
Melihat juniornya sudah roboh tewas, Naga Emas menjadi berang. Serangannya makin ganas, setiap pukulannya berisi dengan tenaga dalam sepenuhnya dan amarah hebat. Membuat Minghao kerepotan bukan main.
"Huuaaaarrgghhh!!!" tiba-tiba dia berteriak kencang sekali. Teriakan yang tak wajar dan aneh. Melihat ini, Lin Tian dan Hu Tao segera sadar apa yang sebentar lagi akan menimpa mereka.
"Celaka!!" Lin Tian memekik dan segera menghampiri Minghao, berniat membantu sastrawan itu.
"Cepat kembali!! Keluar dari hutan ini!!" sedangkan Hu Tao memerintahkan pasukannya untuk keluar dari hutan yang terbakar ini. Karena maklum bahwa teriakan tadi adalah sebuah "perintah".
Dan benar saja, tak berselang lama setelah teriakan menghilang, dari kedalaman hutan sana terdengar suara hiruk pikuk yang makin lama makin terdengar jelas.
"Gawat!! Mundur, semuanya mundurr!! Hu Tao, pimpin pasukanmu keluar dari sini!!!" teriak Lin Tian. Kemudian disusul tebasan pedangnya yang mengarah pundak kiri Naga Emas.
"Trangg!!"
"Kheeh...matilaaahhh!!" Naga Emas berteriak marah. Setelah berhasil menangkis pedang Lin Tian, raksasa ini mengirimkan serangan tapak mengarah muka pemuda itu.
"Syuutt-Trangg!!"
Dengan kecepatan yang sulit diikuti pandang mata, dari sebelah kanan Naga Emas muncul kelebatan benda putih yang segera menangkis tangannya, menotok kearah punggung tangan. Namun totokan itu gagal, hanya mampu menggagalkan serangannya saja.
"Sialan!!" Gumam Minghao marah dan kembali memutar sulingnya. Kali ini dia melakukan totokan bertubi-tubi kearah tujuh belas jalan darah mematikan dari Naga Emas. Namun agaknya tubuh itu sudah terlampau kuat, sehingga setiap kali sulingnya menotok, Minghao malah merasa pergelangan tangannya kebas-kebas.
Bersamaan dengan itu, seratus pasukan manusia gunung yang daritadi telah menanti dari kejauhan, sudah tiba dan langsung melakukan serangan besar-besaran.
Sasaran utama mereka ialah Lin Tian, Minghao, dan Hu Tao. Tiga orang sakti ini bertarung mati-matian di tengah kebakaran hutan itu untuk mengulur waktu bagi tetua kedua dan ketiga serta seluruh pasukan keluarga Hu untuk meloloskan diri dari sana.
Maka repotlah mereka, tiga orang melawan seratus orang manusia liar. Sungguhpun tiga orang itu mampu menghadapi sepuluh sampai dua puluhan lawan sekaligus, namun mengingat adanya Naga Emas di sana, hal itu benar-benar sangat menyulitkan mereka.
"Goblok!! Bukankah sudah kubilang untuk pergi!!??" Lin Tian mencela kepada manusia albino di sebelahnya.
"Aku bukan pengecut!! Biarlah mereka lari dan aku sebagai pemimpin wajib melindungi mereka!!" jawab tegas Hu Tao. Kemudian kedua belatinya berhasil memisahkan empat kepala manusia dari badannya.
"Hei kalian berdua, kita harus segera pergi dari sini!! Buka jalan darah!!" seru Minghao dari kejauhan. Bajunya yang hitam itu sudah berubah warna menjadi merah gelap akibat cipratan darah musuh.
Maka segera saja tiga orang itu mengamuk ganas sambil bergerak mundur perlahan. Saling melindungi satu sama lain. Jika seandainya Naga Emas menyerang, maka dengan kompak sekali mereka mengepungnya dan melakukan serangan maut, membuat Naga Emas mau tak mau harus menghindar jauh untuk menyelamatkan nyawa daripada kematian.
Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berhasil keluar dari lingkaran api yang membakar hutan. Mereka juga sudah tiba di pinggiran barisan pengepungan itu, tinggal beberapa orang lagi dibinasakan, tentu mereka sudah lolos daripada pengepungan dan melarikan diri.
__ADS_1
"Sraat-Sraat-Crass!!" Lin Tian dan Hu Tao membabati belasan orang penghalang itu seperti menebas rumput liar saja. Sedangkan dibelakangnya, terdapat Minghao yang melindungi mereka dengan cara memainkan suling berukir naga itu, yang menciptakan alunan nada indah serta daya hipnotis kepada sisa-sisa pengeroyok.
Hasilnya, para pengeroyok yang masih tersisa puluhan orang itu seperti mabok. Hanya diam sambil melongo bagaikan orang idot, seolah-olah mereka tak sadar jika saat ini sedang terjadi pertempuran.
"Aaaarrrghhh!!" teriakan mengguntur dari Naga Emas ini berhasil menyadarkan mereka. Datuk hitam ini amat marah karena jika tadi sedikit saja dirinya terlambat, maka tentu saat ini dia sudah jadi "idiot" pula.
"Ayo lari!!" seru Lin Tian dan langsung mengerahkan ilmu lari cepatnya, disusul oleh Hu Tao di belakangnya.
Minghao melirik seklias, kemudian cepat-cepat ia masukkan suling itu ke dalam jubahnya. Lalu mengeluarkan alat musik satunya, yang-khim.
Langsung saja dia petik dawai-dawai itu dengan tempo cepat. Jika didengar sekilas, suaranya mirip seperti jerit seorang wanita, melengking-lengking tinggi. Sungguh suara yang mengerikan dan amat memekakkan telinga. Jika ada orang biasa yang mendengar, maka mereka akan menyimpulkan jika itu adalah suara dari iblis hutan.
"Bangsaaatt!!" Naga Emas meyilangkan kedua tangannya di depan wajah, mengaliri kedua lengan itu dengan tenaga dalam untuk melindungi tubuhnya.
Ternyata, suara yang dihasilkan dari yang-khim itu menimbulkan semacam angin badai yang dahsyat sekali. Menghempaskan dedaunan dan kerikil-kerikil kecil di hadapan mereka. Tak sampai di sana, angin itu sejatinya bukanlah angin biasa, karena setiap hembusannya terasa amat tajam bagaikan sebilah pedang.
Setelah berhasil merobohkan beberapa orang lagi dan menahan gerakan Naga Emas untuk beberapa saat, Minghao lekas membalikkan badan dan menyusul rekan-rekannya.
...****************...
Sudah dua puluh menit berlaru dan tiga orang itu telah tiba di bagian bawah lereng gunung. Terus mereka berlari kearah Selatan, melewati hutan-hutan lebat yang hanya nampak remang-remang karena cahaya bulan.
Tiga puluh menit berlalu, dan cahaya merah keemasan mulai nampak di Timur sana. Pagi telah tiba.
Bersamaan dengan itu, tiga orang ini melihat segerombolan orang tak jauh di depan mereka. Gerombolan orang itu juga sama seperti mereka, berlari-lari cepat sambil sesekali menengok ke belakang.
"Ah itu mereka! Tetua kedua dan ketiga!!" seru Hu Tao senang, karena melihat mereka semua selamat.
"Heeiii!!" pemuda albino itu lalu memanggil mereka dengan pengerahan tenaga dalam. Membuat suaranya terdengar jelas di telinga rombongan itu, sungguh pun jarak keduanya masih dua ratus meteran lebih.
Mendengar suara yang tak asing, tetua kedua segera memerintahkan untuk berhenti. Setelah menengok untuk memastikan pendengarannya tak salah, ternyata di hadapannya telah berdiri tiga orang pendekar yang tentu sudah dikenal mereka semua.
"Selamat datang Tuan! Kami senang dan sangat bersyukur anda bisa selamat!" kata tetua kedua penuh haru mewakili teman-temannya sesaat setelah Hu Tao dan kedua rekannya tiba di sana. Pria paruh baya ini berkata sambil berlutut penuh hormat diikuti seluruh pasukan.
"Bangunlah, kita harus segera pergi dari sini." ucap Hu Tao.
"Seharusnya rombongan Nona sudah tidak jauh dari sini." celetuk Lin Tian.
__ADS_1
"Apa? Apa maksudmu? Nonamu juga ikut kemari?" Hu Tao mengerutkan alisnya penuh perhatian. Terkejut juga ia bahwa Lin Tian akan datang bersama pasukan Zhang. Ia mengira jika pemuda itu datang kemari hanya dengan Minghao saja.
"Ya...dia memaksa ikut." jawab Lin Tian seadanya.
"Sudahlah, ayo kita ke sana!" sambungnya dan langsung melesat pergi.
Dan benar saja, setelah kurang lebih seperempat jam perjalanan, rombongan itu berhasil menemukan pasukan Zhang yang dipimpin langsung oleh Nona Zhang Qiaofeng. Mereka terlihat sedang melakukan perjalanan cepat menuju lereng gunung.
"Lin Tian!!" Zhang Qiaofeng berseru girang dan segera menghampiri pengawalnya itu.
"Wah...kau terluka parah!! Cepat kemari, akan kurawat lukamu!" gadis itu kembali berkata dengan raut wajah cemas begitu memandang baju putih Lin Tian penuh noda darah.
"Jangan khawatir Nona, ini bukan darahku. Aku hanya terluka ringan dan kelelahan saja." pemuda itu berkata tenang, mencoba mengurangi rasa cemas nonanya.
Zhang Qiaofeng ingin membantah lagi, namun perhatiannya lebih tertuju kepada rombongan orang-orang yang baru datang di belakang Lin Tian.
"Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada keluarga Zhang karena sudah menolong kami. Sungguh hutang nyawa ini akan aku bayar suatu saat nanti." Hu Tao berkata sopan sambil menundukkan badan. Diikuti oleh seluruh pasukannya.
"Haha, sebenarnya dia ini yang memaksa untuk datang ke sini. Aku hanya ikut saja." jawab Zhang Qiaofeng cengengesan seraya menunjuk Lin Tian.
Kemudian dua orang muda itu bercakap-cakap ringan. Zhang Qiaofeng juga mengenalkan Minghao kepada Hu Tao sebagai Sastrawan Sakti yang juga termasuk tetua keluarga. Hu Tao cukup terkejut, namun hanya sekejap saja karena maklum bahwa keluarga Zhang ini memang dipenuhi dengan orang-orang sakti.
Sudah lama dia mendengar bahwa Sastrawan Sakti ini menjadi anggota keluarga Zhang. Namun baru hari inilah dia yakin benar jika kabar itu sungguh nyata, karena sebelumnya dia masih sedikit ragu bahwa keluarga Zhang benar-benar memiliki Sastrawan Sakti. Di samping Kakek Lengan Sakti dan Pendekar Hantu Kabut yang lihai sekali.
"Mereka ini benar-benar sebuah keluarga yang luar biasa. Hanya butuh sedikit waktu saja, aku yakin kelaurga Zhang akan mampu melampaui tujuh Keluarga Penguasa." gumam Hu Tao dalam hati dengan penuh perasaan takjub.
Tiba-tiba, ada seseorang yang menepuk pundak Zhang Qiaofeng.
"Kita harus segera pergi, keadaan kita belumlah aman." orang tersebut menunjukkan tulisannya di buku kecil. Dia adalah seorang gadis cantik dengan mata kanan ditutup kain. Ya, dia ini adalah Lu Jia Li yang ikut pula dalam rombongan itu.
"Ah benar juga. Semuanya, ayo kita segera pergi dari sini!!" nona itu memerintahkan pasukannya.
"Ikuti perintah Nona Zhang!" ucap Hu Tao kepada pasukannya.
Maka pagi hari itu, berbondong bondong pasukan lima puluh orang Zhang bersama beberapa orang pengawal elit keluarga Hu meninggalkan daerah Pegunungan Tembok Surga, berjalan terus ke Selatan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
BERSAMBUNG