Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 228. Salah Mangsa


__ADS_3

"Hm...hmm....hm...."


Suara senandung merdu terdengar sampai jauh di malam itu. Diiringi suara gemericik air sungai yang tak begitu deras dan tenang, juga suara "crak-cruk-crak-cruk" dari percikan air yang ditendang-tendang oleh si pemilik suara, menenangkan hati dan menentramkan pikiran.


Lama kelamaan, senandung itu berubah menjadi siulan yang tak kalah merdunya. Seperti suara suling yang ditiup penuh perasaan, mengalun-ngalun membikin orang ngantuk jika ada yang mendengar.


Tapi tak lama setelah itu, suara siulan serta percikan air itu berhenti. Kemudian wanita ini bangkit berdiri lalu membalikkan badan untuk melihat seorang pemuda tampan berdiri di sana.


"A Tong kan namamu? Kenapa kau kemari? Bukankah kau tak sudi datang?" tanya perempuan ini tanpa basa-basi.


"Hmph! Nona, sepertinya kau tidak kenal siapa adanya diriku?"


"Haha, kau juga tidak mengenalku. Bagaimana kalau kita perkenalan dulu? Namaku Yin Mei."


"Aku A Tong."


Yin Mei memandangi wajah A Tong dengan seutas senyum manis. Berdirinya agak miring agar A Tong mampu melihat jelas lekuk pinggangnya. Tak jarang pula dia melemparkan kerlingan-kerlingan yang membuat dada A Tong berdebar sekali.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan....kenapa menahan diri?" goda Yin Mei yang berjalan menjauh.


"Yah...kalau tak mau yasudah...." kemudian gadis ini melenggang pergi tanpa menoleh lagi.


"Tunggu....!"


Seruan dari A Tong ini berhasil menciptakan seringaian di bibir Yin Mei. Tanpa berbalik, dia hanya melirik sedikit saja.


A Tong buru-buru berlari mendekatinya dan memeluknya dari belakang, Yin Mei mampu merasakan nafas pemuda itu memburu suhu tubuhnya panas sekali. Saat menengok, wajah A Tong sudah memerah dan matanya melotot liar.


"Aku....aku....sudah tak tahan....."


"Hihi....jangan buru-buru, kau bisa mendapatkan semuanya dan aku rela menjadi kekasihmu asal kau mau menjawab pertanyaanku."


Sontak jawaban ini membuat A Tong melotot lebar, pelukannya makin erat sehingga membuat Yin Mei sedikit sesak. Namun gadis itu menutupinya dengan baik melalui senyumnya yang makin lebar.


"Apa...apa itu....cepat katakan dan segeralah jadi kekasihku...Yin Mei...."


"Ini soal Iblis Tiada Banding. Ah...tapi jika kau katakan itu, maka kau–"


"Tak apa! Akan aku katakan semuanya! Tak peduli akan dianggap pengkhianat atau apapun, aku cinta kepadamu Yin Mei."


"Pria tolol!"


"Kalau begitu, mohon bantuannya..."


...****************...


Sedangkan dalam kamar di rumah penginapan, nampak Tai Lun yang tiduran dengan mesra di kedua paha Yin Yin yang mengelusnya penuh kasih sayang. Dengan sangat jelas dan detail, Tai Lun membeberkan semuanya soal seluk beluk Iblis Tiada Banding.

__ADS_1


Pertama adalah pimpinannya yang bernama Sian Yang. Bersama tangan kanannya yaitu Chan Fan dan Naga Emas. Juga ada satu penyihir gila yang entah tak diketahui namanya.


Sian Yang memiliki seorang murid yang bahkan lebih kuat dari gurunya sendiri bernama Zhang Heng. Dia ini adalah sosok terpenting atau bahkan mungkin tokoh utama dari Iblis Tiada Banding. Karena menurut Tai Lun, eksistensi dari Zhang Heng ini lebih tinggi daripada Sian Yang.


Kemudian ada lima orang pendekar sejati yang berdiri di bawah pimpinan Zhang Heng. Mereka semua adalah saudara kandung sekaligus saudara seperguruan. Nama mereka A Jiu, A Liu, A Ying, A Xin, dan A Tong. Dengan A Jiu yang tertua dan A Tong yang termuda dan A Ying satu-satunya perempuan.


Markas mereka berada di sebuah pulau bernama pulau Tulang Naga yang bertempat di sebelah Timur pantai Selatan.


"Lalu, apa tujuan kalian?"


"Mengambil kursi kekaisaran dan membangun kembali kejayaan kekaisaran Ling...." masih dengan suara menyeret-nyeret karena mabuk.


Yin Yin terkejut sekali, sudah sejak awal dia berpikir demikian dan ternyata memang benar. Iblis Tiada Banding berhasrat untuk naik tahta.


"Lalu, dimana saja kalian sudah mengirim mata-mata. Ah, bukan apa-apa, aku hanya ingin mengenalkan diriku sebagai istrimu jika aku diganggu mereka."


"Haha, ya, kau istriku. Bilang saja seperti itu dan tak akan ada yang berani mengganggumu!"


Tai Lun kembali melanjutkan ceritanya. Mata-mata Iblis Tiada Banding sudah disebar kesegala penjuru termasuk ibukota. Bahkan A Xin sendiri yang menjadi salah satu mata-mata di ibukota.


Sampai di sini memucatlah wajah Yin Yin, elusan di ujung kepala Tai Lun terhenti dan membuat pria itu membuka mata untuk melihat Yin Yin.


"Ah...istriku, apakah sekarang kau sudah siap?"


Namun Tai Lun tak mendapat jawaban dari Yin Yin kecuali tatapan dingin penuh aura membunuh. Tai Lun merasakan ancaman hebat dan dirinya ingin cepat-cepat bangkit, akan tetapi betapa terkejut hatinya saat tubuhnya sudah lemas tak mampu bergerak.


"Terima kasih untuk segala informasinya." ucap Yin Yin dingin dan secepat kilat tangannya bergerak untuk mencekik leher Tai Lun.


Terdengar seperti suara babi disembelih saat Tai Lun sekarat dan matanya melotot lebar. Kemudian Yin Yin menekan urat kelemahan di leher sebelum akhirnya Tai Lun berhenti mengeluarkan suara dan hidupnya berakhir.


Yin Yin lalu membuang mayat Tai Lun seenaknya dan mengganti jubahnya dengan pakaian Hantu Merah, tak lupa dengan topeng andalannya. Sedetik kemudian, tubuhnya lenyap dari sana dan pada keesokan paginya, desa itu geger karena ditemukannya mayat di salah satu kamar penginapan.


...****************...


Dengan cara yang sama seperti ibunya, Yin Mei menggoda A Tong yang belum diketahuinya sebagai pendekar sejati. Sebagian besar informasi yang di dapatnya sama persis dengan yang di dapat ibunya. Sisanya hanyalah informasi tak penting.


"Dan salah satu dari pendekar sejati itu adalah aku sendiri, hahaha!"


Ketika mengatakan hal ini, A Tong nampak amat bangga dan berbanding terbalik dengan perubahan ekspresi pada wajah Yin Mei yang menjadi pucat pasi. Seketika tubuhnya menggigil dan kaku-kaku, namun sebisanya gadis itu menekannya dan bicara seolah-olah tak terjadi apa-apa.


"Wah...kekasihku memang hebat." sengaja dia berkata demikian untuk meruntuhkan hati A Tong dan membuat penjagaannya lengah. Sepertinya berhasil karena A Tong menjadi merona dan salah tingkah.


"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" Yin Mei menggoda dan menggerakkan kedua kaki yang yang tadi saling tindih di samping tubuhmya.


A Tong menjadi beringas dan segera menubruk Yin Mei, menindihnya dan memandang wajahnya lekat-lekat.


"Yin Mei, kau sangat cantik...."

__ADS_1


Sedangkan gadis itu tak menjawab, hanya tersenyum saja sambil diam-diam memikirkan cara terbaik untuk membunuh A Tong ini.


"Sialan, aku salah pilih mangsa!"


Saat A Tong mendekatkan wajah dan hendak mencium bibir Yin Mei, gadis ini pura-pura pasrah. Namun ketika A Tong memejamkan mata, secepat kilat tangan Yin Mei bergerak dan saat itu pula bibir A Tong terbelah.


"Srat!"


"Aaahh!!" A Tong memekik lalu melompat ke belakang.


Tak sampai di situ, Yin Mei sudah lebih dulu mencabut sepasang belatinya untuk kemudian melesat cepat hendak menggunting lehernya. Tentu saja A Tong tak membiarkan hal itu terjadi.


Karena dirinya seorang pendekar sejati, maka sebentar saja kewaspadaannya telah pulih dan dia mampu menghindar. Sambil menghindar kakinya mengirim tendangan telapak kaki mengarah pusar lawan yang dengan telak mengenainya dan membuat Yin Mei terpental.


"Yin Mei, apa maksudnya ini!" A Tong berseru marah dengan mulut yang berdarah-darah.


Yin Mei tak mempedulikannya dan segera bangkit untuk menerjang lagi. Namun setiap serangannya mampu dihindari dengan mudah oleh A Tong yang hanya memiring-miringkan tubuh dan kepala saja.


"Jawab aku Yin Mei!! Siapa kau!?"


"Sial, aku harus lari!" batin Yin Mei yang segera melompat mundur sebelum menghilang di balik rimbunnya pohon.


"Jangan kabur!" seru A Tong yang sudah cepat mengejar.


"Sialan, kenapa pendekar langka sepertinya malah ditemui di desa seperti ini? Apakah akhir-akhir ini para pendekar sejati mulai menunjukkan wajahnya?" umpat Yin Mei di tengah perjalanan.


Hantu Merah ini melesat cepat sekali tanpa sekali pun berani menengok ke belakang. Dia berlari dan berloncatan menuju desa itu untuk kemudian ke tempat pertemuan sesuai janjinya dengan ibunya.


Akan tetapi belum juga lima menit berlari, dari belakang menyambar angin kuat yang memaksanya untuk menghindar ke samping.


"Sial, aku sudah terkejar!"


Belum sempat bernafas, dari belakangnya menyambar angin dahsyat lain yang cepat mengejutkan Yin Mei.


"Sial!"


Yin Mei cepat menundukkan badannya. Tapi sedetik kemudian dia terkejut sekali saat dari bawahnya sudah menunggu sebuah kaki yang menendangnya kuat.


"Buaghh!"


Telak sekali tendangan itu mendarat di perut Yin Mei yang terpental jauh dan menghantam pohon besar. Dia memicingkan mata untuk melihat A Tong yang sudah berdiri tegak dengan tatapan mata dingin tajam setajam ujung pedang.


"Hmm....Yin Mei, kau salah memilih mangsa."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2