
Berhari-hari kemudian, Lin Tian menjadi lebih berhati-hati dalam menghimpun hawa sakti. Dia tidak ingin kejadian yang sama terulang, yaitu muntah darah dan pingsan seketika.
Saat itu, ketika terbangun dari pingsannya, tubuhnya terasa dingin dan kaku sekali seperti membeku. Wajahnya pucat dan tenggorokannya terasa kering. Ingin ia minum air danau yang ada di depannya, namun tubuhnya terlampau lemah dan kaku, sehingga tak ada pilihan lain selain kembali duduk bersila untuk menghimpun hawa sakti.
"Huh...."
Lin Tian menghela nafas dan mengepul kabut tipis dari mulutnya. Seakan terlihat seperti kabut biasa, namun sejatinya kabut itu berhawa amat dingin sekali.
Tak lama setelah itu, sepasang mata tajam Lin Tian terbuka.
"Haus sekali!!" Lin Tian berseru dan berlari ke danau untuk meminum air itu sebanyak-banyaknya.
"Glek–Glek–Glek!"
"Huahh...segar sekali..."
Lin Tian berseru girang karena tenggorokannya sudah kembali basah dan dahaga sudah berhasil diusirnya pergi. Namun ada satu masalah yang baru disadarinya.
"Eh, kenapa aku kuat minum air danau dalam jumlah banyak? Bukankah terakhir kali aku hanya mampu minum beberapa teguk saja?" gumamnya bingung dengan keadaan diri sendiri.
"Kau sudah mengalami kemajuan pesat. Minum air danau itu dalam sepuluh kali tegukan merupakan kemajuan pesat. Kau sudah sedikit menguasai hawa sakti."
Seperti biasa, gurunya itu tiba-tiba sudah berdiri di sana dan memberi penjelasan kepada Lin Tian.
"Masih sedikit? Bukankah ini sudah cukup banyak kemajuan?" Lin Tian merasa sedikit tak terima karena kemajuannya masih dianggap sedikit menguasai hawa sakti.
Wang Ling Xue tidak langsung menjawab melainkan hanya tersenyum. Dia merasa kesulitan untuk menjelaskan secara detail mengenai hawa sakti karena hal itu merupakan sesuatu yang harus dipahami Lin Tian sendiri.
Maka tak ada pilihan lain selain memberi contoh kepada Lin Tian.
__ADS_1
"Lin Tian, lihat ini. Ini adalah tenaga dalam." ucap Wang Ling Xue sambil mengarahkan telapak tangannya ke langit dan tercipta angin kencang. Sedetik kemudian, udara dingin yang sebelumnya kena tabrak angin pukulan Wang Ling Xue seketika menjadi butiran-butiran salju yang indah.
"Dan ini adalah hawa sakti." Wang Ling Xue mengulurkan tangan kanannya ke depan. Sedetik kemudian, dari tangan itu muncul pusaran salju yang makin lama makin padat.
Setelah itu dia melemparkan kumpulan salju itu ke arah batu yang cukup besar. Hasilnya sungguh luar biasa, batu yang kena hantam salju itu berubah menjadi beku.
"Apa kau bisa melakukan yang kedua itu? Jika hanya membekukannya, kau pasti bisa. Tapi untuk menciptakan gugusan salju itu, saat ini apakah kau mampu?"
Melihat Lin Tian yang hanya terpaku dengan aksinya, Wang Ling Xue kembali tersenyum dan berkata, "Itulah perbedaan tenaga dalam biasa dan hawa sakti. Pahamilah sendiri, untuk menjelaskannya dengan rangkaian kata-kata adalah tindakan yang amat sulit."
Setelah berkata demikian, Wang Ling Xue kembali memasuki goa tanpa menoleh lagi.
"Sehebat itukah hawa sakti yang sudah sempurna. Jika memang begitu, saat guru mempraktekkan ilmu Naga Salju Menari, seharusnya aku sudah benar-benar membeku. Sepertinya waktu itu guru masihlah menahan diri." gumam Lin Tian yang masih belum mengalihkan perhatiannya dari kepergian Wang Ling Xue.
"Aku harus bisa menguasai hawa sakti secepatnya."
...****************...
Hal ini tidak mengejutkan karena sokongan kekuatan yang sangat besar dari Sian Yang dan Chan Fan. Dua tokoh terkuat Iblis Tiada Banding ini berhasil menjadi momok mengerikan di wilayah Utara sesaat setelah kedatangan mereka di sana.
Sama seperti yang diramalkan, Iblis Tiada Banding adalah pengacau yang sangat ganas. Tak peduli baik itu dari golongan hitam atau putih, jika itu demi kejayaan Iblis Tiada Banding, maka mereka tak akan segan melibas mereka.
Sebagai tambahan, saat ini kekuatan Iblis Tiada Banding sudah meningkat pesat. Para pendekar golongan hitam wilayah Utara pun tak sedikit yang tergiur oleh tawaran manis mereka. Maka hanya dalam beberapa minggu, mereka sudah berhasil meningkatkan kualitas dan kuantitas pasukan.
Jika seandainya Iblis Tiada Banding saat ini masih berada di Selatan, dapat dipastikan jika kekaisaran Chu mungkin sudah tinggal puing-puing sekarang.
Yang menjadi hambatan bagi mereka semua hanyalah satu hal...
"T-tidak mungkin....pendekar sejati? Mana ada hal seperti itu?"
__ADS_1
"Apa matamu buta? Kejadian yang sedang terjadi di hadapan kita ini kau kira adalah bunga tidur semata?"
"T-tapi...."
Lima puluhan orang berseragam Iblis Tiada Banding berdiri dengan muka pucat dan tubuh gemetaran. Di hadapan mereka, mungkin ada puluhan atau ratusan bangkai teman-teman mereka.
Mereka sedang berada di hutan yang menjadi kaki gunung sebuah pegunungan. Pasukan ini baru saja membumi hanguskan satu desa atas perintah Sian Yang. Seratus pasukan ditinggal di desa itu sedangkan sisanya pulang ke markas.
Dan orang-orang ini secara tidak sengaja malah bertemu dengan seorang "pendekar sejati" penghuni gunung itu.
"Inikah Iblis Tiada Banding yang sedang naik daun itu? Hanya segini kemampuan kalian?"
Di atas sebuah batu besar, berdiri pria tua yang sikapnya gagah sekali. Bajunya sederhana, hanya dari kain putih yang sudah menguning dan dilibat-libatkan di tubuh. Celananya panjang berwarna putih sampai menyentuh mata kaki.
Wajah itu sudah amat tua, keriputan menghias di setiap sudut mukanya. Namun yang membikin orang merinding adalah, sepasang mata itu masih bening dan bersih seperti mata bayi. Rambutnya terurai panjang sampai sepinggang, sudah putih semua namun nampak lurus dan rapi.
Kumis dan jenggotnya panjang sampai menyentuh dagu. Sepasang alisnya pun juga sudah putih semua, menjuntai ke bawah. Entah sudah berapa tahun usia orang ini.
Dialah seseorang yang telah membinasakan ratusan pasukan Iblis Tiada Banding itu. Karena merasa rumahnya diganggu, apalagi yang mengganggu bukanlah orang baik-baik, sehingga tak ada alasan baginya untuk mengampuni mereka.
"Mengganggu saja." gumamnya dan mengibaskan tangan kanannya. Saat itu juga, mungkin lima atau tujuh orang segera terpelanting ke sana ke mari tanpa dapat dicegah lagi. Begitu tubuh mereka menyentuh tanah, semuanya telah menjadi mayat.
"Kabur!!" seru seseorang yang menjadi komando bagi semuanya untuk segera membalikkan badan dan lari secepat mungkin dari sana.
"Jangan mimpi!" bentak pria tua itu yang melesat cepat mengejar mereka.
Hanya dalam beberapa tarikan nafas saja, puluhan orang yang tersisa itu sudah dibikin mati semua oleh orang tersebut. Benar-benar kekuatan yang dahsyat dan mengerikan.
Inilah alasan terbesar bagi Iblis Tiada Banding yang membuat mereka belum mampu memperluas wilayah kekuasaan sampai kini. Keberadaan pendekar sejati yang tersebar di tempat-tempat tersembunyi daratan Uatara benar-benar menjadi hambatan terbesar bagi mereka.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG