
Dalam keadaan ditotok seperti itu, Xiao Lian hanya pasrah saja ketika dibawa oleh belasan orang tersebut. Dia sama sekali tidak mampu melihat wajah daripada para penculiknya karena tengah malam sangatlah gelap.
Akan tetapi menurut pandangannya yang jeli dan terlatih, dia bisa tahu bahwasannya saat ini mereka sedang berlari-lari di dalam hutan. Entah menuju kemana.
Memang firasat Hao Yu tepat sekali. Pagi hari tadi ketika mereka bentrok dengan si pria bercaping, diam-diam Chen Hu mengirim dua puluh orang untuk memata-matai si pria bercaping. Hal ini untuk berjaga-jaga jika seandainya terjadi hal seperti sekarang ini.
Lantas mengapa mereka tidak membantu ketika si pria bercaping dalam bahaya? Hal ini disengaja pula karena mereka ini sadar diri. Maklum bahwa dua puluhan orang itu belum tentu bisa menundukkan Hao Yu dan Xiao Lian. Ditambah, Chen Hu tidak ingin bermusuhan dengan keluarga lain kecuali keluarga kaisar. Jika seandainya pagi tadi mereka menyerang dan kalah, maka besar kemungkinan keluarga Xiao akan memusuhi keluarga Chen. Dan barang tentu keluarga Xiao akan membeberkan semuanya kepada kaisar.
Karena hal inilah, mereka menunggu saat dua orang ini lengah, sehingga mereka dapat mengambil surat denagn mudah. Mereka juga tak khawatir jika Hao Yu akan memberitahu kaisar, karena mereka yakin benar jika si pria satu tangan itu akan pergi menyusul.
"Kita bawa dia kehadapan pemimpin. Biar beliau yang mengambil keputusan." tiba-tiba terdengar suara serak dari orang yang mengempit tubuh Xiao Lian.
Mereka terus berlari sampai satu hari penuh. Ketika mereka tiba ditujuan, hari sudah tengah malam.
Begitu Xiao Lian memandang, ternyata dirinya tidak dibawa menuju markas kediaman Chen. Dirinya dibawa ke sebuah perkemahan yang berdiri di atas bukit. Melihat semua ini, tahulah ia jika keluarga Chen memang sudah siap untuk menyerang ketika kabar kematian Liong Bu yang dibunuh kaisar sudah menyebar luas.
Mereka segera pergi ke tenda terbesar tempat Chen Hu berada. Begitu sampai, segera mereka berlutut di depan seorang pria paruh baya yang bermata tajam. Menceritakan semuanya secara terperinci. Juga salah satu dari mereka menyerahkan surat rahasia tersebut.
"Hem....Nona Xiao Lian ya? Bawa dia ke tahanan!" seru Chen Hu yang langsung dituruti oleh enam belas orang tersebut.
Xiao Lian dibawa ke bagian belakang perkemahan. Kemudian dia dilemparkan secara kasar ke sebuah tempat seperti kandang macan yang terbuat dari besi. Pintu dikunci dari luar, meninggalkan Xiao Lian yang rebah lemas tanpa mampu melawan, bahkan memprotes pun tidak.
...****************...
Hao Yu mencari-cari ke setiap penjuru kota selama semalaman. Sampai matahari menyingsing dan bersinar terang, sosok yang dicarinya itu sama sekali tidak terlihat. Akhirnya, dia memutuskan untuk keluar kota dan mencari di daerah luar kota.
"Harus kemanakah aku mencari terlebih dahulu?" gumam Hao Yu dengan perasaan bingung begitu tiba di luar kota. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri sambil sesekali menggaruk-garuk kepalanya.
Tiba-tiba, dia mendengar sebuah suara "tak-tuk-tak-tuk", suara bambu yang diketuk-ketukkan. Hao Yu mengerutkan kening, siapa pula yang memukul-mukul bambu ditengah hutan begini? Pikirnya.
__ADS_1
Dia menajamkan pendengarannya, setelah beberapa saat, ternyata suara itu berasal dari arah kirinya. Segera saja dia lari kearah kiri untuk melihat siapa adanya orang tersebut.
Beberapa saat kemudian, dia sampai di sebuah anak sungai yang dipenuhi dengan batu-batu. Karena tempat berdirinya saat ini cukup tinggi, sehingga dia harus menengok ke bawah untuk melihat aliran sungai itu.
"Siapa dia?" tanyanya kepada diri sendiri ketika melihat ada seseorang yang berdiri di pinggir sungai itu sambil terus mengetuk-ngetukkan tongkat bambunya ke batu besar.
"Heh, kurang keras?" gumam orang aneh tersebut. Namun mampu didengar oleh Hao Yu.
"Tok-Tok-Tok!" orang ini memukul lebih keras lagi. Anehnya, Hao Yu yang seorang pendekar pun merasa telinganya sedikit sakit mendengar suara ketukan itu. Maka dengan sedikit berteriak, dia memanggil.
"Hei!! Kenapa kau membikin berisik daritadi!? Suara ketukan tongkatmu sama sekali tidak berirama dan tak enak didengar!!" cela Hao Yu.
"Oh...sudah datang!?" kata orang tersebut sambil mendongak. Hao Yu dapat melihat jelas saat ini siapa adanya orang aneh yang terus memukul-mukul tadi. Seorang kakek tua yang tersenyum aneh seperti orang gila, matanya melotot lebar, rambut dan jenggotnya riap-riapan seperti tak terurus.
"Hei orang muda!! Turunlah kemari, tidak sopan bicara kepada orang tua dengan teriak-teriak seperti itu!!" kakek ini balas mencela.
Hao Yu segera melompat turun ke hadapan kakek tersebut. Memandangnya dari atas sampai bawah. Jubah kuning yang dikenakan kakek itu sudah kotor, begitu pula dengan celana hitam dan capingnya.
"Hushh, sudah tak usah banyak cakap!! Dari sini dia dibawa ke arah Barat Laut sana. Cepat kejar!" kakek itu berkata cepat-cepat.
"Hah, apa maksudmu?"
"Jangan banyak tanya dan pura-pura bodoh!! Kau pikir aku tak tahu siapa yang sedang kau cari!? Gadis cantik yang elok dan sedap dipandang itu kan? Kekasihmu itu kan yang sedang kau cari!? Cepat kejar kearah Barat Laut, semalam dia sedang dibawa oleh belasan orang. Cepat kejar atau kekasihmu bisa diperkosa!!" kakek itu teriak di kalimat terakhir. Akan tetapi mulutnya tetap tersenyum lebar dan matanya melotot liar. Benar-benar seperti orang gila.
Hao Yu terkejut sekali mendengar ini, kiranya kakek ini melihatnya. Namun timbul kecurigaan besar di hatinya, mengapa kakek itu bisa tahu jika saat ini dia sedang mencari Xiao Lian? Batinnya.
"Apa buktinya semua ucapanmu benar!?" tanya Hao Yu penuh selidik.
Kakek itu berhentik terkekeh dan matanya makin melotot lebar. Kemudian memandang Hao Yu sambil memiringkan kepala, menatapnya bingung.
__ADS_1
"Heh...terserah kalau kau tak percaya." katanya sesaat kemudian sambil mengalihkan pandangannya kearah sungai. Kemudian duduk di batu besar dan bersiul-siul. Sebuah siulan yang amat tidak sedap didengar, karena setiap kali kakek itu meniup, selalu saja ada air hujan yang keluar dari bibir tua tersebut.
Kini Hao Yu yang memandang heran, siapakah kakek ini? Orang gila kah? Tak pernah berhenti Hao Yu bertanya dalam hati. Namun karena khawatir, akhirnya dia menurut pula dengan ucapan kakek itu. Tanpa pamit, dia sudah berkelebat pergi dari sana.
Seperginya Hao Yu, kakek itu tersenyum, matanya memandang jauh ke depan. Sungguh amat jauh bedanya dengan tadi yang seperti orang gila, saat ini wajahnya itu membayangkan kewibawaan besar.
"Sepertinya benar....hati manusia itu baik....hanya kadang nafsulah yang menggelapkan hati..." dia bergumam.
"Chen Hu, semua tindakanmu itu bahkan membingungkan hati. Tak bisa lagi dibedakan mana yang menurutkan hati dan mana yang menurutkan nafsu. Hah....dasar manusia, selalu saja serakah. Sudah punya ini ingin minta itu, sudah punya itu malah minta lebih. Chen Hu, tak puaskah hatimu setelah menduduki kursi pemimpin dari tujuh keluarga penguasa. Ingin menguasai seluruh Selatan ini? Hem...agaknya itu tak mungkin. Takdir sudah digariskan oleh Tuhan, dan sayang sekali, sebentar lagi riwayatmu akan tamat." kembali dia bergumam, kali ini tatapannya menajam.
"Nah...ingin kulihat bagaimana akhirnya. Hantu itu seharusnya sudah bergerak, tak mungkin Nona Xiao dan kota raja akan celaka." Setelah mengucapkan kata-kata ini, tubuhnya menghilang dari sana.
...****************...
Hao Yu terus berlari menuju Barat Laut, bahkan sampai malam tiba dan pagi menjelang, dia belum juga berhenti berlari. Entah kenapa dia juga heran sendiri, akan tetapi di hati yang terdalam, Hao Yu percaya penuh akan ucapan kakek gila tersebut.
"Sial, kemana sih mereka membawa Xiao Lian!" umpatnya mulai kesal.
Beberapa menit kemudian, dia berhasil dibuat terperangah. Ucapan kakek itu agaknya benar adanya. Dari puncak bukit kecil yang dia pijak saat ini, Hao Yu melihat ada salah satu bukit lain yang terlihat sangat terang. Sekali pandang tahulah dia jika di sana adalah perkemahan manusia.
Akan tetapi yang membikin dia terperangah adalah, dia melihat di tengah perkemahan itu, nampak sebuah bendera besar bertuliskan "Chen". Karena lampu obor yang amat terang, sehingga dari jauh Hao Yu mampu melihatnya sungguh pun hari masih gelap karena menjelang pagi.
"Ternyata dia tak bohong." gumamnya dan segera melesat cepat menghampiri bukit tersebut.
Begitu tiba di dekat perkemahan, dia mendekam di balik semak belukar. Meneliti keadaan perkemahan itu sebelum memutuskan untuk masuk ke sana. Namun kembali dia dibuat terkejut oleh sesuatu hal. Di tengah-tengah perkemahan itu, Hao Yu melihat jelas bahwa sahabatnya, Xiao Lian sedang mengamuk melawan banyak pasukan Chen. Sedangkan di sebelahnya, juga nampak seseorang yang bertarung hebat membantu Xiao Lian. Pakaiannya hitam-hitam dan wajahnya tertutup topeng tengkorak. Sekali pandang Hao Yu sudah mengenal tokoh sakti teresebut.
"Hantu Seratus Lengan!?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG