Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 49. Ramalan


__ADS_3

Di salah satu puncak gunung Pegunungan Tembok Surga. Duduk empat orang pria yang dilihat dari wajahnya, umurnya pasti takkan kurang dari empat puluh tahun. Mereka berempat duduk di atas sebuah batu datar yang bertempat di tengah hutan bambu.


Siapa mereka ini? Mereka adalah datuk-datuk dunia persilatan golongan putih yang biasa disebut sebagai Empat Dewa Mata Angin.


"Shi Yong...mengapa tiba-tiba kau memanggil kami?" tanya seorang pria yang terlihat paling tua diantara mereka. Jika dilihat sekilas, umurnya mungkin sudah lebih dari enam puluh tahun, tapi sebenarnya tidak ada yang tahu berapa umur asli dari pria tua ini. Karena ketika tiga Dewa Mata Angin yang lain masih muda, nama kakek tua ini sudah sangat terkenal sebagai seorang penegak keadilan. Dia adalah seorang pendekar yang disegani kawan ditakuti lawan.


Pakaian orang ini sederhana, rambut panjangnya sudah putih semua dan dibiarkan begitu saja, tidak diikat atau dikuncir. Di kepalanya, terdapat sebuah topi caping butut yang terbuat dari anyaman rotan. Dia inilah Dewa Angin Barat.


Dewa Angin Barat ini juga merupakan tokoh terkuat dari Empat Dewa Mata Angin. Sehingga tiga orang lainnya sangat menghormat padanya dan menganggap kakek ini menjadi pemimpin diantara mereka.


"Maaf senior, tetapi hal ini sangat lah mendesak." jawab seorang biksu tua berpakaian seba hitam. Dia inilah yang membantu Hu Tao dan Lin Tian mengambil alih kekuasaan keluarga Hu. Ternyata namanya adalah Shi Yong.


"Adik Yong, sebenarnya ada apa?" tanya pula seorang pria yang terlihat berumur lima puluh tahun dengan memakai pakaian yang sama persis seperti kepunyaan Shi Yong. Dia adalah kakak kandung Shi Yong yang bernama Shi Xue.


Shi Xue memiliki ilmu silat yang sama dengan adiknya, yaitu "Ilmu Pukulan Selaksa Kati". Akan tetapi, kakaknya ini lebih sering bertarung menggunakan ilmu silatnya yang bernama "Pukulan Pembalik Gunung". Yang dimana ilmu ini adalah induk dari "Ilmu Pukulan Selaksa Kati". Jadi tentu saja pukulan yang dihasilkan dari ilmu ini lebih kuat.


Shi Xue adalah pendekar yang berjuluk sebagai Dewa Angin Utara.


"Sebenarnya...ini tentang ramalan mendiang kakek guru saya." jawab Shi Yong perlahan.


Mendengar ucapan ini, sontak mereka semua melebarkan bola matanya. Apalagi kakaknya, dia yang paling heboh.


"Apa? Kau yang benar? Coba ceritakan cepat!!"


Apa sih sebenarnya ucapan kakek guru Shi Yong itu? Jadi ketika dahulu Shi Yong dan kakaknya masih muda dan menjadi murid di perguruan Tapak Sakti, gurunya pernah bercerita jika dahulu kakek guru mereka pernah bertemu dengan seorang pemuda.


Pemuda ini adalah seorang pendekar sekaligus seorang peramal yang amat terkenal di masa itu.


Ketika kakek guru Shi Yong sedang melewati pemuda itu yang sedang duduk di pinggir jalan, pemuda ini lalu memanggilnya dan berkata seperti ini...

__ADS_1


"Hei kawan, dengar ucapanku dan tolong katakan kepada setiap murid beserta anak-anakmu kelak."


Kemudian dia berkata lagi, "Di masa depan nanti, akan ada sebuah kelompok yang akan membuat seluruh dunia persilatan menjadi kacau. Tapi!! Tak lama setelah itu akan muncul pula dua orang yang sama-sama putih dan menghentikan sepak terjang mereka. Mereka berdua sama kuat, hingga mendapat julukan dari orang-orang sekitar sebagai 'Sepasang Naga Putih'."


"Kawan, kuulangi lagi, tolong wariskan pesanku ini kepada murid-murid dan anak-anakmu kelak. Dan jika diantara anak muridmu bertemu dengan Sepasang Naga Putih itu, berjanjilah padaku untuk selalu berada di pihak mereka!!"


Begitulah cerita yang dikisahkan oleh guru dari gurunya Shi Yong.


Kembali ke pertemuan Empat Dewa Mata Angin. Mendengar pertanyaan kakaknya yang terlihat amat antusias itu, segera Shi Yong menceritakan semua kejadian di kota Sungai Putih.


"Begitulah, jadi apa keputusan terbaik yang harus kita ambil?" tanya Shi Yong sesaat setelah menyelesaikan ceritanya.


Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan ini. Mereka semua menundukkan muka dengan kening berkerut, terlihat sedang berpikir keras.


"Apa kau yakin jika dua orang itu adalah Sepasang Naga Putih?" tanya seorang pria yang sedari tadi hanya diam.


Dari wajahnya terlihat kira-kira umur orang ini sudah enam puluh tahunan. Rambut, jenggot serta kumisnya berwarna sama putih.


"Aku juga tidak yakin senior, akan tetapi yang pasti bahwa kelompok pengacau dunia persilatan itu mungkin saat ini sudah muncul." jawab Shi Yong dengan raut wajah gelisah.


"Pilar Neraka...apa mungkin mereka yang dimaksudkan oleh peramal itu?" gumam Dewa Angin Barat akan tetapi masih terdengar oleh mereka semua.


"Jika memang benar demikian, bukankah Pilar Neraka sudah ada sejak lama? Dan peramal itu bilang kalau tak lama setelah kelompok pengacau itu muncul, Sepasang Naga Putih juga akan muncul." usul Dewa Angin Timur.


"Jika memang yang dia maksudkan adalah Pilar Neraka, seharusnya Sepasang Naga Putih itu sudah pula muncul sejak lama." lanjutnya memberi pendapat.


"Benar juga..." gumam Shi Xue.


Dewa Angin Barat agaknya juga setuju dengan pendapat ini, kakek tua ini hanya mengangguk-anggukkan kepala.

__ADS_1


"Kita tidak tahu mereka berdua apakah benar Sepasang Naga Putih atau bukan. Tapi, anggap saja bahwa kelompok pengacau itu sekarang sudah muncul atau setidaknya kelompok itu saat ini sudah terbentuk. Jadi lebih baik untuk saat ini kita tetap waspada!! Sepertinya sudah waktunya bagi kita untuk turun gunung dan kembali muncul ke dunia ramai." kata Dewa Angin Barat.


"Baik senior!!" jawab Shi Yong dan Dewa Angin Timur.


Shi Yong bingung melihat kakaknya yang masih menunduk dan diam saja. Lalu kemudian terdengar kakek barcaping itu berkata.


"Ada apa? Mengapa wajahmu muram begitu?" tanya kakek itu yang juga menyadari sikap aneh Shi Xue.


"Maaf senior, akan tetapi aku punya firasat buruk soal ini." jawab Shi Xue.


"Firasat apa itu, katakan!" perintah Dewa Angin Barat dengan halus.


Shi Xue tidak langsung menjawab, dirinya terlihat ragu-ragu untuk mengatakan firasatnya itu. Akan tetapi setelah beberapa detik, akhirnya dia berkata,


"Senior, guru saya bilang jika peramal itu mengatakan bahwa kelompok pengacau yang dimaksud akan membuat seluruh dunia persilatan kacau. Jadi menurut pemikiran saya...bagaimana jika seandainya kelompok ini tidak pandang bulu dalam membikin keonaran? Jangan-jangan golongan hitam pun juga akan menjadi korban atas keganasan mereka."


Mendengar pernyataan ini, ketiga orang yang lainnya sangat terkejut dan wajah mereka berubah menjadi pucat.


"Jika memang seperti itu, ini sangat gawat!" gumam kakek sastrawan.


"Kalau begitu, dunia persilatan baik golongan putih dan hitam akan jatuh dalam lubang kesengsaraan." kata Shi Yong menanggapi kakaknya.


Lalu seperti dikomando, mereka bertiga memandang kearah Dewa Angin Barat untuk mendengar keputusan kakek satu ini.


"Gawat, benar-benar gawat. Hah....." gumamnya sembari menggelengkan kepala.


"Jika sudah seperti itu, kita sebagai Empat Dewa Mata Angin, datuk dari dunia golongan putih, mau tak mau harus turun tangan!! Seperti ucapan mendiang guru saudara Shi Yong dan Shi Xue, jika seandainya Sepasang Naga Putih muncul, kita sendiri yang akan menjadi penopang dan penyokong mereka!! Mulai hari ini, kita harus terus mengawasi pemimpin muda keluarga Hu dan pendekar bertopeng itu. Jika benar mereka adalah Sepasang Naga Putih, kita sebagai datuk dunia persilatan tak boleh membiarkannya mati!!" kata Dewa Angin Barat dengan tegas dan berwibawa.


"Baik senior!!" jawab ketiga pria lainnya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2