
Satu hari perjalanan telah terlewat, dan saat ini rombongan Zhang Qiaofeng sudah tiba di sebuah kota kecil. Gadis ini memutuskan untuk beristirahat sejenak di kota ini.
Kota ini bukanlah kota yang kaya, namun tidak pula miskin. Hal ini terlihat dari rumah-rumah dan keadaan jalan yang biar pun tidak mewah, namun sederhana dan bersih. Orang-orang juga nampak berlalu lalang di jalanan kota itu.
Ada yang membawa cangkul, membawa gerobak dagangan, atau membawa tas besar yang berisi dagangan untuk dijual di pasar kota. Semuanya terlihat damai dan tentram, agaknya desa ini sama sekali belum terjamah oleh Aliansi Golongan Hitam.
Begitu rombongan puluhan orang ini memasuki kota, para penjaga gerbang berniat mencegat mereka. Namun setelah Zhang Qiaofeng menunjukkan tanda pengenal keluarga Zhang, segera saja mereka mempersilahkan masuk dan bersikap hormat sekali.
"Kenapa para penjaga itu demikian menghormat kepada kita? Apa kita terlihat seistimewa itu?" Zhang Qiaofeng berkata sembari memandangi pakaiannya sendiri, kemudian beralih ke pakaian yang dipakai rombongannya. Dalam pandangannya, sama sekali tidak ada kemewahan dalam segi penampilan, bahkan terlihat sedikit kotor akibat perjalanan.
"Tak mengherankan Nona, karena keluarga Zhang mempunyai dua orang pendekar terkenal. Kakek Lengan Sakti dan Sastrawan Sakti, dua orang ini sudah cukup bagi mereka untuk mengistimewakan kita." jawab Lin Tian.
Zhang Qiaodeng memandang pengawalnya itu penuh perhatian. "Eh, bukannya ada tiga?"
"Tiga apanya?"
"Hehe...itu juga karena keberadaanmu, saat ini nama Pendekar Hantu Kabut sudah sangat terkenal."
"Ekhm...tidak juga, dibandingkan mereka berdua, aku masihlah orang baru." yang dimaksud orang baru adalah, karena Lin Tian baru beberapa tahun terjun ke dunia persilatan, disamping pekerjaannya sebagai pengawal Nona Zhang.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah restoran besar. Sama seperti bangunan lain, tempat ini sama sekali tidak mewah, namun luasnya bukan main.
Begitu Zhang Qiaofeng dan rombongannya hendak masuk, tiba-tiba mereka mendengar suara bentakan dari jauh.
"Jembel busuk!! Enyah dari sini atau kuhajar kau!!" suara ini nyaring sekali.
"Ampun Tuan...maafkan saya, mohon biarkan saya tinggal di sini lebih lama lagi. Biarkan saya makan terlebih dahulu di sini." terdengar suara balasan yang serak.
"Makan apanya? Makan kotoran kambing? Hei pak tua, mangkok mu saja baru berisi satu keping perunggu, dengan uang itu kau hendak makan apa hah!?"
"Ampun...tapi tunggulah sebentar lagi agar kiranya ada orang dermawan datang dan memberi sedikit rejeki kepada saya...."
Tentu saja rombongan itu terkejut mendengar ini, maka cepat Zhang Qiaofeng menyuruh Lin Tian dan Lu Jia Li mengikutinya.
"Kalian semua, istirahatlah di sini. Aku ingin menengok suara ribut-ribut itu." demikian gadis ini berkata sebelum pergi dari sana.
Ternyata di sekitar tempat ribut-ribut itu sudah berkumpul banyak orang. Namun mereka hanya berdiri terpaku tak berani bergerak atau menolong pengemis itu. Hanya mampu memandang pengemis lima puluhan tahun itu dengan tatapan iba.
__ADS_1
Begitu Zhang Qiaofeng sampai di sana, dua orang yang berpenampilan seperti tukang pukul itu sudah menghajar si pengemis habis-habisan. Terlihat oleh gadis itu, bahwa kakek pengemis yang sedang mengaduh-aduh minta tolong itu sedang memandang Zhang Qiaofeng penuh permohonan. Agaknya dia sedang berusaha meminta tolong kepada gadis jelita itu melalui pandanng matanya.
"Hei orang-orang sok jagoan, jangan hanya berani memukul pengemis itu!!!" bentak Zhang Qiaofeng dari jauh.
Seketika dua orang itu berhenti memukul dan memandang gadis tersebut penuh perhatian. Sedetik kemudian, mereka menyeringai.
"Hehe...apa ini? hari keberuntungan? Ohh...manis sekali nona ini, kalau diberikan kepada Tuan Sie, tentu kita akan mendapat emas banyak." kata orang yang sedaritadi memaki pengemis itu.
"Bukankah akan lebih untung jika kita simpan dulu barang satu dua malam?" sahut orang di sebelahnya.
Merah muka gadis itu, begitu pula dengan Lu Jia Li dan Lin Tian. mereka memandang dua orang sombong itu dengan pandangan tajam. Apalagi gadis itu, wajahnya sudah merah sekali bagaikan udang rebus saking marah dan malunya karena dilecehkan di depan banyak orang.
"Oh...tikus-tikus macam kalian ini hendak menyimpanku? Coba saja kalau bisa." berkatalah Zhang Qiaofeng sambil tersenyum manis. Namun sejatinya senyuman itu hanyalah kedok untuk menutupi kemarahannya. Terlihat dari matanya itu yang tajam bagaikan seekor burung elang menemukan mangsa.
Melihat senyum manis Zhang Qiaofeng, dua orang itu menjadi salah paham, mengira bahwa Zhang Qiaofeng menerima mereka dengan tangan terbuka.
"Heheh...Nona manis, datanglah padaku...!!" seru mereka dan langsung menubruk maju.
Akan tetapi dua orang pengawal rendahan itu tidaklah berarti di mata Zhang Qiaofeng. Apalagi dua orang itu memandang rendah kepadanya, membuat mereka sama sekali tidak ada penjagaan dan hanya berfokus untuk menangkapnya.
Begitu tubuh mereka terjatuh ke tanah, Lin Tian dan Lu Jia Li yang juga marah sekali itu langsung melesat dan memukuli mereka tanpa ampun.
"Wah...aduh...aduh....sakiitt!!" teriak mereka merengek-rengek seperti anak kecil.
"Jika Tuan walikota tahu, kalian tentu akan mampus!" ucap salah seorang pengawal itu yang sedang dipukuli Lin Tian.
"Kalau begitu matilah agar walikota tertarik untuk datang ke sini. Dan akan kulihat benarkah dia mampu membikin aku mampus!!" bentak Lin Tian yang masih terus melanjutkan tinjunya.
Sedangkan Zhang Qiaofeng, dia sudah menghampiri kakek pengemis itu dan membantunya berdiri.
"Kakek kau baik-baik saja?" katanya sambil mengelus-elus punggung kakek itu yang hanya tinggal tulang.
"Aduh-aduh...benar-benar mereka ini tak punya hati tiada jantung!! Bisa-bisanya seorang kakek lemah sepertiku dihajar habis-habisan karena duduk di pinggir jalan..." kakek itu mengeluh.
"Terima kasih anak muda, siapakah namamu yang telah menolongku?" tanya kakek itu sambil tersenyum.
"Zhang Qiaofeng."
__ADS_1
"Oh...nama yang cantik seperti pemiliknya, hahahaha....Zhang Qiaofeng ya...Zhang Qiaofeng, akan kuingat...Zhang Qiaofeng...Zhang....tunggu, Zhang?" setelah tertawa-tawa, kakek itu tiba-tiba memandnag terbelalak kearah gadis tersebut. Membuat Zhang Qiaofeng mengeryit heran.
"Kau...Nona Zhang...pemimpin keluarga Zhang itu?" tanyanya gugup.
Sambil tersenyum canggung, gadis ini menjawab, "B-benar kek...."
"Waahhh....!!" kakek ini berseru dan lekas berlutut di hadapan Zhang Qiaofeng. Gadis ini juga mendengar suara "krak" dari punggung kakek itu.
"Tidak sopan sekali saya ini, m-mohon...maafkan kelancangan saya..." kakek ini berucap terbata-bata, agaknya menahan rasa nyeri di punggungnya.
Gadis ini bangkit berdiri dan memandang sekeliling dengan senyum canggung. Kiranya setelah mendengar seruan kakek itu, semua orang yang tadinya menonton keributan juga ikut berlutut di hadapannya.
"A-ada apa ini? Tak perlulah kalian berlutut di hadapanku..."
"Tidak Nona, keluarga anda sudah sangat membantu kami. Terutama sekali Tuan yang di sebelah sana itu..." jawab kakek pengemis seraya melirik kearah Lin Tian yang juga sedang memandangnya. Ternyata pemuda itu sudah selesai dengan urusannya dan berhasil membikin pingsan pengawal walikota itu.
"Aku?" refleks pemuda itu berkata sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Benar, anda adalah Pendekar Hantu Kabut bukan? Anda benar-benar menolong kami, walaupun secara tidak langsung, namun itu sudah cukup untuk memuaskan hati kami."
"Apa maksudmu?" tanya Zhang Qiaofeng.
Gadis itu melihat betapa kakek di hadapannya nampak ragu-ragu. Maka sebelum kakek itu menjawab, lebih dulu dia berkata.
"Ayo ikut dengan kami kek, sekalian akan aku traktir makan..." gadis itu tersenyum lembut. Membuat kakek tersebut girang bukan main dan segera meloncat bangun.
"Lihat!! Aku akan bisa makan kan? Nah setelah ini aku akan lekas pergi dari kotamu ini!!" bentak kakek itu sambil menuding orang yang dihajar Lu Jia Li menggunakan tongkat bututnya. Agaknya gadis itu masih memiliki belas kasihan, sehingga dia hanya memukuli pengawal walikota itu sampai babak belur saja, tidak separah korban Lin Tian yang wajahnya sudah tak mampu dikenali lagi.
"Hihihi...." Zhang Qiaofeng terkekeh geli.
Sadar akan kekeliruannya, kakek pengemis itu dengan muka merah menahan malu, segera menjura kepada Zhang Qiaofeng.
"Ayo ikut aku kek...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1