Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 277. Babak Terakhir


__ADS_3

Angin di sekitarnya berubah menjadi agak kebiruan. Insting beserta tubuhnya mengatakan bahwa ini merupakan hal berbahaya. Namun harga dirinya menolak keras untuk mundur.


Maka A Liu merentangkan kedua tangan ke depan, mengirim tembakan hawa sakti luar biasa kuat yang dalam keadaan normal dan ditujukan pada ahli silat biasa, tubuh sasaran itu sudah pasti akan bolong.


Namun yang jadi lawannya kini adalah Wang Ling Xue, seseorang yang berjuluk Pertapa Tangan Beku. Bukan sembarangan orang yang mampu menghadapi ilmu-ilmunya yang lihai.


Ia menciptakan semacam aura hawa sakti yang melingkupi seluruh tubuhnya. Membuat hawa sekitar menjadi dingin menggiriskan. Melihat A Liu mengirim serangan, dia tak mau tinggal diam.


Ia menghentakkan tangan kanannya ke depan dan serangkum hawa dingjn melesat cepat guna melawan hawa A Liu.


"Blaarr!"


Dua tenaga raksasa beradu dan keduanya tetap bergeming di tempat. Tapi walaupun begitu, sejatinya keduanya sedang beradu hawa sakti dan jika ada orang mendekat, dapat dipastikan orang itu akan tewas terkena tekanan dua orang ini.


A Liu dengan kedua tangannya mulai gemetaran dan giginya bergemelutuk kedinginan. Kedua kakinya lambat laun mulai menggigil dan kaku-kaku. Namun dia tetap memaksa untuk terus melawan.


Di lain sisi, Wang Ling Xue terlihat masih santai-santai saja. Bahkan dia hanya menggunakan satu tangan. Tangan kirinya menggenggam di samping pinggang, bersiap mengirim serangan berikutnya.


"Keras kepala!" akhirnya Wang Ling Xue memekik dan mengirim pukulan jarak jauh menggunakan tangan kiri.


"Breesss!"


Tanpa mampu dicegah lagi, hawa sakti A Liu mampu didorong oleh hawa dingin Wang Ling Xue, akibatnya kakek itu terpental jauh sembari memuntahkan seteguk darah segar.


Sudah ratusan jurus terlewat dan agaknya beradu hawa sakti tadi merupakan serangan penutup. Terlihat A Liu yang terengah-engah dan tak mampu lagi untuk berdiri.


"Sepertinya, pertarungan puluhan tahun lalu sudah ditentukan siapa pemenangnya." ujar Wang Ling Xue seraya mendekat.


"Phuhh!" A Liu dengan kasar meludahi ujung sepatu Wang Ling Xue.


"Bunuh saja aku! Kau pikir aku ini pengecut hah!?" ujarnya marah tanpa mampu bangkit berdiri lagi karena seluruh sendinya serasa beku.


Wang Ling Xue memandangnya sinis, lalu memandang sekeliling dan memandangnya lagi. "Saudara-saudaramu akan segera menyusul."


"Jangan remehkan–"


Ucapan itu tak mampu terselesaikan karena dengan cara meletakkan telapak tangan di dahinya, Wang Ling Xue telah membekukan otaknya.


Kakek ini kemudian memandang ke satu jurusan, tatapannya terlihat iba dan sedih.


Terlihat di sana, seorang kakek dan pemuda yang rebah miring dengan tangan kanan menancap di dada lawan masing-masing. Dua orang ini tak lain adalah A Tong dan Kang Lim.

__ADS_1


"Semoga beristirahat dengan tenang. Kau pahlawan..."


...****************...


"Hyaaaaahhh!!"


Serangan A Jiu mulai ngawur tak karuan setelah tangan kanannya tak lagi berfungsi. Kakek ini hanya mampu menyerang dengan tangan kiri dan kedua kakinya saja.


Tapi jika dilogika, dengan tubuh sehat saja dia masih belum mampu menandingi Chong San, apalagi dengan satu tangan yang lumpuh. Tentu saja menjadi bahan permainan Chong San.


Memang kakek bercaping yang selalu memegang tongkat ini daritadi hanya main-main. Dia selalu melirik ke arah pertarungan kedua muridnya, Lin Tian dan Zhang Qiaofeng.


"Apa yang kau lihat dari tadi!?"


"Woaahh!" Chong San bergulingan ketika sambaran tangan kiri A Jiu lewat di atas kepalanya. Akibatnya, pohon besar yang tadi berada di belakang Chong San roboh seketika.


"Heiiittt!"


Dengan lagak dramatis yang dibuat-buat, Chong San bangkit berdiri dan menusukkan tongkatnya. Di mata A Jiu, wajah yang penuh dengan sandiwara itu benar-benar memualkan.


"Trraaakk!"


"Aaaaahh!!"


Akibatnya, kaki itu bernasib sama seperti tangan kanannya. Tulangnya berbelok dan tak bisa digunakan lagi.


"Ahh....kau sudah putus asa?" tanya Chong San kemudian setelah A Jiu jatuh kesakitan.


"Jangan memandangku seperti itu!" tembakan hawa sakti dari tangan kiri begitu hebat hingga membuat daun di satu pohon rontok semua. Namun Chong San yang hanya miringkan kepala untuk menghindar sama sekali tidak ada yang runtuh rambutnya.


"Kau ini, keras kepala sekali ya?"


...****************...


"Ctar–ctar–ctar!"


Pecut itu menyambar-nyambar bagaikan petir. Seperti ular hidup yang hendak menangkap mangsa, ujung pecut itu selalu bergerak mengikuti kemana pun Zhang Qiaofeng pergi.


Dia melompat, pecut itu seperti terbang. Dia bergulingan, A Yin menyentakkan pecutnya sehingga muncul gulungan sinar hitam yang hendak melibatnya. Saat dia coba menangkis, pecut itu berpusingan dan malah melilit belatinya, maka terjadilah tarik-menarik yang sangat menegangkan.


"Heheh...bagaimana rasanya bermain senjata pendek seperti itu? Cukup sulit bukan untuk menghadapiku?" ejek A Yin dengan masih berusaha keras untuk merebut kedua belati Zhang Qiaofeng.

__ADS_1


"Keparat!" gerutunya sebal dan terus mempertahankan belatinya.


Beberapa menit berselang dan dua orang wanita cantik ini terus bersitegang dalam tarik-menarik itu, tak ada yang mau mengalah.


Kemudian terlihat mata Zhang Qiaofeng melotot seperti terpikirkan akan sesuatu.


"Aku harus mencobanya! Jika berhasil aku akan mendapat keuntungan besar!" gumam Zhang Qiaofeng dalam hatinya.


Dia menggigit bibir untuk menguatkan tekadnya. Setelah beberapa saat, akhirnya keputusannya sudah bulat.


Ia sedikit mengendorkan tarikannya, namun tindakan ini sudah lebih dari cukup untuk menarik tubuh Zhang Qiaofeng melambung tinggi ke arah A Yin.


Melihat ini, A Yin girang sekali karena merasa lawannya sudah putus asa. Maka ketika tubuh Zhang Qiaofeng sedang meluncur di udara seperti itu, libatan pecut ia kendurkan dan terlepas.


Kemudian bagaikan ekor naga yang menyambar, pecut itu melenting ke atas sebelum kemudian turun dengan kecepatan ekstrem menuju leher Zhang Qiaofeng.


Zhang Qiaofeng seolah tak melihat serangan itu dan hal ini membuat hati A Yin bertambah girang. Jarak antara mereka hanya berpisah tiga meter.


Namun pecut A Yin itu hanya tinggal beberapa senti saja sebelum berhasil menebas putus leher dara cantik bertopeng ini.


Akan tetapi, A Yin memekik terkejut ketika tangan kanan Zhang Qiaofeng berkelebat dan belatinya meluncur deras menuju lehernya. Dari jauh mampu ia rasakan aura dingin mencekam yang dihasilkan dari belati itu.


"Aaiiihh!" A Yin berseru kaget dan hendak menarik pecutnya. Namun kalau pun bisa dilakukan, hal itu tak mungkin sempat untuk bisa menyelamatkan lehernya.


Maka satu-satunya jalan adalah menggunakan tangan kiri untuk menutupi lehernya dan sedikit miringkan kepala. Tapi agaknya sudah terlambat.


Bersamaan dengan ini, pecut di tangan kanan A Yin sudah berada dekat sekali dengan leher Zhang Qiaofeng. Akan tetapi gadis itu seolah tak memedulikannya.


Sontak hal ini membuat orang-orang Zhang di barisan pasukan sana berseru.


"Nona!"


"Awas nona, dari kiri!"


"Nona, menghindar!"


Semua tak berguna karena memang sudah terlambat. Dan di saat bersamaan....


"Aaakkkhhhh!!" pekikan menyanyat terdengar dari kedua wanita cantik itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2