
Kita lupakan Lin Tian sejenak yang sibuk untuk melatih ilmu Api Pelahap Mega bersama gurunya. Terlalu lama sudah kita tak menengok kabar dari putri bisu keluarga Lu.
Marilah kita lihat bagaimana sepak terjang gadis itu.
Setelah empat tahun kematian Lin Tian, di salah satu kota Kekaisaran Song.
"Inikah distrik merah, tempat para pelacur itu?" gumam seorang wanita yang berumur tiga puluh tahun lebih. Namun wajahnya masih bisa bersaing dengan dara-dara muda belasan tahun.
Wanita di sebelahnya yang menjadi teman ngobrolnya hanya mengangguk mengiyakan. Dia sebenarnya juga ragu akan informasi yang diterima, namun melihat ciri-ciri tempat yang terdapat banyak sekali bangunan berwarna merah dan wanita yang berpakaian terbuka berjalan di jalanan kota, membuat ia yakin dengan informasi itu.
Mereka ini adalah tokoh penting dalam susunan organisasi keluarga Zhang, dan mungkin tingkat mereka setara dengan para tetua. Dua orang ini adalah bagian dari lima orang Hantu Merah.
Wanita tiga puluh tahun yang masih cantik manis itu adalah Yin Yin, sedangkan perempuan yang di sebelahnya adalah Lu Jia Li, putri bisu keluarga Lu.
Mereka tidak mengenakan seragam kebanggaan Hantu Merah karena saat ini sedang melakukan tugas yang menuntut mereka agar tidak memperlihatkan identitas itu.
Jubah Yin Yin berwarna kuning terang, di bagian depannya terdapat gambar pohon persik yang sedang berbunga. Sedangkan untuk Lu Jia Li, gadis ini mengenakan jubah putih bersih dengan hiasan gambar bunga lotus di pundak kiri dan perut bagian kanan.
Akan tetapi walaupun begitu, mereka tetap membawa seragam Hantu Merahnya. Dimana mereka menyembunyikan itu? Seragam Hantu Merah terdapat tepat di balik jubah mereka saat ini.
Jika jubah mereka di balik, maka secara otomatis dua orang ini sudah mengenakan seragam Hantu Merah yang berwarna serba merah.
Memang unik jubah dari regu Hantu Merah ini. Selain berbahan mahal dan halus, Minghao juga mendesain supaya jubah itu bisa digunakan secara bolak-balik, sehingga memudahkan Hantu Merah untuk menyamar. Tentu saja atas usulan Zhang Qiaofeng.
Sehingga, walaupun mereka mengenakan jubah biasa, namun di balik jubah masing-masing, mereka menyimpan topeng merah andalannya.
Bukan tanpa alasan dua orang jelita ini mendatangi tempat pelacuran. Dan tujuannya sudah tentu bukan untuk meneruskan karir sebagai pelacur. Melainkan karena mereka mendengar informasi dari seorang mata-mata, bahwa ada mata-mata dari Iblis Tiada Banding yang bersembunyi di sini.
Sampai sini mudah ditebak siapa adanya orang itu. Tentu saja seorang pria mata keranjang yang gila wanita.
__ADS_1
Namun walaupun begitu, di kota ini sering kali terjadi penculikan gadis-gadis. Dan keluarga Zhang berpikir jika orang inilah pelakunya yang membawa gadis-gadis itu ke distrik merah.
Lu Jia Li dan Yin Yin berjalan di tengah distrik pelacuran layaknya wanita biasa, berjalan dengan langkah lembut dan halus. Sungguh berbeda dengan sikap mereka yang gagah perkasa saat mengenakan jubah dan topeng Hantu Merah.
Memang hal ini disengaja karena mereka tidak ingin ada orang yang curiga, juga gerakan lemah gemulai ini untuk memancing datangnya orang Iblis Tiada Banding yang mata keranjang itu.
"Tempat apa yang akan kita kunjungi pertama kali?" tanya Lu Jia Li menggunakan bahasa isyarat tangan.
"Kita jalan saja terus. Kalau dipikir-pikir, orang dari Iblis Tiada Banding itu tentu orang kaya karena mendapat keuntungan besar dari penjualan. Jadi, mungkin sekali dia berada di tempat itu." ucap Yin Yin sembari mengulurkan tangan kanan menunjuk ke satu bangunan paling bssar.
Mereka berjalan ke bangunan besar itu. Bangunan empat lantai yang paling megah dan tinggi dari semua bangunan. Selama perjalanan, tak jarang dua orang ini mendapat godaan dan tatapan kurang ajar dari laki-laki yang ada di sana. Tidak mengherankan memang karena mereka menganggap dua orang ini juga pelacur.
Begitu sampai di depan bangunan megah itu, mereka segera masuk tanpa banyak cakap lagi. Penjaga pintu yang juga seorang pelacur menyambut mereka dengan ramah karena berpikir dua orang ini adalah segolongan.
"Woah...ramai sekali, apakah ada sesuatu hari ini?" gumam Yin Yin melihat keramaian di dalam gedung itu.
Gedung ini memang terdiri dari empat lantai, namun dari lantai dua dan seterusnya masih bisa memandang ke bawah. Desain gedung ini memang unik, bagian depan dari lantai dua sampai empat dibuat berlubang, sehingga dari lantai teratas pun orang-orang tetap bisa melihat bawah.
"Apa yang harus kita lakukan?" isyarat Lu Jia Li dengan tangan.
"Menunggu, memangnya mau apa lagi? Menurutku dia akan datang ke mari, jika memang begitu...hem, kita pikirkan saja itu nanti. Kita lihat dulu situasinya."
Mereka lalu berjalan ke sudut ruangan dan duduk di salah satu meja yang terdapat empat kursi. Dari tempat mereka duduk saat ini, pintu dan panggung bisa terlihat dengan jelas, sehingga keduanya mampu mengamati keadaan sekeliling.
Sampai malam menjelang dan tempat itu makin penuh dengan pengunjung, tirai penutup panggung belum dibuka dan orang yang mereka cari belum juga menunjukkan diri.
"Tetap menunggu?" Lu Jia Li yang merasa sedikit jenuh bertanya kepada Yin Yin.
"Mau bagaimana lagi?" Yin Yin menghela nafas dan berkata lemah.
__ADS_1
Hampir setengah jam kemudian, terdengar suara ribut-ribut dari pintu masuk. Sebagian besar suara ribut ini berasal dari wanita-wanita lacur yang ada di sana. Karena penasaran, Lu Jia Li dan Yin Yin bangkit dan melihat lebih dekat.
"Ah...tak sia-sia kita melawan bosan di sini."
Lu Jia Li hanya mengangguk-angguk setuju.
Terlihat di pintu masuk, seorang pria tiga puluhan tahun yang cukup tampan. Alis tebal dan tajam setajam golok. Matanya tak pernah berhenti melirik sana-sini untuk menikmati pemandangan banyaknya wanita di sana.
Di sekeliling pria ini, ada tiga wanita cantik dan muda yang dapat di duga bahwa mereka inilah alat pemuas nafsu orang ini.
Lu Jia Li dan Yin Yin mengenal siapa adanya orang ini. Dia ini adalah orang yang mereka cari-cari, wajahnya sama persis seperti informasi yang diberi mata-mata. Mata-mata itu juga melukis wajah orang ini dengan jelas.
"Hehe...waktunya beraksi..." ucap Yin Yin sambil menyeringai lebar. Mereka tak membawa pedang, sebagai gantinya, jarum-jarum tipis beracun yang menjadi senjata andalan di misi kali ini.
Yin Yin sudah mengeluarkan tiga jarum tipisnya, melihat ini Lu Jia Li menjadi terkejut sekali. Buru-buru dia tarik tangan Yin Yin dan berkata dengan isyarat tangan.
"Jangan eksekusi sekarang, akan terjadi keributan. Kita tunggu saat dia masuk kamar, kita bunuh di sana."
Bersamaan dengan ini, perlahan-laha tirai di panggung terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik jelita. Melihat ini seketika para lelaki berteriak keras.
"Dewi Yan Cu!!!"
"Yan Cu cintaku!!"
Demikian teriakan-teriakan mereka terdengar menggema ke seluruh ruangan. Yin Yin dan Lu Jia Li mengalihkan pandangannya dan memandang seseorang yang sepertinya bernama Yan Cu itu.
"Sepertinya akan menarik." gumam Yin Yin mulai penasaran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG