
Di luar desa yang baru saja membuatnya sedikit tak nyaman tadi, Lin Tian berjalan tenang menuju ke arah kota raja. Lebih tepatnya kearah markas para pejuang.
Dia tidak ingin terburu-buru untuk pergi ke markas Iblis Tiada Banding lebih dulu. Karena selain tempatnya yang cukup jauh, selain mengintai dia bisa apa lagi?
Malam hari ini cukup cerah, bulan purnama bersinar terang dengan sinar kekuning-kungingannya. Membuat keadaan sekitar sedikit lebih terang dan memudahkan Lin Tian.
Mengapa Lin Tian pergi malam hari seperti ini? Apakah dia tak takut bahaya mengancam di tengah jalan? Pertanyaan ini mungkin akan muncul di pikiran orang-orang saat mengetahui Lin Tian melanjutkan perjalanan di malam gelap gulita.
Akan tetapi bahaya apakah yang dapat mengancamnya? Para pendekar sejati adalah orang-orang kuat yang bisa dibilang kesaktiannya berada di puncak persilatan. Sehingga yang mampu mendatangkan bahaya ke pendekar sejati adalah pendekar sejati lain. Tentu saja jika mengesampingkan bencana alam.
Lin Tian berjalan santai, ya dia berjalan santai. Namun jika dilihat lebih teliti, satu langkahnya bisa mencapai dua tiga meter atau tak jarang hingga lima meter lebih. Kedua tangannya berada di punggung dengan keadaan tangan kiri menggenggam pergelangan tangan kanan. Tubuhnya melesat cepat seperti makhluk astral penjaga hutan ini.
"Apakah nona ada di sana?" dia bergumam dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Jujur saja dia bingung apa yang akan dilakukannya jika bertemu dengan gadis tersebut. Menuruti omongan Wang Ling Xue, dia harus melindungi dari jauh, bisa saja dia melakukannya namun dengan keberadaan Asosiasi Gagak Surgawi, sampai berapa lama dia mampu menyembunyikan diri?
Hal itu benar-benar membingungkan hatinya. Apalagi dia juga bimbang apakah akan bergabung dalam kelompok para pejuang dengan identitas pendekar bebas ataukah keluarga Zhang? Atau mungkin tidak usah bergabung sama sekali?
Tanpa terasa, berpikir demikian sambil mengerahkan langkah kilatnya, Lin Tian sudah pergi dari desa itu jauh sekali.
Untuk sampai ke tempat para pejuang, informasi yang Lin Tian dengar adalah, dari desa itu membutuhkan waktu sekitar dua tiga hari. Akan tetapi untuk pendekar sejati sepertinya, bukan mustahil untuk sampai di sana dalam satu hari.
Dan benar saja, tepat satu hari atau kurang sedikit, Lin Tian tiba di tempat tersebut. Pada senja hari tatkala sang surya sudah hampir tenggelam di ufuk Barat, Lin Tian berjalan dengan tenang menghampiri gerbang markas yang seluas kota itu.
"Hei siapa di sana?" tanya penjaga gerbang kepada temannya.
"Entah."
Terlihat siluet pria berbaju hitam-hitam berjalan mendekati mereka sambil menundukkan kepala. Lin Tian sengaja membuka topengnya agar identitas sebenarnya tidak ketahuan, dia juga memakai mantel berwarna hitam untuk menutupi simbol naga di punggungnya.
__ADS_1
Menurutnya, topeng dan simbol naga itu adalah dua hal yang paling mudah untuk mengenali sosoknya. Dia tidak ingin terkenal secepat itu.
"Maaf tuan, apakah di sini tempat berkumpulnya para pejuang?" tanya Lin Tian sopan begitu sudah sampai di sana dan menghadap dua penjaga gerbang.
Keduanya serentak meneliti tubuh Lin Tian. Dari atas sampai bawah, lalu pandangan mereka terpaku pada pedang Dewi Salju yang tersarung rapih di pinggang kiri Lin Tian.
Serentak mereka berakata dalam hati, "Dia pendekar."
Orang yang lebih tinggi berkata, "Benar sekali tuan, di sini adalah perkumpulan para pejuang. Jika boleh tahu, ada kehendak apakah tuan ini datang kemari?"
"Ah, saya hanya ingin mampir dan melihat. Oh iya, apakah keluarga Zhang juga ada di sini?"
Dua orang ini saling pandang dan sedikit menampakkan ekspresi curiga, melihat ini Lin Tian sadar dan segera berkata.
"Tenang saja tuan, aku hanya mengunjungi mereka dan ingin lihat kabar mereka."
"Maaf tuan, bukannya kami mencurigai anda dengan sesuatu yang tidak-tidak, tapi karena kekacauan yang timbul akibat ulah Iblis Tiada Banding, kami merasa sangat kesulitan untuk memercayai orang asing. Mohon maaf, ada urusan apakah anda dengan mereka?"
Dua orang penjaga itu tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut. Lin Tian mampu melihatnya dengan jelas, dua orang penjaga ini sampai terperanjat dan matanya melotot lebar.
"I-itu...tanda pengenal para tetua." gumam salah satu pengawal yang masih memandang tak percaya.
Dua orang ini lantas berdiri tegak dan memberi jalan bagi Lin Tian. Mereka berseru secara bersamaan, "Selamat datang, tuan!"
Lin Tian tersenyum karena ternyata keluarga Zhang masih mempunyai pengaruh di daerah baru ini. Dia memasukkan kembali tanda pengenal itu ke sakunya, mengucapkan terima kasih sebelum memasuki pintu gerbang.
"Ah, bisakah saya minta tolong? Jangan laporkan kedatanganku kepada keluarga Zhang." ucap Lin Tian yang berhenti dan berbalik arah.
"Baik tuan!" seru mereka serempak, akan tetapi Lin Tian melihat ekspresi bingung di wajah keduanya. Lantas Lin Tian menambahkan.
__ADS_1
"Aku hanya ingin memberi kejutan."
Pemuda ini lalu memasuki markas para pejuang dan terkejutlah ia. Tempat ini bahkan tidak lebih kecil dari kota Sungai Putih sekali pun, atau bahkan sedikit lebih besar.
Saat Lin Tian memandang dengan teliti, ternyata orang-orang di sana semuanya adalah pendekar atau prajurit. Mereka berlalu-lalang sambil bercakap-cakap dengan teman, namun senjata di tubuh mereka dapat menjelaskan identitas mereka dengan jelas.
"Benar-benar tempat yang amat berbahaya. Jika musuh menyerbu kemari, aku ragu jika mereka mampu merobohkan tempat ini." gumam pemuda ini yang masih terus berjalan.
Dari tempatnya berdiri saat ini, dia mampu melihat lima bendera besar yang berkibar dengan gagahnya di lima tempat berbeda.
Bendera-bendera itu adalah keluarga Chu di Utara, keluarga Jiang di Timur, keluarga Tan di Tenggara, keluarga Liu di Barat, dan keluarga Zhang di Barat Laut.
Melihat bendera Zhang yang berkibar elok di sana, tanpa terasa membuat bibir Lin Tian merekah menampilkan senyum lebar.
"Aku ingin lihat, sudah seperti apa keluarga nona." ucapnya sebelum melesat cepat kearah Barat Laut, tempat keluarga Zhang berada.
Dirinya berubah menjadi bayangan hitam yang bergerak cepat sekali, melewati bangunan-bangunan yang ada di sana seolah seperti terbang saja. Sekitar satu menit kemudian, dia sampai di bangunan yang terletak di dalam wilayah Zhang.
Lin Tian melihat ke bawah dan memandangi sekitar. Tak ada keanehan di sini kecuali perubahan seragam yang sangat jauh berbeda dari dulu.
"Sekarang keluarga Zhang mengenakan pakaian putih-putih? Hmm...bagus juga selera nona." komentar Lin Tian melihat baju-baju mereka.
Dia berkeliling ke sana kemari untuk sekedar melihat-lihat. Sampai malam tiba, kediaman Zhang tetap ramai seperti sore tadi. Bahkan saat Lin Tian kembali lagi ke sana saat tengah malam, kediaman Zhang tetap terang dan ramai, banyak pendekar Zhang yang lalu lalang untuk tugas jaga.
"Kamar nona ada dimana ya?" Lin Tian mengedarkan pandangannya.
"Menurutku di sana, aku tak datang dari tadi siang karena khawatir akan ada yang menyadariku." ucapnya dan melesat menuju bangunan yang cukup besar dan megah.
"Aku ingin lihat wajah tidur nona, sudah lama aku tak melihatnya!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG