
Ada enam orang yang mengurung Xiao Li dengan berbahaya. Tiga orang menggunakan golok dan tiga orang lagi menggunakan cambuk yang terbuat daripafa baja. Sungguh amat hebat dan mengerikan.
Mereka mengurung Xiao Li dengan teratur, pemegang golok menyerang dari jarak dekat sedangkan pemegang cambuk menyerang dari jarak jauh. Tentu saja hal ini membikin repot Xiao Li, karena selain formasi itu sangat kuat, juga ternyata dia baru menyadari bahwa keenam orang itu kepandaiannya hanya sedikit dibawahnya.
"Trang-trang-tring"
Bunga api berhamburan ketika pedang dan golok saling bentrok. Kemudian, Xiao Li melompat kesana-kemari untuk menghindarkan diri dari serangan susulan para pemegang cambuk.
"Sialan!!" umpatnya sebelum kembali memutar pedang dan bertarung hebat.
Dipihak para pasukan yang sedang bertempur, saat ini perlahan-lahan tapi pasti, mereka mulai terdesak. Karena kematian Bao Chu dan Bao Kun sangat mempengaruhi jalannya pertempuran, terutama sekali menurunkan semangat juang para prajurit.
Apalagi, ternyata para manusia gunung itu sedari awal belum mengeluarkan pemeran utamanya. Pria berbaju bulu beruang yang disangka pemimpin penyerbuan itu, ternyata dia bukan lain hanyalah prajurit biasa. Maka begitu melihat munculnya tiga orang yang lihai bukan main, makin ciutlah nyali para prajurit.
Tiga orang ini kesemuanya memiliki rambut panjang dan brewok yang lebat. Wajahnya bengis, matanya melotot lebar memancarkan sinar-sinar mengerikan. Tubuhnya tinggi besar dengan otot menonjol keluar, kulitnya hitam karena terbakar sinar matahari.
Tiga orang itu kesemuanya memegang sebatang pedang aneh. Pedang yang terbuat daripada tulang punggung singa jantan, panjang dan bergerigi tajam. Disalah satu ujung pedang itu terbalut sebuah kulit pohon yang sudah mengering, kiranya balutan kulit pohon itu digunakan sebagai pegangan pedang.
Mereka menunggang seekor beruang besar berbulu hitam pekat. Begitu terjun ke medan tempur, mereka bertiga berteriak aneh dan mengangkat pedang tinggi-tinggi.
"Woooo!!! Woooo!!" demikianlah teriakan mereka terdengar.
Mendengar teriakan ini, seketika pasukan manusia gunung menyerang lebih ganas dan bringas, membuat seluruh pasukan Kota Batu kuwalahan.
Mereka bertiga segera membalapkan beruangnya menyerbu Xiao Li yang masih dikurung formasi enam orang itu.
"Swing-swing-cring" dua kali pedang tulang singa itu menyambar, dan berhasil ditangkis dengan pedang Xiao Li.
Akan tetapi karena harus menahan dua tebasan itu, Xiao Li menjadi lengah dan tidak memperhatikan lecutan cambuk dari arah punggungnya.
"Ctaaarr"
Tak dapat dihindari, cambuk itu telak mengenai punggung pria itu yang langsung membuatnya terhuyung dua langkah.
"Akhh!"
Ternyata cambuk itu mengandung tenaga dalam kuat yang membuat Xiao Li terluka dalam sampai mengeluarkan seteguk darah segar.
Tak sampai di situ, begitu Xiao Li belum mampu memperbaiki kedudukannya, dari arah kanan kiri sudah menyambar golok yang mengancam lambungnya. Xiao Li terkejut namun tak sempat menghindar dan...
"Trang-trang"
Secara tiba-tiba sekali, muncul dua bayangan hitam dan putih yang langsung menghalau dua serangan golok itu. Seketika, golok yang tadinya mengarah lambung itu terpental dan balik menyerang si pemilik senjata.
"Lin Tian, Sastrawan Sakti...!!" seru Xiao Li terkaget.
__ADS_1
Mereka berdua tidak menjawab melainkan lekas bergerak dan mendesak keenam orang itu guna mematahkan formasi lawan.
Tiga orang pengguna pedang tulang itu menjadi marah dan langsung menyerbu mereka berdua. Namun Xiao Li juga cepat bergerak menangkis salah satu pedang itu.
"Trang-trang-trang" terjadilah pertandingan tiga lawan tiga yang amat seru.
Karena ketiga orang itu terdiri dari seorang sakti, maka pertandingan itu menghasilkan desing angin menderu yang mengacaukan sekitar, membuat orang lain baik pasukan manusia gunung maupun pihak Kota Batu tak ada yang berani mendekat.
Menginjak jurus keseratus, Lin Tian menggunakan ilmu pedang Kelopak Bunga Teratai yang lihai luar biasa. Tebasan pedangnya melengkung-lengkung seakan pemuda ini sedang melukis sebuah kelopak bunga di udara.
Akibatnya hebat sekali, setiap lawannya bergerak menebaskan pedang, Lin Tian mampu mengantisipasi kemana arah gerak pedang itu dan mampu menangkisnya.
Pria tinggi besar itu marah dan menerjang semakin hebat. Namun karena terdorong oleh emosi, serangannya makin ngawur dan membuka banyak celah.
Lin Tian tentu dapat melihat peluang ini. Maka dengan gerak kilat, dia membacokkan Pedang Dewi Salju hendak merobek dada itu.
Pedang itu mampu tertangkis, namun disusul dengan tendangan kaki Lin Tian yang mengandung hawa Yin, membuat tulang rusuk orang itu beku dan hancur seketika. Orang ini roboh dan setelah berkelojotan sejenak, dia tewas seketika.
Begitu pula dengan kedua rekannya, mereka ternyata sudah dapat pula mendesak lawan dan menghilangkan nyawa mereka. Lawan Minghao mati dengan leher berlubang karena totokan suling, sedangkan lawan Xiao Li mati dengan jantung tertembus pedang.
Melihat tiga orang pemimpin mereka tewas, para manusia gunung itu sontak lari tunggang langgang, meninggalkan medan tempur dengan teriakan-teriakan aneh. Para prajurit Kota Batu hendak mengejar, tapi ternyata lari mereka cepat sekali dan sebentar saja rombongan penyerbu itu sudah masuk jauh ke dalam hutan.
"Hah..." Xiao Li hanya bisa menghela nafas begitu melihat dua jasad Bao Chu dan Bao Kun. Juga dia merasa sedih sekali melihat betapa banyak sekali mayat prajurit Kota Batu yang gugur.
"Urus semua mayat dengan layak!!" perintahnya singkat sebelum pergi menghampiri Lin Tian dan Minghao.
"Jika kami tak datang, agaknya anda sudah tak berada di dunia ini lagi Tuan." jawab Minghao singkat.
Xiao Li hanya menghela nafas sembari menggelengkan kepala.
"Hah...karena kalian sudah membantu, mau tak mau aku harus menyetujui kesepakatan ini." kembali pria ini berkata.
Kesepakatan yang dimaksud adalah, keluarga Zhang meminta agar keluarga Xiao mengirim seperempat dari setiap anak murid akademi baru setiap tahun. Yang kelak nantinya akan dilatih langsung oleh si Kakek Sakti Zhang Hongli.
Sebagai gantinya, keluarga Xiao bisa menggunakan jasa Asosiasi Gagak Surgawi tanpa ada biaya sedikit pun.
Mendengar ini, wajah Lin Tian dan Minghao berseri. Kemudian lekas menjura dan berkatalah Lin Tian, "Banyak terima kasih kami ucapkan kepada Tuan Xiao. Setelah ini Nona pasti akan merasa sangat senang atas kabar baik ini."
"Sudahlah jangan berlebihan kepada orang sendiri Lin Tian. Lebih baik kita lekas kembali."
"Maaf Tuan, tapi kami sedang buru-buru dan tidak bisa ikut pulang bersama anda. Untuk para anak murid, mohon antar mereka ke Kota Raja, keluarga Zhang Akan menyambut. Kalau begitu, kami mohon undur diri."
Ucapnya sebelum melompat pergi diikuti Minghao. Pemuda ini maklum jika seandainya dia tidak lekas pergi, Xiao Li pasti akan melakukan berbagai cara untuk menahannya. Karena itulah untuk menghindari resiko, dia cepat mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan berkelebat lenyap dari sana.
"Hah...dasar....setelah ini Mei'er dan Niu'er pasti akan kecewa." gumam pria ini sambil menghela nafas dan pergi dari sana.
__ADS_1
...****************...
"Kenapa kita datang kesini?" tanya Minghao bingung seraya memandang toko senjata dihadapannya. Sebuah toko senjata yang walaupun terletak di daerah terpencil, namun terbilang cukup ramai.
"Kau akan tahu nanti, mari masuk!" jawab singkat pemuda ini.
Mereka lekas masuk ke toko itu dan disambut dengan seorang pria paruh baya yang langsung menyapa mereka.
"Selamat datang Tuan-tuan..." ucapnya ramah.
"Paman, ingatkah kau dengan ini? Aku ingin bertemu dengan Tuan Gong Fai." ucap Lin Tian sambil memperlihatkan Pedang Dewi Saljunya.
Sontak pelayan itu terkejut sampai membolatkan kedua matanya, mulutnya menganga lebar dan wajahnya berubah sedikit pucat. Namun dibalik semua ekspresi itu, agaknya dia juga merasa girang begitu melihat pedang tersebut.
"Anda...anda...." katanya tergagap.
Lalu melanjutkan sembari memberi jalan kepada Lin Tian dan Minghao, "Marilah Tuan, saya antar ketempat pemimpin."
Lin Tian mengangguk dan mengikuti saja dari belakang. Sedangkan Minghao, walaupun sastrawan ini merasa heran, namun dia tak bisa berbuat apa-apa selain mengikut saja.
"Silahkan duduk Tuan." pelayan itu berkata mempersilahkan Lin Tian dan Minghao duduk disebuah ruangan tempat Lin Tian dahulu memesan pedangnya.
"Tunggu sebentar, akan saya panggilkan pemimpin untuk datang." lanjutnya.
Tak lama setelah itu, terdengar bunyi kayu yang diketuk-ketuk di atas lantai. Mendengar ini, tahulah Lin Tian siapa yang akan datang.
Begitu suara itu mendekat dan sosok pemilik suara muncul dari balik pintu, berserilah wajah Lin Tian, juga wajah orang tersebut. Bergegas dia ikut duduk di kursi kosong di hadapan kedua tamunya.
"Hahaha....ternyata kau yang datang!! Tak kusangka bahkan dalam mimpi sekalipun, bahwa Pendekar Hantu Kabut yang sedang naik daun itu adalah kau Lin Tian!!! Sungguh kebetulan yang mengagumkan!!" katanya begitu melihat topeng Lin Tian.
"Ternyata anda masih ingat denganku ya? Hahah terima kasih." jawab pemuda ini.
"Tuan, perkenalkan juga, ini sahabatku bernama Minghao, atau yang biasa dikenal sebagai Sastrawan Sakti." kembali dia berucap untuk memperkenalkan Minghao. Sedangkan orang di sebelahnya itu sudah menjura hormat.
"Huahahah...betapa beruntungnya aku hari ini!! Selamat datang Tuan Minghao di toko kecilku ini!" balas kakek itu sambil menjura pula.
"Baiklah Lin Tian, ada apa gerangan sampai kau mendatangiku?" tanya kakek tersebut.
"Aku ingin bekerjasama dengan anda beserta murid dan toko anda ini Tuan." ucap Lin Tian serius.
"Hm? Kerja sama apa?" tanya Gong Fai yang agaknya mulai tertarik.
Lin Tian diam sejenak untuk merangkai kata-kata. Setelah itu terdengar dirinya berkata, "Tuan, keluargaku sangat membutuhkan kekuatan lebih saat ini. Karena itulah, mohon anda dan murid-murid anda sudi membantu kami untuk membuatkan berbagai senjata bagi keluarga."
Tak ada jawaban dari Gong Fai. Yang nampak di wajah orang tua itu hanyalah rasa terkejut yang teramat sangat.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG