Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 72. Kabar Yang Mengejutkan


__ADS_3

Setelah Lin Tian menuliskan surat untuk Chu Wei dan Chu Rou, dia lalu menerbangkan surat itu menggunakan burung merpati milik Minghao. Entah bagaimana caranya, tetapi begitu Minghao bersiul keras, burung itu tiba-tiba datang bagaikan setan!


Kemudian, mereka bertiga menguburkan semua mayat-mayat para pendekar golongan hitam itu. Ketika matahari sudah terik, barulah pekerjaan berat itu selesai. Pasalnya, hanya mereka bertiga yang menguburkan lima puluh orang itu, sedangkan untuk warga desa, Zhang Hongli dengan keras melarang mereka, karena dia tahu bahwa para wanita itu sangat membenci pria-pria tersebut. Zhang Hongli hanya tidak mau ada suatu hal buruk terjadi.


"Hah....melelahkan sekali..." kata Minghao sembari mengusap peluh di dahinya dengan ujung jubah.


"Kau sendiri yang banyak tingkah bocah!! Sudah tahu dari awal bahwa kita hendak menguburkan mayat-mayat ini, tapi kenapa kau malah terus menggendong alat musikmu?? Kau ingin merasakan sakit punggung sejak dini ya?" cela Zhang Hongli sambil menuding-nuding hidung sastrawan itu.


"Ah...tidak seperti itu Tuan, sungguh anda telah salah besar..."


"Lalu apa yang benar!?" desak Zhang Hongli tak sabaran.


"Hm...sebagai seorang sastrawan, alat musik ini sudah seperti menjadi bagian dari tubuhku sendiri. Apalagi aku juga seorang pendekar, senjata adalah sebuah harga diri dan tidak boleh terlepas dari pegangan sebelum nyawa ini suka meninggalkan badan!! Begitulah wejangan yang kuterima dari guruku." jawab orang itu sambil tersenyum.


"Heh...!! Kau hendak mengejekku ya!? Ayo bertanding sampai selaksa jurus, aku ingin lihat sampai dimana harga diri yang kau bangga-banggakan itu!!" bentak Zhang Hongli yang tiba-tiba menjadi marah.


Tentu saja hal ini membuat lawan bicara terkejut. Sastrawan ini mengerutkan kening hingga dalam sekali, wajahnya membayangkan keheranan dan keterkejutan hebat. Dia berkata dengan tenang supaya tidak menambah kemarahan kakek di depannya.


"Maaf Tuan, tapi aku sama sekali tidak bermaksud mengejek."


"Hmph, jangan sok polos!! Kau secara tidak langsung mengatakan bahwa aku ini adalah seorang pendekar yang tidak punya harga diri karena tidak memegang senjata kan!!? Hayo mengaku! Seorang gagah tak akan pernah menarik kembali ucapannya!!" kakek itu dengan bersungut-sungut menjawab. Bahkan kali ini dia sudah menyiapkan kuda-kuda.


Wajah Minghao memucat. Sadarlah ia betapa sebelumnya telah salah ucap. Maka dengan kecepatan otaknya yang cerdik, orang ini menjura dalam dan berkata.


"Ah...untuk kedua kalinya Tuan telah salah paham. Bagaimana bisa begitu? Justru pendekar-pendekar seperti Tuan Zhang inilah yang memiliki kegagahan dan harga diri paling tinggi."


"Maksudmu?" tanya Zhang Hongli yang sedikit melunak, sungguh pun nada bicaranya masih terdengar ketus.


"Maksudku, para pendekar bertangan kosong itu tentu lebih terhormat daripada kami yang hanya bisa menggantungkan nyawa dibalik berbagai macam senjata. Contohnya anda Tuan Zhang, yang hanya mengandalkan tangan dan tubuh sendiri, akan tetapi mampu menciptakan sebuah peristiwa bersejarah 'Runtuhnya Tongkat Budiman'. Bukankah itu jauh lebih terhormat?" ucap Minghao mengakhiri penjelasannya.


Mendengar ini, wajah yang sebelumnya suram dan tidak enak dipandang itu menjadi berseri-seri dengan senyum merekah.


"Hahaha....jadi begitu, maaf...maaf aku yang tua bau tanah ini telah salah paham. Hahaha!!!" jawab Zhang Hongli yang sudah merangkul pundak Minghao sambil tertawa bergelak.


Minghao hanya menanggapi dengan ketawa pula. Ketawa canggung dari seorang yang baru saja terbebas cengkraman maut.


Sedangkan tak jauh dari sana. Lin Tian beserta para penduduk desa telah menyaksikan semua peristiwa aneh itu dari awal. Wanita-wanita desa yang cantik-cantik itu hanya mampu menahan ketawa dengan menutup mulut menggunakan kedua tangan.


Sedangkan Lin Tian? Di balik topeng putih itu, dia menggigit bibir kuat-kuat serta tangannya sudah mengepal sampai gemetar hebat, menahan gejolak nafsu memukul muka tua penuh keriput milik gurunya itu.


"Tahan Lin Tian....tahan....dia gurumu....kakek dari Nona mudamu...tahan amarahmu...."


...****************...


Menjelang senja, mereka bertiga memasuki sebuah hutan yang memiliki pohon-pohon tinggi besar. Hanya ada satu jalan setapak kecil saja yang saat ini sedang mereka pijaki untuk menjadi akses keluar masuk hutan.

__ADS_1


Cuaca terlihat cerah, terbukti dari warna awan yang putih bersih bercampur kuning keemasan cahaya matahari terbenam. Burung-burung walet terbang dari arah Utara menuju Selatan dengan formasi berbentuk segitiga, menuju ke dahan-dahan pohon itu untuk menemui anak-anaknya.


Namun walaupun begitu, ketiga pendekar sakti itu sama sekali tidak punya waktu untuk menikmati semua keindahan alam ini. Hal ini terjadi karena beberapa jam lalu, ketika mereka baru saja pergi dari desa Daun Semanggi sejauh beberapa kilometer.


Waktu itu, mereka bertemu dengan sepasukan orang berjumlah lima puluh orang. Mereka semua menunggang kuda yang tampak gagah dan kuat, sangat senada dengan penunggangnya.


Begitu melihat kumpulan orang ini, mereka bertiga menjadi waspada. Yang pertama kali terpikirkan di pikiran mereka adalah bahwa mungkin sekali gerombolan orang berkuda itu adalah para pendekar yang sebelumnya telah pergi meninggalkan desa, seperti yang dituturkan salah satu wanita di desa tersebut.


"Kita bersembunyi di sana." kata Zhang Hongli perlahan dan langsung berkelebat memasuki semak belukar yang tertutup sebatang pohon tinggi besar.


"Hahaha....sungguh hebat, pemimpin memang hebat. Bisa menangkap Nona cilik itu yang selama ini licin sekali seperti belut sawah. Sekarang, kita tinggal cari yang satunya hahaha!!!" kata salah satu orang kepada temannya.


"Benar, tak kusangka seorang gadis cilik selihai dia mampu tak berkutik dihadapan pemimpin."


"Hal itu tentu bukan hal aneh karena pemimpin mendapat bantuan dari anggota Pilar Neraka kebanggaan kita hahaha!!!"


"Tapi yang membuatku heran, mengapa gadis itu pergi bersama seorang perempuan? Bukankah seharusnya bersama seorang anak laki-laki?"


"Bodoh, informasi itu sudah beberapa tahun yang lalu dan sekarang sudah basi!! Tentu saja keadaan sudah berubah!"


Dari balik persembunyian, ketiga pendekar itu mendengarkan dengan seksama. Mereka mencurahkan seluruh perhatian ke telinganya untuk mendengar lebih jelas semua percakapan itu.


"Memangnya yang ditangkap pemimpin itu siapa sih?" celetuk salah satu orang secara tiba-tiba. Wajahnya terlihat culun dan bodoh.


Mendengar pertanyaan yang menurut mereka aneh, seketika pecahlah tawa mereka dan ramailah keadaan di dalam hutan itu.


"Dengar baik-baik kawan, orang yang berhasil pemimpin tangkap adalah musuh besarnya. Nona muda keluarga Zhang, Zhang Qiaofeng!! Seorang dara remaja yang cantiknya bagaikan bidadari jatuh dari surga!!"


Seketika, wajah Zhang Hongli dan Lin Tian menjadi buruk, buruk sekali. Minghao yang sadar akan hal ini sedikit banyak juga merasa geram kepada mereka.


"..."


"..."


Tak ada suara apapun yang keluar dari mulut kedua guru dan murid itu. Hanya terdengar hembusan nafasnya saja yang makin lama makin memburu.


Dengan gerakan perlahan, Zhang Hongli berdiri, diikuti oleh Lin Tian. Minghao menjadi bingung karena khawatir kalau-kalau dua orang ini menjadi nekat.


"L-Lin Tian? T-Tuan Zhang?" gumam Minghao gugup.


Tanpa berkata-kata dan seperti dikomando, dua orang ini sudah melesat dengan kecepatan bagaikan anak panah lepas dari busurnya menuju sepasukan orang itu. Detik berikutnya, sebelum satu pun dari mereka menyadari kedatangan Lin Tian dan gurunya, mereka berdua sudah mengirim serangan dan robohlah dua orang diantara mereka.


"Prok-prok!!"


Suara kepala pecah yang terdengar nyaring sekali. Ternyata dua orang itu adalah si culun dan yang menyahuti ucapannya tadi.

__ADS_1


"Siapa ini!!"


"Apa...Ada apa!!"


Seketika ricuhlah mereka. Namun kedua guru murid itu sama sekali tidak peduli. Dengan pandang mata liar dan bengis, mereka mengamuk dengan amat ganasnya bagaikan dua ekor singa terluka. Menyerang apa pun yang berada di hadapannya tak pandang bulu.


"Crashh-craatt-prok-breeess"


Berbagai macam suara nyaring terdengar, disusul dengan robohnya setiap orang dari mereka dengan keadaan yang mengenaskan.


Lin Tian tidak tanggung-tanggung, pemuda itu langsung mencabut pedangnya begitu turun ke medan tempur. Dengan menggunakan Ilmu Pedang Pelukis Langit dan Ilmu Silat Halimun Sakti, pemuda ini benar-benar sangat mengerikan. Ditambah dia juga mengerahkan seluruh tenaga dalam, sehingga sepanjang pertempuran sedang berlangsung, tubuhnya selalu terselimuti kabut putih.


Setiap tebasan dari Lin Tian terasa sangat dingin menusuk tulang membekukan jantung.


Gurunya Zhang Hongli, lebih hebat lagi. Kakek ini meloncat kesana-kemari sembari tanganya tak pernah berhenti berkgerak mengirim berbagai macam serangan. Setiap kali kaki tangannya bergerak, terdengar suara jerit kesakitan yang menyanyat hati.


Minghao yang melihat itu semua dari balik semak, menjadi ngeri hatinya melihat betapa lima puluh orang itu dibantai habis-habisan hanya oleh dua orang.


Beberapa menit kemudian, sepasukan orang itu sudah mati semua dan kini mayatnya malang melintang di tengah jalan. Begitu pun dengan mayat kuda-kuda tunggangannya yang juga ikut dibunuhi dua orang ini.


Hanya menyisakan satu orang yang masih rebah sekarat. Orang ini menjadi korban keganasan pukulan Zhang Hongli.


"Katakan, siapa yang kau maksud pemimpin tadi? Dan dimana tempat Nona muda Zhang ditahan!?" tanya Lin Tian dengan nada dingin sambil kaki kanannya menekan dada orang tersebut.


Orang ini tidak langsung menjawab, hanya mampu rebah terlentang dengan mulut ternganga lebar dan nafas terengah-engah. Tetapi Lin Tian yang sudah dikuasai amarah dan nafsu membunuh itu menjadi kehilangan belas kasihannya sehingga injakannya semakin keras dan dia membentak.


"Katakan!!!!"


"X--Xiao Fu...." jawab orang itu lemah. Sedetik kemudian tubuhnya tidak lagi bergerak, menandakan bahwa nyawanya telah lepas dari jasad.


Lin Tian membolatkan matanya kaget, begitu juga dengan kedua orang dibelakangnya.


"Xiao?"


"Keluarga Xiao?"


Gumam Zhang Hongli dan Minghao hampir berbareng. Namun Lin Tian tak mau ambil pusing, yang dia pikirkan hanyalah tentang keadaan Nona mudanya yang kini dapat dipastikan sedang terancam bahaya maut.


Tanpa berkata-kata lagi, Lin Tian sudah melesat menuju arah barat dengan perasaan khawatir luar biasa. Begitupun dengan Zhang Hongli, disamping rasa marahnya, dia juga merasa amat cemas akan keadaan cucunya. Maka tanpa menunggu lama lagi, kedua orang ini pun juga langsung berlari mengejar Lin Tian dengan kecepatan yang sama-sama hebat.


Begitulah ceritanya, dan sampai sore hari ini, mereka bertiga belum berhenti sekali pun dan masih terus berlari.


"Nona....bertahanlah..."


"Feng'er...tunggulah kakekmu ini..."

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG


__ADS_2