
Lin Tian dan Minghao kembali melanjutkan perjalanan setelah tiga hari berada di rumah sang tabib. Ternyata racun di tubuh Lin Tian itu demikian hebat sampai harus memaksa pemuda ini untuk beristirahat selama itu agar tubuhnya bisa kembali normal.
"Kita sampai!" seru Lin Tian tatkala mereka tiba di depan sebuah bangunan yang amat megah.
"Siapa kalian dan mau apa?" tanya seorang penjaga gerbang kediaman keluarga Xiao dengan sikap galak.
Akan tetapi Lin Tian masih tenang-tenang saja dan menjawab, "Katakan pada Tuan Xiao Li, Lin Tian datang berkunjung."
Penjaga itu nampak mengerutkan kening. Lalu bukannya menjawab, dia malah balas bertanya, "Ada hubungan apa kau dengan Tuan besar?"
"Hah...sulit untuk menjelaskannya, intinya kau akan tahu saat Tuan Xiao Li bertemu denganku."
"Apa yang membuatku harus percaya padamu? Lagipula kau ini siapa? Aku tak pernah melihatmu di sekitaran kota ini, bagaimana kau bisa masuk ke kota?" kembali penjaga itu bertanya penuh selidik yang tanpa sadar telah membuat Lin Tian sedikit jengkel.
"Banyak omong!! Cepat kau panggil Tuan Xiao Li atau aku akan menerobos dengan kekerasan!!" bentak Lin Tian yang sudah tak sabar. Perkataannya mengandung tenaga dalam unsur dingin sampai membuat penjaga itu menggigil.
Setelah menganggukkan kepala dengan gugup dan jeri, bergegas orang ini lari tergopoh-gopoh ke dalam kediaman untuk melapor.
"Hm...tak biasanya kau galak seperti ini. Apa sifat Nona sudah menular kepadamu?" tanya Minghao dengan perasaan geli.
"Hah...kau tahu kan ini adalah tugas penting? Setelah ini kita juga harus ke Kota Sungai Putih. Karena itulah aku tak ingin berlama-lama hanya untuk berdebat dengan penjaga." balas Lin Tian.
Tak berselang lama, dari pintu rumah yang besar itu, muncul sang penjaga bersama tiga orang wanita dan dua pria. Mereka tak lain adalah Xiao Li, Xiao Mei, Xiao Lian, Xiao Niu dan Hao Yu. Begitu empat orang ini mendengar laporan penjaganya, mereka langsung pergi keluar untuk menyambut sahabat lama itu.
Akan tetapi begitu tiba, nampak mereka mengerutkan kening memandang Lin Tian dan Minghao secara bergantian. Pandangan mereka penuh curiga dan waspada.
"Dimana Lin Tian? Aku tak mengenal kalian!" ucap Xao Li dingin dan di angguki oleh empat orang lainnya.
"Oh...Tuan Xiao, lama tak berjumpa." jawab Lin Tian yang maklum akan keheranan lima orang itu karena belum pernah melihat topengnya. Melihat sikap Lin Tian, Minghao pun juga ikut membungkuk memberi hormat.
"Ah...kau benar-benar Lin Tian." Xiao Li berkata seraya membolatkan matanya saking terkejut dan girang dikunjungi oleh sahabat lama itu. Keempat orang lain pun juga menampakkan ekspresi yang tak jauh berbeda dari pemimpin keluarga itu.
"Wahh...kakak Lin Tian!!" seru Xiao Niu yang seperti biasa, begitu bertemu dengan pemuda itu langsung melompat mendekapnya.
"Marilah, mari masuk!" Xiao Li berkata sambil membalikkan tubuh.
"Kak...gendong!!" celetuk Xiao Niu dengan manja.
Lin Tian hanya tersenyum di balik topengnya dan langsung mengangkat tubuh gadis cilik itu yang tertawa-tawa nyaring.
...****************...
__ADS_1
"Hm...melihat ciri-cirinya, apa benar bahwa kau itulah yang orang sebut sebagai Pendekar Hantu Kabut?" tanya Xiao Li begitu Lin Tian sudah melepas topengnya.
"Benar, Tuan."
"Dan Tuan ini...Sastrawan Sakti yang tersohor itu? Haha...tak kusangka aku bisa diberi kesempatan untuk bertemu dua orang pendekar besar!" Xiao Li tertawa bergelak.
"Hebat juga kau Lin Tian." kali ini Hao Yu ikut berkomentar.
"Tidak sehebat itu, kalian terlalu memuji. Intinya, kami berdua ini datang kemari untuk suatu urusan penting." Lin Tian berkata cepat, tak ingin terlalu banyak membuang waktu.
"Oh...apa itu?"
"Tolong terima ini, Tuan Xiao." Lin Tian menyerahkan secarik amplop surat berwarna merah dan terdapat stempel bertuliskan "Zhang".
Dengan alis berkerut, Xiao Li menerima surat itu. Membolak-balikkan sampul surat untuk meneleti lebih jelas tentang siapakah pengirimnya.
"Zhang? Apa maksudnya?" tanyanya bingung.
Lin Tian lekas menjawab, "Surat itu dikirim oleh Nona saya yang menjadi pemimpin Keluarga Zhang Tuan. Dia mengirimkan surat itu untuk mengajukan kesepakatan kepada keluarga Xiao."
Mereka nampak tambah bingung, dalam hati mereka bergumam, "Apa hubungan Lin Tian dengan keluarga Zhang ini?". Namun mereka hanya diam saja.
Kemudian dengan hati penasaran, Xiao Li membuka sampul surat tersebut dan membacanya. Matanya bergerak kekanan dan kekiri begitu pria ini membaca dengan seksama setiap kata dan kalimat dalam isi surat. Tak lama setelah itu, dia membolatkan matanya, nampak sangat terkejut.
"Tentu saja itu aku Tuan."
"Apa!??" seru mereka berbareng kecuali Hao Yu yang sudah tahu akan kebenarannya bahwa Lin Tian adalah seorang pengawal pribadi dari sebuah keluarga.
"Kau...seorang pengawal? Mana mungkin, orang sekuat engkau menjadi pengawal!?" kali ini Xiao Mei bertanya penasaran.
"Tapi kenyataan memang begitu Nyonya."
Sampai lama mereka tak bisa menggerakkan mulut untuk bicara saking terkejutnya mendengar kenyataan ini. Akan tetapi Xiao Li segera dapat menguasai diri dan cepat berkata.
"Hah...tak kusangka, kukira kau ini adalah seorang Tuan muda dari sebuah keluarga besar, tapi ternyata adalah seorang pengawal. Tapi tak apalah, seorang sahabat tak akan memikirkan latar belakang dari keluarganya, tang terpenting Lin Tian, soal kesepakatan ini aku..." Xiao Li menghentikan ucapannya sebelum melanjutkan
"Aku akan senang sekali dapat membantu keluarga kalian, akan tetapi Kota Batu ini sedang terancam bahaya." lanjutnya dengan nada sedih dan diakhiri helaan nafas panjang.
"Mohon maaf, bahaya apa itu Tuan? Aku juga merasa heran, mengapa orang luar seperti kami berdua tak diijinkan masuk kota."
"Benar juga, lalu kau bisa datang kemari lewat mana?" Xiao Li bertanya karena baru sadar akan hal tersebut.
__ADS_1
Mereka berdua tersenyum dan Lin Tian menjawab, "Itu bukan madalah penting Tuan, yang jelas, mohon ceritakan padaku bahaya apa yang mengancam Kota Batu ini. Mungkin kami bisa membantu dan jika memungkinkan, keluarga Zhang kami juga akan turun tangan."
"Hah...tak perlu kau membantu Lin Tian, aku sudah terlalu banyak merepotkanmu. Tapi tak apalah kuceritakan permasalahannya agar kelak keluarga Zhang bisa berhati-hati dan waspada." orang itu berkata sebelum memulai ceritanya.
"Ini semua akibat ancaman dari suku manusia gunung di hutan wilayah kekuasaan kami. Setahuku, selama keluarga Xiao berdiri, tak pernah sekalipun kami saling musuh atau bentrok antara mereka. Singkatnya, kami tak pernah berhubungan, karena itulah aku membiarkan mereka karena memang mereka tidak mengganggu."
"Akan tetapi beberapa bulan lalu, suku ini turun gunung dan menyerbu desa-desa kekuasaan keluarga Xiao yang berada di dekat lereng Pegunungan Pedang. Tentu aku terkejut akan hal itu dan mengirim seratus orang pasukan untuk menyelidiki keadaan. Namun setelah satu minggu, hanya dua puluh orang saja yang dapat kembali dengan selamat, itu pun dalam keadaan luka-luka."
"Karena itulah, untuk mengantisipasi hal buruk terjadi, aku memberi perintah agar untuk sementara ini tidak ada yang boleh keluar atau masuk kota." Xiao Li menghela nafas mengakhiri ceritanya.
Lin Tian dan Minghao saling pandang, nampak mengerutkan kening karena terkejut sekaligus heran. Suku manusia gunung? Aku tak pernah dengar. Begitulah pikir mereka.
" Tuan Xiao-"
"Braakk"
Ketika Lin Tian hendak bicara, tiba-tiba pintu ruang pertenuan dibuka dengan kasar oleh seseorang. Melihat dari seragamnya, tentu orang itu adalah seorang prajurit kota.
Mereka semua terkejut, dan Xiao Li cepat bangkit berdiri membentak, "Apa-apaan ini? Apa kau tak tahu jika aku sedang kedatangan tamu hah!? Setidaknya ketuk pintu dulu!!"
"Maaf Tuan besar, akan tetapi ada masalah mendesak! Dari arah gerbang Utara, terlihat sekitar dua ratusan orang suku manusia gunung datang menyerbu!! Mohon kebijakan Tuan besar." ucap orang itu yang sudah berlutut penuh hormat.
Xiao Li merasa sangat marah mendengar kabar ini. Baru saja dibicarakan, mereka sudah datang sendiri. Maka dengan spontan, dia menggebrak meja dan berkata, "Kumpulkan tiga ratus prajurit kota ke gerbang Utara, pertahankan kota ini dengan taruhan nyawa!!"
"Siap Tuan!!" orang itu berkata tegas sebelum pergi dari sana.
Tentu saja hal ini mengejutkan Lin Tian dan Minghao. Mereka saling pandang sejenak sebelum terdengar Lin Tian berkata, "Tuan, izinkan kami membantu!"
"Tak perlu Lin Tian, biar kami keluarga Xiao yang mengurusnya. Sekarang ini, lebih baik kalian tinggal di sini terlebih dahulu, jangan keluar kota karena itu sangat berbahya!" ucapnya tegas.
"Hao Yu, jaga anak dan istriku!" perintahnya singkat kepada pengawal pribadi itu.
"Baik Tuan!"
Setelah itu, Xiao Li langsung melesat keluar rumah menuju gerbang kota. Sedangkan Hao Yu bersama tiga perempuan itu bergegas pergi ke dalam untuk berlindung.
Menyisakan Lin Tian dan Minghao yang duduk saling pandang dengan bingung.
"Lebih baik kita ke gerbang kota ikut membantu!" kata Lin Tian.
"Benar sekali!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG