
"Lin Tian, siapa kakek ini? Kenapa makannya seperti bukan manusia saja?" tanya Hu Tao kepada seseorang yang sedang duduk di sebelahnya.
"Entahlah, dia hanya kakek pengemis biasa. Nona mengajak kemari setelah melihat ia dipukuli oleh pengawal walikota."
Di meja tak jauh dari dua orang muda itu, duduk Zhang Qiaofeng bersama kakek tadi. Mereka berdua memandang kakek tersebut dengan pandangan yang sulit diartikan.
Pasalnya, sidah tiga piring hambis tak bersisa di libas kakek tersebut, namun sampai saat ini belum juga berhenti karena ia sedang makan hidangan keempat yang baru saja diantarkan pelayan.
Orang-orang yang ada di sana juga memandang dengan pandangan tak jauh berbeda. Bahkan ada yang secara terang-tarangan memadanng atau bahkan mencela kakek tersebut. Akan tetapi mereka langsung tak berkutik ketika mendapat teguran keras dari Zhang Qiaofeng.
"Kenapa lihat-lihat? Ada masalah dengan kakeku ini hah!?" demikian gadis ini membentak dan seketika nyali mereka ciut seketika. Benar-benar gadis yang galak.
Setelah di meja makan itu terdapat tujuh piring yang sudah menumpuk dalam keadaan kosong, kakek ini bersendawa dan berkata, "Hah...terima kasih Nona, jarang-jarang aku bisa merasakan kenyang seperti saat ini."
Zhang Qiaofeng hanya tersenyum saja, agaknya dia sama sekali tidak keberatan dengan porsi makan kakek itu yang luar biasa besar.
"Kakek, sekarang coba jelaskan apa maksud ucapanmu tadi? Mengapakah pengawalku itu kau sebut telah menolong kalian?" tanya gadis tersebut.
"Ah...ini terjadi beberapa bulan lalu, ketika siluman itu mengacau di desa-desa sekitaran Bukit Pedang."
"Ah...!!" gadis itu tersentak, terungatlah ia ketika dahulu Lin Tian dikirim ke sana untuk membantu menyelesaikan masalah teror penculikan anak di desa dekat Bukit Pedang.
"Lalu apa bantuan yang ia berikan kek?" gadis ini terlihat lebih bersemangat. Agaknya dia benar-benar bangga kepada Lin Tian.
"Ah...aku sangat berterima kasih kepadanya, karena berkat bantuannya, satu dari beberapa anggota kami yang dikirim ke sana berhasil selamat dan memberi laporan. Ah aku lupa memperkenalkan diri, perkenalkan Nona, nama saya Kim Chao dari perkumpulan pengemis Bunga Teratai." kakek itu menundukkan badan.
Semua orang dari rombongan Zhang Qiaofeng serentak memandang kakek tersebut. Memang bukan sebuah perkumpulan yang sangat tersohor, namun nama perkumpulan Bunga Teratai cukup terkenal di kalangan orang-orang persilatan.
Mereka dikenal sebagai sebuah perkumpulan pengemis yang ahli dibidang tongkat. Dan ada pula yang mengatakan jika mereka berdiri di golongan putih dan membantu pihak kaisar untuk memerangi Aliansi Golongan Hitam.
"Tak kusangka aku bisa bertemu dengan tokoh Bunga Teratai di sini." Zhang Qiaofeng menimpali sesaat setelah membalas penghormatan Kim Chao.
"Ahaha....anda terlalu berlebihan."
"Tapi kek, benarkah hanya itu saja bantuan yang diberikan pengawalku?" kembali gadis itu bertanya.
Kim Chao nampak ragu-ragu. Dia mengelus-elus janggut pendeknya sambil mengerutkan kening, memandang Zhang Qiaofeng dan Lin Tian bergantian.
"Lebih baik jika Nona dan Tuan Pendekar Hantu Kabut saja yang tahu akan hal ini." akhirnya dia berkata setelah berhasil membuat keputusan.
__ADS_1
Walaupun sedikit heran, akhirnya Zhang Qiaofeng mengajak Kim Chao keluar dari rumah makan. Menuju kearah pohon besar yang terletak tak jauh dari sana. Bersama Lin Tian, gadis ini memandang penuh perhatian.
"Sebenarnya, Tuan ini sangat membantu kami karena sudah membunuh Si Cantik Setan Kembar tak lama setelah dia melakukan pencurian." Kim Chao berkata setengah berbsik.
Dua orang muda itu terbelalak. "Pencurian? Pencurian apa?" spontan Lin Tian bertanya.
"Dia mencuri kitab pusaka milik perkumpulan Bunga Teratai, kitab jurus yang hanya boleh dipelajari oleh ketua dan keturunannya saja."
"Karena itulah Tuan, beruntung saya bertemu dengan anda di sini. Maka dari itu saya mohon kembalikan kitab itu kepadaku, karena Tuan tentu melihat kitab tersebut ketika anda membunuhnya." Kim Chao sudah menjura dalam sekali.
Zhang Qiaofeng memandang Lin Tian penasaran. Sedangkan Lin Tian yang diapandang seperti itu hanya mampu mengerutkan kening di balik topengnya.
"Eh...begini Tuan, maaf saja tapi aku tidak mengecek apakah dia sedang membawa kitab itu atau tidak. Karena aku langsung menguburkan ia setelah berhasil kubunuh." akhirnya pemuda itu menjawab.
Kim Chao membelalakkan matanya, memandang kearah Lin Tian dengan pandangan tak percaya.
"Masih ingatkah dimana letak kuburannya, tolong antarkan saya ke sana."
Lin Tian menyanggupi, akan tetapi belum juga mereka beranjak dari sana, terdengar suara hiruk pikuk di depan rumah makan itu. Dari tempat mereka saat ini, terlihat puluhan orang yang sedang saling maki dengan orang-orang Zhang. Dua orang yang sudah boyok-boyok itu ikut pula dalam rombongan ini.
Di barisan paling depan, nampak seorang pria empat puluhan tahun yang ditemani dengan seorang pria muda berumur dua puluh lima tahun. Dua orang ini mengenakan pakaian mewah, hanya sekali pandang saja tahulah mereka bertiga jika dua orang itu adalah orang-orang berkedudukan tinggi di kota ini. Dan mungkin sekali jika pria empat puluh tahun itu adalah sang walikota.
"Bajingaaann!! Dimana pengemis busuk itu!??" teriak seorang pria tinggi besar yang memegang golok panjang.
"Nona kami sangat menghormatinya!! Siapakah kalian yang berani bersikap arogan kepada seseorang yang dihormati nona kami!?"
"Kalian pikir kami tak tahu? Nona kalian dari keluarga Zhang itu bisa apa!? Dan lagi, kota ini wilayah kami, kenapa kalian orang-orang Zhang berani mengacau!?" bentak seorang pria dua puluh lima tahun yang sejak tadi berdiri di samping walikota.
"Nona membantu orang luar, dan pengemis itu bukan warga kota, mengapa kalian turut ikut campur? Apa karena nona kami memukul dua kecoa itu?" kembali orang Zhang itu membentak sambil menunjuk dua orang babak belur itu.
"Salahnya sendiri, hanya jadi pengawal rendahan saja sudah berani bersikap tak patut kepada pengemis yang harus dikasihani" lanjutnya.
"Jangan sombong!! Keluarga baru lahir saja sudah berani mangacau di tempat orang. Memangmya siapa kalian hah!? Keturunan kaisar!?" bentak pula orang berbaju mewah itu.
Perdebatan terus berlanjut, saling membela kelompok sendiri. Sedangkan sang walikota hanya diam seraya mengedarkan pandangannya dengan pandang mata tajam, entah apa yang dicarinya.
"Ah...!!" walikota tersentak begitu memandang seorang gadis cantik yang sedang berjalan menuju kearahnya. Di sebelah gadis itu berdiri kakek pengemis dan Lin Tian.
"Diakah Nona Zhang?" tanpa sadar, matanya terbelalak kagum memandang gadis tersebut. Hal ini tidak luput dari pandang mata Lin Tian yang menatap mereka dengan sinar mata berkilat.
__ADS_1
"Awas saja...sampai kalian berani menyentuh Nona, kuhancurkan kepala kalian semua..." batin pemuda ini dengan hati panas.
Begitu tiga orang ini sampai, terdengar Kim Chao berkata nyaring. "Akulah yang diganggu dua orang pengawalmu itu dan nona ini menolongku. Jadi, awal permasalahan ini adalah aku, si pengemis tua bau tanah ini. Nah, jika kalian hendak menuntut balas, majulah padaku."
Dalam setiap kaliamatnya ini, mengandung penekanan. Entah kenapa, ucapannya sangat berwibawa dan terdengar gagah sekali, sungguh berbeda ketika dia sedang dipukuli dua pengawal tadi.
Walikota mengalihkan pandangannya, memandang kakek pengemis kotor itu penuh perhatian. Sungguh dia ragu, benarkah pengemis ini mampu menghadapi pengawalnya sedang menurut cerita, dia tadi hanya dipukuli dua orang dan sudah keok minta ampun?
Melihat keraguan di mata walikota, pemuda yang berdiri di sebelahnya tak menyia-nyiakan kesempatan. Jujur dari semenjak kedatangan Zhang Qiaofeng, mata pemuda ini tak pernah lepas dari gadis tersebut. Ia sangat kagum akan keindahan dan kecantikan Nona Zhang itu. Ditambah dengan jubah lebar dan tertutup, walaupun lekukan tubuh Zhang Qaiofeng sama sekali tidak terlihat, namun hal itu malah membuat si pemuda semakin menyukainya.
Maka masih dengan mata terbelalak kagum, dia pun berkata kepada walikota, "Saudara Wang, biar aku saja yang urus."
"Baiklah, maaf merepotkan." jawab sang walikota setelah menganggukkan kepala sekali.
Hal ini sedikit banyak mengejutkan pihak Zhang dan juga beberapa orang dari keluarga Hu yang melihat kejadian tersebut. Mereka mengira jika pemuda itu adalah anak walikota, namun agaknya mereka hanyalah sahabat saja.
Kemudian si pemuda memberikan kode kepada beberapa anak buahnya. Mereka mengangguk paham, sedetik kemudian, sembilan orang tukang pukul itu sudah melesat menghampiri tiga orang itu.
"Wah-wah, langsung main keroyok ya? Boleh, siapa takut!!" bentak pengemis itu dan segera maju seraya memutar tongkatnya.
Bentrok lah mereka, tujuh orang melawan satu orang jembel tua. Akan tetapi sungguh luar biasa sekali dan berhasil membuat semua orang memandang takjub. Pasalnya, kakek pengemis itu walaupun dikeroyok sembilan orang, namun dia sama sekali tidak terdesak. Bahkan gerakannya hanya seenaknya saja waktu menangkis ataupun balas menyerang.
"Jika sekuat ini, untuk apa tadi dia rela dipukuli?" gumam walikota bermarga Wang itu.
"Hayaaaa!!" tiba-tiba Kim Chao memekik keras dan sedetik kemudian, terdengar suara "bak-bik-buk" yang nyaring sekali. Disusul robohnya sembilan orang tukang pukul tersebut beserta dengan patahnya golok-golok mereka.
"Ayo siapa lagi!!?" tantang Kim Chao.
Pemuda di rombongan walikota tadi menyeringai dan melangkah ke depan. Begitu tiba di depan Kim Chao, segera dia menjura dan memeperkenalkan diri.
"Tuan pendekar, perkenalkan saya bernama Sie Lun. Jika boleh tahu, mengapakah kakek gagah ini membikin onar di kota kami?" tanyanya sopan namun entah kenapa terdengar macam ejekan di telinga Kim Chao.
"Namaku Kim Chao! Heh, kau bilang aku mengacau!? Coba tanyakan kepada dua budakmu itu, siapa yang mengacau duluan? Dari pagi tadi aku enak-enak duduk di pinggir jalan, tiba-tiba tak ada hujan tak ada angin mereka berdua datang kepadaku dan memukulku!!" jawabnya bersungut-sungut. Membuat dua orang yang tadi memukulinya bergidik ngeri setelah melihat kebolehan Kim Chao.
"Kalau saja aku tadi tidak lapar, mungkin saat ini nyawa kalian tinggal setengah!!" Kim Chao melanjutkan sembari menatap dua orang itu tajam.
"Hah....memang pengemis-pengemis itu merusak pemandangan." gumam Sie Lun perlahan sekali, namun masih terdengar oleh Kim Chao.
"Sombong sekali!! Tahan seranganku!!" Kim Chao memekik dan menerjang maju. Sungguh harga dirinya sebagai anggota Bunga Teratai sudah tercoreng akibat perkataan pemuda tersebut.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG