
Lin Tian beserta lima puluh orang Perguruan Elang Bayangan bergegas untuk pulang ke kediaman Zhang. Lin Tian juga mengajak Siang Ki untuk bergabung menjadi bagian dari anggota keluarga Zhang, karena dia sudah kehilangan perguruannya. Siang Ki pun menyanggupi.
Sedangkan Zhi Yang, si Hantu Seratus Lengan itu memilih untuk pergi berpisah dengan mereka.
Pagi hari mereka berangkat, dan setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya ketika matahari tepat berada di atas kepala, Lin Tian tiba di kediaman Zhang.
Langsung saja Lin Tian memasuki pintu gerbang tanpa ada yang menghalangi. Namun tentu saja, para penjaga pintu beserta pelayan yang melihat mereka merasa heran karena Ang Bei yang mereka kenal sebagai salah satu tetua keluarga, berjalan dengan setengah diseret seperti itu.
Ditambah dengan rombongan lima puluhan orang yang berpakaian serba hitam. Sungguh hal ini membuat mereka semua bertanya-tanya.
Lin Tian tak mempedulikan semua itu dan segera menuju aula utama, tempat kursi kebesaran Nona pemimpinnya berada. Begitu tiba di sana, pemuda ini segera menjura hormat.
"Saya kembali Nona, maaf telah pergi selama satu hari penuh tanpa ijin."
Zhang Qiaofeng tak menanggapi, hanya memandang heran kearah rombongan yang dibawa Lin Tian dan terutama sekali, terhadap Ang Bei.
"Lin Tian, ada apa dengan paman Ang Bei?" tanya gadis ini yang sama sekali tidak menyambut kedatangan Lin Tian.
Lin Tian segera menendang Ang Bei ke hadapan Zhang Qiaofeng, kemudian mencabut pedang dan berkata dingin.
"Katakan semuanya!"
Ang Bei tentu ketakutan dengan perkataan penuh ancaman ini. Maka dengan mudah saja dia membeberkan semua rahasia tentang pengkhianatan dan persekutuannya dengan Aliansi.
Setelah Ang Bei mengakhiri ceritanya, wajah Zhang Qiaofeng yang putih bersih itu seketika berubah merah sekali. Entah karena amarah atau karena malu karena keluarga Zhang telah menyimpan seorang penjahat selama ini.
"Panggil paman Lu dan saudara-saudaranya!" akhirnya dia memberi perintah kepada salah satu pengawal.
Setelah beberapa saat, pengawal itu kembali bersama Lu Tuoli dan ketiga adiknya yang memasang wajah kebingungan. Apalagi begitu melihat Ang Bei yang ditodong pedang oleh Lin Tian, makin bingung lah hati mereka.
"Ada apa Nona?" tanya Lu Tuoli begitu sampai.
"Lihat, sahabatmu ini telah mengkhianati kita." sambil berkata, Zhang Qiaofeng menunjuk Ang Bei dengan dagunya.
"A-apa maksud Nona?" Lu Bei berkata, wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Tanyakan sendiri."
Serentak keempat orang itu menolehkan kepala kepada Ang Bei yang masih duduk menundukkan kepala itu. Detik berikutnya, terdengar Lu Tuoli membentak.
"Ang Bei!! Benarkah apa yang dikatakan Nona!?"
Ang Bei tak menyahut, hanya anggukan kepala saja yang menjadi jawaban.
__ADS_1
"Keparat!! Apa kau juga yang telah meracuni putriku?"
Sama seperti sebelumnya, hanya anggukan lemah saja yang menjadi jawaban.
"Bajingaaann!! Dasar manusia tak tahu diuntung! Aku sudah mengajakmu mendirikan Asosiasi, kau malah mengkhianatinya. Kalau begitu matilah!!" bentaknya dibarengi dengan loncatan cepat dan tusukan pedangnya.
"Trang!!"
"Hanya Nona yang pantas untuk memutuskan mati hidupnya orang ini." Lin Tian itu bergerak cepat menangkis.
"Bagaimana Nona? Mati atau hidupkah dia?" lanjut Lin Tian kepada Nonanya.
Zhang Qiaofeng memandang dengan pandangan sulit diartikan. Memang sejatinya ini adalah keputusan sulit. Karena selain Ang Bei adalah tetua keluarga, dia juga telah membantu keluarga Zhang selama ini.
Namun karena dia juga yang telah menjadi dalang kecacatan Lu Jia Li, maka akhirnya gadis ini memutuskan, "Ang Bei, andaikata yang berkata semuanya adalah Lin Tian, aku mungkin belum sepenuhnya percaya. Tapi karena kau sendiri yang sudah mengaku...hah...tak ada pilihan lain, kau telah bersekutu dengan musuh besar kami, maka dari itu..." Zhang Qiaofeng menghentikan perkataannya sejenak.
"Pengal kepala..."
Pucatlah wajah Ang Bei mendengar keputusan itu. Spontan, dia bersujud dan memohon penuh ketakutan, "Ampun Nona, hukumlah saya asal jangan hukuman mati. Saya bersumpah tidak akan mengulangi tindakan saya yang rendah ini."
"Nona sudah memutuskan, kau tak punya hak untuk menolak. Ketahuilah, kau sudah menjadi pengkhianat dan tidak akan ada lagi yang mengingat posisimu sebagai tetua." ungkap Lin Tian.
"Tuan Lu, silahkan..." kembali pemuda itu berkata memberi jalan untuk Lu Tuoli.
"Ang Bei, jika kau hanya mengkhianati Asosiasi Gagak Surgawi, mungkin aku hanya akan mengusirmu. Tapi kali ini, kau juga mengkhianati keluarga Zhang yang telah menolong keluargaku, lebih-lebih lagi, kau malah bersekutu dengan para bedebah itu. Hal ini sudah cukup dijadikan alasan untuk memenggal kepalamu."
Belum selesai Ang Bei bicara, kepalanya sudah lebih dulu meninggalkan badan.
"Matilah dengan tenang..." gumam Lu Tuoli sambil memejamkan mata. Agaknya dia merasa sakit juga, menyaksikan sahabat baiknya telah menjadi pengkhianat dan harus mati di tangannya.
Begitu pula dengan Zhang Qiaofeng dan Zhang Hongli, mereka juga hanya mampu menundukkan kepala menahan perih di hati.
"Urus dia dengan layak!" Zhang Qiaofeng berkata sebelum pergi meninggalkan ruangan.
"Kalian ikut aku." Zhang Qiaofeng menghentikan langkah dan kembali menoleh kepada rombongan Lin Tian.
Setelah itu, segera para pengawal mengurus jenazah Ang Bei dengan layak sesuai perintah. Dan tentu saja hal ini menggemparkan seluruh keluarga Zhang yang tak pernah menyangka-nyangka, bahwa tetua Ang Bei yang termasuk satu diantara pendiri Asosiasi, ternyata adalah seorang penjahat.
Sedangkan untuk rombongan Lin Tian, mereka semua dibawa ke ruang pribadi milik Zhang Qiaofeng. Gadis itu saat ini sedang duduk di kursinya sambil mengelus-elus kepala. Agaknya pengkhianatan Ang Bei benar-benar memukul batinnya.
"Lin Tian, tolong jelaskan siapa mereka?" setelah sekian lama, akhirnya terdengar Zhang Qiaofeng berkata.
"Nona, mereka adalah orang-orang dari Perguruan Elang Bayangan yang telah dihancurkan oleh Aliansi Golongan Hitam. Dan saya mengajak mereka kemari karena saya berpikir keluarga Zhang akan menjadi lebih kuat atas kehadiran mereka. Apakah Nona berkenan?"
__ADS_1
Zhang Qiaofeng memandang lekat-lekat kelima puluh orang itu. Pengkhianatan Ang Bei, ditambah peristiwa yang dikirimkan dengan surat oleh utusan kaisar itu benar-benar telah membuat kewaspadaannya meningkat.
Siang Ki dan murid-muridnya yang dipandang seperti itu sebenarnya sedikit merasa tidak nyaman. Namun mereka memilih untuk tetap diam sampai kembali Nona Zhang itu berkata.
"Apa aku bisa mempercayai kalian?" tanya Zhang Qiaofeng menyelidik.
"Tentu saja Nona, kami akan menyerahkan seluruh jiwa raga kepada keluarga Zhang." ungkap Siang Ki.
"Apa buktinya?"
Siang Ki sedikit bingung akan pertanyaan itu. Dia mencoba berpikir apa yang bisa membuat percaya Nona itu. Setelah beberapa saat dan sama sekali tidak menemukan ide, akhirnya dia berkata.
"Kami hanya memiliki satu bukti kuat Nona. Hal itu adalah kenyataan tentang hancurnya perguruan kami akibat Aliansi Golongan Hitam. Tentu kami akan memusuhi mereka. Dan sebagai orang gagah, kami tidak akan mencoba bertindak bodoh seperti Ang Bei yang ingin menguasai kelompok sendiri."
Zhang Qiaofeng berpikir sejenak sebelum akhirnya menghela nafas dan memanggil salah satu pengawal.
"Tolong atur tempat kediaman mereka!"
"Baik Nona."
Wajah Siang Ki berseri begitu mendengar perintah Nona tersebut. Hal ini membuktikan bahwa mereka semua telah diterima di keluarga Zhang.
"Terima kasih kami ucapkan kepada Nona Zhang." Siang Ki berkata mewakili murid-muridnya.
Zhang Qiaofeng hanya mengangguk dan membiarkan mereka pergi. Hanya menyisakan Lin Tian dan Zhang Qiaofeng di ruang itu.
"Nona ada apa?" tanya Lin Tian begitu melihat kejanggalan di wajah Noan mudanya sedari dia datang tadi.
"Maafkan saya Nona yang pergi secara tiba-tiba. Saya siap menerima hukuman." sambung pemuda tersebut.
"Hah...tidak Lin Tian, aku tidak punya waktu untuk memikirkan hukumanmu. Yang jelas, bacalah ini!" gadis itu berkata sembari mengulurkan gulungan surat.
Lin Tian menerima dan membukanya. Dan apa yang tertulis di atas kertas itu benar-benar membuat jantungnya jungkir balik saking terkejutnya.
Tulisan di surat itu singkat saja, namun sangat mengejutkan siapapun yang membacanya.
Untuk saudaraku Keluarga Zhang, ada berita penting sekali yang wajib diketahui oleh seluruh keluarga besar di Kekaisaran Chu ini.
Beberapa minggu lalu, utusan dari keluarga Xiao dan Jiang datang kemari membawa kabar duka. Kabar itu adalah, terbunuhnya istri dari pemimpin keluarga Xiao, Xiao Mei. Dan hilangnya tetua paling bijaksana dari keluarga Jiang, Liong Bi.
Mohon kepada Keluarga Zhang untuk lebih waspada dan berhati-hati.
Chu Quon
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...
BERSAMBUNG