Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 193. Gadis Setengah Gila


__ADS_3

"Wush–Brakk!"


Jika tadi Zhang Qiaofeng datang dengan cara mendorong pintu tanpa aba-aba dan kelembutan, kali ini Minghao datang dari jendela yang tertutup rapat, membuat jendela itu hancur seketika.


"Apa yang terjadi!?" tanyanya dengan wajah panik. Pakaiannya seperti biasa dengan jubah sastrawan bergambar burung merak. Walaupun hari sudah malam, dia tidak tidur karena harus mengawasi Zhang Qiaofeng. Namun kebetulan malam ini dia tertidur sejenak sehingga tak menyadari kelakuan nonanya.


"Cepat panggil tabib! Cepat, cucuku sudah miring otaknya!"


"Tuan, keahlian pengobatanmu bahkan tak lebih rendah dari tabib terkenal, mengapa harus panggil tabib? Apa yang dibutuhkan, akan kuambilkan segera!"


"Ah benar juga. Kalau begitu ambilkan daun sirih, kayu manis, akar pohon cemara dan–"


"Benar aku gila, tapi tak bisa diobati dengan ilmu pengobatan!!" tiba-tiba Zhang Qiaofeng berteriak keras yang mampu menghentikan ucapan Zhang Hongli.


Ruangan itu menjadi hening seketika. Baik Zhang Hongli dan Minghao memandang Zhang Qiaofeng dengan tatapan terkejut. Apalagi Minghao yang keadaannya baru bangun tidur, dia sama sekali tidak paham apa yang terjadi.


"Feng'er...ceritakan pada kami apa maksud ucapanmu tadi?" Zhang Hongli berlutut dan memegang kedua pundak cucunya. Hal ini berhasil membuat Zhang Qiaofeng menangis lagi.


"Aku...aku....aku mimpi didatangi Lin Tian, tapi dia...dia tidak sendiri. Dia membawa istri!!!" dia berteriak lagi.


"Dia juga mencemoohku karena menjadi gadis lemah yang mengecewakannya. Dia awalnya ingin menikah denganku, karena aku tak cukup kuat, dia memilih wanita lain untuk dinikahi!! Huhu...." Zhang Qiaofeng merengek-rengek. Lalu menubruk kaki Zhang Hongli dan memeluknya.


"Kakek...ajari aku ilmu Ketenangan Batin agar aku bisa menyamai kekuatan Lin Tian. Setidaknya agar aku tidak tertinggal terlalu jauh...."


Zhang Hongli dan Minghao saling pandang sejenak. Lalu pandangan mereka turun secara bersamaan memandang gadis muda yang menangis sesenggukan di kaki Zhang Hongli itu. Jelas sekali terlukis tatapan penuh iba dari kedua tetua Zhang itu.


"Feng'er...aku tak akan menarik kata-kataku, aku akan ajari kau ilmu Ketenangan Batin. Tapi jika itu untuk menandingi Lin Tian, kurasa...hal itu tidaklah terlalu penting. Karena Lin Tian...bukankah dia sudah mati?"


"Tidak!! Lin Tian masih hidup! Aku yakin!"


Hati kedua tetua ini serasa disayat-sayat mendengar bentakan tegas penuh keyakinan dari Zhang Qiaofeng. Diam-diam mereka membenarkan perkataan gadis itu bahwa dirinya memang sudah gila.


Zhang Hongli memandang Minghao dengan tatapan bingung. Dia sebenarnya senang bahwa cucunya ingin berlatih silat lagi, tapi tujuan di balik itu semua lah yang membuatnya bersedih.


Minghao hanya mengangguk saja. Dia berpikir tidak ada cara untuk mengubah kebulatan tekad gadis tersebut. Dia sadar bahwa Zhang Qiaofeng sangat keras kepala dan sulit sekali mengubah pendiriannya, bahkan Lin Tian pun belum tentu mampu.


"Baiklah...baiklah...bangunlah dan istirahat. Nanti saat matahari sudah terang aku akan mengajarimu." ucap Zhang Hongli membangkitkan gadis tersebut.


Kemudian Zhang Qiaofeng diantar menuju kamarnya oleh Minghao. Zhang Hongli pun kembali ke kamarnya dan tidur untuk beberapa jam saja, karena hari memang sudah pagi.

__ADS_1


Di dalam kamar Zhang Qiaofeng, dia memandang topeng Lin Tian lamat-lamat. Setelah memandangnya selama beberapa saat, dia mengambil topeng itu cepat-cepat dan memandangnya tajam.


"Awas saja kau Lin Tian...mulai sekarang aku akan jadi wanita yang pantas untukmu. Jika hal itu masih belum cukup memuaskanmu, setidaknya jangan pamerkan istrimu secara terang-terangan dihadapanku. Atau aku akan..."


"Krak."


Karena mencengkeram terlalu kuat, topeng Lin Tian yang sebelumnya hanya retak di bagian pipi kiri menjadi makin parah. Jika sebelumnya hanya di satu titik, sekarang retakan itu memanjang sampai ke mata dan dahi sebelah kiri.


Zhang Qiaofeng yang melihat ini terkejut dan buru-buru memeluknya erat.


"Aduh...maafkan aku Lin Tian. Janganlah menikah dulu...tunggu aku sebentar lagi...kenapa harus buru-buru, dasar tak sabaran!" gadis itu menangis namun diiringi dengan omelan.


Sesuai janji Zhang Hongli, pagi hari ketika matahari mulai terbit tinggi, dia mendatangi kamar Zhang Qiaofeng dan mengajaknya berlatih.


"Em...Feng'er?"


"Ya? Ada apa?"


"Tidak...bukan apa-apa, ayo latihan."


"Ayo!"


Sangat jauh berbeda dari beberapa minggu lalu yang nampak selalu murung seperti bukan manusia saja. Kali ini, sungguh pun masih sangat kurus, namun wajahnya tak pucat lagi dan sepasang matanya menampilkan gairah hidup tinggi.


Zhang Hongli mulai menjelaskan semuanya, dia mengajarkan ilmu Ketenangan Batin dengan teori-teori dan cara latihan yang sama persis saat dia mengajari Lin Tian dulu.


Zhang Qiaofeng mengikuti semuanya dengan semangat tinggi. Dia cepat menguasai teori dasar hanya dalam beberapa hari saja.


Melihat nonanya sudah mau keluar dan berlatih silat lagi, Song Qian dan Fen Lian yang selama ini mengurung diri akhirnya berani muncul juga. Hal pertama yang ia lakukan adalah meminta maaf kepada Zhang Qiaofeng akan kematian Lin Tian.


Namun ada yang aneh, saat dua orang itu bersujud untuk meminta maaf kepada Zhang Qiaofeng, yang dia dapat hanyalah bentakan galak dari gadis itu.


"Apa-apaan itu? Siapa yang mati!? Lin Tian masih hidup!" demikian dia membentak sambil menuding-nuding dua orang itu.


"Jangan minta maaf, kalian tidak membunuh Lin Tian! Dia belum mati, aku yakin itu!" lanjutnya masih dengan gaya yang sama.


"T-tapi nona, jatuh dari tempat setinggi itu..."


"Memang kenapa!? Kalau belum waktunya mati, jangankan dari atas jurang, walau dijatuhkan dari atas langit pun dia tak akan mati jika memang belum dikehendaki mati! Tapi jika sudah waktunya, walau hanya terpeleset kulit pisang pun nyawa bisa melayang!" gadis itu membentak marah dan memotong ucapan Fen Lian.

__ADS_1


"Lagipula, siapa yang bilang dia mati? Itu hanya anggapan pribadi orang-orang bukan? Dia kan hanya menghilang, belum tentu mati. Kalau memang sudah mati, bawakan aku jasadnya! Mulai hari ini, kuperintahkan kalian untuk mencari mayat Lin Tian. Jika belum dibawa ke hadapanku, maka sampai kapanpun juga aku akan menganggap Lin Tian masih hidup!"


Sejak saat itulah misi pencarian Lin Tian dimulai. Misi itu dipimpin oleh Song Qian dan Fen Lian sendiri yang bersama puluhan orang Zhang untuk pembantu.


Zhang Qiaofeng berlatih dengan amat tekun, sampa beberapa tahun kemudian, dia berhasil menguasai ilmu Ketenangan Batin dan mendapat julukan Si Gadis Hantu.


Dia juga tak hanya berguru kepada kakeknya, namun juga kepada Empat Dewa Mata Angin.


Zhang Hongli yang dahulunya merupakan Raja Dunia Silat yang lebih tinggi posisinya dari Empat Dewa Mata Angin, dengan mudah saja mampu memanggil empat datuk itu untuk menjadi guru Zhang Qiaofeng, mereka pun dengan senang hati menyanggupi.


Zhang Qiaofeng juga menguasai ilmu Naga Salju Menari dan Api Pelahap Mega. Ilmu ini ia pelajari dari Dewa Angin Barat yang ternyata pemimpin terdahulu dari keluarga Wang, dan Dewa Angin Timur yang ternyata putra kedua dari kaisar Song terdahulu.


Namun tentu saja tiga ilmu ini belum sempurna benar karena Zhang Qiaofeng belum terlalu pandai menggunakan hawa sakti.


Memang Zhang Hongli sudah mengajarinya, namun hanya sekedar teori saja. Kakek itu tidak bisa menunjukkan perbedaan mana itu tenaga dalam dan mana hawa sakti. Karena setelah pertarungan besar Raja Dunia Silat, dirinya kehilangan sebagian kemampuannya, salah satunya adalah hawa sakti yang tak bisa ia himpun lagi untuk selamanya.


Sejak mendapat julukan Si Gadis Hantu, Zhang Qiaofeng melakukan perombakan besar-besaran dalam keluarga Zhang.


Hal itu meliputi pergantian seragam, kewajiban mengenakan topeng saat bertugas bagi para tetua. Dan tentu saja pembentukan Hantu Merah yang terdiri dari lima orang wanita lihai.


Kelima orang ini pun juga menjadi murid Zhang Hongli atas permintaan Zhang Qiaofeng.


Demikianlah sedikit cerita mengenai gadis itu yang melewati kesengsaraan batin akibat hilangnya Lin Tian. Mungkin benar bahwa dia memang gila karena tak jarang dia mengkhayalkan Lin Tian ada di dekatnya sampai membuat dia berbicara sendiri dengan sosok khayalannya itu.


Hal ini sedikit banyak membuat cemas orang-orang terdekatnya. Seperti Zhang Hongli, Minghao dan Hantu Merah.


Yang lebih meresahkan lagi, Zhang Qiaofeng sama sekali tidak menyangkal bahwa dirinya dianggap gila, karena dia sendiri yang mengakui hal itu.


Berkali-kali Zhang Hongli mengingatkan dia untuk kembali ke kenyataan, namun gadis itu hanya berkata seperti ini.


"Iya, aku tahu maksud kakek. Tapi...inilah kenyataannya, aku sudah jadi setengah gila dan jika seandainya Fen Lian atau kakak Song sudah menemukan Lin Tian dalam keadaan mati, maka aku akan benar-benar gila."


Seperti itulah kisah dari Zhang Qiaofeng yang berhasil mendapat julukan Si Gadis Hantu. Menjadi gadis setengah gila setiap kali nama Lin Tian atau Pendekar Hantu Kabut diungkit-ungkit. Karena setiap kali dua nama itu tertangkap oleh indra pendengarnya, secara otomatis indra penglihatnya akan menampilkan sosok itu sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum hangat.


Pada saat seperti ini, Zhang Qiaofeng selalu berkata, "Tunggu aku sebentar lagi..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2