun kiranya masih mampu.


"Lin Tian bertahanlah, aku akan merawatmu! Sekarang kita harus pulang!"


"Mau kemana kau?!"


Tapi karena ada Lin Tian dalam pangkuannya, jika dia diam saja maka pemuda itu akan ikut celaka. Maka dengan terpaksa dia melempar Lin Tian dan menerima pukulan itu hanya dengan mengandalkan tubuhnya yang terlindungi tenaga dalam. Sama sekali tak sempat menangkis atau mengelak.


"Deesss"


Tak berbeda jauh dari Lin Tian, bahkan lebih parah. Tubuh Fu Hong terlontar sampai empat tombak jauhnya. Dia mengeluarkan darah banyak sekali ketika batuk-batuk karena dadanya yang sesak. Matanya melotot lebar, bahkan saking sakitnya, iris matanya sampai memutar ke atas sehingga mata yang biasanya indah itu nampak putih semua.


Setelah batuk darah beberapa kali yang mungkin bisa mencapai satu gelas penuh, Fu Hong pingsan dengan mata melotot.


Sung Hwa tak memedulikan itu, dia lebih fokus pada keadaan Lin Tian yang rebah miring membelakanginya. Karena khawatir sekali, maka tanpa banyak cakap wanita ini memapah Lin Tian untuk dibaringkan pada perahunya dan dibawa pulang.


"Heheh.....satu kecoa sudah sirna. Ah...entah sirna atau tidak, tapi intinya setelah ini semuanya akan kacau." batin pemuda itu yang masih pura-pura pingsan.


...****************...


"Guru, mohon bantu saya untuk menolong Lin Tian, saya mohon!!"

__ADS_1


Kiam Bong yang terkejut sekali melihat kedatangan muridnya, padahal belum lama pergi menjadi heran. Apalagi saat wanita itu datang tergopoh-gopoh ke ruangannya sambil menangis.


"Bangunlah....ceritakan apa yang terjadi."


Bukannya bangun, Sung Hwa malah bersujud makin dalam, "Lin Tian....tanpa sengaja terkena pukulan Nafas Salju. Saya...saya tadi bertarung melawan Fu Hong untuk memperebutkan Lin Tian...tapi hasilnya malah begini."


Membelalakkan matanya terkejut, Kiam Bong cepat bertanya, "Apa katamu? Fu Hong? Kenapa dia ada di sana?"


"Itu keinginan Lin Tian yang ingin bermain dengan kami berdua...."


"Kenapa tak kau turuti saja?!!" kali ini dengan nada marah Kiam Bong membentak. Membuat Sung Hwa makin ketakutan.


"Saya....saya tidak rela dan tidak mau!!" Sung Hwa berkata keras dan tegas.


"Bah....bocah merepotkan!! Sekarang bawa aku kepada Lin Tian!!"


...****************...


Lin Tian bukannya tidak mengenal ilmu pukulan yang digunakan oleh Sung Hwa tadi, dia sudah sering melihatnya ketika Sung Hwa sedang berlatih atau geger dengan Fu Hong.


Pukulan itu bernama pukulan Nafas Salju. Sesuai namanya, pukulan itu mengandung hawa dingin luar biasa. Jika dibandingkan dengan ilmu silat Halimun Sakti ciptaannya, Lin Tian ragu apakah ilmunya itu lebih kuat.


Efek yang nampak jelas setelah terkena pukulan itu adalah, darah di tempat pukulan itu mendarat akan membeku dan perlahan berhenti. Sehingga membuat kulit dan daging pada tempat itu ikut membeku pula. Biasanya berwarna biru pucat.


Lin Tian yang tahu akan hal ini segera mengerahkan ilmu pukulan Tapak Beku pada tangannya dan menghantam dadanya sendiri sebanyak tiga kali. Rasa nyeri yang menyerangnya tak dihiraukan karena dia sudah cepat-cepat membekukan aliran darah pada daerah itu.


"Dalam keadaan seperti ini, aku bisa bertahan kurang lebih lima hari. Kalau kakek itu tak bisa menolong, aku harus menolong diri sendiri dan mencari cara agar terlihat masih sakit." gumamnya pada diri sendiri.


Pintu ruangannya terbuka saat Sung Hwa dan gurunya datang dengan wajah yang sulit diartikan. Menyadari ini buru-buru Lin Tian menutup kembali matanya dan membuat nafasnya terngah-engah.


"Kau tak ragu-ragu untuk membunuh Fu Hong? Dasar bocah nakal! Pukulanmu kuat sekali dan ini bisa membunuh bocah ini!! Kalau dia terbunuh, belum tentu Zhang Heng mau mengampuni kita!!" bentak Kiam Bong penuh amarah meluap setelah mengecek keadaan luka Lin Tian.


Sung Hwa hanya mampu menunduk dengan penuh penyesalan.


"Siapkan air panas sepanci penuh, cepat bawa kemari!!"


"B-baik guru....!"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2