Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 71. Desa Daun Semanggi


__ADS_3

Suatu hari di pagi yang cerah, Matahari bersinar terang menerangi jagat raya. Di langit sana, tiada awan atau apapun yang menghalangi pancaran cahaya matahari pagi itu.


Burung-burung terlihat berterbangan secara berkelompok menuju ke suatu tempat, entah pergi kemana. Daun-daun rumput serta pohon masih basah oleh embun karena dinginnnya suhu udara tadi malam.


Hamparan jalan setapak itu terlihat masih basah dan becek, menandakan jika tempat itu baru saja diguyur hujan deras. Memang ketika kemarin tepatnya saat sore hari, hujan turun, sebuah hujan badai yang sangat hebat. Bahkan beberapa pohon kecil disekitar desa itu sampai tumbang.


Desa itu adalah desa Daun Semanggi. Sebuah desa yang berada di sebelah barat kota raja, berada di bawah lereng bukit Pilar Batu.


Terlihat di sana, semuanya berjalan seperti hari-hari biasanya. Ya, seperti hari biasanya...


Tapi, hal yang biasa di desa ini, tentu akan sangat tidak biasa atau bahkan aneh untuk desa-desa lain. Apa itu? Hal ini terjadi karena penyerbuan orang-orang Aliansi Golongan Hitam seminggu yang lalu.


Pada hari itu, tepat pada malam hari. Sebanyak seratus orang pendekar dari Aliansi, datang menyerbu desa ini. Semuanya dibasmi, baik tua, muda, anak-anak atau dewasa. Yang selamat hanyalah satu golongan, golongan perempuan!!


Tentu saja kita sudah tahu apa yang akan mereka lakukan dengan para perempuan malang itu. Begitu membantai desa itu hingga menjelang pagi, semua wanita yang tertangkap dipaksa untuk melayani para pendekar bejat itu.


Karena merasa stres dan tertekan, sehingga banyak diantara wanita itu yang lebih memilih bunuh diri daripada tubuhnya dijamah orang lain. Namun yang berhasil melakukan bunuh diri hanyalah sepuluh orang, sisanya yang mungkin berjumlah tujuh puluhan orang, mau tak mau harus menjadi penghangat malam bagi para pendekar itu.


Seperti pada pagi hari ini, desa Daun Semanggi yang biasanya hidup tentram dan rukun itu, yang biasanya banyak pedagang keluar masuk untuk mencari nafkah, saat ini menjadi sepi orang. Bagaimana tidak, desa ini sekarang hanya ditinggali oleh tujuh puluh wanita dan kurang lebih lima puluh orang pria. Sedangkan lima puluh pria lagi sedang meninggalkan desa untuk suatu urusan.


"Hahaha....lebih keraaass!! Berteriaklah lebih keras!!" kata seorang pria sambil tertawa-tawa. Wajahnya buruk sekali. Saat ini dia sedang memperkosa seorang wanita yang merintih-rintih dan memohon-mohon, akan tetapi tidak dipedulikannya. Yang lebih hebat lagi, dia melakukan ini di pinggir jalan!!


Begitupun dengan di tempat lain, baik di dalam rumah, di kebun, di sawah atau dimanapun. Setiap sudut desa itu pasti selalu ditemukan seorang pria yang sedang memperkosa wanita. Bahkan ada satu wanita yang dikerubungi oleh tujuh orang pria. Sungguh manusia iblis!!!


Desa Daun Semanggi, semenjak di ambil alih oleh Aliansi Golongan Hitam, penduduk desa hanya pergi keluar rumah untuk mencari makan, bukan mencari uang. Mereka pergi kesawah dan kebun untuk merawat tanaman agar kelak bisa diambil hasilnya dan dimakan. Sama sekali bukan untuk dijual seperti kebiasaan desa itu sebelumnya.


Begitu pulang kerumah...mereka sudah disambut dengan pria-pria gila yang setiap saat tak ada bosan-bosannya untuk menikmati tubuh mereka. Sungguh malang...


Desa Daun Semanggi, telah berubah....telah hancur...dan telah menjadi desa binatang yang hanya tahu akan pemuasan nafsu.


...****************...


Di sebuah hutan, tak jauh dari desa Daun Semanggi. Berjalan tiga orang yang sekali lihat tahulah bahwa mereka ini adalah pendekar.


Setiap kali kaki mereka melangkah, tanah becek dibawahnya itu sama sekali tidak meninggalkan bekas sedikitpun! Hal ini menandakan bahwa ilmu meringankan tubuh mereka bertiga sudah sangat tinggi.


"Oh...di sana ada desa. Lebih baik kita istirahat dulu di desa itu untuk makan minum." ucap seorang yang terlihat paling tua.


"Bagaimana Minghao, kau tak keberatan kan?" kembali orang itu berkata sambil melirik seorang pria berpakaian sastrawan di sebelah kirinya.


"Tidak Tuan, aku tidak sedang buru-buru." jawab orang itu.


"Oh...baguslah. Tapi agaknya orang inilah yang keberatan." kakek ini berkata seraya melirik kearah seseorang di sebelah kanan.


Ya, mereka bertiga bukan lain adalah Zhang Hongli, Lin Tian, dan Minghao. Mereka sedang dalam perjalanan menuju ke Barat untuk mencari keberadaan Nona Zhang.


Begitu pria tua yang tak lain adalah Zhang Hongli itu berkata demikian, di balik topeng putih itu Lin Tian menampakkan ekspresi pahit. Memang sejatinya dia sedang buru-buru dan sudah tidak sabar untuk menemui Nona mudanya.


"Tak apa, lagipula aku sudah lapar." akhirnya Lin Tian berkata.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan sebuah gerbang desa. Desa itu besar sekali, bahkan luasnya mungkin hampir sama dengan kota kecil. Akan tetapi ada satu hal yang membikin keempat orang itu mengerutkan kening.


Pasalnya, desa ini terlihat amat sepi dan tidak ada apapun. Akan tetapi dari mereka berdiri saat ini, terdengar suara teriakan-teriakan wanita yang sungguh memprihatinkan.


Lin Tian yang bingung melangkah maju dan hendak memasuki gerbang untuk melihat. Begitu sampai di tiang gerbang, di sana tertulis sebuah tulisan.


"Desa Daun Semanggi....hm agaknya desa ini bernama desa Daun Semanggi." gumam Lin Tian seraya memandangi tulisan itu. Kemudian dia melanjutkan langkahnya.


Baru saja satu langkah Lin Tian memasuki desa, dari kejauhan sana dia sudah melihat betapa ada seorang pria buruk rupa yang sedang mempermainkan seorang wanita. Wanita itu ditindihnya dan dia melakukan...ah tentu kita semua sudah tahu.


Lin Tian melihat betapa wanita itu terus meronta dan berteriak-teriak, akan tetapi dia sama sekali tidak bisa lepas dari cengkraman si pria.Tahulah Lin Tian apa yang sedang terjadi. Akhirnya Lin Tian yang marah, juga dia adalah salah satu tipe pria yang sangat membenci pemerkosaan, langsung mengayunkan tangan kedepan dan terciptalah sebuah kabut tipis berhawa dingin.


Kabut itu menyambar dengan cepat sekali menuju pria tersebut. Si pria yang tiba-tiba merasakan ada sebuah serangan angin dingin, menjadi terkejut dan langsung berdiri, mangacuhkan wanita itu yang masih terangah-engah dan nampak kesakitan.


Akan tetapi semua telah terlambat, kabut itu tepat mengenai dadanya dan detik berikutnya, jantung sekaligus paru-parunya menjadi beku. Setelah mengeluarkan seruan tertahan, orang itu jatuh terlentang dan tewas dengan muka penasaran.


"Lin Tian ada apa??" tanya Minghao yang sudah berada di sana bersama Zhang Hongli.


"Apa-apaan desa ini?" gumam Zhang Hongli yang juga merasa aneh akan keadaan desa.


"Minghao mainkan sulingmu, buat mereka semua keluar!" kata Zhang Hongli sesaat setelah dia menyadari situasi. Kakek yang sudah berpengalaman ini sekali lihat sudah tahu bahwa desa ini tentu telah diinvasi oleh para penjahat.


Minghao mengangguk dan mengeluarkan suling dari jubahnya. Sebuah suling berwarna putih bersih yang terdapat ukiran naga indah di sana.


Tak menunggu lama lagi, Minghao mainkan suling itu. Terdengar suara indah begitu pria sastrawan itu meniup sulingnya, nadanya mengalun-alun membuai kalbu. Sungguh menenangkan.


Tak berselang lama, dari dalam rumah-rumah dan kebun-kebun maupun sawah, datang segerombolan orang yang berwajah kasar dan menyeramkan. Kesemuanya membawa senjata menandakan bahwa mereka adalah seorang pendekar.


Melihat salah seorang rekannya tewas di pinggir jalan, seorang tinggi besar yang sepertinya menjadi pemimpin itu menjadi marah sekali. Maka sekali meloncat saja, dia sudah tiba di hadapan tiga orang itu dan membentak.


"Kalian ini siapa dan mau apa!!? Kenapa datang-datang sudah bikin ribut di tempat orang!!?? Cari mati!??"


Minghao menghentikan tiupan sulingnya, kemudian tersenyum tenang. Tidak mengatakan sepatah kata pun.


"Hm...apa kalian pikir Aliansi Golongan Hitam itu sedemikian kuatnya hingga membuat kalian menjadi begini sombong dan arogan?" tanya Zhang Hongli yang dalam sekali lihat saja sudah mengenali orang itu sebagai anggota Aliansi Golongan Hitam.


" Hah!! Bagaimana kau bisa tahu kalau kami adalah anggota Aliansi??" tanya orang itu penasaran.


"Mudah saja, orang-orang Aliansi itu kebanyakan akan ciut nyalinya begitu pemimpinnya mati. Mau bukti?" jawab Zhang Hongli tenang dan penuh tantangan.


Orang itu paham akan maksud lawan bicaranya. Maka dengan gerakan gesit sekali, tiba-tiba goloknya itu sudah digenggam tangan.


"Majulah!!!"


Zhang Hongli mendengus, lalu menggerakkan jari telunjuknya dengan cepat sekali mengarah leher. Detik berikutnya, terdengar seperti suara anjing tercekik begitu jari itu berhasil menotok leher sasaran.


"Hikkk....!!" orang itu roboh dan mati seketika.


Rekan-rekannya yang melihat hal itu menjadi gentar dan gemetar, akan tetapi di sisi lain menjadi sangat marah karena pemimpin mereka telah terbunuh orang asing. Maka dengan nekat, lima puluhan orang itu maju menyerang secara brutal.

__ADS_1


"Hmph!! Cari mati..." gumam kakek itu. Sedetik kemudian, sekali kakinya bergerak, dia sudah melesat cepat menuju gerombolan pria nekat itu diikuti Minghao dan Lin Tian.


...****************...


"Craasshh!!!"


Darah menyembur kesegala arah begitu Pedang Dewi Salju yang sangat menawan itu berhasil memisahkan kepala orang terakhir dari penyerang.


Pertarungan hanya berlangsung selama kurang lebih lima menit saja. Hal ini tidak mengherankan karena yang mereka keroyok adalah orang-orang sakti yang ilmunya sudah terlampau tinggi. Apalagi Lin Tian dan Minghao, kedua pendekar muda ini memiliki kepandaian yang sungguh di luar nalar. Walau tak sehebat Zhang Hongli, akan tetapi kemampuan mereka sudah melewati batas jika dibandingkan dengan orang seumuran.


Setelah selesai melakukan pembantaian itu, Zhang Hongli mengumpulkan semua orang wanita. Mereka semua berwajah pucat dan kantung mata mereka berwarna hitam. Namun walaupun begitu, raut wajah mereka terlihat berseri karena telah terbebas dari "neraka".


"Terima kasih Tuan!!" ucap mereka serempak seraya bersujud dan mengucurkan air mata. Melihat hal ini, Zhang Hongli langsung menyuruh mereka bangun dan berkata.


"Katakan, apa yang telah terjadi di sini?"


Setelah itu, salah satu wanita maju dan menceritakan semuanya. Mulai dari suami serta anak-anak mereka dibunuh, lalu dipaksa untuk melayani mereka siang malam.


Mereka juga mengatakan bahwa para pendekar yang terbunuh itu hanya setengah saja dari jumlah keseluruhan. Dan yang sisanya sedang tidak berada di desa karena pergi keluar entah untuk apa.


"Begitu ya, sungguh malang nasib kalian. Untuk sekarang, lebih baik kalian pergi ke kota raja. Aku akan menghubungi kenalanku disana untuk menjemput kalian, selama masa menunggu, makanlah buah atau padi hasil pertanian kalian."


Kemudian kakek ini menuliskan sesuatu di sebuah kertas dengan menggunakan pensil milik Minghao. Lalu dia menangkap seekor burung merpati yang sedang terbang, kemudian mengikatkan kertas itu pada kakinya dengan seutas tali. Lalu menerbangkannya lagi.


Tentu saja Minghao dan Lin Tian heran bukan main. Hal itu tentu terlihat sangat aneh, untuk apa menulis surat yang lalu diikatkan pada kaki seekor burung liar? Itulah pikir mereka.


Karena sudah penasaran sekali, Lin Tian bertanya, "Guru, apa yang anda lakukan tadi?"


"Mengirim surat untuk Chu Wei dan adiknya. Semoga dia membacanya dan suka mengirim bantuan kemari." jawab Kakek itu tanpa mengalihkan pandangannya dari kepergian si burung.


"Tapi guru....burung itu burung liar dan belum terlatih. Mana bisa dia tahu bahwa surat itu untuk Tuan Chu Wei?" tanya Lin Tian yang makin tak paham akan jalan pikir orang tua itu.


Zhang Hongli masih diam, tak bergerak sedikitpun. Entah apa yang dipikirkannya akan tetapi matanya itu tak pernah berpindah tempat dari arah perginya sang burung.


"Ah...benar juga, kenapa aku bisa terlupa? Pantas saja burung itu terbang kearah Selatan sedangkan kota raja berada di Utara, ternyata dia tidak tahu maksudku ya...."


"..."


"..."


Zhang Hongli dan Minghao hanya memandang datar sambil menahan kemangkelan hati masing-masing.


"Pendek sekali pikiran orang ini..." batin Minghao yang baru sekali ini mengalami keanaehan yang begitu luar biasa.


"Teruntuk kakek dan nenek buyut Nona muda, apa yang kalian makan sampai membuat anak kalian menjadi seperti ini...."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2