Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 279. Saya Sudah Bangun


__ADS_3

Kemenangan besar menjadi akhir daripada perang hebat itu. Sebuah perang yang melibatkan hampir seluruh pendekar seluruh daratan, akibat marah dan benci, hati mereka tergerak untuk merobohkan musuh lama mereka. Iblis Tiada Banding.


Di jalan-jalan kota, desa maupun rumah-rumah setiap orang, mereka selalu membicarakan akan kemenangan perang itu diantara keluarga, kerabat dan sahabat.


Di ibukota kekaisaran Song, jalan-jalan dihias sedemikian rupa hingga membuat kotor begitu pesta ini selesai. Namun semua itu tidak menghilangkan rasa syukur dan senang dengan apa yang telah terjadi beberapa waktu lalu.


Iblis Tiada Banding telah runtuh, hancur lebur tak bersisa. Pasukan kaisar pulang ke ibukota membawa kabar gembira ini yang segera menjadi perbincangan hangat di seluruh daratan Utara bahkan sampai ke seberang Pegunungan Tembok Surga.


Sepasang Naga Putih mulai dikenal orang-orang. Dua pahlawan yang dapat dikatakan sebagai pemeran utama dalam perang itu.


Beberapa hari setelah perang berakhir, para penyair serta sastrawan setempat, mulai membuat puisi atau syair-syair tentang peristiwa itu. Mereka menyebutnya, Pertempuran Hitam Putih.


...****************...


Gadis itu menghela nafas berat seraya memandangi sosok yang terbaring lemas di ranjang tempat tidur. Di sebelah kanan wajah pemuda itu, nampak bekas luka bakar berwarna merah yang agaknya menjadi luka permanen.


Sudah satu minggu sejak kembali dari perang melawan Iblis Tiada Banding dan Zhang Qiaofeng masih setia menunggu pemuda di pembaringan itu untuk bangun.


Kesenangan serta sukacita rakyat sekitar tak dihiraukannya. Wajahnya selalu nampak murung dalam seminggu terakhir ini karena kondisi pemuda itu yang tak kunjung membaik.


Dialah Lin Tian. Di saat-saat terakhir melawan Zhang Heng, pedangnya dan pedang Zhang Heng secara bersamaan berhasil menembus tubuh masing-masing.


Lin Tian mengalami luka parah karena ini. Pedang Zhang Heng berhasil menembus perutnya dan entah karena apa tapi Lin Tian masih dapat hidup hingga kini.


Menurut tabib setempat dan juga pengamatan Chong San, Lin Tian saat itu sedikit mengelak sehingga tusukan Zhang Heng tidak ada yang mengenai organ vital. Jadi Lin Tian hanya kelelahan dan merasa sakit luar biasa, tapi tak membahayakan nyawanya.


Tapi siapa yang tidak khawatir setelah seminggu berlalu namun pemuda itu belum juga sadar. Zhang Qiaofeng sudah terlalu gelisah sampai selera makannya hampir hilang sama sekali.


Pintu terbuka dan menampakkan Fen Lian yang membawa senampan makanan hangat. Ia mendekati nona mudanya dan meletakkan nampan itu di meja.


"Makanlah dulu nona. Perhatikan juga kesehatan anda." ucapnya dengan sedih.


"Hm...." Zhang Qiaofeng hanya bergumam. Namun matanya tetap tertuju pada wajah Lin Tian.

__ADS_1


Diam-diam dia merasa terkejut akan luka di wajah sebelah kanan Lin Tian. Dia berpikir darimana Lin Tian mendapatkan luka itu sebelumnya. Akan tetapi gadis ini berhenti memikirkan hal itu karena tidak terlalu penting.


"Nona?" ucap Fen Lian kemudian karena Zhang Qiaofeng belum juga menyentuh makanannya.


"Hm....." kembali hanya gumaman singkat dari Zhang Qiaofeng yang menjadi jawaban. "Kau boleh pergi. Aku akan memakannya nanti." Zhang Qiaofeng melempar senyum tipis.


Selalu saja seperti itu yang menjadi jawaban selama seminggu ini. Namun setiap kali Fen Lian datang untuk mengambil mangkok kotor, makanan dalam mangkok itu hanya berkurang tak lebih dari tiga suap.


"Jangan terlalu mengkhawatirkannya nona, para pelayan akan memberinya makan secara teratur setiap hari."


"Aku tahu, dia tadi juga sudah diberi makan kan?"


Fen Lian mengepalkan tangan untuk membulatkan tekadnya. Ia teringat akan perintah Zhang Hongli tadi dan agaknya tak ada pilihan lain untuk saat ini.


Fen Lian mengambil mangkok dan juga sendok lalo menyodorkan sesuap bubur untuk Zhang Qiaofeng.


"Apa ini?" Zhang Qiaofeng mengerutkan kening bingung.


"Kakek anda bilang, saya harus menyuapi anda langsung jika anda tak mau makan. Saya akan terus ada di sini sebelum makanan ini habis." ucap Fen Lian sedikit malu untuk menyuapi nonanya sendiri.


"Eh...?"


Fen Lian terkejut karena berpikir jika diancam akan disuapi, maka dia akan mau makan. Namun betapa terkejut hatinya saat Zhang Qiaofeng tak mau makan sendiri kecuali kalau disuapi olehnya.


"N-nona...ini?"


"Kenapa, kakek yang memerintahmu kan?"


Akhirnya tak ada pilihan lain. Tak mau mendebat nonanya, mulai hari itu Zhang Qiaofeng hanya mau makan kalau disuapi oleh Fen Lian. Membuat satu dari lima anggota Hantu Merah itu malu sekali karena harus menanggung tugas ini.


...****************...


Sejak pertempuran itu berakhir, kaisar Song melakukan pertemuan dengan kaisar Chu. Intinya dia membahas soal mempererat hubungan dua kekaisaran, agar kejadian Iblis Tiada Banding ini tak terulang.

__ADS_1


Menurut kaisar Song, bencana di seluruh daratan ini adalah akibat dua kekaisaran yang saling berdiri sendiri. Tak bisa saling bantu sebelum salah satu berinisiatif mengirim permintaan bantuan.


Maka dari itulah, atas usul dari kaisar Song, dia menginginkan untuk menyatukan seluruh daratan.


Banyak yang menentang akan opini ini karena menganggap kaisar Song hanya mengambil kesempatan saja untuk menguasai seluruh daratan. Akan tetapi kaisar Chu agaknya lebih menyetujui rencana kaisar Song.


Memang masuk akal jika dikatakan kekaisaran Chu dan Song berhubungan baik selama ini, tapi hanya sebatas itu saja. Keduanya tak bisa saling membantu karena terpisah oleh Pegunungan Tembok Surga.


Kaisar Chu Quon berpikir, jika pemerintahan di satu daratan adalah satu kesatuan, maka makin mudah untuk menjaga keadaan di seluruh daratan.


Akhirnya setelah satu bulan semenjak berakhirnya pertempuran, kedua kekaisaran melakukan penyatuan wilayah.


Persetujuan ini juga mengundang wakil-wakil dari empat keluarga pemilik kitab keramat. Keluarga Zhang, Cin, Wang dan Song. Karena bagaimana pun juga, dua kekaisaran itu dapat berdiri karena campur tangan empat keluarga ini.


Keputusan mencapai kata mufakat dengan pembentukan kekaisaran baru bernama kekaisaran Chang, yang dimana kaisar pertamanya adalah kaisar Song saat ini, kaisar Song Jie. Dengan menyematkan nama kekaisaran baru ini di depan nama keluarga Song. Sehingga kaisar pertama kekaisaran Chang bernama Chang Song Jue.


Karena keluarga Song merupakan satu dari keluarga keramat, maka kaisar Chu mengalah dan mengusulkan untuk menjadikan keturunan keluarga Song sebagai keluarga kaisar.


Agaknya tak ada penolakan dari para penduduk karena setelah kabar ini disebar luaskan, pesta-pesta perayaan terjadi di seluruh penjuru daratan.


Akan tetapi masih sama seperti sebelumnya, semua kesenangan itu tak juga memperbaiki keadaan hati Zhang Qiaofeng yang sedang bersedih karena selama ini, Lin Tian belum juga terbangun.


Malam hari ini, gadis itu duduk membelakangi Lin Tian sembari memandang ribuan bintang di langit malam. Seolah langit pun ikut merayakan atas kejayaan seluruh daratan ini.


"Hah...." helaan nafas sedih penuh duka terdengar dari mulutnya.


Kemudian, dia merasakan ada telapak tangan yang halus menyentuh tangan kanannnya dari belakang. Ia balas menyentuhnya dan hampir ia menangis jika tidak ditahannya.


"Lin Tian...kapan kau akan bangun....?"


Anehnya, terdengar jawaban yang sontak membuatnya terperanjat dan lekas menoleh ke belakang. Lalu, air mata yang selama ini ditahannya tak lagi terbendung untuk kemudian jatuh membasahi sepasang pipinya.


"Saya sudah bangun, baru saja."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2