Pendekar Hantu Kabut

Pendekar Hantu Kabut
Bab 89. Perasaan Zhang Qiaofeng


__ADS_3

Malam hari itu, Lin Tian terlihat sedang berlatih seorang diri di halaman latihan. Dia sedang melatih Ilmu Silat Halimun Sakti sekagilus hendak memperkuat tenaga dalam dengan cara menyerap hawa dingin sekitar.


Terlihat dari setiap gerakan itu, baik tendangan maupun pukulan, gerak Lin Tian jauh lebih tangkas dan kokoh. Agaknya dia sudah menyempurnakan ilmunya itu.


Ditengah-tengah pukulannya, tanpa menghentikan gerakannya, dia sudah mencabut Pedang Dewi Salju dan memainkan Ilmu Pedang Pelukis Langit. Sungguh hebat sekali pemuda ini, mampu mainkan dua ilmu silat sekaligus secara berbareng.


Setelah beberapa menit, akhirnya Lin Tian menghentikan latihannya dengan helaan nafas panjang.


"Fiuuhhh..." terlihat sebuah kabut tipis keluar dari mulutnya.


Tiba-tiba dia menyunggingkan senyum. Senyum karena kedatangan seseorang yang ditandai dengan melesatnya beberapa buah senjata rahasia. Sama seperti dulu, sama sekali tak berubah. Pikirnya.


Merasa ada tujuh batang pisau tipis mengarah punggungnya, pemuda itu lekas membalikkan tubuh dan mengibaskan tangan. Seketika, dari tangan itu muncul selarik kabut dingin yang langsung meruntuhkan semua pisau sekaligus menyerang si pelempar.


"Swuussshh!!" terdengar suara angin menderu begitu kabut putih itu menghalau semua pisau.


Begitu kabut itu bergerak cepat menuju kearah dimana datangnya pisau-pisau, tiba-tiba terdengar sebuah seruan tertahan disusul dengan berkelebatnya seseorang yang langsung menyerangnya.


Lin Tian masih tersenyum. Dengan tenang saja, pemuda ini menggerakkan kaki menangkis pergelangan tangan orang itu yang memegang belati.


"Auuhh!!" keluh orang itu kesakitan.


"Tak semudah itu Nona." ujar Lin Tian yang sudah menerjang maju.


Memang orang itu adalah Nonanya sendiri, Zhang Qiaofeng. Dia ini memang termasuk gadis usil yang suka mengganggu orang, terutama sekali mengganggu Lin Tian. Kiranya sampai sekarang pun kebiasaan itu tak luntur dimakan waktu.


"Hmph, ini belum selesai!!" bentak Zhang Qiaofeng sambil menangkis.


"Trang-trang!!"


Belati bertemu tangan, namun alangkah terkejutnya gadis ini begitu mendapat kenyataan bahwasannya tangan Lin Tian itu sangat keras bagaikan baja murni.


Belum hilang rasa kagetnya, Lin Tian sudah melanjutkan serangan dengan totokan kearah pundak yang mampu membuat tangannya lumpuh. Dengan secepat kilat, gadis ini mampu berkelit dan menyelinap ke punggung Lin Tian.


"Hiaattt!!" teriaknya sembari membacokkan sepasang belatinya kearah punggung Lin Tian.


Melihat betapa ilmu meringankan tubuh milik Nonanya sudah demikian tinggi dari pertukaran jurus barusan, diam-diam dia merasa kagum. Maka untuk sedikit menunjukkan kebolehannya, Lin Tian segera meniru tindakan Zhang Qiaofeng barusan, yaitu dengan kecepatan bagaikan menghilang, dia sudah tiba di punggung Nona mudanya.


"Apa!?" seru Zhang Qiaofeng terkejut.


Sedetik kemudian, Lin Tian sudah mengirim pukulan kearah kedua pundak gadis itu. Namun kembali serangan itu harus luput dikarenakan kecepatam gerak sang gadis yang luar biasa hebat.


Kembali pertarungan berlanjut sampai belasan bahkan puluhan jurus. Mereka bertarung dengan kecepatan diluar nalar, sehingga yang terlihat hanyalah bayangan putih jubah Lin Tian dan kelebatan penuh sinar menyilaukan dari sepasang belati Zhang Qiofeng.


Menginjak jurus ke enam puluh, Zhang Qiofeng melompat keatas bagaikan burung garuda. Lalu dari atas sana, dia memutar tubuh dan menusukkan kedua belati itu tepat ke ubun-ubun Lin Tian.


Lin Tian tak bisa menganggap remeh, maka dengan sigap dia merubah kuda-kudanya dan sejurus kemudian, tubuhnya miring kesamping sampai rendah sekali dengan posisi kaki kanan diselonjorkan dan kaki kiri ditekuk.

__ADS_1


Ubun-ubunnya memang terselamatkan, akan tetapi belati itu kini mengarah ke lutut kaki kanannya, namun memang inilah yang dikehendaki.


Begitu sepasang belati itu mendekat, tangan kanannya melakukan tangkisan dan tangan kiri melakukan dorongan dengan pengerahan tenaga dalam.


Hasilnya sungguh luar biasa! Kedua belati itu lepas dari tangan pemiliknya, dan tubuh Zhang Qioafeng terpental bagaikan terbang akibat dorongan tangan kiri.


"Aakkhhh!!" teriak Zhang Qiaofeng begitu punggungnya menghantam tanah.


"Nona!!" seru Lin Tian penuh kekhawatiran dan segera menghampiri. Kemudian pemuda ini lekas membantu Nona mudanya sendiri disusul dengan bentakan gadis tersebut.


"Kau ini hendak membunuhku hah!!??" demikian dia membentak kepada pengawalnya itu dengan muka merah menahan marah dan malu.


"T-tapi Nona, jika boleh jujur sebenarnya anda sendirilah yang ingin membunuh saya. Semua serangan tadi jika berhasil mengenai tubuh saya, tentu saat ini saya sudah menjadi potongan daging." jawab Lin Tian setengah kebingungan.


Makin merah muka gadis itu. Tak dapat disangkalnya, memang semua serangannya amat berbahaya dan mematikan. Jika seandainya Lin Tian tak sekuat itu, mungkin semua ucapan pemuda itu benar adanya.


Tapi disamping serangannya, Zhang Qiaofeng merasa yakin sepenuhnya bahwa Lin Tian akan baik-baik saja, karena itulah dia tak tanggung-tanggung.


"Hmph!!" hanya dengusan kasar yang keluar dari mulutnya. Tak ada pilihan lain lagi untuk menutupi rasa malu tujuh turunan ini.


"Hah...dari dulu sampai sekarang, dari kecil sampai besar, dari lucu menggemaskan sampai cantik menggairahkan, kiranya otaknya itu tak ada kemajuan." gumam Lin Tian tanpa sadar.


"Coba ucapkan sekali lagi kubunuh engkau!!" kembali Zhang Qiaofeng membentak, ternyata gadis itu mampu mendengar gumaman Lin Tian.


...****************...


Terlihat dari mulut pemuda itu keluar kabut tipis setiap kali dirinya menghela nafas yang entah sudah keberapa kali.


Di sampingnya, duduk Zhang Qiaofeng yang memandanginya dengan kepala diletakkan di atas dagu. Sedari tadi, mata yang indah itu tak pernah lepas dari pemuda yang bukan lain adalah Lin Tian itu.


Saat ini Lin Tian sedang melatih tenaga dalam dengan cara menyerap hawa Yin dari bulan. Sejak saat itulah gadis ini duduk menemani di sebelahnya.


Beberapa saat kemudian, Lin Tian membuka mata perlahan.


"Sudah selesai Lin Tian?" tanya Zhang Qiaofeng.


Lin Tian hanya mengangguk sebagai jawaban.


Kemudian gadis cantik ini mengalihkan pandangannya kearah bulan separuh yang memancarkan sinar kekuningan itu. Memandanginya tanpa berkata sepatah kata pun, hanya duduk termenung menemani pemuda di sampingnya.


Hening, tak ada satupun percakapan diantara keduanya. Hanya suara jangkrik dan para binatang malam saja yang menemani mereka berdua dalam kesunyian itu.


"Lin Tian..." tiba-tiba terdengar Nona muda itu berkata lirih.


"Ya?"


"Sudah lama sekali ya...kita tidak duduk berdua seperti ini."

__ADS_1


Lin Tian tak langsung menjawab. Hanya menatap bulan tanpa ekspresi sambil mencermati perkataan Nona mudanya.


"Benar, kurasa memang begitu." demikian pemuda ini menjawab.


Setelah itu, kembali hanya keheningan yang menemani mereka. Lalu kembali Zhang Qiaofeng buka suara.


"Lihat, indah sekali bukan?" kata gadis itu seraya menunjuk bulan di langit malam itu.


Lin Tian memandang kearah dimana gadis itu menunjuk, kemudian menjawab, " Ya, indah sekali."


"Lin Tian..." panggil gadis itu dengan suara agak gemetar.


"Ya Nona?"


Tiba-tiba punggung gadis itu kelihatan gemetar. Mula-mula hanya sedikit gemetar, akan tetapi lama kelamaan getaran itu makin hebat dan samar-samar Lin Tian mendengar isakan tertahan dari gadis itu.


"Terima kasih...terima kasih...Kau adalah seorang yang paling setia dalam hidupku...Terima kasih Lin Tian..." Zhang Qiaofeng berucap dengan tangis yang mulai pecah.


"Jangan tinggalkan aku sendiri lagi...jangan membuatku khawatir lagi..." lanjutnya.


"Tak perlu berterima kasih Nona, sebagai pengawal, itu sudah menjadi kewajiban saya. Dan mohon diingat Nona, saya hanya manusia biasa, tentu suatu saat nanti saya akan mati. Jika sudah seperti itu, bagaimana mungkin saya tidak meninggalkan Nona." jawab pemuda ini.


Seketika, mata indah itu membulat dan menengok Lin Tian dengan air mata bercucuran deras.


"Kau...apa maksudmu?" tanyanya tergagap.


"Entahlah, tapi bukankah itu benar? Saya hanya manusia yang bisa mati kapan saja." sahut Lin Tian.


"Dan lagi, di sini ada Nona Lu Jia Li, paman Minghao, kakek dan masih banyak orang lainnya. Begitu aku pergi, bukankah masih banyak sekali orang yang bisa menggantikanku?" kembali Lin Tian berkata.


Wajah yang sudah suram muram itu menjadi makin murung. Lalu gadis ini menundukkan kepala dan tak mampu menjawab semua pernyataan pengawalnya.


"Tapi Nona, saya berjanji hanya kematianlah yang mampu memisahkan kita berdua. Jadi, anda tak perlu khawatir jika suatu saat saya pergi meninggalkan keluarga Zhang ini karena memang hal itu tidak akan pernah terjadi. Saya akan selalu di sini...sampai ajal menjemput, saya berjanji!" kata Lin Tian tegas.


Kembali mata yang cantik jelita itu membolat sempurna, bahkan kali ini pipinya juga sedikit kemerahan. Entah kenapa, hatinya menjadi berbunga-bunga begitu mendengar pemuda itu berkata, "saya berjanji hanya kematianlah yang mampu memisahkan kita berdua.", bukankah itu seperti dalam janji perni-


"Anda kenapa Nona?" tanya Lin Tian tiba-tiba begitu melihat wajah sampai leher Nonanya yang berwarna merah sekali.


Lamunan Zhang Qiaofeng buyar seketika begitu mendengar perkataan ini. Maka cepat dia menelungkupkan wajah ke kedua tangan yang dilipat di atas lututnya. Lalu berkata lirih, "Tak apa...tidak ada apa-apa."


Lin Tian makin bingung akan sikapnya ini, namun sesaat kemudian Nonanya kembali berkata.


"Terima kasih bocah..."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2