Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 173. Jatuh


__ADS_3

Di tengah-tengah pertempuran itu, yang paling menarik perhatian dan amat menegangkan adalah pertarungan hebat antara tiga orang pendekar sakti yang tak lain adalah Lin Tian, Zhang Heng serta Golok Penghancur Gunung.


Hawa panas dan dingin yang dihasilkan oleh dua orang pendekar bertopeng itu berhasil membuat suasana sekitar menjadi tak karuan, sebentar panas sebentar dingin. Serta serangan Golok Penghancur Gunung juga tak kalah hebat sampai menghasilkan suara keras seperti gempa bumi.


"Trang-Tring-Blar!!"


Setelah dua kali menangkis tebasan pedang Zhang Heng, Lin Tian meloncat ke samping begitu dirinya merasakan ada sebuah ancaman datang mendekatinya. Dan benar saja, sesaat setelah tubuhnya melayang, golok di tangan kakek itu berhasil menghancurkan tanah tempat Lin Tian tadi berdiri.


Sambil mengelak, pemuda bertopeng putih itu juga mengirim sebuah angin dingin yang langsung ditujukan kearah kedua lawannya. Begitu angin datang menyambar, disepanjang lintasan yang dilalui angin itu seketika berubah menjadi butiran salju. Melihat ini, Zhang Heng dan rekannya segera mengelak.


"Hmph, agaknya pertarungan kita terlalu terbatas jika dilakukan di tengah kerumunan ini!!" kata Lin Tian yang tanpa menunggu tanggapan keduanya, dirinya lekas melesat jauh pergi dari sana.


Sadar dengan maksud lawan yang ingin mencari tempat lain, Golok Penghancur Gunung dan Zhang Heng segera mengikuti kearah Lin Tian pergi.


Dalam perjalanan menuju tempat yang lebih terbuka, tiga orang ini tidak asal lari saja. Mereka terus saling terjang dan bertarung dengan amat cepatnya. Apalagi Golok Penghancur Gunung yang telah berhasil menguasai sedikit ilmu dari Ilmu Pedang Teratai Putih, gerakan goloknya menjadi amat cepat sungguh pun senjata itu besarnya bukan main.


Lin Tian yang dikeroyok dua seperti itu memang kelihatan seperti terdesak, namun sebenarnya pemuda ini masih menyimpan tenaganya untuk pertarungan berikutnya. Sedari tadi dia memang masih menahan diri karena khawatir serangannya akan mengenai kawan sendiri.


Selang beberapa menit kemudian, mereka tiba di pinggir jurang. Tapi di sana tanahnya sangat luas dan tidak tertutup oleh rimbunnya pohon atau banyaknya manusia. Maka tanpa berkata-kata lagi, mereka kembali bertarung hebat.


Kali ini Lin Tian mulai serius, mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuan untuk mendesak mereka. Dan hasilnya cukup memuaskan, setelah tiga puluh jurus terlewat, perlahan tapi pasti Lin Tian berhasil mendesak mereka.


"Mati kau!!" bentak Lin Tian dan mengarahkan Pedang Dewi Salju ke leher Golok Penghancur Gunung.


"Jangan mengganggu bangsat!!" Zhang Heng yang merasa terbebani oleh kakek itu juga ikut menebaskan pedangnya mengarah pinggang.


Kakek ini terkejut setengah mati, apalagi dengan tindakan Zhang Heng. Namun semua telah terlambat, serangan dari dua orang ini terlampau cepat di penglihatan tuanya. Maka tanpa dapat dicegah lagi, tubuhnya terpotong menjadi tiga bagian.


"Aku akan serius kali ini!!"


"Maju!!"


Dua orang yang sedang diamuk dendam itu tidak lagi mempedulikan mayat Golok Penghancur Gunung yang amat mengenaskan, mereka terus bertarung dan bertarung dengan satu tujuan, yaitu untuk meleyapkan lawan.


Sampai hampir menyentuh dua ratus jurus dan Lin Tian harus mengakui kehebatan lawan. Kiranya dari awal pertempuran sampai saat ini, Zhang Heng tidak bisa cukup mengerahkan kepandaian karena hambatan Golok Penghancur Gunung yang tidak bisa menandingi kehebatannya. Saat ini setelah satu lawan satu dengan orang itu, Lin Tian mampu merasakan betapa hebat setiap serangan yang dilancarkan oleh mantan tetua tersebut.


...****************...


Song Qian dan Fen Lian memandang pertempuran dengan seksama, mengacuhkan potongan-potongan daging di belakang mereka yang sudah tak berbentuk lagi itu.

__ADS_1


"Kakak, lihat, itu Lin Tian!" seru Fen Lian kepada Song Qian begitu melihat Lin Tian dan dua lawannya menjauhi pertempuran.


"Ayo kejar!!" Fen Lian segera mengerahkan ilmu lari cepatnya untuk mengejar tiga orang itu.


Namun bagaimana pun juga, jarak antara dua orang ini dan tiga orang targetnya terlalu jauh. Ditambah tiga orang itu sudah memiliki kesaktian tinggi, sehingga sebentar saja sudah lenyap dari sana.


Setelah satu jam kemudian, barulah Fen Lian dan Song Qian sampai ditujuan. Yaitu di pinggir jurang besar yang menjadi tempat pertarungan sengit Lin Tian dan Zhang Heng. Mereka bisa tiba di tempat ini karena mendengar suara-suara keras beradunya senjata.


Baru saja mereka tiba, namun dua orang ini segera mengeluarkan teriakan ngeri ketika tanah tempat Lin Tian dan Zhang Heng bertempur hancur dan roboh masuk jurang.


"Tuan Lin Tian!!" seru keduanya yang sudah melesat cepat sembari mengulurkan tangan untuk menolong Lin Tian. Namun terlambat, pengawal pribadi Nona Zhang itu sudah meluncur cepat menuju bawah sana.


...****************...


"Trang-Prakk!!"


Topeng Lin Tian berhasil terlepas oleh tendangan Zhang Heng, menampakkan sosok wajah tampan yang memiliki mata tajam mengerikan. Melihat topengnya terlempar, Lin Tian makin marah dan serangannya kian menghebat.


Hingga pada saat menginjak jurus ke dua ratus lima puluh, ketika dua pedang ampuh itu bertemu dengan kerasnya, angin dahsyat yang timbul dari pada pertemuan dua senjata itu berhasil menghancurkan tanah tempat mereka berpijak.


"Krak-Boomm!!"


Karena pengerahan tenaga dalam, sehingga kakinya bisa menempel di salah satu batu besar sungguh pun dia dalam keadaan melayang bebas.


"Kau mati atau kita mati bersama!!" teriak Lin Tian.


"Kau yang akan mati!!" seru Zhang Heng dan meloncat maju.


Lin Tian menyambut terjangan itu dan terjadilah pertarungan di udara. Di saat tubuh mereka terus meluncur ke bawah, dua orang ini dengan cekatan hinggap di batu satu ke batu lainnya sebelum saling terjang kembali dengan hebatnya.


"Byurrr!!"


Setelah sekian lama terjun, akhirnya tubuh mereka menghantam aliran sungai deras dengan keras sekali. Namun beruntungnya, di bagian mereka jatuh sungai itu adalah bagian yang dalam sekali, sehingga walau pun amat sakit, namun mereka selamat.


Dalam keadaan melayang-layang di dalam air, kedua orang ini melanjutkan pertarungan mereka. Namun kali ini hanya sekali dua kali saja pedang mereka bertemu karena aliran sungai berhasil menghayutkan mereka sampai jauh.


Di pihak Lin Tian, ketika tubuhnya hanyut oleh aliran sungai kakinya terus-menerus menendang ke bawah. Dan setelah beberapa saat, kakinya merasakan adanya sebuah pijakan, maka segera dia manfaatkan pijakan ini untuk melompat ke atas air.


"Pergilah ke neraka!!" Lin Tian melompat ke atas air dan menusukkan pedangnya ke kepala Zhang Heng yang masih tenggelam.

__ADS_1


Melihat ini, Zhang Heng cepat bergerak dan menusukkan pedangnya ke atas untuk menyambut serangan Lin Tian. Akibatnya sungguh hebat, angin dahsyat menyambar begitu dua bilah pedang itu bertemu. Dan hal ini mampu membuat Lin Tian terlempar dan kembali hanyut oleh aliran sungai.


Mereka terus melakukan pertarungan di tengah-tengah kehanyutan itu. Seakan tak peduli dengan keadaan diri sendiri, mereka terus bergerak dan bersilat di dalam air.


Hingga pada suatu ketika, di depan sana aliran sungai terbelah dua. Dan yang membelah sungai itu adalah tebing tinggi yang di salah satu sisinya terlihat sangat tajam. Sisi tajam itulah yang membelah aliran sungai.


Melihat hal itu dua orang ini menjadi panik, maka dengan pengerahan tenaga terakhir, Lin Tian menusukkan pedang ke muka Zhang Heng. Tak peduli dirinya mati atau selamat, yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya Zhang Heng mati.


Zhang Heng berhasil menangkis pedang tersebut. Kemudian dia balas menyerang dengan serangan telapak tangan kiri yang mengandung hawa panas luar biasa. Ia arahkan serangan itu ke wajah Lin Tian.


Lin Tian tak tinggal diam, segera dia mengarahkan telapak tangan kirinya ke depan menuju wajah Zhang Heng pula. Kali ini dia mengerahkan Pukulan Tapak Beku hingga tingkat maksimal.


"Cess-Cess!!"


Telapak tangan Zhang Heng berhasil mendarat di mata kanan Lin Tian, sedangkan telapak Lin Tian berhasil mendarat di mata kiri Zhang Heng.


Karena serangan terakhir ini menggunakan pengerahan tenaga sepenuhnya, keduanya lalu terhempas ke belakang dan masing-masing hanyut ke satu jalur sungai. Zhang Heng ke aliran kiri, sedangkan Lin Tian ke kanan.


Mereka tak sadar jika pertarungan sengit tadi juga telah berhasil menyelamatkan hidup mereka. Namun karena serangan terakhir itu pula, keduanya langsung pingsan dan hanya mengikuti arus sungai dengan tubuh lemas.


...****************...


Pertarungan hampir selesai dan Zhang Qiofeng yang melihat perginya Lin Tian tadi segera pergi kearah dimana pria itu pergi. Namun setelah sekian lama, dia mendengar suara tangisan dua orang perempuan yang nyaring sekali.


Gadis ini segera mengikuti kearah dimana suara itu berasal, begitu sampai ternyata yang menangis tadi adalah Song Qian dan Fen Lian.


"Hei kenapa kalian ada di sini? Dan lagi, kenapa menangis?" tanya gadis tersebut.


Namun matanya segera melebar ketika melihat Song Qian yang menangis sembari memeluk topeng Lin Tian.


"Song Qian...dimana....Lin Tian?"


Song Qian masih terisak dan menolehkan kepalanya kearah Zhang Qiaofeng. Dengan nada lemah dia menjawab sambil menunjuk ke ujung jurang yang sudah rusak.


"Dia...dia....jatuh...."


"Apa....!?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2