Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 267. Kegagalan


__ADS_3

Lin Tian sedang tak ingin melakukan apa-apa ketika ada seorang pelayan kepala datang menghadap ke kediamannya dengan sikap hormat. Namun di matanya menyembunyikan pancaran misterius yang Lin Tian tak tahu dan mengacuhkannya.


Dia juga merasa sedikit heran karena jarang sekali melihat pelayan kepala datang kepadanya membawa kabar. Posisi paling tinggi seperti itu apakah pantas melakukan pekerjaan ini? Bukankah seharusnya dia bisa menyuruh bawahannya?


"Ck, ada apa ini?" firasatnya tidak enak ketika matanya melihat pelayan itu berjalan perlahan dari kejauhan.


"Hm?" pemuda itu bergumam ketika pelayan tersebut sudah tiba di hadapannya, dia sedikit mengangkat muka dan pandangannya jelas menuntut akan jawaban.


"Maafkan kelancangan saya yang tiba-tiba datang tuan. Tapi sekarang, ketua memanggil anda."


Hanya itulah perkataan yang diucapkan pelayan itu sebelum berbalik dan pergi dari sana tanpa pamit. Tentu saja Lin Tian makin bingung dan melongo akan hal ini.


Biasanya, di organisasi ini semua orang sudah tunduk dan hormat padanya. Sekarang hanya seorang kepala pelayan berani berbuat tidak sopan! Kurang ajar sekali, apakah hanya karena sedikit kepandaian silat dia bisa bersombong diri di sini? Tanyanya dalam hati penuh penasaran.


Malas sekali rasanya untuk meninggalkan kursi depan rumah yang sudah terlanjur nyaman ini. Lin Tian bangkit dan mengambil pedangnya di dalam, menyelipkan pada ikat pinggang dan pergi dari sana menuju gedung utama. Tak lupa pula dia mengenakan topengnya.


"Hm....apa-apaan ini?" hatinya bertanya-tanya saat melihat suatu kejanggalan yang teramat janggal di sekitarnya. Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling hanya untuk menemukan pemandangan serupa.


Selama perjalanan, inderanya yang peka memgatakan bahwa dia sedang diikuti dan diawasi, Lin Tian mencoba menghiraukan itu tapi tetap saja merasa jengah. Akhirnya dia pura-pura tidak tahu dan terus melangkah.


Memasuki wilayah markas utama, perasaannya makin tak karuan karena sepasang matanya melihat dengan jelas bahwa di sana-sini terdapat banyak pasukan Iblis Tiada Banding yang menatapnya tajam. Entah apa maksudnya itu dia tidak tahu yang jelas pasti bukan sesuatu yang baik.


Melangkah semakin jauh, orang-orang ini sudah tidak sembunyi-sembunyi lagi. Mereka dengan terang-terangan berdiri berjajaran membentuk sebuah barisan rapat yang mengurung Lin Tian. Kali ini, sudah tidak mungkin lagi bagi Lin Tian untuk pura-pura tidak tahu. Maka dia berteriak nyaring.


"Kejutan apa ini? Mengejutkan sekali!"


Tak ada yang berani menjawab atau memberi tanggapan kecuali hanya tatapan tajam dan terkesan penuh kemarahan. Bahkan tak jarang pula terdengar orang mengumpat atau menggunjing Lin Tian.


Sampai sini Lin Tian yakin benar bahwa ada yang tidak beres. Dia sudah siap sedia, apapun yang terjadi akan dihadapinya kali ini. Namun perasaan yang paling buruk adalah, dia merasa bahwa tindakannya dan Xin Kiu selama ini sudah terkuak.


"Wutt–wutt–wutt!"

__ADS_1


Lin Tian menghentikan langkah ketika indera penglihatnya menangkap beberapa tubuh berkelebatan menuju kemari. Kali ini dia sedikit melebarkan matanya karena tahu siapa yang datang.


Mereka tak lain adalah Zhang Heng beserta empat pembantunya yang lain. Namun hal itu tidaklah mengejutkan Lin Tian kecuali satu hal yaitu seseorang yang ditarik oleh A Jiu seperti menarik kucing. Kerah belakangnya diangkat.


"Akhirnya kau sampai Lin Tian."


Lin Tian tak menanggapi ucapan Zhang Heng. Matanya terus terfokus pada seseorang yang dilemparkan dengan kasar oleh A Jiu kearahnya.


"Xin Kiu...." gumamnya lirih melihat sahabatnya itu dalam keadaan tak sadar. Lebih-lebih lagi, kaki kirinya sudah buntung dengan darah mengering yang dibalut kain tebal.


Lin Tian mengedarkan pandangannya dengan tajam, sinar kemarahan terpancar jelas di matanya dan hal ini tanpa dapat dicegah lagi mampu membuat seluruh pasukan bergidik ngeri. Tak jarang pula sampai ada yang termundur satu langkah.


"Mata setan...." gumam salah seorang tanpa sadar.


Zhang Heng mengetahui hal ini, dia pun merasakan adanya sesuatu yang berbeda dari dalam diri Lin Tian. Hatinya juga sedikit terguncang saat pemuda itu menampakkan ekspresi yang demikian menakutkan.


Dia melirik kepada empat pembantunya untuk memberi tanda agar bersiap-siap. Mereka mulai bersiap dengan senjata masing-masing. A Yin dengan pecut dan A Tong dengan pedang, sedangkan A Jiu serta A Liu bertangan kosong.


"Sepertinya permainanku sudah cukup. Yah...cukup memuaskan karena aku bisa mengadu domba antara murid bodoh dan guru tamak. Tidak buruk...."


Zhang Heng menggertakkan giginya, matanya berkilat marah dan sontak dia berseru keras karena kemarahannya.


"Bunuh keduanya!!"


"Hiaaaa!!"


Yang pertama kali maju adalah A Jiu beserta saudara-saudara. Karena maklum Lin Tian lawan lihai, mereka tak segan-segan untuk mengeroyok. Walaupun sejatinya mereka itu tak ada yang tahu bahwasannya kekuatan Lin Tian sejajar dengan Zhang Heng.


Orang-orang yang lain memang menunggu keempat orang itu maju duluan. Maka begitu melihat jagoan mereka berseru dan menerjang, semua orang lantas maju mengeroyok Lin Tian.


Pemuda itu cepat menggerakkan tangan kanan dan terciptalah gulungan sinar perak kebiruan indah sekali. Itulah Pedang Dewi Salju kebanggaannya.

__ADS_1


Saat Empat orang tua itu datang dekat, didahului pecut A Yin yang menyambar-nyambar, Lin Tian menebaskan pedangnya diiringi pengerahan hawa sakti dingin luar biasa.


"Trang!" pecut lentur setajam pedang milik A Yin membalik seketika. Membuat wanita itu berseru kaget dan tangannya terasa kebas.


Serangan tiga orang lain tak kalah ganas. Mereka menerjang dari kanan, kiri dan depan. Tapi Lin Tian tidak kehabisan akal. Pemuda ini cepat merendahkan kuda-kudanya sambil memutar pedang untuk melindungi seluruh tubuh.


"Trang-trang!"


"Aiihh!!"


Dua kali tebasan A Tong berhasil dipatahkan, sedangkan A Jiu dan A Liu terpaksa menarik pulang pukulannya karena kalau tidak, dapat dipastikan lengan mereka putus terbabat pedang berkilat-kilat itu.


Melihat ada kesempatan, Lin Tian menggendong Xin Kiu di pundak kiri dan berseru lantang. "Majulah, aku tidak takut!!"


Saat itulah pertempuran hebat terjadi. Ratusan orang mengeroyok seorang pemuda yang hebat sekali gerakannya, hanya nampak bayangan hitam berkelebat ke sana dan sini, menebar maut hingga tak terhitung jumlahnya.


Tapi karena dia bertarung sambil melindungi Xin Kiu, terpaksa Lin Tian tidak bisa mengeluarkan potensi maksimalnya. Dia bertarung sambil mundur kearah pantai tempat perahu-perahu dilabuhkan. Tak ada pilihan selain kabur untuk saat ini, Xin Kiu harus hidup untuk melapor pada kaisar!


Tapi walaupun dengan membopong temannya yang pingsan, Lin Tian tak kehabisan akal. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari terjangan empat bersaudara itu. Dia selalu pergi jauh dari mereka dan jika ada salah satu serangan dari mereka melesat kearahnya, Lin Tian cepat menyelinap dan menggunakan tubuh pasukan lain untuk menjadi perisai.


"Kejar!!" Zhang Heng hilang kesabaran. Dia masih terlalu tinggi hati untuk turun tangan sendiri.


Tapi inilah kebodohan serta kesalahan terbesarnya, karena dia tak ikut mengejar, maka Lin Tian tak begitu kesulitan untuk mencapai bibir pantai dan naik ke salah satu perahu.


Begitu tubuhnya naik, cepat ia rebahkan Xin Kiu dan mendorong air laut dengan tangannya. Hasilnya menakjubkan sekali, perahu itu melesat cepat bahkan lebih cepat dibanding dayungan sepuluh orang!


"Kejar!! Jangan sampai lolos!" kali ini Zhang Heng ikut baik ke salah satu perahu pula bersama beberapa anggota lain. Dia melihat pedang putih Lin Tian sudah berwarna merah sekali, tahulah bahwa korban di pihaknya tidak sedikit.


"Sial....sialan....kenapa harus gagal di saat seperti ini!!?"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2