Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 44. Ayah dan Anak 2


__ADS_3

Sudah puluhan jurus banyaknya Hu Tao dan ayahnya beradu kepandaian. Akan tetapi sedari tadi pemuda albino itu terlihat hanya mampu bertahan menghadapi terjangan Hu Kai.


"Tring-tring...aakkhh!!"


Tepat pada jurus ke lima puluh, Hu Tao terlempar jauh ke belakang setelah berhasil menangkis hantaman pedang Hu Kai. Sedetik kemudian, Hu Kai sudah melompat maju hendak mengirimkan serangan terakhir.


Dengan beberapa kali melakukan gerakan salto, Hu Tao berhasil mendarat sempurna. Ketika dirinya memandang, pemuda ini terkejut melihat betapa ayahnya sudah berada dekat di depnnya dan bersiap menebaskan pedang.


Cepat ia memutar kedua belatinya untuk menghadapi tebasan pedang itu.


"Trang"


Terlihat bunga api berterbangan ketika pedang itu tertangkis oleh sepasang belati Hu Tao. Tampak wajah pria tua itu menjadi merah padam membayangkan kemarahan yang teramat sangat.


Kemudian, dari kerongkongannya terdengar sebuah suara yang sangat mengerikan. Hal ini sontak membuat Hu Tao terkejut dan beberapa orang yang berada di dekatnya menjadi ngeri.


Inilah jurus istimewa dari Hu Kai yang bernama "Suara Setan Penggetar Kalbu". Suara gerengan ini dipenuhi dengan hawa tenaga dalam dan mampu membuat seseorang yang kurang tinggi ilmunya menjadi pening. Bahkan jika ilmu ini berhasil disempurnakan, penggunanya bisa membuat pikiran lawan menjadi kacau bagaikan orang gila.


Untung bagi Hu Tao, bahwasannya ayahnya itu masih menguasai tahap awal dari ilmu Suara Setan Penggetar Kalbu. Bahkan bisa dikatakan kalau orang tua itu masih menguasai dasarnya saja. Jadi jurus ini tidak berefek banyak terhadap Hu Tao sungguhpun mampu membuat pemuda itu sedikit pening.


"Grrrrrrr...." terdengar suara gerengan mengerikan dari mulut Hu Kai.


Hu Tao cepat mengalirkan tenaga dalamnya menuju kepala untuk melindungi otak. Karena dia tahu betul, bahwa sesungguhnya ilmu itu adalah sebuah ilmu suara yang menyerang melalui pendengaran dan langsung menembus otak.


Sedetik kemudian, dengan masih mengeluarkan gerengan itu, Hu Kai sudah melompat kembali untuk membunuh anaknya.


Hu Tao pun tak tinggal diam, dengan tangkas ia meloncat kedepan menyambut serangan ayahnya.


...****************...


Di lain sisi pertempuran, Lin Tian bersama keempat temannya masih bertempur hebat melawan Sin Cia dan Sin Nia.


Dua orang gadis itu melayani gempuran dari keempat sisi sambil tertawa cekikikan dengan pandang mata liar dan mengerikan. Gerakan mereka sangat teratur dan saling melengkapi, ditambah kuku beracun itu, tentu hal ini membuat kelima orang pengeroyok kerepotan bukan main.


"Hik-hik hanya segini kemampuanmu Dewa Selatan? Terima ini!!" seru Sin Nia sembari mengirimkan tusukan jari tangan kearah dada biksi tua itu.


Dengan gerakan yang amat cepat dan kuat, Dewa Angin Selatan telah mengirim totokan kearah pergelangan wanita tersebut.

__ADS_1


Menyadari hal ini, dengan cepat Sin Nia menarik tangannya dan melanjutkan serangan kearah kiri untuk menahan serangan Lin Tian.


"Tring"


Lin Tian membolatkan matanya kaget. Dia kaget sekaligus heran melihat seorang wanita yang dipanggil Sin Nia itu mampu menahan laju pedangnya tanpa melirik sedikitpun. Padahal tadi tepat sebelum Pedang Dewi Salju mengenai tangannya, wanita cantik itu masih memandang kearah Dewa Angin Selatan. Hal ini membuktikan bahwa kepandaian dan kepekaan Sin Nia sudah mencapai level yang amat tinggi.


Lin Tian merasakan ancaman bahaya begitu pedangnya tertangkis. Dia hendak melompat ke belakang untuk mengambil jarak, namun terlambat!! Tangan kiri wanita itu sudah menusuk tepat menuju ulu hatinya.


Jarak antara kuku jari itu dan tubuhnya sudah demikian dekat, tak mungkin untuk mengelak atau menangkis lagi. Lin Tian kemudian hanya mampu memejamkan mata dan pasrah.


"Swuusshhh...." terdengar suara angin menyambar tepat di depan Lin Tian. Pemuda itu terkejut karena dirinya tidak mendapat luka apa-apa. Padahal jelas tadi nyawanya sudah berada diujung tanduk, kalaupun selamat seharusnya dia pasti mengalami luka hebat.


"Kaliaannnn.....!!" terdengar suara Sin Nia yang mengerikan. Hilang sudah semua pesona wanita dan suaranya yang merdu merayu-rayu. Digantikan dengan sesosok wanita yang terlihat bengis dan kejam.


Ternyata serangan angin kencang tadi berasal dari gabungan tetua pertama, keempat dan keenam. Mereka telah menyatukan tenaga untuk membebaskan Lin Tian dari tangan maut.


Akan tetapi, dengan kecepatan yang sukar diikuti pandang mata, di belakang para tetua itu sudah berkelebat bayangan seseorang yang bukan lain adalah Sin Cia. Ketiga tetua tadi memang sengaja mengabaikan wanita satu ini untuk menyelamatkan Lin Tian. Karena itulah melihat ada sebuah peluang besar, Sin Cia tak ingin menyia-nyiakannya.


"Mati!!" teriaknya yang tak kalah bengis dengan kakaknya.


"Deeesss...Gaaahh!!"


Tadi, ketika Lin Tian sudah sadar jika ada yang menolongnya, langsung saja bangkit dan mengirim pukulan jarak jauh untuk menghalau serangan Sin Cia.


Begitupun dengan Dewa Angin Selatan. Biksu ini malah hebat, dia menghentakkan tangan kanan kearah Sin Cia dan menghentakkan tangan kiri kearah Sin Nia yang sudah menerjangnya. Sehingga dirinya mampu menghalau dua serangan sekaligus.


Tak terasa setelah tiga puluh menit pertempuran berlangsung, pihak Hu Kai sudah banyak yang tewas. Sedangkan di pihak Hu Tao, sejauh ini yang sudah meregang nyawa hanyalah berjumlah empat belas orang.


Hal ini wajar, karena pasukan Hu Tao mayoritas berperang menggunakan kuda, sehingga hal ini menyulitkan pasukan Hu Kai.


Ditambah, karena pasukan Hu Tao berperang dengan perasaan marah, dendam dan benci, sehingga hal itu secara tidak sadar telah meningkatkan kekuatan mereka berkali-kali lipat sungguhpun hanya bersifat sementara.


Setan Kembar yang melihat hal ini menjadi marah. Lalu mata mereka melirik ke sana-sini dengan tatapan bringas, kemudian bola mata jernih itu berhenti kepada pertempuran Hu Kai dan anaknya.


Mereka terpaku memandang kearah Hu Kai yang masih bertempur dengan memaki-maki itu. Seakan-akan sudah tahu akan pikiran masing-masing, setelah saling pandang sejenak, sedetik kemudian mereka sudah melompat menghampiri Hu Kai.


"Aaaaarrrghhh!!!!" terdengar teriakan menyanyat hati dari mulut Hu Kai.

__ADS_1


"Apa-apaaan!!?" teriak Hu Tao yang terkejut melihat pemandangan di hadapannya.


Dia melihat bahwasannya kedua wanita kembar itu menggigit leher dan pundak ayahnya. Kemudian kedua setan itu menyedot setiap darah yang keluar dari tubuh ayahnya yang terluka akibat luka gigitan itu.


Lin Tian, Dewa Angin Selatan dan Hu Tao yang melihat hal ini, spontan meloncat kedepan untuk menghentikan setan kembar itu. Akan tetapi kenyataan berkata lain. Bukan setan kembar itu yang terserang, malah ketiga pria itu yang terpental akibat dorongan salah satu tangan dari keduanya.


"Dasar setan!!" bentak Lin Tian geram.


"Hehe...kau sudah tak berguna Hu Kai. Menghadapi bocah ini saja tak mampu, lebih baik kau mampus dengan menyumbangkan darah segar ini. Hehe...terima kasih atas semua malam-malam yang telah kita lewati bersama, itu sangat mengasyikkan...hik-hik." ucap Sin Nia di tengah-tengah kegiatannya menghisap darah.


"Hm...ini sangat manis!! Ternyata walau sudah tua, kau boleh juga." seru Sin Cia.


Hu Tao yang melihat hal ini menjadi marah bukan main. Kemudian dia berseru, "Lepaskan ayah!!"


"Bruukkk"


"Ambil itu!!" ucap Sin Cia setelah melempar tubuh Hu Kai.


Tubuh Hu Kai sudah tergeletak lemas di bawah kakinya. Wajahnya pucat pasi dan matanya melotot lebar seolah-olah hendak meloncat keluar dari tempatnya.


"Ayaaahh!!" pekik Hu Tao histeris.


Setelah melempar tubuh itu, Sin Nia dan Sin Cia ternyata sudah pergi dari situ seakan-akan tak pernah berada di sana sebelumnya.


Tepat dengan teriakan histeris Hu Tao, pertempuran sudah mencapai puncak dan orang terakhir dari pihak Hu Kai telah terpotong kepalanya oleh salah satu petugas keamanan.


Tak ada suara apapun di sana setelah kematian orang terakhir itu. Kecuali suara isak tangis Hu Tao dan siulan dari rumpun bambu yang tertiup hembusan angin lembut.


Begitupun dengan Lin Tian. Dia sebenarnya hendak mengejar kedua setan itu namun langkahnya berhasil dihentikan oleh Dewa Angin Selatan. Biksu itu berkata bahwa kepandaian Si Cantik Setan Kembar bukanlah sesuatu yang mampu untuk dia kalahkan. Kemampuan dua orang itu sudah teramat tinggi sehingga biksu itu melarang Lin Tian untuk bertindak sembrono.


"Berakhir sudah..." batin Lin Tian seraya mendongakkan kepala menatap langit biru di atas sana.


"Kau lihat Tuan Xiao, aku telah berhasil menghentikan ketakutanmu. Karena itu, sekarang kita impas."


Sampai lama keadaan hening sunyi seperti itu. Dan selama itu pula tangis Hu Tao tiada berhenti menangisi kepergian ayahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2