
"Heheh...kau tak pergi menyelidik?"
"Nanti, waktu malam tiba." balas Lin Tian yang pandangannya masih terpaku pada sosok berjubah putih itu.
"Kau yakin? Malam hari sangat berisik loh..." Kang Lim terkekeh-kekeh.
Lin Tian memicingkan matanya, keningnya berkerut dan pandangannya menyiratkan rasa sedikit tidak suka. Dia tahu apa yang dimaksud berisik oleh Kang Lim tadi, dan membayangkannya saja sudah membuatnya tidak nyaman.
Namun apa boleh buat, dia harus mengawasi nonanya secara diam-diam. Jika tidak begitu, bisa jadi di sini ada pendekar berbahaya yang bisa mengancam nonanya.
"Cukup bermasalah dan sangat merepotkan, tapi apa aku punya pilihan lain?"
Kang Lim masih terkekeh dan mendudukkan dirinya di samping Lin Tian. Kakinya bersila dan kedua tangan diletakkan di atas paha.
"Haha, kalau kau mau aku bisa menggantikanmu menjalankan tugas itu. Aku kan sahabat keluarga Zhang."
"Memangnya apa untungmu dengan membantuku? Lagipula, pendekar sejati macam engkau yang sudah terlalu lama mengasingkan diri, mengapa tiba-tiba ingin mencampuri urusan orang?" Lin Tian menatap tajam, memberikan tatapan waspada.
"Jangan mencoba hal-hal di luar batas, kau ingat pertarungan terkahir kita bukan? Jika itu terjadi lagi, aku tak akan mengalah!" lanjutnya dengan ucapan tegas dan berwibawa.
Kang Lim malah tertawa terbahak-bahak, membuat Lin Tian semakin memicingkan mata tidak suka. "Bwahahaha, kau pikir aku tidak tahu? Tentu saja aku yang sudah tua dan sebentar lagi dijemput malaikat maut ini tahu apa yang sebenarnya! Karena itulah aku sudi menjadi sahabatmu dan sekutu keluarga Zhang!"
Lin Tian makin heran dengan gelagat kakek tua ini, "Apa maksudmu hah?"
"Kalau kau tak mau kugantikan dalam melaksanakan tugas ini, maka akan kuberikan informasi yang cukup penting mengenai distrik merah ini."
"Jawab pertanyaanku!"
"Baiklah...distrik merah ini..."
Bukannya menjawab, Kang Lim malah langsung menceritakan seluk beluk mengenai distrik merah yang sama sekali belum diketahui Lin Tian.
Menurut penjelasannya, distrik merah ini di pegang oleh murid dari Sian Yang, ketua Iblis Tiada Banding. Dan murid Sian Yang itu memiliki tangan kanan yang cukup handal, dia adalah seorang pendekar sejati namun dari golongan hitam. Namanya Ang Lin.
"Hanya itu? Kalau memang hanya segitu, aku bisa mencari tahu sendiri nanti malam."
"Bukan hanya itu bocah! Dengar dulu lanjutannya!"
Dia melanjutkan penuturannya. Katanya, di tempat ini ada orang yang bernama Sie Yang dan telah menculik banyak sekali gadis-gadis tak berdosa untuk dijadikan pelacur.
Juga ada orang yang berjuluk Dewi Yan Cu, seorang pelacur nomer satu di distrik merah.
"Mana dua orang itu?!"
"Sudah mati. Aku yang membunuhnya."
Refleks Lin Tian memandangnya datar. "Lalu untuk apa kau ceritakan?"
"Aku ingin menceritakan nasib gadis-gadis tak berdosa itu."
__ADS_1
Lin Tian meletakkan tangan kanannya di dagu, mencoba berpikir akan suatu hal. "Jika memang ucapanmu benar, maka keluarga Zhang akan kesulitan menghancurkan tempat ini karena tidak bisa membedakan mana lacur asli dan mana lacur hasil culik."
"Tenang, mereka dipisahkan di komplek khusus. Tempat mereka berada di Timur distrik."
"Apa nona tahu akan hal ini?"
"Entah, mungkin nanti dia akan tahu."
"Kalau begitu akan kuberitahu."
Mendadak ekspresi Kang Lim menjadi bodoh mendengar hal ini. "Kau sendiri yang bilang bahwa tidak ingin menunjukkan dirimu di hadapan mereka."
"Hehe, ayo ikut aku dan lihat hasilnya."
...****************...
"Bagaimana, tidak buruk bukan?"
"Darimana kau mempelajari ini?" Kang Lim berkali-kali memperhatikan sosok Lin Tian dari atas sampai bawah.
"Guruku yang mengajarinya."
Entah apa yang direncanakan Lin Tian, namun saat ini wujud Pendekar Hantu Kabut itu sudah berubah total. Pakaian yang tadinya berwarna hitam dengan sulaman naga emas di punggung, dia balik kan sehingga hanya menampakkan kain hitam polos saja. Pelindung pergelangan tangan dan topengnya dia lepas.
Rambutnya terurai bebas, wajahnya yang putih pucat itu nampak menyeramkan dengan bekas luka bakar di sebelah kanan wajah. Rambut yang tidak dikuncir itu sengaja ia buat sedemikian rupa sampai membuatnya seperti pengemis kumuh.
Pedangnya di selimuti dengan kain tebal warna coklat. Sehingga jika dilihat sekilas, seolah-olah Lin Tian sedang membawa tongkat dilapisi kain.
"Kau....apa yang kau lakukan?" Kang Lim bingung sekali dengan tindakan Lin Tian.
"Lihat saja. Bukankah tadi sudah kubilang bahwa aku akan memberitahu orang Zhang?"
Lin Tian menyeringai dan tanpa menunggu respon Kang Lim, dia sudah melesat cepat kembali ke distrik merah. Tanpa bicara lagi, Kang Lim melesat cepat mengikuti Lin Tian.
Lin Tian menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk pergi ke Timur distrik dengan kecepatan mengerikan. Saat sudah sampai di sana, Kang Lim berhenti di salah satu genteng bangunan untuk melihat aksi Lin Tian yang sudah mendarat dan duduk bersila di gerbang komplek Timur.
"Apa yang akan bocah itu lakukan?"
Lin Tian duduk dan meletakkan "tongkat" di pangkuannya. Rumah burung yang sudah dibungkus dengan kulit pohon itu ia letakkan di kakinya. Kepalanya menunduk sampai menyentuh dadanya. Sikapnya ini benar-benar seperti pengemis.
"Apa ini? Ada pengemis di sini?" hardik seorang pelacur yang tangannya menggaet tangan pemuda tampan.
"Pergi kau kototan!" bentak pemuda itu dan menendang wajah Lin Tian. Namun pemuda itu tak bergeming, melirik pun tidak. Pandangannya tetap tertunduk ke bawah.
"Habis dua orang itu...habis sudah...." batin Kang Lim dengan wajah pucat.
Akan tetapi ternyata Lin Tian tetap tak bergerak sampai beberapa lama kemudian. Bahkan pemuda itu sudah menarik-nariknya untuk memaksa Lin Tian pergi, namun pemuda itu tetap diam di tempat.
Sampai tiba-tiba, dari arah dimana dua orang pelacur dan pemuda ini datang, terdengar seruan keras.
__ADS_1
"Hei kalian! Apa yang kalian lakukan terhadapnya!" dengan mata melotot lebar, dia mendekati dua orang yang sedang asyik menendangi "pengemis" itu.
"Kau mau apa? Dia pengemis busuk! Daripada mengemis di sini dan tak dapat uang, lebih baik dia kuusir pergi kan? Bukankah aku baik?" bentak si pemuda.
Orang yang baru datang ini mengangkat kaki kanan dan...
"Buaghh"
Dengan telak punggung kakinya menghantam leher kiri pemuda tersebut. Membuatnya terpelanting lalu jatuh ke tanah dengan kepala lebih dulu. Kepalanya berdarah dan dia merintih kesakitan. Pelacur itu menubruk pemuda ini dan mencoba membantunya berdiri.
"Kau...bajingan...apa–"
"Hm...?" orang yang baru saja mengirim tendangan itu mengirim tatapan tajam menusuk. Membuat dua orang itu bergidik dan cepat-cepat pergi dari sana.
"Kau beruntung jembel busuk!"
Bentak pemuda itu dan pergi tertatih-tatih dari sana.
"Hei sobat, apa kau tak mengenal yang perempuan itu? Jika kau sudah kenal, mengapa kau membuat masalah dengan mereka? Apa kau tak takut dengan konsekuensinya?"
Pemuda ini menolehkan kepalanya untuk memandang Lin Tian yang berbicara padanya. Dia cukup terkejut karena mendengar suara dari pengemis itu masih jernih.
"Sepertinya kau seumuran denganku. Kenapa kau mengemis? Apalagi mengemis di sini?" tanya pemuda itu.
"Kau kenal dengan perempuan itu dan kau tak takut mati kah?" Lin Tian mengacuhkan pertanyaan pemuda itu dan malah mengirim pertanyaan balik.
Pemuda itu mengeryitkan kening dan kembali bertanya. "Seperti kau kenal saja dengan wanita itu. Sobat, lebih baik kau segera pergi dari sini karena di sini memang tempat berbahaya untukmu."
Lalu pemuda itu tanpa menoleh lagi pergi meninggalkan Lin Tian seorang diri untuk memasuki komplek Timur.
"Kau tak akan menemukan apa-apa di sana. Tak ada apapun! Mereka-mereka itu adalah para lacur yang dicuri dari desa-desa." Lin Tian berucap cepat saat pemuda itu lewat di sebelahnya.
Pemuda ini terkejut sekali, kewaspadaannya timbul. Dia menyiapkan belati kecil di tangannya dan berbalik cepat untuk memandang tajam pengemis muda itu.
"Apa maksudmu?"
"Pura-pura bodoh?" balas Lin Tian acuh tanpa menolehkan kepala sedikit pun.
"Periksa sendiri jika kau tak percaya." lanjutnya sebelum bangkit dan berjalan pergi dari sana tanpa menoleh lagi.
"Siapa itu?" pemuda yang bukan lain berasal dari keluarga Zhang itu menandang dengan bingung. Lalu dia menuruti ucapan pengemis tadi, memeriksa komplek Timur ini dengan seksama.
Dan entah dengan cara bagaimana, pemuda pasukan Zhang itu berhasil mendapatkan informasi dan membuktikan kebenaran ucapan Lin Tian.
Dia keluar dari komplek itu dengan kebingungan yang terlihat jelas di wajahnya.
"Aku harus segera melaporkan hal ini kepada nona. Tapi siapa dia?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG