
Makin lama, keadaan Zhi Yang semakin memprihatinkan. Kali ini bahkan darah juga keluar dari kedua mata, hidung, dan juga telinga. Entah racun apakah itu.
Si nenek tersebut masih tertawa-tertawa seram, matanya makin liar dan seolah-olah ingin sekali menerkam Zhi Yang.
"Hehehe...gadis manis nan cantik...sudah lama aku tak mendapatkannya. Kali ini pasti ilmuku akan sempurna hahahaha!!!" ucap nenek itu diakhiri dengan tawa menggelegar.
Dia kemudian berjalan mendekati Zhi Yang, lalu menotokkan ujung tongkat ke ulu hati gadis tersebut.
"Ceesss!!"
Ujung tongkat itu melesak kedalam, namun anehnya, sama sekali tidak melukai Zhi Yang. Malah totokan itu mampu menghentikan tubuh gadis itu yang berkelojotan tiada henti.
Begitu Zhi Yang sudah berhenti kejang, karena terlalu banyaknya darah keluar, sehingga membuatnya pucat dan pingsan seketika.
"Khekeh..." nenek itu masih terus terkekeh ketika ia memondong tubuh lemas Zhi Yang.
Kemudian dia menghampiri salah satu sisi ruangan berbentuk bundar itu. Meraba-raba lantai dengan ujung kaki tak bersepatu itu, kemudian di salah satu balok batu, dia menginjaknya. Ternyata itu adalah sebuah tombol yang mengaktifkan alat rahasia.
Seketika, di tengah-tengah ruangan itu, lantai terbelah. Kemudian, muncul sebuah balok batu yang halus sekali, agaknya bentuk batu itu tidaklah alami dan sengaja dibuat.
Nenek ini mendekat kearah batu dan meletakkan tubuh gadis tersebut di atasnya. Membelai wajah halus itu seraya bergumam.
"Sungguh gadis yang malang...aku berjanji ini tidak akan lama, hehehe."
Setelah itu dia melihat keatas, lebih tepatnya melihat bulan. Sambil tertawa keras, dia merentangkan dua lengan dan berseru.
"Hahaha....untuk raja iblis penguasa dunia bawah, aku persembahkan gadis suci ini untukmu. Maka berikanlah aku--"
"Swwuuushhh!!"
Belum juga dia menyelesaikan seruannya, dari arah belakang menyambar angin tajam yang dingin sekali. Sontak nenek ini menghindar dengan cara bergulingan ke kiri.
"Braaakkk!!" balok batu halus itu pecah seketika terkena sambaran angin tersebut. Namun ajaibnya, tubuh Zhi Yang sama sekali tidak terpengaruh, hanya sedikit melayang di udara sebelum kemudian jatuh kembali ke pecahan batu.
"Bangsat!! Siapa yang berani mengacau!!??"
"Kaulah pengacaunya siluman!!" bentak orang yang baru datang itu.
Tanpa aba-aba, dia segera menebaskan pedangnya dengan jurus yang sama, yaitu jurus tebasan jarak jauh seperti sebelumnya.
Nenek itu memutar tongkat menangkis, namun naas, tubuhnya terpental jauh dan menghantam dinding ruangan dengan keras sekali.
__ADS_1
"Kau...bagaimana kau bisa lolos dari pengepungan murid-muridku!!?" teriaknya penuh amarah sambil memegangi dadanya.
"Jangan pernah meremehkan pendekar seperti kami!!" bentak orang tersebut yang bukan lain adalah Lin Tian.
"Kurang ajar, matilahh!!" nenek itu sudah bangkit dan menerjang ke depan.
Lin Tian segera menyambut dan terjadilah pertarungan hebat sekali di ruangan tersebut. Ruangan dengan pencahayaan remang-remang karena hanya diterangi oleh cahaya bulan.
Sesekali bunga api nampak berpijar di sela-sela berkeredapannya senjata Lin Tian dan kepulan asap merah milik si nenek.
Akan tetapi setelah banyak jurus berlalu, nenek itu diam-diam harus mengakui keunggulan Lin Tian. Pasalnya selain pemuda itu tak terpengaruh dengan racun asapnya, permainan pedang yang selalu berhawa dingin itu juga amat lihainya. Membuat ia kerepotan setengah mati.
"Hari ini adalah hari kematianmu iblis!!" Lin Tian berseru seraya menggerakkan pedang berdasarkan jurus Tebasan Awan Mendung.
Nenek itu mendengus dan menangkis, sedikit memandang remeh dengan gerak pedang yang lambat-lambat itu.
Namun sesaat kemudian, dia berseru keras saking terkejutnya begitu melihat pedang yang bergerak lambat itu mampu memotong tongkatnya.
"Sial!!" nenek itu berseru dan melompat kebelakang, menghindari ujung pedang yang hampir menyentuh dadanya.
Setelah bersalto beberapa kali, dia kembali memandang ke depan. Namun matanya melotot lebar begitu dia merasa dadanya tertembus oleh sesuatu yang dingin sekali.
"Matilah...dasar iblis!! Kembalilah ke tempat asalmu!" Lin Tian berucap dingin sambil memperdalam tusukan pedangnya.
Pemuda ini kemudian mencabut pedangnya kasar, membiarkan tubuh tua itu roboh.
Namun kembali ada hal yang mengejutkan hatinya. Dia melihat dari luka pedangnya itu, selain mengucur darah segar, dari dada itu samar-samar juga mengepul asap tipis berwarna hitam. Entah apa itu.
"Benar-benarkah dia itu seorang penyihir? Jika memang iya, apa ini yang orang sebut sebagai kekuatan iblis?" gumam Lin Tian.
Namun dia tak mempedulikan hal itu begitu teringat akan keadaan seseorang di atas balok mulus tadi. Maka segera saja dia menyarungkan pedang dan menghampiri orang tersebut.
Orang itu ternyata masih rebah terlentang dan memejamkan mata. Entah kenapa, rasa khawatir timbul di hati Lin Tian. Pemuda ini sama sekali tidak sadar, bahwa gadis yang dipandangnya itu adalah Zhi Yang, temannya sendiri!!
"Pasti ada cara untuk menghilangkan racun ini, nenek itu pasti menyimpan rahasianya!!" ucap Lin Tian sambil memandang ke sekitar.
Tiba-tiba matanya terhenti di sebuah pintu kecil dari kayu di ujung ruangan. Tanpa pikir panjang lagi, Lin Tian segera menghampiri pintu itu dan membukanya.
...****************...
Perlahan Zhi Yang membuka matanya, darah di kepalanya masih belum kering, namun kabar baik baginya karena darah itu sudah berhenti mengalir.
__ADS_1
Kepalanya terasa sakit sekali dan juga lemas. Tubuhnya masih kaku, otot-otot yang menonjol keluar itu masih terlihat jelas, agaknya racun itu masih bekerja terus. Nyawanya benar-benar di ujung tanduk kali ini, mungkin saat inilah terakhir kalinya bagi Zhi Yang untuk dapat membuka mata.
Diam-diam dia menyesal karena telah sadar dari pingsannya. Dia berpikir bahwa jika senadainya dia pingsan terus sampai mati, maka dia tidak perlu untuk merasakan sakitnya kematian. Namun sekarang dia sudah sadar dan mau tak mau harus merasakan segala rasa sakit itu.
Gadis ini memaksa kepalanya untuk bergerak, memandang sekitar dengan pandangan berkunang. Lalu tatapannya tertuju kepada sebuah pintu yang terbuka. Di dalamnya terdengar suara berisik seperti suara banyak benda yang di lempar ke sembarang arah. Juga beberapa kali terdengar pula suara seorang pria yang mengomel.
"Sialan, dimana sih sebenarnya!!?"
"Di sini....? Tidak ada!!...Di sini....? Bukan juga!! Ah sial, dimana sih penawar itu!? Ayo cepatlah, Nona itu sudah hampir mati!!" demikianlah suara itu terus-terusan mengumpatan.
Zhi Yang yang mendengar ini merasa terharu sekali. Begitu dia mendengar "Nona itu sudah hampir mati" tentu gadis ini tahu yang dimaksud "Nona" itu adalah dirinya. Diam-diam dia berterima kasih kepada si penolong tersebut, sungguhpun sepertinya sudah tak akan sempat lagi.
Namun sedetik kemudian, dia mengerutkan kening begitu terdengar suara pria itu berseru nyaring saking senangnya.
"Nah ini dia!!"
Bukan seruan itu yang membuatnya kaget, namun suara itu yang terdengar sangat familiar di telinganya. Mirip suara dia! Pikirnya.
Kemudian dugaannya ini semakin menguat begitu orang tersebut keluar dari ruangan dan Zhi Yang mampu melihat jelas siapa adanya sosok tersebut.
"Lin...Tian...?" gumamnya lirih sekali. Saking terkejutnya, dia sampai mengangkat kepala untuk memandang lebih jelas. Tindakannya ini membuat racun di tubuhnya segera menyerang dan menimbulkan hawa panas sekali.
"Aghh...panas..." gumamnya dan kembali menjatuhkan kepala.
...****************...
Lin Tian segera berlari kearah gadis tersebut begitu mendengar keluhan lirih barusan. Sedikit banyak menjadi lega hatinya begitu melihat gadis itu masih hidup.
"Bertahanlah Nona, aku akan menolongmu!" ucap Lin Tian di dekatnya sambil membolak-balikkan buku yang baru saja ia temukan di ruang dalam.
"Panas...sekali...uh..."
"Tahan Nona, dan ikuti setiap ucapanku!" Lin Tian kembali berkata sambil mengangkat kedua pundak gadis tersebut untuk mendudukkannya. Kemudian pemuda ini duduk bersila di belakangnya dan menempelkan kedua telapak tangan di punggung.
"Melihat dari pakaianmu, aku tahu bahwa kau seorang pendekar Nona. Maka dari itu, tolong seraplah hawa bulan sebanyak-banyaknya, kemudian aku akan mengalirkan tenaga dalamku ke tubuhmu untuk mengusir racun. Jangan menolak tenaga dalam dariku, sehebat apapun rasa sakit yang kau rasakan. Kau sudah paham Nona?"
Gadis itu hanya mengangguk lemah. Kemudian Lin Tian segera menjalankan proses pengusiran racun itu menurut buku yang dibacanya.
"Semoga cara ini berhasil. Jika gagal, aku merasa racun itu akan segera membunuhnya dan sudah tak ada jalan lain lagi untuk menyelamatkannya!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG