
Zhang Hongli keluar dari rumah reot itu dengan raut wajah tegang dan pandangan tajam. Entah apa yang ada di pikiran kakek itu, tapi yang jelas agaknya bukan sesuatu yang baik.
Di sebelahnya, berdiri Lin Tian dengan muka topeng yang dingin sedingin es. Akan tetapi, di balik topeng putih itu, terukir raut wajah yang sangat tidak enak dipandang.
"Kota raja kekaisaran Chu ya....itu cukup jauh. Kita harus melakukan perjalanan kira-kira selama satu bulan penuh." Zhang Hongli berkata seraya memandang air hujan yang mengalir dari atap genteng rumah itu.
"Kau menghabiskan seperempat uang dari Nona Xiao Lian yang diberikan padaku. Jangan bersikap sok keren dan tidak tahu apa-apa seperti itu!!!" umpat Lin Tian dalam hati yang merasa mendongkol sekali akan sikap gurunya ini.
"Kita akan berangkat sekarang, guru?" akhirnya inilah kalimat yang diucapkan Lin Tian.
"Tentu saja, kita tidak punya banyak waktu. Kita harus bergegas, ayo!!" setelah berkata singkat, detik berikutnya kakek ini sudah berlari cepat menembus derasnya hujan badai itu.
Begitupun dengan Lin Tian. Walaupun masih merasa kesal, akan tetapi pemuda bertopeng ini tidak ada pilihan lain selain ikut berlari mengikuti gurunya.
...****************...
Apa informasi yang didapatkan kedua orang guru murid ini dari Asosiasi?
Jadi, begitu pria tua bercaping hitam itu meminta bayaran, Lin Tian tak ada pilihan lain untuk membayar dengan uangnya karena gurunya mengaku sama sekali tidak punya uang.
Setelah itu, pria tersebut berkata, "Hm...Nona muda keluarga Zhang ya...? Bukankah keluarga ini adalah sebuah keluarga yang sudah binasa delapan tahun lalu?" gumam pria itu sambil mengelus dagu.
"Tapi, memang aku telah mendapat informasi bahwa ada dua orang yang berhasil selamat dari insiden itu. Agaknya salah satu dari dua orang inilah yang merupakan Nona muda Zhang."
Lin Tian mendengar setiap perkataan orang itu dengan wajah tegang dan jantung berdebar. Diam-diam, di balik topengnya dia sudah mengucurkan keringat dingin. Pemuda ini khawatir kalau-kalau seorang yang ada di depannya itu mengetahui jika dia juga termasuk dari dua orang yang berhasil selamat.
"Bagaimana? Apa kau bisa membantu?" akhirnya Zhang Hongli bertanya setelah hening beberapa saat.
"Tentu...tentu...akan kuusahakan sebaik mungkin."
Setelah itu, pria ini bersuit keras dan secara tiba-tiba datang seekor gagak dari arah jendela yang langsung hinggap di pundaknya. Pria ini lalu menuliskan sesuatu di atas kertas, kemudian menggulungnya dan memasukkan ke dalam kantong kecil di punggung burung tersebut. Setelah itu, hanya dengan sekali komando, burung gagak itu sudah kembali terbang keluar melalui jalan yang sama ketika dia masuk.
Begitu burung itu terbang keluar, pria ini berkata, "Kembalilah lagi kemari dalam tiga hari kedepan."
Mereka berdua mengangguk dan segera pergi dari sana. Tiga hari kemudian, guru dan murid ini kembali lagi ketempat reot tersebut.
"Kami sudah menemukannya." ucap perlahan kakek bercaping itu.
Lin Tian sontak terkejut. Dia merasa heran sekaligus kagum, pasalnya Asosiasi ini mampu menemukan keberadaan Nona muda Zhang dengan secepat itu. Padahal, mereka tidak menjelaskan ciri-ciri dari perempuan itu dan Asosiasi ini sudah mampu menemukannya. Sungguh hebat!! Pikirnya
"Dimana dia?" sahut Zhang Hongli cepat.
"Untuk sekarang kami tidak mengetahuinya, akan tetapi, terakhir kali dilihat, Nona Zhang ini berada di ibukota kekaisaran Chu bersama seorang gadis yang seumuran dengannya. Mereka berdua menginap di sana selama kurang lebih tiga hari. Begitulah informasi yang kudapatkan." jelas pria tersebut.
Zhang Hongli diam sejenak, begitu pula dengan Lin Tian. Setelah beberapa detik, Zhang Hongli bangkit berdiri dan berkata, "Kalau begitu terima kasih Tuan. Saya mohon pamit."
Begitu melihat gurunya melangkah pergi, Lin Tian pun segera bangkit dan menjura kepada orang itu, kemudian ikut pula pergi dari sana.
__ADS_1
Setelah itu, seperti yang sudah di jelaskan di bagian atas. Lin Tian dan Zhang Hongli mulai melakukan perjalanan dari desa Tanah Hujan menuju ibukota kekaisaran Chu, yang letaknya berada di sebelah Barat Daya dari desa ini.
...****************...
Dua minggu lamanya sudah terlewati. Lin Tian bersama gurunya masih terus melakukan perjalanan cepat menuju arah Barat Daya.
Tiba-tiba, Zhang Hongli berkata seraya menghentikan larinya, "Lin Tian, kita istirahat dulu di sini."
"Baik guru." sahut Lin Tian yang juga langsung menghentikan larinya.
Mereka kemudian berjalan ke bawah sebuah pohon tinggi besar yang dimana akarnya sampai mencuat keluar dari tanah. Kedua orang tua muda ini lalu duduk di atas akar-akar itu untuk beristirahat.
"Kalau aku tidak salah ingat, seharusnya tak jauh dari sini ada sebuah kota. Lebih baik setelah ini kita pergi ke sana lebih dulu untuk mencari makan dan beristirahat selama beberapa hari." ucap Zhang Hongli.
"Tapi guru, kita tak punya waktu untuk istirahat."
"Tenang saja Lin Tian, tak perlu buru-buru. Apa kau tak ingat bahwa cucuku terakhir kali terlihat di kota raja kekaisaran Chu? itu berarti, saat ini dia sudah tidak berada di sana. Dan tujuan kita pergi ke kota raja adalah bukan untuk mencari cucuku, melainkan untuk mencari jejak cucuku."
"Jadi kalau kita sedang untung, bisa jadi cucuku itu berada di kota yang sekarang hendak kita tuju." kata Zhang Hongli memberi penjelasan kepada Lin Tian.
"Ah, benar juga." batin Lin Tian yang tak sadar akan hal tersebut.
"Hm...kau tidak seperti biasanya Lin Tian. Kenapa kau begitu terburu-buru?" tanya Zhang Hongli dengan pandangan menyelidik.
"Oho...kau sudah tak sabar ingin melihat paras cantik cucuku ya? Hehe...." goda kakek tua itu dengan senyum licik.
"Ekhm...tidak...bukan begitu. Aku hanya khawatir." jawab Lin Tian dengan gugup. Andai kata tidak ada topeng yang menutupi wajahnya itu, pasti gurunya akan menertawainya karena saat ini wajahnya sudah berubah warna menjadi merah sekali.
Akan tetapi, baru saja dirinya bangkit dari tempat duduk, terdengar suara jerit melengking seorang wanita yang terdengar dari kejauhan sana.
Sekali mendengar, tahulah mereka berdua jika jeritan ini adalah jerit ketakutan. Maka tanpa mengucap sepatah katapun, mereka berdua sudah melesat sangat cepatnya menuju kearah datangnya suara.
...****************...
Di sebuah kaki bukit di hutan tersebut. Mengalir anak sungai yang warnanya jernih bersih tanpa tercemar sedikitpun. Saking jernihnya, dari atas bahkan terlihat batu-batu kerikil dan pasir yang mendiami dasar sungai.
Di pinggiran sungai itu, terlihat banyak sekali batu baik yang besar maupun kecil. Batu itu memiliki sedikit rongga-rongga kecil di setiap sisinya. Warnanya putih bersih bagaikan bunga mawar putih yang baru mekar kembangnya.
Akan tetapi disalah satu batu pinggir sungai itu, warna batu yang sebelumnya berwarna putih, kini terlihat berwarna merah gelap. Di depannya, duduk seorang pemuda yang pundak kanannya nampak terluka parah.
Di samping pemuda itu, duduk seorang wanita cantik yang berumur tak lebih dari lima belas tahun, sedang menangis sesenggukan sambil memeluk erat pria di sebelahnya.
Baju gadis ini sudah terdapat sobekan lebar di sebelah bahu dan pinggul, memperlihatkan kulitnya yang halus nan putih menggairahkan. Akan tetapi berbeda dengan pria di sebelahnya yang penuh luka itu, gadis ini sama sekali tidak terluka, namun agaknya bajunya itulah yang banyak terluka. Terlihat dari baju yang dikenakannya sudah banyak robek di sana-sini.
Di depan mereka berdua, berdiri empat orang yang mengenakan jubah berwarna biru tua. Di dada masing-masing orang itu, terdapat sebuah gambar tongkat bambu berwarna kuning.
"Hehe...heheh...malam ini kita dapat tangkapan besar." ucap salah satu orang berbaju biru tua itu.
__ADS_1
"Heh...yang laki itu lebih baik bunuh saja. Kita tinggalkan bunga harumnya untuk menemani dinginnya malam ini. Benar kan, kakak pertama?" kata salah seorang lainnya seranya melirik orang yang terdepan.
Orang yang dipanggil kakak pertama itu hanya menganggukkan kepala dengan pandang mata liar yang terus di tujukan kepada gadis cilik itu.
Walaupun gadis ini berusia tak lebih dari lima belas tahun, akan tetapi harus diakui bahwa kecantikan dan postur tubuhnya tak lebih indah nan elok dari seorang wanita dewasa. Justru karena dia masih muda dan masih polos itulah yang membuat keempat orang ini sampai meneteskan air liur begitu memandanginya. Dalam pandangan itu, seolah-olah mereka hendak menelan bulat-bulat tubuh gadis malang ini.
"Bangsat kalian!! Pergi!! Pergiii!!" teriak wanita itu dengan wajah pucat dan ekspresi yang membayangkan ketakutan hebat. Gadis ini sadar, jika sesuatu yang lebih buruk daripada kematian sedang menanti di hadapannya.
"Jangan galak-galak begitu Nona kecil. Kami berempat akan membuatmu terbang kelangit semalaman ini..." ucap orang tedepan dengan senyum manis dan nada suara menggoda.
"Iblis!! Setan!! Lebih baik aku mati daripada harus kalian buat terbang. Mana sudi aku menemani kalian para penjahat busuk dan kotor!!" kembali gadis itu membentak dengan suara sedikit gemetar. Setengah takut, setengah marah.
"Rou'er...pergilah!! Kakakmu ini akan membuka jalan." kata lelaki itu lemah sambil berusaha bangkit berdiri, namun gagal.
"Tidak kakak, kau tak mungkin bisa mengalahkan mereka. Aku lebih memilih untuk mati bersama denganmu di sini menggunakan pedangmu, daripada harus menjadi barang mainan mereka dan dibunuh dalam keadaan hina!!" bantah gadis itu dengan mengeratkan pelukannya.
Lelaki ini kemudian mengelus lembut ujung kepala gadis itu yang ternyata adalah adiknya. Lalu dia berkata, suaranya lemah, "Kau yakin, Rou'er?"
"Aku yakin. Sebagai orang gagah, aku tak akan pernah menarik kembali ucapanku." kata gadis itu dengan pandangan tajam yang menandakan keteguhan dan kebulatan tekadnya.
Kakaknya hanya memandang dengan pandangan sayu kearah adiknya. Kemudian, dia mengambil pedang di sebelahnya dan siap menggorok leher mereka secara bersamaan.
"Bersiaplah adikku, semoga kelak di alam sana kita tidak akan berpisah dan tetap bersama seperti halnya dalam kehidupan ini."
"Ya!" jawab gadis itu dengan air mata semakin mengucur deras, akan tetapi mulut mungil berwarna merah jambu itu menampilkan senyum manis penuh haru dan kebahagiaan.
"Bangsat!! Jangan sembarangan!!!" teriak orang terdepan dari keempat orang itu sambil melompat maju.
"Cepatlah kakak!!" desak gadis muda itu.
"Maafkan kami ayah, ibu. Semoga di kehidupan berikutnya, aku yang bodoh ini bisa membalas semua kebaikan kalian. Selamat tinggal." gumam pemuda itu dalam hati. Sedetik kemudian, pedang tajam itu sudah bergerak cepat hendak mengakhiri nyawanya berikut adiknya.
Tiba-tiba dari balik rimbunnya pohon hutan. Berkelebat dua bayangan yang melesat kearah enam orang tersebut.
Begitu dua bayangan ini datang, pedang di tangan pemuda itu langsung patah dan seorang yang dipanggil kakak pertama tadi sudah terpental jauh ke belakang.
"Traangg!!"
"Aaarrgghhhh.....!!" teriak si kakak pertama yang melayang kearah teman-temannya.
Sontak, tiga orang temannya cepat menggerakkan kedua lengan dan menyambut tubuh kakak pertama itu.
"Sialaaann!!! Siapa yang berani mengganggu!??" bentak kesal si kakak pertama dengan pandang mata tajam.
Sedetik kemudian orang ini terkejut dan heran melihat di depannya saat ini sudah berdiri seorang kakek tua dan seorang lagi yang wajahnya tertutup topeng putih.
Kemudian, terdengar kakek itu berkata, "Hm...beginikah sifat asli dari perguruan Tongkat Bambu Kuning yang terkenal berisi dengan orang-orang gagah dan pembela kebenaran? Cuih!! Tak kusangka ternyata itu semua hanyalah omong kosong belaka!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG