
Lin Tian membuka matanya perlahan, dan hal pertama yang ia dapati adalah langit-langit ruangan berwarna putih bersih yang sangat indah. Dia sedang berbaring di sebuah kasur besar nan mewah yang entah dia sendiri tidak tahu ada di mana.
Menengok ke kanan, pemuda ini menemukan banyak sekali perabotan rumah yang juga seba mewah. Meja kecil berukir indah lengkap dengan dua kursi di ujung ruangan, jendela dan gorden yang masih tertutup rapat namun sudah nampak cahaya matahari dari sana, hal yang sangat tidak dimengerti Lin Tian karena seingatnya dia tidak pernah memasuki ke tempat seperti ini bahkan dalam mimpi sekalipun.
Menengok ke kiri, dia melihat sebuah pintu besar yang juga tertutup rapat, entah menembus ke ruang mana pintu itu. Di samping pintu juga nampak sebatang lilin kecil yang ditutup dengan kaca, tergantung di dinding ruangan.
Sungguh semua ini membuatnya terheran-heran.
"Ada dimana ini?" gumamnya perlahan.
Tiba-tiba, pintu itu bergerak perlahan. Lin Tian yang merupakan seorang ahli silat tinggi, dengan refleks bersikap waspada walaupun keadaannya masih rebah tak berdaya.
Tak lama setelah itu, pintu terbuka dan menyembul kepala seorang gadis cantik dengan mata bening bagai mutiara. Begitu gadis itu melihat Lin Tian menatapnya, mata itu segera melebar dan gadis tersebut nampak berseri.
Lin Tian yang melihat munculnya orang itu menghela nafas lega dan segera berkata lirih.
"Nona...."
"Lin Tian...!!!" seru gadis itu yang langsung berlari mendekati tempat tidur Lin Tian. Kemudian dia memegang tangan pemuda itu erat-erat dan melontarkan pertanyaan.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang sakitkah dari tubuhmu?" Zhang Qiaofeng terus mendesak dengan berbagai macam pertanyaan.
"Saya sudah baik-baik saja Nona, walaupun tubuh saya masih terasa sedikit nyeri." jawab Lin Tian sambil tersenyum.
"Sudah berapa lama saya tertidur Nona?" Lin Tian bertanya.
"Kurang lebih satu hari. Oh iya, kau belum makan, tunggu sebentar, aku ambilkan makanan." Zhang Qiaofeng segera keluar kamar dan berlari menuju dapur untuk membawakan makan malam Lin Tian.
Lin Tian menatap langit-langit kamar dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara kesal dan sedih, juga kekecewaan nampak jelas tergambar di wajah pemuda tersebut.
Lin Tian mengepalkan tangannya kuat-kuat, giginya saling bertemu atas dan bawah, matanya memancarkan sorot kemarahan hebat.
"Ternyata aku masihlah seorang lemah....tidak ada yang berubah dari dulu!!" gumam pemuda itu dalam hati penuh kebencian.
Dia merasa marah dan benci kepada diri sendiri. Apalgi mengingat akan kekalahannya dari pria murah senyum itu, makin menghebatlah rasa benci di hatinya.
__ADS_1
Bagaimana tidak, sudah dua kali banyaknya dia dikalahkan pria itu tanpa usaha berarti. Selain menunjukkan betapa lemahnya dia, juga hal ini sangat memepermalukan dan merendahkan harga dirinya.
Padahal sejatinya tidak ada satupun orang yang menganggap Lin Tian seorang lemah! Semua orang tahu bahwasannya Pendekar Hantu Kabut dari keluarga Zhang adalah seorang pendekar sakti yang sulit dicari bandingannya. Namun entah karena apa, pemuda itu masih saja belum puas akan kekuatannya saat ini.
Hal ini timbul bukan lain adalah karena Nonanya, Zhang Qiaofeng. Rasa sayangnya kepada gadis itu ternyata jauh lebih besar dari rasa sayang kepada nyawa sendiri. Dan sepertinya Lin Tian tidak sadar akan hal ini.
Rasa sayang ini menimbulkan kekhawatiran di hatinya yang terus saja menghantui setiap tidur serta mimpi-mimpinya. Ia takut kalau-kalau pria itu berhasil menyentuh dan mencelakakan Nonanya. Tentu hal ini akan menjadi bencana, baik kepada dia sendiri maupun keluarga Zhang, dan terutama sekali Zhang Qiaofeng sendiri.
Tak berselang lama, Zhang Qiaofeng kembali ke kamarnya. Namun kali ini Hu Tao ikut pula bersama gadis itu. Walaupun tubuhnya nampak baik-baik saja, namun Lin Tian mampu melihat jelas bahwa di balik jubah pemuda itu terdapat banyak sekali perban.
"Syukurlah kau sudah bangun Lin Tian." Hu Tao berkata dengan tersenyum lega.
Zhang Qiaofeng berjalan mendekar dan meletakkan senampan makanan ke atas meja. "Ini, makanlah Lin Tian." gadis itu berkata.
"Terima kasih Nona."
Beberapa menit kemudian, terdengar Lin Tian bertanya kepada Hu Tao.
"Hu Tao, bagaimana kabar tentang Aliansi Golongan Hitam yang berhasil menduduki markas Perguruan Elang Bayangan? Apa keluarga Hu baik-baik saja?"
"Soal itu, sebelumnya aku sangat berterima kasih kepadamu yang telah memberi peringatan. Sebenarnya, selama satu bulan ini belum terlihat tanda-tanda pergerakan Aliansi Golongan Hitam. Maka dari itu selama ini kami terus memperketat penjagaan di sekitar Kota Sungai Putih." jawab Hu Tao.
"Kita tidak tahu siapa otak yang sebenarnya dari Aliansi Golongan Hitam. Kita juga tidak bisa menebak apa rencana mereka. Maka dari itu, kau berhati-hatilah Tuan Hu." kali ini Zhang Qiaofeng ikut menanggapi.
"Baiklah, terima kasih atas sarannya Nona."
Waktu terus berlalu dan saat ini Lin Tian sudah menyelesaikan makanannya. Pemuda ini kemudian hendak berdiri dan ingin berjalan-jalan untuk menghilangkan rasa jenuh.
"Kau mau kemana Lin Tian?" tanya Zhang Qiaofeng begitu melihat pemuda itu berusaha bangkit.
"Aku hanya ingin melihat sekitar Nona." jawab Lin Tian sembari tangannya memegang ujung meja dengan agak gemetar. Agaknya konfisi tubuhnya saat ini masih sangat lemah.
"Bruukk!! Aduuhh, ada apa denganmu!?" Lin Tian berkata sedikit jengkel kepada Hu Tao yang tiba-tiba mendorongnya.
"Lihatlah dirimu, kau bahkan sudah jatuh hanya dengan dorongan ringan. Ketahuilah Lin Tian, kondisimu itu jauh lebih parah daripada aku." balas pemuda berambut putih tersebut.
__ADS_1
"Aku tahu, memangnya kenapa?"
"Istirahatlah dulu."
"Tapi aku bosan di kamar terus." Lin Tian masih terus membantah.
Tiba-tiba, ada sepasang tangan kecil yang memegang kedua pundak pemuda tersebut dan mendorongnya untuk kembali rebah di kasur.
"Istirahatlah dulu Lin Tian." ucap Zhang Qiaofeng lembut seraya menaikkan selimut Lin Tian.
"Kenapa? Kau ingin kutemani malam ini? Boleh saja, aku akan tidur di sini." kembali gadis itu berkata sambil menunjuk lantai.
Sontak hal ini membuat Lin Tian terkejut dan Hu Tao merasa sedikit iri. Bisa-bisanya seorang pengawal mendapat perlakuan yang demikian manis dari majikannya, benar-benar gila!! Pikir pemimpin keluarga Hu itu.
"T-Tidak perlu Nona. Baiklah, saya akan beristirahat." jawab Lin Tian yang tidak bisa dan tidak akan pernah mampu membantah perintah Zhang Qiaofeng.
Gadis itu tersenyum sambil berseru girang, "Bagus, lekaslah sembuh Lin Tian. Kalau begitu selamat malam, aku pergi dulu."
"Semoga mimpi indah kawan." ucap singkat Hu Tao sebelum membalikkan tubuh dan keluar dari ruangan.
"Hm...ada apa lagi Nona?" tanya Lin Tian setelah beberapa saat Nonanya itu belum juga meninggalkan kamar.
Gadis ini malah tersenyum dan mengelus lembut rambut Lin Tian. Kemudian dengan gerakan cepat dan tak tersangka-sangka, gads ini menundukkan kepala dan...
"Cup..." satu kecupan manis mendarat tepat di dahi Lin Tian.
Kemudian gadis ini berkata lirih sebelum kemudian melambaikan tangan dan pergi dari sana. "Cepatlah sembuh bocah, hihihi...."
Sedangkan Lin Tian, dia masih berbaring dengan muka merah dan mata terbelalak lebar. Kembali ia teringat akan ucapan terakhir Hu Tao.
"Semoga mimpi indah kawan"
Spontan, dia menjawab perkataan saudaranya itu dalam hati, "Bagaimana bisa aku tidak mimpi indah malam ini!!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
__ADS_1
BERSAMBUNG