Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 179. Ilmu Pedang Teratai Putih


__ADS_3

Mentaati perintah gurunya, mulai dengan hari itu Lin Tian berfokus pada latihan pedangnya. Entah itu pagi, siang, sore atau malam, pemuda itu terus melatih diri dengan keras sesuai ajaran Chong San.


"Hiat–Krakk!!"


Pohon setinggi manusia berhasil dibabat putus oleh Pedang Dewi Salju dengan sempurna. Setelah tiga minggu Lin Tian berlatih ilmu pedang ajaran Chong San, akhirnya hari ini dia berhasil menyempurnakannya.


Dengan wajah girang karena berhasil merobohkan pohon itu dalam sekali tebas, Lin Tian berlari-lari cepat menghampiri gurunya yang seperti biasa di pagi hari, duduk di atas dahan pohon sambil bersenandung.


"Guru, aku sudah berhasil menguasainya. Seperti perkataanmu, aku sekarang mampu untuk memotong pohon setinggi manusia dalam sekali tebas." sambil tersenyum lebar Lin Tian berkata sedikit keras agar suaranya mencapai sepasang telinga tua itu.


"Uhh...apa kau mengejekku? Walaupun dari bawah sana kau bicara dengan berbisik, aku pun bisa mendengarmu bocah!" Chong San mencela sambil menatap tajam muridnya itu. Melihat ini Lin Tian segera merangkapkan kedua tangan sembari membungkuk-bungkuk untuk minta maaf.


"Kau sudah menguasainya? Bagus, namun jangan senang dulu. Masih ada tahapan berikutnya."


Ucapan ini jelas mengejutkan hati Lin Tian. Seingatnya, selama dia melatih ilmu pedang ini, matanya yang tajam dan awas mampu melihat bahwa ini adalah ilmu pedang yang tidak sederhana dan cukup sulit. Hanya karena dia sudah berpengalaman dalam pedang sehingga mampu menguasainya dalam waktu tiga minggu.


Tetapi sekarang kakek ini bilang ada tingkatan selanjutnya? Hal ini membuat terkejut namun juga senang karena dirinya bisa bertambah kuat lebih jauh lagi.


"Aku anggap kau sudah hafal dengan setiap gerakan dari gerakan dasar itu. Sekarang perhatikan ini." Chong San mengambil tongkat bambunya dan melayang turun.


Begitu kedua kakinya menjejak tanah, lekas dia bersilat pedang dengan tongkat bututnya. Kali ini jauh lebih rumit dan hebat.


Setiap gerakannya mendatangkan angin tajam yang mampu dirasakan oleh Lin Tian. Jika seandainya Chong San tak menggunakan senjata bambu dan menahan diri, kiranya tubuh Lin Tian bisa luka-luka.


"Hebat...ilmu pedang apa ini?" gumam Lin Tian penuh takjub.


Beberapa menit kemudian, Chong San sudah selesai dengan ilmu silatnya. Dalam gerakan terakhir, dia mengokohkan kedudukan dua kakinya lalu mendorongkan tongkat bambunya ke depan dengan gerakan menusuk.


"Wutt–Blarr!!"


Terdengar angin bersuitan dahsyat yang menyambar dari ujung tongkat itu. Sedetik kemudian, sebatang pohon yang berada kurang lebih sejauh tiga meter dari tempatnya berdiri pecah seketika. Membuat pohon itu ambruk berantakan.


"Bagaimana, kau lihat? Bukankah lebih rumit dari yang kemarin...eh?" kakek ini ingin bertanya apakah Lin Tian sudah menghafal gerakannya, namun sungguh terkejut dan kagum hatinya saat melihat muridnya ini sudah bersilat.


"Syutt–Syuut–Syuutt"

__ADS_1


Udara di sekitar Lin Tian mengeluarkan bunyi bercicit nyaring ketika Pedang Dewi Salju menebas-nebasnya dengan kuat. Suara yang dihasilkan dari tebasan pedang ini jauh lebih indah daripada menggunakan tebasan tongkat.


Inilah keistimewaan dari ilmu pedang yang diajarkan Chong San kepada Lin Tian. Selain mengandung angin kuat yang selalu menyambar setiap kali pedang menebas, suara yang timbul dari gesekan pedang dan udara itu juga mampu menggetarkan hati lawan. Hanya karena Lin Tian belum matang dalam ilmunya dan Chong San yang tadi menahan diri, sehingga efeknya tak begitu kuat.


"Syuutt–Braakk!!"


Dalam gerakan terakhir, Lin Tian mengokohkan kedua kaki dan menusukkan pedangnya ke depan. Angin kuat menyambar kuat dan berhasil menghantam pohon yang sejauh beberapa langkah di hadapannya. Walaupun tak sekuat Chong San, namun efeknya cukup memuaskan karena berhasil melubangi batang pohon yang bergaris tengah kurang lebih sepelukan orang dewasa.


Melihat ini, ujung bibir Chong San terangkat ke atas. Merasa bangga atas pencapaian muridnya yang langsung mengerti intisari silat hanya dalam sekali pandang. Tanpa sadar dia berbicara seorang diri dalam hati.


"Benar-benar Naga Putih, tak salah lagi. Inilah orangnya..."


Sedangkan Lin Tian sendiri merasa kaget dengan hasil perbuatannya. Memang dia sadar bahwa gerakannya tak sebagus dan seindah Chong San, namun tak pernah disangkanya bahwasannya hanya dalam sekali percobaan, dia mampu melubangi pohon dari jarak jauh seperti itu.


"Ini benar-benar sangat hebat guru!! Apa nama dari ilmu pedang ini? Kalau diingat-ingat, aku sama sekali belum mengetahui namanya sejak pertama kali latihan." seru Lin Tian dengan tatapan penasaran.


"Ilmu Pedang Teratai Putih."


"Huh?"


Dahulu dia merasa sudah mengkhianati keluarga Zhang karena berhasil menguasai ilmu Ketenangan Batin. Namun sekarang, dia malah sudah setengah jalan menguasai kitab keramat lain.


Menyadari raut perubahan di wajah Lin Tian, Chong San segera menyambung.


"Tenang saja, keluarga Cin tak akan memusuhimu. Kau pasti sudah tahu akan ilmu pedang itu kan?"


"Benar tapi...setahuku gerakannya berbeda jauh dari yang kau ajarkan?"


"Hahahaha...sebenarnya inilah ilmu pedang Teratai Putih yang asli. Sedangkan yang kau lihat di markas Perkumpulan Bunga Teratai itu bukanlah ilmu pedang ini, melainkan ilmu pedang perkumpulan itu. Bagaimana pun juga, Cin Kok tidak boleh terlalu mempercayaimu yang dianggap sebagai orang baru, sehingga dia sedikit mengelabuhimu."


Mata Lin Tian melotot lebar, kiranya dia sudah tertipu. Namun bukannya marah, Lin Tian malah merasa lega karena Cin Kok sangat setia untuk menjaga ilmu pedang Teratai Putih itu.


"Kenapa kau mengajarkan ilmu itu padaku? Seharusnya hanya keturunan keluarga Cin saja yang boleh mempelajarinya!" ucap Lin Tian sedikit tak terima.


"Jangan kau pikirkan hal-hal yang tidak penting. Suatu saat kau juga pasti akan tahu mengapa aku mengajarkan ilmu ini padamu. Sekarang teruslah berlatih, aku akan pergi sebentar ke hutan untuk mencari sesuatu."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban Lin Tian yang sudah membuka mulut, Chong San segera pergi ke dalam hutan dengan ilmu lari cepatnya yang bagaikan terbang itu. Membuat Lin Tian melongo kagum akan kepandaian gurunya.


"Wah....sepertinya dia bahkan lebih hebat dari kakek nona."


...****************...


"Brak!!"


"Brakk!!"


"Brakk!"


Entah sudah berapa banyak batang pohon yang berhasil dilubangi oleh Lin Tian. Dan jika diperhatikan lebih teliti, lubang pada setiap batang pohon memiliki bentuk yabg berbeda.


Dari satu pohon ke pohon lain bentuknya selalu berubah. Dari yang kecil sampai besar, bahkan setiap kali Lin Tian menembakkan hawa tenaga dalam dari ujung pedangnya, akibatnya lubang itu menjadi lebih halus dari lubang di pohon sebelumnya. Ini artinya setiap saat tingkat penguasaan Lin Tian terhadap jurus itu terus meningkat.


Hingga sora menjelang barulah Lin Tian berhenti karena kelelahan. Kurang lebih setengah jam sejak Lin Tian beristirahat, barulah Chong San kembali dari hutan.


"Oh, guru, selamat datang kembali." sambut Lin Tian sambil bangkit berdiri.


Chong San seperti tidak mendengar ucapan Lin Tian, melainkan malah memfokuskan pandangan terhadap pohon-pohon yang berlubang itu. Mulutnya berdecak kagum berkali-kali menyaksikan tindakan muridnya.


"Bagus bagus, semua ini ulahmu?" pertanyaan ini hanya dijawab anggukan singkat oleh Lin Tian.


"Hahaha...memang agaknya aku tak salah pilih orang. Sekarang makanlah daun dan buah obat-obatan ini maka kau akan mengalami kemajuan. Nah, ambilah...ambilah..." Chong San menyodorkan sebuah buntalan yang cukup besar kepada Lin Tian. Pemuda itu hanya menerimanya saja sambil berkata.


"Terima kasih guru..."


"Kau tak ingin lihat dalamnya?"


"Aku yakin guru akan melakukannyang terbaik untukku."


"Bagus, sekarang lekas habiskan itu untuk membantu kemajuanmu!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2