
Orang-orang yang mengejar rombongan Lin Tian itu sudah sampai di bawah. Namun mereka harus merasa kecewa begitu melihat bahwa orang yang sedari tadi mereka kejar sudah lenyap.
"Tuan, saya tadi melihat mereka menyebrangi sungai." ucap salah satu orang kepada pemimpinnya.
"Sialan, jika seandainya sungai ini tidak begitu besar dan ganas alirannya, tentu kita akan mengejar mereka kesana!" jawab pemimpin pengejaran dengan geram.
"Ah sudahlah, tak perlu kita kejar mereka. Ayo kita kembali!" akhirnya orang itu berkata setelah menyadari tidak ada jalan lain lagi untuk menyebrang.
...****************...
"Ini, aku membawa beberapa makanan." kata si penolong mereka sembari membawa beberapa ekor ayam hutan. Di sebelahnya juga terdapat Lin Tian yang ikut membantu mencari kayu bakar.
"Tuan, dia ini adalah Hantu Seratus Lengan." celetuk Lin Tian tiba-tiba kepada pemimpin Elang Bayangan.
Mereka semua nampak terkejut. Maka segera saja puluhan orang ini berdiri dan membungkuk hormat.
"Ah...ternyata yang telah menolong kami adalah Hantu Seratus Lengan, pendekar besar kelahiran Utara. Sungguh amat beruntung. Terima kasih Tuan." ucap pemimpin itu memberi hormat.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Siang Ki, pemimpin Perguruan Elang Bayangan."
"Suatu kehormatan besar bisa bertemu dengan anda." balas Hantu Seratus Lengan sambil menundukkan badan.
"Baiklah, ayo kita sarapan!!" seru Lin Tian penuh semangat sambil meletakkan kayu-kayu itu dan mulai membuat api.
Pagi hari itu, mereka makan bersama di tengah hutan sambil bercakap-cakap. Tapi ada satu hal yang cukup luar biasa sekali. Pasalnya, Lin Tian saat ini memakan makanannya dengan topeng terlepas! Padahal tindakannya ini belum pernah ia lakukandi depan orang baru.
"Tuan, bagaimana ceritanya sampai-sampai perguruan besar Elang Bayangan bisa hancur?" tanya Lin Tian di tengah-tengah makannya.
"Hah....tak ada cerita yang harus di ceritakan. Beberapa minggu lalu, mereka tiba-tiba saja menyerbu markas kami dan menghancurkan semuanya. Hanya kamilah yang selamat." jawab Siang Ki lemah.
Lin Tian mengerutkan kening, kemudian dia melirik kearah Ang Bei yang sedari tadi kaki tangannya diikat di batang pohon besar.
"Hei babi tua, apa kau yang membeberkan informasi dan seluk beluk mereka!??" tanya Lin Tian sinis.
"Hmph, bukan urusanmu bocah!"
__ADS_1
"Kurang ajar!! Sudah jadi aib keluarga, sekarang malah hendak berlagak! Makan ini!!" bentak Lin Tian seraya melemparkan tulang ayam kearah matanya.
"Craatt!! Aaarrrgghh!!" Ang Bei menjerit keras dan meronta-ronta begitu tulang ayam itu menancap tepat di mata kirinya.
"Tuan, ijinkan kami memberi sedikit hukuman." kata Siang Ki yang sudah siap dengan tulang ayamnya.
"Jangan Tuan, dia tak boleh mati sebelum bertemu dengan Nona." ucap Lin Tian mencegah Siang Ki.
"Tuan eh...Hantu, bisakah aku minta tolong?" Lin Tian berkata dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Hantu Seratus Lengan yang sedang duduk menyendiri jauh dari kerumunan itu segera menoleh. Kemudian berdecih dan mengomel.
"Cih, siapa yang kau panggil hantu? Kita itu sama-sama hantu bocah!!"
"Hehe....maaf, tapi aku tidak tahu harus memanggilmu bagaimana." balas Lin Tian sambil tersenyum getir.
"Zhi Yang, panggil aku Zhi Yang. Namamu itu kalau tidak salah Lin Tian bukan? Aku mendengarnya dari gurumu ketika di Perguruan Tongkat Bambu Kuning waktu itu. Kalau begitu, aku akan memanggilmu Lin Tian." jawabnya setelah menghabiskan daging terakhir dari paha ayam di tangannya.
"Haha...ternyata namaku sudah kau ketahui tanpa perlu kuperkenalkan, haha!"
"Tak usah banyak cerewet! Kau mau minta tolong apa?" Zhi Yang berkata ketus.
"Craaapp!!!"
Dengan secepat kilat Zhi Yang sudah mencabut tulang tersebut dan membuangnya. Membuat Ang Bei berseru perlahan dan terengah-engah.
Lin Tian mengangguk puas dan kembali bertanya. Kali ini dengan bentakan mengguntur.
"Katakan!! Apa benar kau dalang dibalik semua ini!? Apa rencanamu dengan keluarga Zhang!? Apa yang akan kalian lakukan begitu keluarga Zhang hancur!??"
Mendengar ini, hati Zhi Yang terasa bergetar. Diam-diam dia merasa ngeri akan tekanan dari suara Lin Tian barusan.
"Ampun....s-sebenarnya, keluarga Zhang adalah keluarga yang menjadi ancaman paling besar bagi Aliansi. Mengingat akan keberadaanmu, Nona Zhang dan beberapa pendekar Utara lainnya, Aliansi benar-benar terancam." jawab Ang Bei takut-takut.
Memang ketakutan Ang Bei ini bukanlah sandiwara, apalagi ketakutannya akan para pendekar Utara, hal itu wajar. Pasalnya, terdapat perbedaan signifikan diantara dunia persilatan wilayah Selatan dan Utara.
__ADS_1
Jika di wilayah Selatan ini, banyak sekali ditemui pendekar dimana-mana, baik itu dari kaum putih maupun hitam. Namun berbeda dengan di tanah kelahiran Lin Tian, yaitu di Utara.
Di sana, pendekar juga banyak namun jika dibandingkan dengan Selatan, jumlah di Utara sana masih kalah jauh. Akan tetapi, kekuatan setiap pendekar di Utara sana sangat kuat. Bahkan rumor mengatakan, jika lima orang anggota Raja Dunia Silat yang pernah menjagoi seluruh daratan bertahun-tahun lalu, kesemuanya berasal dari Utara.
Hal ini makin diperkuat dengan kemunculan Pendekar Hantu Kabut, Hantu Seratus lengan dan Kakek Lengan Sakti, yang juga berasal dari Utara.
"Lalu kenapa kalian menghancurkan Perguruan Elang Bayangan!?"
"I-itu karena, markas mereka terletak tak begitu jauh dari Kota Sungai Putih, tempat keluarga Hu berada. Dan jika Aliansi berhasil menduduki markas tersebut, Aliansi akan lebih mudah menguasai keluarga Hu yang masih dalam masa pemulihan setelah pergantian pemimpin."
Pucat wajah Lin Tian mendengar ini. Seketika dia teringat akan Hu Tao, saudaranya. Jika benar Aliansi akan menyerbu kesana, sungguh pun mereka mungkin sekali akan dibantu oleh Empat Dewa Mata Angin yang menjadi guru Hu Tao, namun rasanya tak mungkin untuk menghadapi penyerbuan ribuan pendekar Aliansi.
Siang Ki dan murid-muridnya yang mendengar hal itu juga merasa geram. Tanpa sadar, mereka telah mengepalkan tangan erat-erat, siap untuk memecahkan kepala Ang Bei.
"Ternyata, semua ini berawal dari keluarga Zhang." gumam Lin Tian sambil menundukkan kepala. Nampak kesedihan terbayang jelas di wajah tampannya.
"Lin Tian, kau jangan salahkan dirimu sendiri seperti itu. Dia ini yang salah karena telah mengkhianati keluarga." tiba-tiba Zhi Yang berkata.
Lin Tian tak menanggapi. Pemuda ini hanya mengepalkan tangan kemudian terdengar dia berkata tegas.
"Kita harus segera pulang kerumah!"
...****************...
Pagi hari itu, keluarga Zhang dikejutkan dengan kedatangan seorang utusan kaisar yang secara tiba-tiba datang berkunjung. Utusan itu berkata bahwa dia membawa surat dari kaisar yang teramat penting.
"Ini penting sekali Nona, sangat penting malah. Ketahuilah bahwa kalian orang-orang dari keluarga Zhang, sudah dianggap sebagai bagian dari Kekaisaran Chu. Maka dari itu, Yang Mulia mengharuskan kalian semua mengetahui kabar mengejutkan ini." antara lain sang utusan itu berkata.
"Kabar apakah itu Tuan, sampai-sampai anda datang dengan tiba-tiba dan tanpa pengawal sedikitpun?"
"Ini Nona, silahkan anda baca." jawab utusan tersebut seraya menyodorkan gulungan kertas yang diikat dengan tali pita emas.
Zhang Qiaofeng menerima dan membukanya. Zhang Hongli yang berada di sampingnya juga ikut melihat. Kakek dan cucu ini segera membelalakkan matanya begitu membaca serangkaian huruf-huruf dalam surat tersebut.
"Apa....!? Tidak mungkin...."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG