Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 185. Orang Yang Ditunggu


__ADS_3

"Kakek, kau hendak membawa kami kemana?" tanya Xiao Niu setengah berteriak kepada Chong San yang berlari cepat sampai seperti terbang itu.


"Ke rumahku." jawab singkat Chong San tanpa mengalihkan pandangannya.


Inilah momen yang paling ditunggu-tunggu oleh Chong San, kehancuran keluarga Xiao. Dia bukan menunggu kehancuran keluarga itu, melainkan menunggu saat-saat ini, saat dimana Chong San mengambil Xiao Niu dari kediaman Xiao.


"Keluarga Hu sudah beres, seharusnya setelah empat kakek itu mengabari berita duka, dia akan membantu Zhang. Urusan Lin Tian sudah selesai, dan saat ini Xiao Niu sudah berada di tanganku. Hanya menunggu perkembangan selanjutnya." batin Chong San.


Sebenarnya, ada satu hal yang tidak diketahui oleh semua orang di saat Empat Dewa Mata Angin membantu keluarga Zhang untuk menahan gempuran Iblis Tiada Banding.


Ketika melihat muridnya, Hu Tao mati, keempat orang ini menjadi berduka sekali dan berniat segera pulang ke kediaman Hu untuk mengabarkan berita itu. Namun sebelum itu, atas perintah Zhang Hongli, Minghao memohon kepada mereka untuk membantu penyerbuan ke hutan kabut. Mereka pun menyanggupi.


Akan tetapi ada kekuatan aneh sesaat setelah mereka menyanggupi permintaan itu. Kekuatan aneh ini berasal dari suara tongkat bambu yang dipukul-pukulkan. Suaranya keras sekali namun entah kenapa suara ini membuat keempat datuk putih itu berubah pikiran dan menarik kata-katanya. Memilih pulang untuk menemui keluarga Hu dan mengabarkan kematian Hu Tao.


Siapa lagi yang melakukan hal itu jika bukan kakek aneh Chong San ini. Dia sengaja membelokkan niat awal Empat Dewa Mata Angin menggunakan ilmu sihirnya yang mampu menghipnotis orang lain.


Jika seandainya empat datuk itu ikut bertempur di hutan kabut, besar kemungkinan keluarga Zhang menang telak dan Lin Tian tidak "mati", sehingga semuanya akan berantakan. Alur akan berbelok.


Dan seperti dugaan Chong San. Setelah Empat Dewa Mata Angin mengabarkan kematian Hu Tao, tetua pertama yang memiliki posisi tertinggi saat itu memutuskan untuk membubarkan keluarga Hu. Dan karena mengingat Hu Tao bersaudara dengan Lin Tian, akhirnya dia memutuskan untuk meleburkan keluarga Hu ke keluarga Zhang.


Atas persetujuan kaisar, mulai saat itu keluarga Hu bergabung dengan keluarga Zhang dan menjadikan keluarga baru itu semakin kuat.


Hal ini jugalah yang menjadi penyebab utama mengapa Zhang Qiaofeng mendapat julukan sebagai Si Gadis Hantu.


Setelah beberapa minggu kematian Lin Tian, dia berlatih keras di bawah bimbingan Zhang Hongli. Dia juga mendapat gemblengan dari keempat Dewa Mata Angin itu yang menurut pandangan mereka, Zhang Qiaofeng ini adalah "pengganti" dari Hu Tao.


Karena itulah, seperti dijelaskan di bagian depan, Zhang Qiaofeng berubah menjadi seorang pendekar wanita sakti yang kepandaiannya sukar dicari banding. Hingga mendapat julukan Si Gadis Hantu yang tak lain tak bukan karena bimbingan kelima guru saktinya.


Chong San membawa keduanya menuju ke rumah gubuknya yang dijadikan tempat tinggal sekaligus tempat untuk melatih muridnya, Lin Tian.

__ADS_1


Di sana dia menggembleng Xiao Niu dan Su Xiang atau bibi Su dengan ilmu-ilmu silat tingkat tinggi. Sejak saat itu, mereka berdua tidak pernah lagi nampak di dunia ramai.


...****************...


Lin Tian menempuh perjalanan selama berhari-hari. Dalam perjalanannya itu, dia selalu menyembunyikan diri dari orang-orang. Kalau pun keluar mungkin saat dia singgah beberapa saat di desa untuk membeli makanan atau keperluan lain.


Sebenarnya dia bisa saja berburu hewan hutan, namun jika dia bosan makan dan tidur di alam liar, dia akan singgah di desa terdekat untuk sekedar menginap satu malam. Tak lupa pula saat tiba di desa-desa, topeng setengah wajahnya itu ia lepas.


Saat ini, sudah genap satu minggu perjalanan sejak dia meninggalkan gubuk gurunya. Dia sengaja melakukan perjalanan dengan berjalan kaki tanpa pengerahan ilmu meringankan tubuh karena memang dia tidak ingin terburu-buru dan ingin menikmati pemandangan alam.


"Akhirnya sampai juga..." gumamnya ketika tiba di kaki Pegunungan Tembok Surga.


Benar-benar aura yang sangat tidak asing baginya. Pohon-pohon tinggi besar dan hawa sejuk menenangkan, kicauan burung yang semakin dalam memasuki hutan akan terdengar semakin keras, membuat dia serasa kembali ke masa lalu.


Setelah beberapa saat berjalan, akhirnya dia melihat puncak dari salah satu gunung di Pegunungan Tembok Surga yang tinggi sekali. Puncak itu adalah puncak terakhir yang ia daki sebelum turun gunung ke Selatan.


Karena tidak ingin terlalu santai lagi, akhirnya dia memutuskan mulai dari sini akan mengerahkan seluruh kepandaian ilmu meringankan tubuhnya. Dengan ilmu langkah kilat dan bantuan hawa sakti, pendekar muda ini melesat cepat sekali mendaki gunung itu.


Hanya setengah hari lamanya Lin Tian mendaki dari kaki pegunungan sampai puncak tertinggi penuh salju itu. Padahal saat pertama kali dia turun gunung, dari gunung tertinggi itu sampai batas luar Pegunungan Tembok Surga harus menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga hari. Hal ini membuktikan bahwa ilmu langkah kilat milik Chong San bukanlah main-main hebatnya.


Setelah beberapa menit, akhirnya dia tiba di puncak dan apa yang dia lihat masih sama persis seperti dahulu. Danau besar di tengah-tengah puncak, kerumunan bunga beku dan goa misterius yang membuat ia secara tak sengaja berhasil menemukan bahan utama Pedang Dewi Salju.


Hanya satu perbedaan yang ada. Itu adalah karena keberadaan seorang sepuh yang duduk bersila di tengah-tengah danau, lebih tepatnya duduk di atas batu.


Melihat kedatangan Lin Tian, orang ini membuka matanya.


"Hm? Ternyata benar ada yang datang? Dia tidak membohong sama sekali." gumamnya sembari memandang Lin Tian penuh perhatian.


Lin Tian mendekat dengan hati-hati dan melihat orang itu mulai dari atas kepala sampai ujung kaki. Namun tidak ada hal mencurigakan yang ia temukan.

__ADS_1


"Maaf senior...siapakah senior ini?" Lin Tian bertanya sopan saat tiba di dekatnya.


Bukannya menjawab, orang itu malah melebarkan matanya sampai lebar sekali hingga membuat Lin Tian sedikit terkejut. Namun ekspresi itu hanya sekejap saja sebelum kembali ke ekspresi semula.


"Aku menunggu seseorang..." jawab kakek itu.


"Mirip sekali dengan kakek guru!" teriak pria sepuh itu dalam hati.


"Mohon maaf, menunggu siapakah tuan?"


"Awas serangan!!" pria itu membentak dan melakukan gerakan menampar. Posisinya memang masih duduk, namun angin akibat sambaran tangannya berhasil menciptakan ombak besar di air danau yang membuat Lin Tian terkejut.


"Ahhh!!" Lin Tian berseru kaget juga kagum. Dia segera mendorongkan kedua telapak tangannya dan mengerahkan tenaga dalam unsur Yin nya.


"Breeesss!!"


Tenaga dalam Lin Tian yang sudah naik setingkat menjadi hawa sakti itu berhasil membekukan ombak besar ciptaan pria sepuh tersebut. Sesaat setelah ombak itu membeku, Lin Tian membentak dan seketika ombak mencair. Namun berbeda seperti tadi, kali ini ombak itu menyerang si kakek yang masih duduk tenang di tengah danau.


"Byurrr!!"


Aneh dan juga luar biasa. Ketika ombak itu hampir menyentuh tubuh sang kakek, dengan cara yang di luar nalar, gelombang air itu terbelah dan seolah-olah menghindari tubuh kakek renta itu. Sehingga serangan Lin Tian hanya lewat saja tanpa mampu melukai tubuh si kakek, bahkan membasahinya pun tidak berhasil.


Saat Lin Tian masih terkejut sampai membuat tubuhnya mematung, kakek itu terkekeh pelan dan berkata.


"Kaulah yang kutunggu nak..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2