Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 157. Neraka


__ADS_3

Zhang Qiaofeng tak langsung menjawab, ada lima menitan dia berada dalam keadaan seperti itu. Selama itu pula, dua orang wanita cantik dihadapannya sama sekali tidak mau bangkit dan tetap bersujud seperti tadi.


Lin Tian dan lainnya juga tidak bersuara sedikit pun, seolah tidak ingin mengganggu Zhang Qiaofeng yang sedang berpikir.


Gadis itu sendiri sebenarnya sedang dilema sekali. Salah satu sisi dia sangat ingin untuk merekrut Song Qian dan Fen Lian karena bisa membantu memperkuat keluarga. Namun di sisi lain dia ragu akan kesetiaan keduanya, karena bagaimana pun juga, dua orang itu adalah anggota Aliansi Golongan Hitam yang terkenal jahat.


Setelah beberapa saat, agaknya dia sudah mengambil keputusan. Gadis itu menghampiri Lin Tian dan membisikkan sesuatu padanya, membuat si pemuda melebarkan mata di balik topengnya.


"Nona, apa anda yakin?" tanya Lin Tian yang masih sedikit ragu-ragu.


"Aku yakin!! Aku percaya padamu!" balas gadis tersebut.


Lin Tian kemudian mengangguk menyetujui, lalu mempersilahkan nonanya bicara kepada Song Qian dan Fen Lian.


"Kalian, benarkah akan pergi meninggalkan Aliansi dan bersetia terhadap keluarga Zhang?"


"Kami akan setia Nona!!" jawab keduanya serempak.


"Bersumpahlah agar kalian menuruti semua perintah pemimpin dan menjalankannya tanpa keraguan, juga berani menanggung setiap resiko dan konsekuensinya."


"Kami bersumpah Nona! Akan menuruti semua kehendak pemimpin dan menjalankannya tanpa keraguan, juga akan menerima setiap resiko dan konsekuensinya." jawab keduanya.


Zhang Qiaofeng mengangguk, kemudian menoleh untuk memberi tanda kepada Lin Tian.


"Baiklah, kalian menjadi anggota Zhang mulai hari ini. Dan perintah pertama dariku....matilah!!" ucap Zhang Qiaofeng dingin.


Hal ini membuat dua orang yang masih bersujud itu terbelalak. Tak terkecuali Xiao Lian dan Hao Yu.


"Tunggu Nona, kenapa--"


"Diam!! Ini urusan keluarga Zhang!!" bentak Zhang Qiaofeng memotong seruan Xiao Lian. Kemudian dia mengalihkan pandangannya untuk mengamati dua wanita itu lagi.


"Angkat kepala kalian, jangan jadi pengecut!!"


Sedetik kemudian, Song Qian dan Fen Lian segera bangkit dari sujudnya. Kali ini keadaan keduanya sedang bersimpuh di hadapan Zhang Qiaofeng.


"Hadapilah dengan mata terbuka!" kembali gadis itu berkata dan mempersilahkan kepada Lin Tian.


Mendengar perkataan nonanya, Lin Tian segera mencabut Pedang Dewi Saljunya. Lalu diangkatnya pedang itu tinggi-tinggi seraya menatap keduanya dengan tajam.


"Maaf saja...tapi anjing Aliansi macam kalian ini tak pantas untuk berdiri bersama keluarga Zhang!" ucap Lin Tian dingin. Namun sama sekali tidak ada perubahan ekspresi di antara Song Qian dan Fen Lian.

__ADS_1


"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Nona karena mau memberi perintah ini. Agaknya memang mustahil bagi kami untuk bergabung dengan keluarga Zhang, karena itulah, kami akan menerima hukuman ini tanpa keraguan!" seru Song Qian mantap.


"Mungkin di akhir hidup ini, kami masih bisa berguna untuk memberikan satu informasi lain. Tempat persembunyian Golok Penghancur Gunung berada di Barat daratan, di bagian hutan belantara yang orang kenal sebagai Hutan Kabut. Mereka bersembunyi di salah satu lereng bukit yang berada dekat telaga. Mudah menemukan tempatnya karena di hutan itu hanya ada satu telaga. Nah sekarang bunuhlah kami." Fen Lian menyahut.


"Bagus, kiranya sumpah kalian bukan hanya ucapan kosong belaka. Setidaknya sebagai anjing Aliansi, kalian akan mati terhormat!!" bertepatan dengan ini, pedang Lin Tian sudah berkelebat cepat. Berubah menjadi gulungan sinar putih yang akan merenggut nyawa keduanya.


"Crok!!-Crok!!" dua kali suara bacokan terdengar nyaring, bertepatan dengan itu, darah menyembur kemana-mana. Perbuatan ini telah berhasil membuat Xiao Lian memekik ngeri.


Sesaat setelah itu, tubuh keduanya segera jatuh terlungkup dengan keadaan mandi darah.


"Hm...memang agaknya bukan sumpah kosong belaka." gumam Zhang Qiaofeng.


...****************...


"Wahh!!" Song Qian terperanjat dari pingsannya dan segera bangkit duduk. Nafasnya tersenggal-senggal dan wajahnya pucat sekali. Kemudian dia meraba-raba lehernya sendiri.


Tak lama setelah itu, dia tersenyum pahit, "Hah...agaknya itu bukan mimpi, dan apa ini, kain pembalut? Hei, aku sudah mati kenapa lukaku masih harus dibalut kain?" katanya seorang diri seperti orang sinting.


Tak lama setelah itu, dia merasakan gerakan di sebelahnya. Begitu memandang, kiranya gerakan itu dihasilkan oleh Fen Lian yang sudah bangkit pula.


"Eh...dimana ini?" tanya Fen Lian seraya memandang sekeliling yang hanya terlihat tembok dan langit-langit batu.


Song Qian terkekeh lirih, "Haha...tentu saja ini di neraka, kalau tidak lalu dimana? Kita sudah dibunuh oleh Pendekar Hantu Kabut dan sekarang sudah pasti sedang berada di neraka. Orang macam kita ini mana bisa masuk surga?"


Setelah itu kembali dia berkata, "T-tapi, kalau kita sudah mati, kenapa aku masih bisa merasakan nyeri di leherku?"


"Hahaha....kau ini bodoh atau bagaimana? Yang namanya neraka sudah tentu dipenuhi oleh rasa sakit." jawab Song Qian tertawa.


"Sudahlah, ayo kita pergi dan menerima siksaan yang lebih hebat lagi. Tenang saja, aku akan selalu mendampingimu." lanjutnya yang sudah menghampiri Fen Lian dan tersenyum. Kemudian dia menggandeng tangan Fen Lian dan berjalan melalui lorong panjang itu.


Ternyata lorong itu amat gelap, di dalam tadi mereka bisa saling lihat adalah karena adanya lampu lilin di setiap sudut ruangan. Namun kali ini tanpa penerangan, mereka benar-benar merasa seperti buta.


Akan tetapi sebentar saja, mereka melihat sebuah cahaya di depan. Cahaya berwarna jingga yang amat terang. Melihat hal ini, makin yakinlah mereka jika saat ini sedang berada di "neraka".


"Kak Song...aku takut..." Fen Lian hampir menangis.


"Tenang, kita akan hadapi bersama." ucap Song Qian sambil mengelus surai Fen Lian dengan lembut. Mencoba untuk menenangkan wanita itu.


Makin lama cahaya itu makin terlihat jelas, dan semakin mereka berjalan mendekat, mereka mendengar suara berkemerotokan seperti suara api yang sedang melahap kayu bakar. Sampai sini, hati keduanya makin yakin jika memang saat ini di hadapan mereka terbentang sebuah tempat bernama neraka.


Beberapa saat kemudian, mereka tiba di ujung lorong yang menjadi asal cahaya. Begitu sampai mereka hanya mampu berdiri dengan tampang bodoh seperti orang idiot ketika memandang pemandangan di hadapan mereka itu.

__ADS_1


"Oh...kalian sudah bangun?" tanya seorang pemuda tampan yang mulutnya terus bergerak mengunyah sepotong paha ayam.


"Nah, duduklah dan makan ini." lanjutnya seraya menepuk-nepuk rumput tebal di sebelahnya. Mengisyaratkan kepada keduanya agar mereka duduk.


"S-siapa kau?" tanya Fen Lian gugup.


"Hah...!?" kali ini pemuda itu yang kelihatan bingung dan memandang mereka dengan tatapan aneh.


"Oh...aku lupa. Nah, sekarang kalian ingat?" sambung pemuda itu dan mengenakan topeng berbentuk wajah manusia yang berwarna putih pucat.


"Wah!!"


"Pendekar Hantu Kabut!!"


"Kiranya kau sudah mati juga!! Siapa yang membunuhmu, keparat!!" seru Song Qian bersungut-sungut.


Lama tak ada jawaban yang keluar dari mulut Lin Tian. Pemuda itu hanya memandang keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Kalian sudah gila? Apa maksudnya aku sudah mati juga? Aku masih hidup dan kalian juga masih hidup!" tegas pemuda itu.


"Eh, apa?"


"Duduk dan makan! Nona akan menjelaskan semuanya!" seru Lin Tian.


Masih dengan keheranan dan keterkejutan, keduanya menurut dan memakan ayam bakar itu. Sambil sesekali melirik kearah Lin Tian yang memang tampangnya di atas rata-rata.


"Eh...anu, Nona kemana?" tanya Fen Lian ragu-ragu.


"Di sini." jawab seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri bertolak pinggang di belakang Fen Lian. Membuat Fen Lian maupun Song Qian terkejut.


Akan tetapi Zhang Qiaofeng yang baru muncul seperti setan itu segera melebarkan senyum dan langsung memeluk keduanya.


"Wah...kalian membuatku khawatir!! Maaf jika tebasan Lin Tian terlalu keras. Hehe, maafkan atas perintah bodohku juga, aku hanya bercanda."


Setelah itu dia melepas rangkulannya dan memandang keduanya. Kali ini matanya bersinar cerah penuh semangat dan sama sekali tidak ada sinar kebencian seperti sebelumnya.


"Selamat datang di keluarga Zhang!"


"A-apa??" Fen Lian terkejut bukan main sampai suaranya berhenti di kerongkongan.


"Nona Zhang...sudah mati pula?" jawaban nyeleneh ini keluar dari mulut Song Qian.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2