
Teriakan dan makian terdengar memenuhi udara, obor-obor yang tadinya terpegang erat, banyak yang jatuh dan membakar semak belukar, semakin besar hingga membakar pohon-pohon pula. Maka terjadilah kebakaran dalam skala yang tidak kecil di hutan rimba lereng Pegunungan Tembok Surga itu.
Akan tetapi, walaupun api masih terus menyebar dan memperluas jangkauan kebakaran, sekumpulan orang-orang itu masih saja terus bertempur. Mereka adalah pasukan Hu dan orang-orang manusia gunung yang sudah satu jam ini bertanding mati-matian.
Selama itu, keluarga Hu telah menunjukkan kekuatannya. Terbukti dari lamanya pertandingan itu, pasukan keluarga Hu hanya tewas tiga orang, termasuk seseorang yang mati pertama terkena penyerangan gelap.
Hal ini tentu saja sedikit mengejutkan pemimpin mereka yang memang berjuluk Naga Emas itu. Dia tak pernah menduga bahwasannya hanya dengan tiga lusinan orang itu telah mampu menahan gempuran ratusan orang dari pasukannya.
Hingga dua puluh menit berselang, pihak keluarga Hu kembali jatuh tiga korban. Namun mereka telah mampu menumpas habis pengeroyokan itu. Hal yang sungguh luar biasa, tiga lusinan pasukan itu mampu mengalahkan sekitar seratus lima puluhan orang manusia gunung.
Memang hal ini walaupun sedikit tak masuk akal, akan tetapi menjadi lebih masuk akal dengan adanya keberadaan Hu Tao. Karena keluarga Hu saat ini telah menjadi keluarga yang terlemah diantara tujuh keluarga, namun berbeda dengan pemimpinnya. Hu Tao si pemimpin muda itu telah menduduki peringkat pertama dalam segi kekuatan individu dari setiap pemimpin, bahkan kaisar sendiri masih kalah jika dibandingkan dengannya.
Hal inilah yang mengakibatkan tiga lusinan ini mampu menghadapi pengepungan gila itu. Disamping pasukan elit keluarga Hu memanglah kuat-kuat, Hu Tao juga berkonstribusi paling banyak saat ini.
Akan tetapi setelah pertempuran itu, tubuh mereka sudah pegal-pegal dan lemas, terlalu letih menghadapi pengeroyokan itu. Namun beda cerita dengan Hu Tao, walau terlihat terengah-engah, namun keadaannya tidak sepayah pasukannya.
"Hahahahah....bagus-bagus, keluarga Hu sama sekali tidak mengecewakan!!" kembali suara misterius itu terdengar. Membuat amarah Hu Tao makin menjadi.
"Dimana kau!!? Dasar pengecut!!"
Setelah Hu Tao berhenti bicara, terasa serangkum hawa panas dari depan. Hu Tao beserta dua tetua maklum telah datang serangan dari pendekar sakti. Maka cepat melompat menghindar.
"Aakhhh!!"
Teriakan itu berasal dari tetua kedua yang sedikit terlambat menghindar. Akibatnya, hawa panas itu berhasil menyerempet pundaknya. Membuat pria paruh baya itu terpelanting dan pingsan seketika.
Sedetik kemudian, di depan mereka telah berdiri dua orang. Satu orang yang melihat dari ciri-cirinya, mereka bisa langsung tahu bahwa itu adalah Naga Emas. Dan satu orang lagi, seseorang yang jauh lebih muda, berpakaian hitam-hitam dan terdapat pedang di punggungnya. Entah siapa itu tak ada yang kenal.
Hu Tao segera menyiapkan kuda-kuda, memandang dua orang itu secara bergantian dengan waspada.
"Hem...jadi inikah Naga Emas? Dan siapakah Tuan yang disebelah itu? Kiranya bolehlah engkau perkenalkan diri agar aku tahu siapa yang hendak kubunuh kali ini." kata Hu Tao dingin.
Orang itu terkekeh perlahan sebelum menjawab singkat, "Aku dikenal sebagai Pendekar Pedang Arwah."
Terkejutlah mereka semua sampai kaki gemetaran. Pendekar Pedang Arwah, adalah seseorang yang selama ini dirumorkan sebagai seorang sakti datuk hitam anggota Pilar Neraka, yang kekuatannya hanya sedikit di bawah Naga Emas.
Akan tetapi Hu Tao bersama tetua ketiga tidak merasa gentar sedikit pun. Terlihat dari pandang mata mereka yang tajam penuh ancaman.
"Hmph!! Ada apakah ini? Mengapa Pendekar Pedang Arwah ikut campur? Ini adalah urusan keluarga Hu dan manusia gunung!!" bentak tetua ketiga tegas.
"Hem...dia ini kakak seperguruanku." balas Pendekar Pedang Arwah santai sambil menunjuk Naga Emas dengan jempolnya.
Makin terkejutlah mereka. Jika memang mereka dua orang kakak adik seperguruan, tak mengherankan apabila kekuatan mereka hampir sama.
"Oh...jadi Pendekar Pedang Arwah bersembunyi di sini, bagus sekali dengan be-"
__ADS_1
"Jangan banyak omong!!!" perkataan Hu Tao terhenti karena tiba-tiba sekali Naga Emas sudah menerjangnya.
Dengan tangkas, Hu Tao mengelak ke samping sembari menebaskan pisaunya, membabat dua tangan yang mengarah perutnya itu.
"Tring-Tring-Trangg!!"
Hebat sekali, setiap kali belati Hu Tao menyambar, Naga Emas dengan mudahnya mampu menangkis menggunakan tangan kosong. Hu Tao merasa, tangan itu kerasnya sama seperti besi murni. Maklumlah ia bahwa saat ini nyawanya benar-benar dalam bahaya.
Hu Tao melanjutkan serangan, kali ini dia menusukkan belati kirinya kearah tenggorokan, sedang belati kanan ia lembar dengan rantai panjangnya dan diarahkan menuju tengkuk leher Naga Emas. Jika berhasil, tentu leher datuk hitam itu akan berlubang depan belakang.
Akan tetapi serangan Hu Tao luput dengan cara yang tak terduga. Pasalnya, dengan sekali hentakan kaki, Naga Emas berkelit dan sudah tiba di belakang Hu Tao, bersiap menembus jantung Hu Tao dari belakang.
"Matilaaahh!!" Naga Emas mengirim serangan tapaknya.
"Waahh!!" akan tetapi dia berteriak disusul tubuhnya yang meloncat kesamping.
Ternyata Hu Tao cerdik sekali, ketika dua serangan itu luput dan serangan belati kanan malah membalik menyerang dirinya sendiri. Hu Tao hendak menghindar. Namun melihat Naga Emas berada di belakangnya, maka cepat ia biarkan belati kanan itu tetap meluncur cepat sedangkan dia memiringkan kepala, sehingga membuat belati itu mengarah Naga Emas.
"Tidak buruk heheh...." gumam Naga Emas.
Melihat kesempatan ini, Pendekar Pedang Arwah hendak menyerang Hu Tao dari belakang. Akan tetapi tindakannya ini berhasil dihentikan oleh bentakan Naga Emas.
"Diam di sana kau!! Ini pertarunganku, jangan mengganggu!!"
Tetua ketiga sebenarnya hendak membantu, namun dia sadar, selain akan membahayakan dirinya sendiri, dia juga akan merepotkan Hu Tao yang harus melindunginya. Maka pria ini memilih untuk diam dan tetap menonton penuh perhatian.
Di depan sana, Hi Tao dan Naga Emas sudah saling terjang. Membentuk gulungan sinar putih dan keemasan, suara-suara seperti beradunya dua besi itu bercampur dengan suara berkerotokannya kayu yang dilahap api di hutan itu.
Hu Tao sedapat mungkin terus mempertahankan diri dari serangan manusia buas di hadapannya. Sedangkan Naga Emas malah menyerang makin ganas seiring berjalannya waktu. Agaknya dia sudah lama tidak bertemu tanding hingga membuatnya amat bersemangat.
Hu Tao sendiri juga mengejutkan semua orang tak terkecuali Pendekar Pedang Arwah. Junior dari Naga Emas itu berpikir jika kepandaian Hu Tao tidak lebih lemah ketimbang dirinya, sampai mampu menahan serangan seniornya yang sangat ganas itu.
"Hebat sekali, kemampuannya hampir sama atau mungkin setara denganku." batinnya yang merasa sedikit tak nyaman. Karena Hu Tao ini merupakan ancaman bagi dirinya disamping si Pendekar Hantu Kabut yang kesaktiannya belum diketahui benar olehnya.
"Bresss!!"
Terdengar suara keras ketika bayangan putih terpental keras menabrak salah satu pohon yang sudah gosong. Ternyata itu adalah Hu Tao yang mendapat serangan telak Naga Emas.
"Uhukkk!!" dia muntahkan darah segar yang cukup lumayan, membuat tetua ketiga dan pasukannya merasa khawatir.
"Pemimpin!!" tetua ketiga ingin menghampiri, namun Hu Tao mencegahnya.
"Huahahahah....memang hebat!! Kau benar-benar luar biasa, pantas menjadi anggota Pilar Neraka untuk menggantikan posisi Dewa Kegelapan!" Naga Emas tertawa lantang.
"Cih...sampai matipun aku tak akan sudi bergabung dengan kalian!!"
__ADS_1
"Haha sudah aku duga jawabanmu akan begitu. Benar-benar lelaki sejati! Karena itu matilah!!" teriak Naga Emas sesaat sebelum mengirim pukulan tapak.
Hu Tao menatap tajam serangan itu, hawa pukulan panas sudah mampu dirasanya. Dia tak ingin jadi pengecut, jika memang harus mati hari ini, dia akan menghadapinya dengan mata terbuka lebar!
"Deeesss-Boomm!!"
Terdengar ledakan yang memekakkan telinga dibarengi dengan cahaya kilat yang terang sekali sampai membuat mereka semua silau. Sebagai orang-orang pandai, tahulah mereka jika tadi itu ada seseorang yang menangkis hawa panas Naga Emas dengan hawa dingin. Membuat dua benturan tenaga dalam yang saling berbeda unsur meledak dan mengeluarkan cahaya terang sekali.
Sesaat setelah cahaya itu hilang, terdengar suara yang-khim yang merdu sekali, membuat tenang mereka semua. Disusul dengan berkelebatnya bayangan hitam dan putih yang langsung berdiri tegak di hadapan Hu Tao.
"Hem...kiranya Naga Emas, manusia terkuat dari Pilar Neraka menyerang seseorang yang sudah terluka sedari awal? Pantaskah itu?" kata orang berjubah putih.
"Oh...Pendekar Pedang Arwah kah di sana? Menarik..." kata pula orang kedua, yang berjubah hitam dan yang masih memetik-metik yang-khim.
"Pendekar Hantu Kabut...Sastrawan Sakti...cih pengacau datang." desis Pendekar Pedang Arwah dengan raut wajah tak sedap. Kemudian dia lekas melompat ke samping seniornya.
Ya, mereka adalah Lin Tian dan Minghao. Setelah mendapat surat dari Hu Tao, keluarga Zhang segera melakukan perjalanan menuju Pegunungan Tembok Surga, menyusul rombongan keluarga Hu. Sebenarnya saat ini rombongan Zhang masih cukup jauh, namun karena Lin Tian merasa khawatir, akhirnya dia dan Minghao melesat lebih dulu agar bisa segera bertemu Hu Tao.
"Hm...kenapa kau bisa menyimpulkan bahwa dia telah terluka dari awal?" tanya Naga Emas.
"Melihat dari keadaan sekeliling, tentu saudaraku ini sudah bertarung dari awal untuk mengalahkan pasukanmu." jawab Lin Tian.
"Tepat sekali...hahah...sekarang kau mau apa? Satu lawan satu denganku?" kembali Naga Emas berkata sambil merengganggan tubuhnya.
"Siapa takut!!" Lin Tian maju melangkah.
Hu Tao hendak menghentikan, namun ia urungkan karena ucapan yang dikeluarkan Minghao dengan tenang. "Kau duduk diam saja di sana, lihat apa yang terjadi. Lin Tian tak akan bisa dikalahkan oleh Naga Emas maupun Pendekar Pedang Arwah, setidaknya jika itu pertarungan satu lawan satu. Aku yakin itu."
Mereka berdua sudah berdiri saling berhadapan, Lin Tian mengeluarkan pedangnya, bersiap menghadapi lawan.
Namun tiba-tiba, Naga Emas mengarahkan kepalan tinjunya kearah kanan, meninju sebatang pohon dengan pukulan jarak jauhnya.
"Braaakk!!" pohon yang sudah gosong itu roboh menjadi abu akibat hawa pukulan panas Naga Emas. Kemudian pria kekar itu berkata perlahan namun dengan nada mengejek dan penuh penekanan.
"Apakah Pendekar Hantu Kabut sudah demikian pengcut?"
Lin Tian menyadari hal itu, dia tersenyum tipis di balik topengnya. Maka segera dia menyarungkan kembali pedangnya dan mendemonstrasikan tenaga dalam untuk sekedar menggertak lawan.
"Wuusshhh!!" Lin Tian mengarahkan telapak tangannya ke udara. Terciptalah angin dingin yang langsung mengubah udara malam itu menjadi butiran-butiran salju. Membuktikan jika tenaga dalam Lin Tian tidaklah lemah.
"Majulah..." balas Lin Tian yang sudah memasang kuda-kuda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG
__ADS_1