
"Lihat!! Itu mereka!! Bajak sungai Naga Air datang, bersiaaaappp!!"
Lin Tian yang mendengar ini spontan membuka matanya lebar-lebar. Akhirnya mereka datang, pikirnya.
Sedetik kemudian dia lalu melompat turun dari atas pohon dan langsung mengerahkan ilmu lari cepatnya menuju ke pelabuhan. Dia sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana wujud dari para bajak sungai itu.
...****************...
Begitu Lin Tian sampai di pelabuhan, terlihat dari balik kabut tebal terdapat sebuah kapal yang cukup besar ditemani belasan perahu kecil di kanan dan kiri.
Di kepala kapal itu berbentuk sebuah kepala naga yang terlihat sangat gagah sekaligus menyeramkan.
Kapal dan perahu mereka semuanya berwarna hitam. Setiap awak perahu itu menggunakan api obor untuk penerangan, dan untuk kapal besar berkepala naga itu, terdapat sebuah api yang berada di dalam mulut naga dan di setiap pilar layarnya. Sehingga kapal paling besar tersebut terlihat sangat terang di balik tebalnya pelukan kabut.
"Hati-hati, bagaimana pun, banyak dari mereka yang termasuk pendekar lihai." ucap salah seorang pendekar dari perguruan Elang Bayangan.
Para pendekar yang ada di sana sudah bersiap dengan senjata masing-masing. Mereka memandang tajam kearah sinar terang di balik kabut itu.
"Hohoho....tak kusangka akan terdapat banyak sekali tikus di sini."
Tiba-tiba terdengar suara berat yang sangat mengerikan berasal dari kapal besar tersebut.
"Ingin ku lihat, sampai sejauh mana kalian bisa menghentikan Bajak Naga Air!" kembali suara itu bergema.
Tak berselang lama, terlihat kapal itu menampakkan wujud aslinya. Begitu dilihat dari dekat, ternyata ngeri juga bentuknya.
"Heh Naga Air katamu!?? Ingin kulihat, apakah kau yang seorang Naga mampu menahan golokku?? Bersiaplah!!" tiba-tiba terdengar bentakan keras dan orang itu sudah meloncat naik ke atas kapal.
Akan tetapi, belum genap lima detik, tubuh orang itu sudah terlempar keluar dengan keadaan mandi darah.
"Heheh siapa lagi?" terdengar suara seperti seorang pria sepuh. Suaranya jauh berbeda dengan yang pertama tadi.
Melihat tewasnya orang tadi, timbul rasa gentar di hati masing-masing pendekar. Bagaimana pun, hati mereka sedikit terguncang melihat kejadian itu.
"Hohahah....tak perlu berlama-lama lagi!! Ambil setiap harta dan wanita cantik di desa ini!! Jangan biarkan satupun ada yang lolos!!" kembali suara berat itu terdengar memberi perintah.
Kemudian, para awak perahu yang berjumlah belasan itu mengeluarkan teriakan-teriakan dan langsung naik ke pelabuhan.
Begitupula dengan para pendekar, mereka lalu bersiap dan ikut menerjang pula ke depan.
Pertempuarn pun terjadi. Akan tetapi, pemilik suara berat dan si pria sepuh tidak ikut membantu dan hanya terdnegar suara ketawa mereka dari atas kapal.
Lin Tian yang dari awal berniat untuk membantu juga ikut andil dalam pertempuran kali ini. Pemuda ini terlihat sangat menonjol diantara banyaknya para pendekar itu. Dengan pedang di tangan, Lin Tian menyerang secara ganas kepada para bajak itu.
"Hebat sekali dia!" seru salah seorang pendekar.
"Bagus, dia berada di pihak kita!! Jika begini, ada kemungkinan jika hari ini kita mampu untuk membasmi para bajak rendahan itu!!" sahut temannya.
Lin Tian melompat ke sana-sini dengan pedang yang tak pernah berhenti bergerak untuk meminum darah musuh. Dia terlihat sangat-sangat beringas kali ini.
Setelah sekian lama bertarung, Lin Tian mendapat kenyataan bahwa para bajak itu bukanlah tokoh sembarangan. Mungkin benar apa yang diucapkan salah satu pendekar tadi yang mengatakan jika bajak sungai ini terdapat banyak tokoh lihai. Buktinya, jika ditaksir kemampuan mereka tidak lebih lemah dari Hu Tao.
Sudah tiga kali banyaknya dia menghadapi pertempuran secara berkelompok. Yang pertama ketika penyerbuan keluarga Zhang, kedua ketika penyelamatan para tetua keluarga Hu dan ketiga adalah pengambil alihan kekuasaan keluarga Hu.
Ini sudah keempat kalinya dia bertempur secara skala besar seperti sekarang. Dan mungkin pertempuran kali inilah yang paling hebat diantara ketiga pertempuran lainnya.
Tiga puluh menit berlalu dan sudah jatuh banyak korban dari kedua belah pihak. Saat ini tak terdengar lagi suara ketawa menyeramkan dari dua orang itu.
Tiba-tiba disaat Lin Tian sibuk melayani gempuran tiga orang bajak, meluncur beberapa senjata rahasia kearahnya. Cepat ia putar pedangnya dan menangkis runtuh semua senjata itu.
"Trang-trang-trang"
__ADS_1
Terlihat berjatuhan beberapa buah pisau tipis yang bilahnya berwarna kehijauan. Tahulah Lin Tian jika itu mengandung racun.
"Lumayan juga kau!!" seru si kakek sepuh.
Sedetik kemudian, dua orang yang terlihat menyeramkan meloncat turun dari kapal besar. Seorang pria hitam bertubuh tinggi besar, seorang lagi adalah kakek tua yang wajahnya hanya terlihat seperti kulit pembungkus tulang.
"Siapa nama julukanmu!?" tanya si pria besar.
"Aku tidak punya julukan." jawab Lin Tian terus terang.
"Oh bagus!! Bagus sekali ya!! Seorang yang belum punya nama seperti engkau berani menentang kami!!" bentak pria tersebut.
"Hah, menentang? Kalian sendirilah yang datang dan membikin kacau di sini, sekarang kau mengatakan aku menentang!?? Sungguh tak masuk akal!!" kembali Lin Tian menjawab.
"Oh kau sepertinya masih muda ya? Hebat sekali, masih begini muda sudah berani melawan aku si Naga Air. Cari mati kau ya!??" kembali pria tinggi itu membentak menyombongkan diri.
"Hmph!! Apa kau mengenalku bocah? Aku biasa disebut sebagai Tangan Iblis, apa kau tahu seberapa hebat aku ini?" kali ini si kakek tua itu berkata. Ucapannya terdengar sangatlah sombong dan angkuh.
"Heh...Naga dan Iblis huh? Ingin kulihat sejauh apa kalian mampu menghadapi pedangku." Lin Tian berucap sinis.
"Sombong!! Hiaaa....." teriak mereka bersama sebelum menerjang Lin Tian.
Lin Tian cepat-cepat memutar pedangnya dan menebas mereka. Dengan mudah mereka menghindari tebasan itu dengan melompat ke kanan dan kiri.
"Terima ini!!" teriak si tinggi besar seraya menyabetkan goloknya.
"Mati kau!!" bentak pula si kakek kurus dengan mengirimkan hawa pukulan beracun.
Lin Tian hanya mendengus kemudian melancarkan jurus Kibasan Ekor Naga Langit untuk menghalau serangan mereka.
Bagaikan angin ribut, akibat dari jurus ini mampu untuk mementalkan kedua orang itu sejauh dua tombak.
Cepat ia kerahkan hawa Yin keseluruh tubuh dan langsung menebaskan pedangnya secara vertikal guna membacok kakek kurus tersebut.
"Trang!!"
Pedang Dewi Salju mampu ditahan dengan pisau Tangan Iblis. Akan tetapi begitu kedua senjata itu beradu, Tangan Iblis merasa betapa pergelangannya menjadi ngilu dan menggigil.
"Ouh...dingin sekali " batin Tangan Iblis.
"Hiaatt...!!" tiba-tiba kakek itu berteriak dan tubuhnya sudah mencelat ke atas. Dari atas sana, dia menyambitkan beberapa pisau beracunnya kearah wajah Lin Tian.
Dari belakang, Naga Air ternyata sudah ikut pula hendak menusuk punggung pemuda itu.
Jika mereka berdua berpikir Lin Tian akan tewas, mereka salah besar!! Yang mereka keroyok saat ini adalah Lin Tian, seorang pendekar muda berkepandaian tinggi dan bukanlah pendekar kacangan.
Melihat kedua serangan itu, Lin Tian lalu menendangkan kaki kanannya kearah perut Naga Air. Karena tendangan ini begitu cepat dan tiba-tiba, pria tinggi itu tak mampu mengelak dan kembali terhempas sejauh tiga tombak.
Kemudian, pemuda ini merendahkan tubuhnya dan mengibaskan tangan kiri untuk menyampok turun semua pisau kecil itu dengan angin pukulannya.
"Apa?" Tangan Iblis berseru karena terkejut melihat betapa ketujuh pisaunya berhasil diruntuhkan lawan hanya dengan sekali kibasan tangan.
Lin Tian masih dalam posisi jongkok. Lalu pemuda ini menarik kaki kanan jauh ke belakamg dan menekuk kaki kiri kedepan. Kemudian, dia menusukkan pedangnya ke atas dan tubuhnya bergerak naik.
Inilah serangkaian gerakan dari jurus ketujuh "Ilmu Pedang Pelukis Langit" yang bernama "Pedang Penopang Langit".
Tangan Iblis yang melihat gerakan luar biasa dan berbahaya ini. Karena sedang berada di udara, dia tak bisa menghindar dan mencoba untuk menangkis.
Akan tetapi alangkah terkejutnya ia ketika menyadari bahwa tubuhnya menjadi kaku. Ternyata hal ini terjadi adalah karena hawa dingin yang di keluarkan Lin Tian bersamaan dengan jurusnya itu, sehingga membuat tubuhnya kaku dan berat.
"Sial...!" umpatnya dengan panik.
__ADS_1
Namun dirinya terus meluncur turun dan tidak bisa dielakkan lagi. Pedang Dewi Salju menembus dadanya sampai ke punggung yang membuat tubuh kakek tua itu tergantung di atas.
"Aaaaarrrghhhh!!!" terdengar pekik mengerikan sebelum kakek itu benar-benar meregang nyawa.
"Bajingaaaannn....terima ini!!" Naga Air yang marah sudah menerjang maju hendak menebas Lin Tian.
Pemuda ini kemudian membuang manyat itu seenaknya dan membalikkan tubuh menghadapi terjangan lawan.
"Trang-trang-trang"
Terdengar tiga kali berturut-turut pedang dan golok beradu. Pada benturan keempat, golok di tangan Naga Air terpotong menjadi dua akibat tebasan kuat yang mengandung hawa dingin dari Lin Tian.
"Sialaaann....!!" Naga Air memekik kesal lalu membuang gagang golok itu. Kemudian pria tinggi besar ini menyerang Lin Tian menggunakan tangan kosong.
Lin Tian uang melihat musuhnya tak bersenjata lagi, cepat dia masukkan Pedang Dewi Salju ke dalam sarungnya kemudian bertarung menggunakan tangan kosong pula.
Tiga puluh jurus berlalu, dan Lin Tian merasa bahwa seorang yang berjuluk Naga Air ini lebih kuat di banding Tangan Iblis. Akan tetapi, pria besar ini hanya menggunakan tenaga kasar saja. Sehingga tentu saja mampu membuat Lin Tian lebih unggul dikarenakan pemuda ini sudah menguasai tenaga dalam tingkat tinggi.
Sehingga selama puluhan jurus itu, terlihat Lin Tian terus mendesak dan menekan Naga Air.
Karena sudah terlalu lama, Lin Tian kemudian mengeluarkan jurus "Embun Waktu Fajar" yang merupakan jurus ke-tiga dari rangkaian tujuh jurus "Ilmu Silat Halimun Sakti".
Kepalan tangan Lin Tian mengeluarkan kabut putih yang berasa sangat dingin. Lalu pemuda ini memukulkan kedua lengannya secara bertubi-tubi hingga seakan-akan kedua kepalan tangan itu berubah menjadi puluhan banyaknya.
"Huaaa....!!" Naga Air terkejut dan berusaha untuk menahan.
Akan tetapi sekuat apapun dia berusaha, dirinya tak mampu mengimbangi kecepatan tangan Lin Tian. Akibatnya, sebentar saja tubuhnya sudah dihujani pukulan dahsyat itu yang membuat tulang-tulang beserta organ tubuhnya hancur berantakan.
"Aaarrgghhhh...!!" terdengar jerit menyanyat hati dari mulut Naga Air. Tak lama setelah itu, tubuhnya ambruk dan tewas seketika.
Dua orang bajak sungai yang ditakuti telah mati di tangan Lin Tian dalam waktu bersamaan.
Para bajak yang melihat kedua pimpinannya mati, menjadi panik dan bingung hendak berbuat apa.
"Munduur!!" teriak salah seorang dari mereka.
Akan tetapi tentu saja para pendekar itu tidak ingin melepas mereka begitu saja. Cepat mereka melompat maju dan menutup jalan keluar mereka, kemudian para bajak itu di bantai habis-habisan dari arah depan dan belakang.
Beberapa menit berlalu dan bajak sungai Naga Air sudah musnah seluruhnya. Tiba-tiba salah satu dari mereka berkata, "Hei, dimana pendekar bertopeng tadi?"
"Kau benar, dimana dia? Seperti setan saja tiba-tiba bisa hilang." sahut rekannya dengan bingung.
Pria tua yang membuka pembicaraan tadi diam sejenak seraya mengerutkan kening, "Hm...setan ya..." gumamnya perlahan.
"Pendekar...Hantu...Kabut. Oh tidak buruk!!" tiba-tiba pria itu berseru.
"Ada apa paman?"
"Pendekar Hantu Kabut, mulai sekarang kita akan memanggil pendekar bertopeng itu sebagai Pendekar Hantu Kabut!! Dengan kedatangan dan kepergiannya yang tiba-tiba bagaikan hantu dan sepak terjangnya di tengah kabut ini, kita akan menjulukinya Pendekar Hantu Kabut!! Bagaimana, bagus bukan?" tanyanya bersemangat.
"Hoh...bagus juga, dia sudah tak ada bedanya dengan hantu yang tiba-tiba bisa menghilang!!"
"Aku setuju!!"
"Hahaha....bagus kita mendapat saudara baru!! Pendekar Hantu Kabut, itulah namanya huahahah...!" kata pria tua itu bersemangat.
Sejak saat itulah, muncul seorang tokoh pendekar hebat di kalangan dunia persilatan kaum putih. Seorang pendekar misterius dengan baju serta topeng putih. Dialah Lin Tian!! Yang sekarang berjuluk sebagai PENDEKAR HANTU KABUT.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1